CS Bank Swasta

by admin | June 8, 2010 | In cerita dewasa

Gue sangat terobsesi sekali dengan wanita2 bekulit kuning, seperti keturunan Cina, Menado, Palembang, atau wanita Dayak. Sebagian wanita Sunda juga mempunyai kulit seperti ini, juga wanita2 Jawa yang terkenal dengan perawatan kulit tradisionalnya. Apalagi dengan paha, kaki dan betis yang terawat mulus, apalagi dengan rok model mini. Gue mengaggumi wanita2 dengan tubuh kecil, padat dengan warna kulit kuning seperti ini, dilengkapi lagi dengan kondisi badan yang berisi padat, susu tidak besar, kecil tapi padat, sangat menggairahkan gue.

Mini, adalah gadis yang gue kenal sebagai Staff CS Bank Swasta, kami kenal saat gue ngurus kredit, dan Mini banyak membantu proses kredit gue ini. Mini juga mengenal istri dan anak gue, karena sering gue ajak kekantornya saat ngurus kredit ini.
Mini, wajahnya cantik, bertubuh kecil, tinggi dengan warna kulit kuning. Sekilas, seperti keturunan Cina, tapi ternyata gadis asli Jakarta. Jarang gue ketemu Gadis Betawi yang cantik seperti Mini, dan dia jadi target Petualangan gue kali ini.

Karena urusan kredit, komunikasi dengan telepon sering, sampai suatu saat gue mulai bicara yang sifatnya pribadi. Gue Tanya apa aktifitas dia setelah jam kantor, Mini menjawab, suka jalan sama temen, main, makan karaoke dsb…dsb….dsb…
Lalu gue iseng menanyakan, apakah dia mau jalan sama gue setelah jam kantor, diluar dugaan gue, Mini menjawab oke. Akhirnya kami janjian untuk date…..

Sore itu, gue janjian di Hotel H, karena Mini gak mau dijemput kekantor, tentunya untuk menjaga status kita masing2. Gue dikenal sebagai nasabah oleh teman2nya, bukan sebagai teman kencan dan sebaliknya.

Sore itu gue ajak Mini makan disuatu restoran yang cukup enak, tapi tidak ramai dengan pengunjung, karena restoran ini menghidangkan khas makanan2 Belanda/Eropa. Suasananyapun sunyi, memang enak untuk date disini. Kami ngobrol macam2 sambil gue menikmati pemandangan kecantikan Mini.
Karena waktu masih sore, gue ajak Mini nonton Jazz di Klub Jazz dekat resotran itu. Penonton sudah penuh, sehingga tempat dudukpun sudah tidak ada.

Kami berdua berdiri berdekatan sekali, sekali2 tangannya halus dengan bulu2 halus gue pegang Mini diam saja. Posisi padat pengunjung, membuat kami harus makin rapat berdiri, karena Mini sedikit lebih pendek dari gue, dia berdiri didepan membelakangi gue, pinggangnya gue rangkul pelan. Mini tidak menolak, bahkan tangan gue diarahkan kebagian depan tubuhnya melingkar dan didekapnya. Sekali2 wangi parfum yang dia pakai merangsang otak dan pikiran gue, pelan namun pasti gue dekatkan hidung dan mulut gue kekuduknya, kadang kelehernya. Mini diam saja tanpa memberikan reaksi negative, seolah ia menikmati sensasi ini. Tangan gue juga makin gue eratkan memeluk tubuh Mini, sepertinya Mini mengharapkan itu, karena selain ruangan yang dingin, terasa hangat dengan posisi kami berdiri seperti itu. Sempat gue curi cium pipi Mini, juga Mini tidak memberikan reaksi negatif, malah kepalanya direbahkan dibahu kiri gue, sambil menikamti iram pop jazz.

Keadaan ini tidak menguntungkan, karena ada tugas pagi dikantor, dan Mini juga harus menemui nasabahnya pagi2. Sehingga kami sepakat untuk pulang dan akan kembali menikmati suasana malam Jkt dilain waktu.

Selang kurang dari seminggu, gue ngajak date Mini, kali ini dia ngajak gue Karaoke di Hotel B didaerah Barat Jkt, sekitar Jalan Toll. Mobil gue luncurkan setelah menjemput dia disuatu tempat yang kita janjikan.
Kami dapat ruangan yang relatif baik, lengkap dengan Km/WC didalam. Suasana saat masuk, sangat terang, tapi kemudian dibuat redup oleh pelayan, dan sungguh romantis sekali. Sebelum karaoke-an, Mini gue ajak makan dulu, sambil pilih2 lagu.

Saat kami mulai berkaraoke, otak gue sudah tidak konsentrasi, sambil duduk disofa panjang menghadap TV, dan bergantian bernyanyi dengan Mini, gue mulai aktif tapi dengan gentle. Awalnya tangan gue merangkul bahunya sambil nyanyi, Mini malah merapatkan badannnya. Kondisi ini tidak bertahan lama, saat menunnggu operator memutar lagu berikutnya, pelan tapi pasti, muka Mini gue rengkuh, bibirnya yang halus lembut, gue kecup perlahan, Mini diam saja. Mata Mini masih setengah terpejam, saat kecupan lembut kedua gue mulai kebibirnya, tangan gue mulai membelai muka Mini, dan kecupan lembut mulai gue tingkatkan dengan lumatan French Kissis. Mini mebalasanya. Cukup lama kami berciuman, hamper 5 menit tanpa lepas. Pada tahap berikut, tangan gue mulai aktif dengan lembut juga, Mini malah merangkulkan tangannya dileher gue, dadanya yang kecil mulai menjadi sasaran tangan tangan gue. Sementara tangan kiri merangkul leher Mini yang ditumbuhi bulu2 halus. Sangat menawan.

Pelan tapi pasti, tangan ini mulai masuk disela belahan baju Mini, dipermukaan renda BHnya yang halus. Ciuman tidak kami hentikan, tangan gue pun mulai meremas halus dada Mini. Erangan Mini mulai terdengar ditelinga gue, halus tapi pasti, Ternyata Mini mulai menikmati permainan ini.

Mini tidak seperti Ina, yang relative pasif dalam bercinta. Ciuman gue mulai menjalar kemuka, dahi, kening, dan leher Mini. Mini merespon dengan merangkul pelukannnya lebih erat saat lehernya gue kecup halus, sambil napas gue hembuskan. Sampai ditelinganya, gue jilat halus juga, dan reaksi Mini sangat responsif sekali. Ternyata Mini sangat sensitif pada bagian2 tubuhnya yang mulai gue incar.

Tangan gue yang sejak tadi bekerja didada Mini, mulai menyelusup dibalik BHnya, tangan kiri gue sudah tidak dipundak Mini lagi, tapi sudah turun kebagian punggung, menyelinap dibalik blousnya, dengan usapan halus naik keatas, mencari kaitan untuk melepaskan BHnya.
Mini sama sekali tidak menolak, saat BHnya lepas, dan buah dadanya terlihat jelas, kulit halus membukit sampai keputingnya yang kecil padat berisi.

Kancing blous Mini yang sudah lepas, memberikan ruangan yang lebih leluasa buat gue untuk mengulum puting halus Mini. Mini terlena sekali dengan aktifitas gue ini. Kuluman gue sekali2 menggigit halus putting susu Mini, membuat tangan mini mendekap kepala gue keras, seolah tidak melepaskan mulut ini dari putting susunya.

Sambil beraktifitas gue berfikir, apakah Mini masih perawan atau sudah biasa dengan permainan2 seperti ini. Itu akan terjawab sesaat lagi…………

Seluruh tubuh bagian atas rok Mini sudah terbuka bebas, tangannyapun mulai menggapai kancing baju gue, dasi yang sejak tadi masih melingkar dileher gue ternyata sudah dilepas Mini, tanpa gue tahu sama sekali. Suara2 erangan kenikmatan memang tidak keras, tapi telinga gue yang dekat dengan mulut Mini, yakin mendengar erangan halus kenikmatan ini….ouuuggghhh…..oouuugggghhh bang Dimas….

Otak gue masih bepikir, apakah tangan gue harus mulai merambah ke inti kewaniataan Mini…..pikiran itu hanya sekejap, karena secara refleks, tangan ini mulai mangusap paha Mini sambil menyingkapkan rok Mininya. Rok mini yang dipakai tidak sulit untuk menyingkapkannya keatss, sehingga terlihat jelas CD Mini berwarna pink. Oh indah sekali, dikombinasikan dengan kulit kuning Mini. Tangan gue menggosok permukaan CD bagian bawah Mini, terasa basah, ternyata vagina Mini sudah mengeluarkan lendirnya.

Tangan gue mulai menyelusup dibalik CDnya untuk memainkan peran dalam CD Mini, terasa bulu2 halus diselingkar vagina Mini, jari2 gue yang masuk kebali CDnya langsung menuju liang yang ternyata sudah merekah.

Ada dorongan tolakan tangan Mini saat tangan gue mulai beraksi divagina Mini……dia berkata, bang Dimas……sambil mengerang rasa nikamt elusan tangan dibibir vaginannya……”Mini masih perawan, belum pernah sama sekali bang…..jangan lakukan itu……ouuuggghhhh”
Respon Mini itu gue jawab…..kamu mau kita stop saja???
Kelihatan keraguan dimuka Mini….saat dia dalam kondisi bimbang itu, gue kecup halus bibirnya….lalu dia Tanya….bagaimana kalau hamil???
Gue Cuma jawab, tidak akan melepaskan muntahan mani dalam liang vaginanya…..ada reaksi berseri dimuka Mini, seolah mengerti apa yang gue maksud.

Tubuh Mini sudah terlentang setengah telanjang disofa ruang Karaoke, lampu redup memberikan efek pada kulit Mini yang kuning, halus dan bersih terawat itu. Lagu2 Karaoke yang kami pesan terus diputar oleh operator musik. Hanya berbentuk suara instrumentalia saja, karena vokalnya sudah dikecilkan operator.

Mini diam, dengan elusan tangan dan kecupan gue ditubuhnya, kembali putting susunya gue kulum sambil tangan gue meremas-remas halus. Teras susunya mulai keras, tangan kiri gue membuka resleting rok mini Mini. Tangan kanan gue kembali beroperasi divagina Mini. Mini tetap pasif dalam merespon aktifitas gue ini. Disatu sisi terlihat bahwa Mini memang belum pernah mengalami sentuhan laki2 sampai sejauh apa yang gue lakukan. Mungkin, apa yang dia kerjakan selama ini dengan teman laki2 lain, hanya sebatas touch n kiss saja, tidak lebih. Tangan gue lebih proaktif disekitar bibir vagina Mini yang sudah sangat basah dengan lendirnya, mata Mini terpejam menikamti semua ini, tangannya tidak lepas dari kepala gue, sambil sekali2 menekan, dan kadang seolah mencubit atau menggenggam keras bahu gue, saat tubuh Mini memberikan reaksi sensitive akibat operasi tangan gue.

Pelan2 gue lepaskan seluruh blous, rok dan CDnya. BH Mini sudah tergeletak dilantai ruang Karaoke, baju gue juga dah dilepas, hanya berkaos dalam, resleting celana mulai gue lepas. Mini sudah telanjang bulat dihadapan gue, matanya terpejam, saat gue memperhatikan tubuh yang indah ini. Bulu2 halus disekitar vagina Mini, sangat terawatt dan tertata baik….Sungguh cantik wanita ini…..luar biasa. CD gue juga sudah lepas, terlihat Mini sudah pasrah antara berharap kenikmatan dan takut dengan lepas perawannya.

Tapi gue memperlakukan Mini dengan sangat gentle sekali, tidak ada kekerasan seperti emosional yang sudah dipengaruhi nafsu. Otak jernih gue masih berjalan rapi, sesuai dengan strategi yang gue lakukan, agar Mini bisa menerima dan menikmati sorga dunia ini.

Tibah2 dia merengkuh bahi gue, dan sambil mengerang minta penis gue untuk segera dimasukan dalam vaginannya. Ternyata Mini sudah tidak tahan dengan reaksi yang timbul akibat fourplay yang gue kasih. Mungkin dia berpikir, jangan sampai mubazir…..erangan Mini gue balas dengan kecupan lembut bibirnya yang ranum itu. Mini malah membalasnya dengan permainan lidanya dimulut gue. Sangat lihai sekali Mini dalam hal French kiss ini. Akhirnya badan gue mulai gue rebahkan diatas tubuh Mini, tangannya langsung merangkul pinggul gue dan menariknya. Penis gue sudah menekan vagina Mini, lendir divaginanya menolong penetrasi masuknya penis gue, ada rasa basah lekat dibatang penis gue. Gue angkat pantat gue pelan2, dan unjung penis gue arahkan ketitik pusat vagina Mini yang sudah basah dengan lendir kenikmatan Mini. Memang lubang vagina Mini masih rapat sekali, sekali2 terdengar erangan kesakitan Mini akibat tekanan yang gue kasih, tapi tangan Mini tetap menolong dengan menekan pinggul gue kearah tubuhnya…..sllleeeeps…masuklah seluruh penis gue ke lubang vagina Mini, dan aksi tekanan turun naik gue lakukan, membuat badan Mini menggeliat menikmati ayunan penis gue dalam vaginannya.

Dorongan2 halus, membuat reaksi sensitifitas Mini, tangannya yang melingkar dibahu gue muali mengaikt lebih keras dengan dekapan. Pipi gue diciumnya dengan gemas, mulutnya mencari bibir gue. Kami kembali melakukan French kiss, sambil pinggul dan pantat gue aktif melakukan tugas pemompaan dengan irama yang gue sesuiakan dengan irama musik ruang karaoke saat itu.

Akhirnya, Mini mencapai klimaks orgasmenya, dengan memuntahkan cairan hangat diliang vagina, terasa hangat dipenis gue. Mini menggigil seperti orang kedingina menahan reaksi orgasme yang dia alami. Penis gue tetap bekerja karena gue baru saja mulai mendadki kepuncak kenikamatan.
Tegang waktu kira2 3 menit, Mini mulai terangsang lagi, tapi kelihatan dia sudah lelah dengan orgasme tadi. Pinggulnya mulai memberikan reaksi atas permainan penis gue divaginannya. Mini sudah mulai merespon permainan penis gue. Tangan Mini mendekap muka gue sambil menatap dengan senyumnya. Bibirnya kembali gue kecup lembut. Mini membalas kecupan lembut juga sambil memeluk gue erat.

Mini mulai mendaki kearah orgasme kedua, pinggulnya makin kencang bergoyang, kadang menjepit dan melingkarkan kakinya kepinggul gue, sehingga lubang vaginannya terasa menjepit penis gue. Pada saat seperti ini, Mini kembali memeluk erat tangan yang dilingkarkannya dibadan gue….dan kembali erangan Mini keluar, sambil berkata….bang Dimas teruuuss…..ouuugghhh bang ……. teruuuss bang …….. ouuugghhh….. ouuuggghh bang Dimas….

Gue bilang tahan Min, bang Dimas hampir sampai juga…..kita sama2 aja kepuncaknya tapi saya akan keluarkan diluar saja….Mini hanya bisa menjawab dengan erangan…..biar didalam saja baannng, jangan dicabuuuut… aagghhhh… baaanngg…Akhirnya Mini kembali mencapai puncak orgasme kedua, dengan menuangkan lendir hangat…..sementara gue yang tidak jadi mengangkat penis dari vagina Mini, juga sudah mencapai puncak, dan dengan genjotan kuat dan dalam gue tembakan air mani gue dalam vagina Mini…Mini mengerang kenikmatan menerima air mani gue. Karena penis gue mencapai puncak ereksinya…dan itu membongkar dinding halus vagina Mini.

Kami berpelukan kelelahan…..suara musik terus mengalun dari loudspeaker stereo…..Mini berkata….bang Dimas, suka nyeleweng ya…??? Kasihan mbak dirumah lho…..
Gue tersenyum dengan celoteh Mini itu, sambil gue kecup lagi bibirnya yang mungil gue jawab….gak mudah buat abang untuk nyeleweng seperti dengan Mini ini. Kamu cantik dan imut2 membuat abang lupa diri…..

Mini menjawab….abang telah Mini kasih kartu Perdana lho…..hati2 jangan sampai lupa ngisinya kalau pulsanya habis…..

Gue ngerti apa yang dimaksud Mini, ternyata dia telah memberikan keperawannya kegue, dan gue justru balik nannya…kenapa kartu Perdananya dikasih keabang??? Mini cuma jawab… Mini suka sama abang sejak pertama kali lihat waktu datang kekantor urus kredit dulu….jadi gak apa2 kok, Mini suka bang…….

Sejak saat itu, beberapa kali kami melakukan date sampai tuntas dalam rangka mengisi ulang kartu perdana yang dikasih Mini….sampai akhirnya Mini minta distop, takut makin terbawa arus perasaan wanitanya, sementara gue dengan jiwa petualang……

Memang sulit kalau perasaan sudah mulai ikut berbicara pada kondisi seperti gue dan Mini ini……….Terima kasih Mini atas penyerahan Kartu Perdananya…

Antara Jogja Bekasi

by admin | June 8, 2010 | In cerita dewasa

Sebuah kisah nyata yang terjadi pada pertengahan tahun 2001, diawal musim kemarau yang panjang.

Pada saat kisah ini terjadi aku masih berusia 19 tahun. Pada pertengahan tahun 2001 aku menadapat telpon dari keluarga agar segera datang ke Bekasi Jawa Barat, dikarenakan adanya acara rembugan keluarga besarku. Sebenarnya aku kurang begitu tertarik dengan acara rembugan keluarga yang terasa amat menjemukan, karena aku lebih tertarik pada world IT, yang memang pada tahun itu demam internet di Jogja benar-benar mencapai puncaknya dengan munculnya banyak warung internet laksana jamur di musim hujan.

Singkat kata, aku segera memesan tiket bus malam jurusan bekasi yaitu bus “SA”, karena aku sudah mengenal salah satu stafnya sehingga mudah bagiku untuk mendapatkan tempat duduk yang kuinginkan. Maka keesokan harinya aku berangkat dari terminal Umbulharjo yang kini sudah rata dengan tanah. Ternyata penumpang sore itu teramat sepi hanya beberapa orang saja, praktis kami bebas meilih tempat duduk sesuai yang kami inginkan.

Pada jam 17:00 tibalah bis di pool pemberhentian di kantor pusat mereka di Kutoarjo Jawa Tengah. Disini kami cukup lama berhenti karena ada beberapa penumpang baru. Sebenarnya aku tidak terlalu tertarik dengan para penumpang baru itu karena mereka semua para rombongan dari beberapa keluarga. Tanpa sengaja perhatianku terarah pada seorang gadis yang langsing tinggi badan 160 an rambut sepunggung kult sawo matang. Ternyata dia berangkat bersama kakaknya yang telah bersuami. Gadis itu duduk di bangku tengah kalo tidak salah seat 11-12 dia duduk sendiri sementara kakaknya duduk di seat 7-8 tepat didepannya. Dikarenakan para penumpang baru banyak para lanjut usia maka munculnya jiwa sosialku untuk memberikan tempat dudukku kepada mereka, kemudian aku pindah agak kebelakang pada seat 15-16 tepat di belakang gadis yang barusan naik.

Pada jam 17:30 bis mulai berangkat kembali meneruskan perjalanan menuju arah matahari terbenam. Hingga akhirnya kota demi kota terlewati jembatan demi jembatan terlalui. Tanpa disadri aku terserang kantuk hingga akhirnya tertidur tapi agak sulit bagiku untuk tidur mengingat jalur selatan Jawa Tengah yang sempit sehinggga rem mendadak sering terjadi hingga membangunkanku. Saat itu pikiranku mulai ngeres dan mulai membayangkan yang tidak tidak. Yang selalu muncul hanyalah bayangan gadis yang duduk di depanku tapi masih masih bisa kutahan karena para penumpang juga masih banyak yang ngobrol ngalor-ngidul.

Tanpa terasa waktu telah menunjukkan pukul 00:30 saat itu perjalanan sudah mulai memasuki wilayah perbatasan Jawa Tengah – Jawa Barat. Saat itulah pikiran kotor dan keinginan untuk berbuat yang “kuinginginkan”. Mulai lah aku menarah tangankan di sandaran tempat gadis itu duduk. Perbuatan iseng itu kulanjutkan dengan mulai menyentuh rambutnya dan membiarkan kepalanya menempel ditanganku. Aku mulai melihat kiri kanan untuk mengamankan situasi, kemudian aku melihat melalui celah antara bangku untuk melihat apakah gadis itu benar-benar tidur. Aku tertarik pada tonjolan pada dadanya, aku memperkirakan dia memakai bra 34A (cuma perkiraan) karena cupnya tidak terlalu besar.

Semakin lama aku semakin berani menaruh tanganku di belakang kepalanya agar aku bisa mencuri kesempatan. Tapi berkali-kali dia merasa terganggu dengan tanganku hingga sering memperingatkanku dengan berkata”Mas! Tolong tangannya”. Berkali kali dia memperingatkanku untuk tidak mencoba mengganggunya. Tapi perbuatan itu terus kuulangi mungkin karena sudah jenuh memperingatkanku dia akhirnya cuek saja. Saat inilah ibarat pepatah Dikasih hati minta jantung mulai berlaku. Dengan perlahan aku mencoba mlewatkan tanganku melaui celah antara bangku untuk memegang dadanya yang masih terbungkus. Ahhhh dalam pikiranku hmmm… benar-benar hangat. Saat itu gairah mulai bergejolak dan menyebabkan berbuat lebih nekat kuulangi terus kadang aku mencoba meremasnya perlahan. Tapi aku selalu waspada kalau-kalau dia terbangun. Aku makin gelap mata terus menyentuh dan sesekali meremas dadanya.

Ketika dia terbangun aku dengan cepat menarik tanganku, tapi aku yakin dia pasti mengetahui kalo aku memegang dadanya berkali-kali. Kemudian dia mengambil jaket untuk dijadikan selimut sekaligus tameng untuk menutupi tubuhnya dari tanganku yang kreatif. Aku selalu mengawasi keadaannya dari belakang, ketika jaket penutupnya mulai bergeser aku memulai aksiku berkali-kali hingga “batang kejantanan”ku mulai mengeras. Ketika aku mencoba mengulangi untuk menyentuh dadanya tiba-tiba dia terbangun dengan cepat dan menangkap basah aku, dan berkata “Mas!!!”. Dengan wajah ketus dia memandangiku seolah penuh kebencian. Aku benar-benar sudah habis aku sangat khawatir kalau-kalau dia melapor pada awak bus atau pada kakaknya. Kemudian aku berpura-pura tidur tapi ternyata dia tidak melporkan ku. Aku semakin merasa curiga dan semakin yakin bahwa selama 1/2 jam aku mencoba bergerilya dia sengaja membiarkanku.

Dengan cepat aku mengambil inisiatif untuk duduk di sebelahnya dengan alasan untuk meminta maaf. Kemudian aku berkata “Mbak.! Saya minta maaf atas perbuatan saya tadi, saya benar-benar khilaf”. Dia menjawab “Awas! Jangan coba mengulanginya lagi”. Aku menjadi tenang kemudian aku berusaha memberanikan diri untuk mengajaknya berkenalan. Walaupun dengan nada yang sedikit ketus akhirnya dia memperkenalkan diri dan kami akhirnya berkenalan ternyata dia bernama Erna berusia 23 tahun, alumni sebuah sekolah tinggi ilmu ekonomi swasta di Jakarta, dia mengatakan kalau dia bekerja di Cikampek. Dan ternyata dia naik bus untuk tujuan Cikampek.

Tanpa terasa waktu semakin cepat berlalu waktu itu jam menunjukkan pukul 02:00 dinihari dan perjalanan sudah berada di wilayah Kabupaten Indramayu. Aku semakin berfikir taktis bahwa sebentar lagi Cikampek akan menyambut. Aku mulai bertanya “Mbak Erna tadi kenapa kok waktu saya pegang dadanya diam aja? Pura-pura nggak terasa ya?” dia menjawab “Lah orang tidur kan nggak terasa”. Aku kembali barkata “Ah.. yang bener tapi tadi kenapa pake acara ditutupi jaket segala?” Tanpa henti aku berkata lagi “ Udah jujur aja mbak Erna suka kan digituin?”. Akhirnya dia mengaku “Ihh perempaun mana yang nggak suka kalau dipegang cowok. Lesbi kali yang nggak suka”. Dia meneruskan “Kamu sih pegang-pegang dada cewek sembarangan maen nylonong aja, emangnya maling?”. Kemudian aku langsung mengambil tindakan dengan memegang tangannya, dan berkata “Tangan mbak dingin banget sih”, lalu dia menjawab “Iya nih ACnya dingin banget”. Stelah beberapa menit pegangan tangan maka aku beranikan menuntun tangannya untuk memegang “rudal”ku yang amat keras yang masih terbungkus celana. Beberapa kali dia menolak bahkan sempat memelototi aku. Sampai pada usaha terkahir Pucuk dicinta Ulampun Tiba, aku merasa kaget dia mencoba memasukkan tangannya kedalam celanaku aku dengan cepat melepas jaketku dan menutupinya menggunakan jaket. Aku merasa kelojotan tangannya yang halus mengocok-ngocok batang lunak itu dengan perlahan tapi terasa kadang sampai meringis kenikmatan. Kemudian dia menyandarkan kepalanya dipunda kananku. Tapi aku langsung mencium bibir nya kulumat tanpa ampun tapi tetap menjaga agar tidak bersuara. Saat kulumat bibirnya dia bersuara pelan “mmmmmmfffffffffff” menahan nafas.

Tangan kananku mulai mencoba memeluknya kemudian tanganku masuk ke dadanya aku langsung meremasnya perlahan dan memelintir puting susunya. Tangannya semakin cepat mengocok-ngocok penisku sampai aku hampir tak mampu menahan suara. Kemudian dia berbisik “Jangan dada melulu donk”. Dengan cepat tanganku ku masukkan ke celananya dan ahhhhhhh aku menemukan semak belukar kemudian menurui bukit dan menemukan danau kenikmatan. Dengan perlahan aku menggesekkan jariku kemudian mencoba memasukkan jari tengahku kedalam liang nan hangat. Aku semakin nekat dengan agak memaksa aku menaikkan sweaternya dan mengeluarkan payudara dari bungkusnya seperti bayi sehat yang haus akan ASI aku hisap putingnya kuat kuat hingga dia mendesah pelan “sssshhh”. Sepertinya gadis 23 tahun itu tak kalah agresif tangannnya semakin cepat mengocok penisku tanpa ampun. Dia berbisik “Aku keluar” tanpa aku memperdulikannya, aku terus menghisap dan menjilati putingnya diselingi gigitan kecil gigi seriku bergantian kiri dan kanan.

Memang saat itu aku merasa ada ciran deras yang keluar dari vaginanya itu, cairan hangat dan kental khas aroma kewanitaan. Kemudian dia berbisik “Nanti kalau mau keluar bilangnya biar aku telen semua seperma kamu”. Aku menjawab “Iya, sebentar lagi keluar”. Tiba-tiba kocokannya semakin cepat aku berkata “Hampir keluar say”. Dengan cepat dia mengocok diselingi kuluman nikmat. Dan akhirnya “Sssshhhhhhhhhhhh hmmmfffffff” sambil menahan suaraku. Nafsu angkara itu tertumpahkan dalam bentuk cairan hangat dan kental. Dia menghisapnya dengan kuat dia memaksa agar semua cairan keluar dan menjilati ujungnya. Erna benar-benar menelan seluruh cairan yang keluar dari batang kejantananku. Kemudian aku mengambil Aqua kemasan 600 ml untuk segera diminum oleh Erna manisku. Kami hanya tersenyum kemudian dia mencium pipiku dengan mesra sembari memberikan kartu namanya.

Akhirnya bus berhenti di Cikampek pada jam 03:45, Erna beserta keluarganya turun di Cikampek. Pada saat akan meninggalkan bangku di berbisik “Jangan pernah lupakan Erna Apriliani”. Dia menyebutkan nama yang sama dengan yang tertera pada kartu namanya. Aku hanya tersenyum tanpa bisa berbicara lagi.

Sudah enam tahun yang lalu kenanangan ini tersimpan tapi aku tak pernah tahu apa yang terjadi selanjutnya dengan Erna Apriliani. Mudah-mudahan mbak Erna baca cerita ini.

Masih adakah erna-erna yang lain?
__________________
• TAMAT •

Partly powered by CleverPlugins.com