Minggu, 24 Oktober 2004

“Hallo?”, kataku ketika telepon sudah tersambung.
“Hallo?”, terdengar suara wanita menjawab.
“Ini pasti Bu Novianti, ya? Saya Roy Takeshi, Bu..”, kataku.
“O, Pak Roy.. Apa kabar?”, tanya Novianti ramah.
“Baik, Bu.. Bisa bicara dengan Pak Yoga, Bu?”, tanyaku.
“Suami saya sejak kemarin malam pulang ke Semarang, Pak..”, kata Novianti.
“O begitu ya, Bu.. Well, kalo begitu saya pamit mundur saja, Bu..”, kataku cepat.
“Sebentar, Pak Roy!”, kata Novianti menyela.
“Ya ada apa, Bu?”, tanyaku.
“Tidak ada apa-apa kok, Pak. Hanya saja rasanya kita sudah lama tidak pernah bertemu”, katanya.
“Betul sekali, Bu. Kebetulan saja saat ini sebetulnya saya ada perlu dengan Pak Yoga tentang masalah bisnis kami, Bu”, kataku.
“Ada yang bisa saya bantu, Pak Roy?”, tanya Novianti serius.
“Mm.. Kayaknya tidak ada, Bu. Terima kasih..”, kataku lagi.
“Sekarang Pak Roy sedang dimana?”, tanyanya kian melebar.
“Saya sedang di jalan, Bu. Tadinya mau ke rumah Ibu. Tapi ternyata Pak Yoga tidak ada di rumah..”, kataku seadanya.
“Kesini saja dulu, Pak Roy!”, ajak Novianti.
“Gimana, ya?”, kataku ragu.
“Ayolah, Pak Roy.. Teman suami saya berarti teman saya juga. Please..”, pintanya.
“Baiklah, saya akan mampir sebentar..”, kataku setelah berpikir sejenak.
“Okay.. Saya tunggu, Pak Roy. Bye”, kata Novianti sambil menutup telepon.

Segera aku menuju ke rumah Yoga, teman bisnisku. Di teras sebuah rumah di kawasan Cipinang Indah, tampak seorang wanita tersenyum ketika aku mendekat. Novianti, sekitar 27 tahun, wajah lumayan enak dipandang. Kulit putih, postur tubuh sedang saja. Yang membuatku suka adalah tubuhnya yang seksi terawat. Aku kenal dia sekitar satu tahun yang lalu ketika aku mengantar Yoga suaminya, pulang dari urusan bisnis.

“Silahkan masuk, Pak Roy”, katanya sambil membuka pintu rumahnya.
“Terima kasih”, kataku sambil duduk di ruang tamu.
“Mau minum apa, Pak?’, tanyanya sambil tersenyum manis.
“Apa saja boleh, Bu..”, jawabku sambil membalas senyumannya.
“Baiklah..”, katanya sambil membalikkan badan dan segera melangkah ke dapur.

Mataku tak berkedip melihat penampilan Novianti pagi itu. Dengan memakai kaos tank-top serta celana pendek ketat/hot span, membuat mataku dengan jelas bisa melihat mulusnya punggung serta bentuk dan lekuk paha serta pantat Novianti yang bulat padat bergoyang ketika dia berjalan.

“Maaf kelamaan..”, kata Novianti sambil membungkuk menyajikan minuman di meja. Saat itulah dengan jelas terlihat buah dada Novianti yang cukup besar. Darahku berdesir karenanya.
“Silakan diminum..”, katanya sambil duduk.

Kembali mataku selintas melihat selangkangan Novianti yang jelas menampakkan menggembungnya bentuk memek Novianti.

“Iya.. Iya.. Terima kasih..”, kataku sambil meneguk minuman yang disajikan.
“Sudah lama sekali ya kita tak bertemu..”, kata Novianti membuka percakapan.
“Betul, Bu. Sudah sekitar enam bulan saya tidak kesini..”, jawabku.
“Senang rasanya bisa bertemu Pak Roy lagi..”, kata Novianti tersenyum sambil menyilangkan kakinya.

Kembali mataku disuguhi pemandangan yang indah. Bentuk paha indah Novianti membuat darahku berdesir kembali. Ini perempuan kayaknya bisa juga.., pikiranku mulai kotor.

“Hei! Pak Roy lihat apa?”, tanya Novianti tersenyum ketika melihat mataku tertuju terus ke pahanya.
“Eh.. Mm.. Tidak apa-apa, Bu..”, jawabku agak kikuk.
“Hayoo.. Ada apa?”, kata Novianti lagi sambil tersenyum lebar. Aku suka tatapan matanya yang terkesan binal.
“Saya suka lihat bentuk tubuh Ibu, jujur saja..”, kataku memancing.
“Memangnya kenapa dengan tubuh saya?”, tanyanya sambil matanya menatap tajam mataku.
“Mm.. Nggak ah.. Nggak enak mengatakannya..”, jawabku agar dia penasaran.
“Tidak enak kenapa? Ayo dong Pak Roy..”, katanya penasaran.
“Sudah ah, Bu.. Malu sama orang.”, kataku sambil tersenyum.
“Iihh! Pak Roy bikin gemes deh..”, katanya sambil bangkit lalu menghampiri dan duduk di sebelahku.
“Saya cubit nih..! Ayo dong katakan apa?”, katanya sambil mencubit pelan tanganku.
“Yee.. Ibu ternyata agresif juga ya?!”, kataku sambil tertawa.
“Tapi suka, kan?”, katanya manja.
“Iya sih..”, kataku mulai berani karena melihat gelagat Novianti seperti itu.
“Kalau begitu, ayo dong Pak Roy kasih tahu ada apa dengan tubuh saya?”, tanya Novianti agak berbisik sambil tangannya ditumpangkan di atas pahaku. Aku tak menjawab pertanyaannya, hanya tersenyum sambil mataku tajam menatap matanya.

“Ihh, kenapa Pak Roy tak mau jawab sih?”, suara Novianti terdengar pelan sementara matanya menatap mataku.

Beberapa saat mataku dan mata Novianti saling bertatapan tanpa bicara. Sedikit demi sedikit kudekatkan wajahku ke wajahnya. Terdengar jelas nafas Novianti menjadi agak cepat disertai remasan tangannya di pahaku ketika bibirku hampir bersentuhan dengan bibirnya.

“Tubuh Ibu seksi..”, bisikku sambil menempelkan bibirku ke bibir merahnya.
“Mmhh..”, desahnya ketika kukecup dan kulumat perlahan bibirnya.

Tak kusangka Novianti membalas lumatan bibirku dengan sangat panas dan liar. Lumatan bibir, hisapan dan permainan lidahnya benar-benar membuatku bergairah. Apalagi ketika tangan Novianti dengan berani langsung memegang dan meremas celana bagian depanku yang sudah mulai menggembung.

“Mmhh..”, desahnya ketika tanganku mulai meraba buah dadanya yang cukup besar menantang.
“Kita pindah ke kamar saja, Pak Roy..”, bisiknya sambil bangkit dan menarik tanganku.
“Oke..”, jawabku sambil meremas pantatnya.

Segera kuikuti Novianti ke kamarnya sambil sesekali memegang dan meremas pantatnya. Di dalam kamar. Novianti tanpa segan lagi langsung melepas semua pakaiannya hingga dengan jelas aku bisa menyaksikan betapa seksinya tubuh dia. Aku suka buah dadanya yang cukup besar dengan puting susu kecil berwarna agak coklat. Apalagi ketika melihat memeknya yang dihiasi bulu yang tak terlalu banyak tapi rapi.

“Ayo dong lekas buka pakaiannya..”, kata Novianti ketika melihatku belum membuka pakaian.
“Tubuh Ibu sangat bagus..”, kataku tersenyum sambil membuka pakaianku.
“Apa yang Pak Roy suka?”, tanya Novianti sambil menghampiri dan membantu membuka pakaianku.
“Saya suka ini..”, kataku sambil meremas buah dadanya lalu meraba memeknya.
“Ihh, nakal..!!”, katanya sambil memegang dan mengelus kontolku yang sudah mulai tegang. Kurengkuh belakang kepalanya lalu segera kulumat bibirnya, Novianti pun segera membalas lumatanku sembari tangannya makin keras meremas kontolku.
“Uhh..”, desah Novianti ketika tanganku meremas buah dadanya dan sesekali memainkan puting susunya.

Sambil berdiri kami berciuman dan saling raba apa pun yang mau diraba, saling remas apapun yang mau diremas. Sampai beberapa saat kemudian, kudorong dan kurebahkan tubuh mulus telanjang Novianti ke atas ranjang.

“Oww.. Pak Roy! Enakkhh..”, desah Novianti keras ketika bibirku menyusuri belahan memeknya sementara tanganku memegang dan meremas buah dadanya.
“Ohh.. Ohh..”, jerit Novianti sambil menggelinjang ketika lidahku menjilati kelentit dan lubang memeknya bergantian.

Tubuh Novianti makin bergetar dan melengkung ketika sambil kujilat kelentitnya, kumasukkan jariku ke lubang memeknya. Terasa di jariku jepitan-jepitan pelan lubang memeknya ketika jariku kukeluarmasukkan perlahan.

“Oohh..”, jerit Novianti makin keras serta dengan keras menjambak kepalaku dan mendesakkan ke memeknya.
“Aku mau keluarrhh, Royyhh..”, jerit Novianti sambil menggerakan dan mendesakkan memknya ke mulutku.
“Oohh!! Nikmaatthh..!!”, jerit Novianti ketika mendapatkan orgasme, lalu tubuhnya melemah. Aku bangkit lalu kutindih tubuhnya.
“Bagaimana rasanya, Bu?”, tanyaku sambil mengecup bibirnya. Novianti tidak menjawab pertanyaanku, tapi membalas kecupanku dengan lumatan ganas walau mulutku masih basah oleh cairan memeknya sendiri.
“Gantian, Pak..”, kata Novianti sambil tersenyum lalu bangkit.
“Mm.. Enak, Bu..”, kataku ketika kontolku dikocoknya sambil sesekali Novianti menjilat kepala kontolku.
“Uhh..”, desahku ketika terasa mulut dan lidah Novianti dengan hangat melumat dan menghisap kontolku.

Jilatan dan hisapan Novianti sangat terasa nikmat. Sangat lihay sepertinya Novianti dalam hal ini. Apalagi ketika lidah Novianti dengan tanpa ragu menjilat lubang anusku berkali-kali sembari tangannya tak henti mengocok kontol. Apalagi ketika ujung jarinya dimasukkan ke lubang anusku, lalu mulutnya tak henti menjilat dan menghisap kontolku.

“Novii.. Enakk bangett..”, kataku sambil terpejam lalu memegang kepalanya. Kemudian kugerakkan kontolku keluar masuk mulutnya.
“Uhh.. Enak sekali, Nov..”, kataku sambil meremas rambut Novianti.
“Sudah deh.. Naik sini!”, pintaku. Novianti menurut.

Setelah menghentikan hisapannya, dia segera bangkit lalu segera naik ke atas tubuhku. Kemudian dengan satu tangan dipegang kontolku lalu diarahkannya ke lubang memeknya. Bless.. Tak lama memeknya sudah mulai digerakkan ketika kontolku sudah masuk.

“Sudah lama saya memimpikan bisa bersetubuh dengan Pak Roy..”, kata Novianti sambil tetap menggerakan pinggulnya turun naik di atas kontolku.
“Memangnya kenapa, Bu.. Mhh..”, kataku sambil meremas kedua buah dadanya yang bergoyang seiring gerakan tubuh Novianti yang bergerak turun naik dengan cepat.
“Mmhh.. Karena.. Mmhh.. Karena sejak pertama kita bertemu, saya sudah suka dengan Pak Roy. Saya tertarik pada Pak Roy.. Mmhh..”, kata Novianti sambil mengecup bibirku. Aku tersenyum lalu membalas kecupannya sambil meremas pantatnya.
“Ohh, Pak Roy.. Enak sekali rasanya..”, bisik Novianti sambil mempercepat gerakannya.
“Ohh.. Sayaanngg.. Ohh..”, jerit Novianti sambil tubuhnya bergerak makin cepat seperti meronta. Sampai akhirnya, serr! Serr! Serr! Novianti mencapai orgasme.
“Ohh..”, jerit Novianti sambil mendekap erat tubuhku sambil mendesakkan memeknya ke kontolku. Tubuhnya bergetar dan meronta merasakan nikmat yang amat sangat.
“Ohh.. Pak Royy.. Enak sekali..”, bisik Novianti sambil mengecup bibirku. Aku tersenyum sambil membalas kecupannya.
“Mau posisi apa, sayang?”, tanya Novianti sambil tetap berada di atas tubuhku.
“Posisi kesukaan Ibu Novi apa?”, aku balik bertanya.
“Doggy style.. Mau?”, tanya Novie sambil tersenyum lalu mengecup bibirku.
“Whatever you want..”, jawabku.

Novianti bangkit lalu mulai nungging di pinggir ranjang. Tampak jelas memeknya merekah merangsang.. Segera kuarahkan kontolku ke lubang memeknya, lalu bless.. Bless.. Aku mulai memompa kontolku dalam-dalam di memeknya. Rasanya sangat nyaman dan nikmat.

“Ohh.. Enak banget memekmu..”, kataku sambil meremas pantat Novianti.
“Mmhh.. Kapanpun Pak Roy mau, akan saya berikan.. Mmhh..”, kata Novianti sambil menoleh ke arahku, sementara pantatnya digoyang dan diputar mengimbangi pompaan kontolku.
“Remasshh.. Remass buah dada saya, Pak Royy..”, desah Novianti sambil meremas buah dadanya sendiri.

Aku pun segera menuruti kemauannya. Sambil memompa kontol, tanganku segera memegang, meremas buah dada dan memainkan puting susu Novianti bergantian.

“Ohh.. Ohh.. Nikmaatthh..”, jerit lirih Novianti sambil memegang tanganku yang sedang meremas-remas buah dadanya.
“Ohh.. Enak sekali, sayang..”, kataku sambil mempercepat gerakan kontolku karena sudah mulai terasa ada sesuatu yang ingin keluar seiring rasa nikmat yang aku rasakan.
“Keluarkan saja di dalam memekku, sayang..”, kata Novianti sambil mempercepat goyangan pantatnya.

Kupercepat kontolku keluar masuk memeknya sambil meremas buah dadanya, lalu tak lama kemudian kudesakkan kontolku ndalam-dalam ke memeknya.. Croott! Croott! Croott! Air maniku menyembur sangat banyak di dalam memeknya seiring rasa nikmat dan nyaman kurasakan. Aku terus desakkan kontolku dalam-dalam ke memeknya sampai kurasakan air maniku habis keluar. Dan akhirnya aku merebahkan diri di samping tubuh molek Novianti.

“Pak Roy hebat.. Saya puas..”, kata Novianti sambil meraba kontolku yang mulai lemas.
“Ibu juga hebat, memeknya sangat nikmat..”, kataku balas memuji.
“Kapan pun Pak Roy mau, saya akan selalu penuhi keinginannya..”, kata Novianti sambil tersenyum lalu mengecup bibirku.
“Kapan pun Ibu perlu saya, just make a call..”, kataku sambil membalas kecupannya.
“Saya mau mandi dulu, Pak Roy.. Mau ikut?”, tanya Novianti manja sambil bangkit dan turun dari ranjang.
“Mandi bareng wanita cantik siapa yang mau nolak?”, kataku sambil bangkit pula.
“Ihh! Genit!”, katanya sambil mencubit tanganku.
“Kalau sudah kena air dingin, bisa ada ronde kedua dong..”, bisik Novianti sambil memeluk tubuh telanjangku.
“Siapa takut..”, jawabku sambil mengecup bibir ranumnya.

Novianti, saya sayang kamu..

E N D

Aku baru saja selesai mandi saat HP-ku berdering. Dari nada deringnya dapat kuketahui kalau dering itu dari nomor telepon salah seorang klienku. Dengan dalam keadaan masih telanjang bulat aku bergegas keluar dari kamar mandi, yang langsung tembus ke kamarku, kamar mandiku memang terletak di dalam kamar.

Sambil mengeringkan badanku dengan handuk, aku menerima telepon dari rumah Pak Budi, seorang klienku.

“Hallo..! Selamat sore”, sapaku setelah menekan tombol.
“Hallo..! Sore Dok..!” balas suara anak kecil di seberang sana. Aku segera bisa mengenali suara di seberang sana, ini adalah suara Andi putra semata wayang Pak Budi.
“Hai..! Andi ya? Ada apa Ndi?” tanyaku.
“Dok! Carla baru saja melahirkan, cepet dong ke rumah”, pinta Andi kekanak-kanakan. Andi memang baru berusia 6 tahun, dan Carla yang dimaksud adalah nama anjingnya yang berjenis mini pincher, bentuknya seperti anjing doberman namun kecil sekali oleh karena itu disebut mini pincher.
“Lahir berapa anaknya Ndi?” tanyaku lagi.
“Ndak tau Dok! Papa yang tungguin sekarang, dokter ke sini dong!” cerocos Andi lagi.
“Baiklah aku langsung ke sana sekarang, tunggu aja ya” sahutku.
“Terima kasih Dok! Daah..!” sambung Andi sambil menutup telepon tanpa menunggu jawaban dariku lagi.

Selesai berbicara dengan Andi melalui telepon, aku pun segera mengenakan pakaian. Aku memakai hem longgar kotak-kotak warna merah maroon yang serasi warnanya dengan rok miniku yang juga berwarna merah maroon. Selesai berpakaian aku bergegas menuju ke rumah Pak Budi di kawasan elite Margorejo Indah.

Sesampai di rumah Pak Budi ternyata Andi sudah menungguku di halaman rumahnya bersama seorang baby sitter. Satpam langsung membuka pintu pagar mempersilakanku untuk langsung masuk. Rumah Pak budi memang cukup besar seperti rumah-rumah lainnya di sekitar perumahan Margorejo Indah, halamannya juga luas. Kuparkir mobilku di depan garasi di samping mobil mewah milik Pak Budi, kontras sekali dengan mobilku yang butut keluaran tahun 90-an.

Begitu turun dari mobil, Andi langsung menggandeng tanganku mengajakku masuk. Kami masuk lewat garasi yang langsung tembus ke dapur yang letaknya bersebelahan dengan ruang makan. Di samping ruang makan ada pintu menuju halaman belakang. Di salah satu pojok dekat kamar pembantu, di situlah rupanya tempat yang telah disediakan untuk Carla melakukan proses kelahiran. Pak Budi tampak sedang berjongkok di dekat box tempat Carla melahirkan.

“Sore Pak Budi” sapaku.
“Ee.. Lia..! Sore.., aduh maaf sudah bikin repot”, sambut Pak Budi ramah.
“Ini si Andi yang bingung terus sejak tadi” tambah Pak Budi.
“Sudah lahir berapa ekor Pak?” tanyaku pada Pak Budi.
“Sudah dua ekor dan keduanya betina, sepertinya masih ada lagi di dalam” jelas Pak Budi padaku.
“Ayo gantian, sekarang ahlinya sudah datang dan aku akan mandi dulu” Imbuh Pak Budi sambil mempersilakanku menempati posisinya.

Aku mendekat ke box tempat Carla melahirkan bayi-bayinya yang mungil, sementara itu Pak Budi naik ke lantai dua rumahnya, mungkin bersiap-siap untuk mandi. Aku ditemani Andi tetap menunggui Carla yang tampaknya sudah mulai gelisah lagi, pertanda anaknya yang ketiga akan lahir.

Saking asyiknya aku menunggui bayi ketiga Carla lahir, rupanya aku tidak sadar bahwa posisiku sedang berjongkok saat itu hingga otomatis pahaku bagian belakang terbuka lebar karena rok miniku bawahannya memang sangat lebar. Memang rok seperti ini biasanya dipakai oleh para cheerleader hingga dengan sendirinya kalau dilihat dari depan arahku berjongkok, semua isi dalam rok miniku dapat terlihat dengan jelas oleh Andi yang duduk di lantai tepat di hadapanku.

Rupa-rupanya si kecil ini sejak tadi telah tertegun memandang isi rok miniku. Aku memang memakai CD, namun CD-ku sangat mini, terbuat dari renda yang ukurannya hanya selebar jari melingkar di pinggangku, selebihnya juga berupa renda yang ukurannya sama tersambung dari belakang pinggangku, turun ke bawah melalui lipatan pantat melingkari selangkanganku. Hanya bagian depannya saja ada penutup yang ukurannya tak lebih dari seukuran dua jari berbentuk hati menutupi bagian depan liang vaginaku, sehingga CD warna merah yang kukenakan ini tidak mampu menutupi bulu kemaluanku yang menyeruak keluar dari celah-celah lipatannya. Rupanya bulu-bulu kemaluanku inilah yang menarik perhatian Andi.

“Dok! Itu kok ada rambutnya?” tanya Andi keheranan sambil menuding ke arah pangkal pahaku.

Aku cukup terkejut dan langsung mengubah posisiku. Kini aku berlutut di depan box. Aku tidak dapat menjawab pertanyaan Andi, untung saja bersamaan dengan itu dari arah belakang saat kutengok ternyata Pak Budi datang menghampiri kami. Pak Budi rupanya sudah selesai mandi. Saat ini dia memakai celana pendek longgar dan T Shirt. Namun tiba-tiba Andi berkata pada ayahnya..

“Pa! Bu dokter sininya ada rambutnya” lapor Andi pada Pak Budi sambil menunjuk ke arah selangkangannya sendiri. Mukaku langsung memerah karena jengah, untung saja Pak Andi cukup bijak dan langsung menegur Andi.
“Hush, tidak boleh ngomong begitu”. Andi rupanya masih belum mengerti mengapa papanya melarangnya bertanya. Tak lama kemudian Bu Lusi istri Pak Budi muncul dan menyapaku..
“Hey Nat! Sudah lama?” sapa Bu Lusi, Bu Lusi memang biasa menyapaku “Nat”, kalau Pak Budi lebih suka menyapaku “Lia”, tidak masalah bagiku.
“Ooh..! Selamat sore Bu!” sahutku pada sapaan Bu Lusi.
“Eeh..! Nat! Kamu di sini dulu ya, nanti makan di sini sekalian saja, kita makan malam sama-sama, aku sekarang mau ngantar Andi ke ulang tahun temannya sebentar, kita tidak akan lama kok, paling cuma kasih kado sebentar terus langsung pulang” demikian jelas Bu Lusi padaku, rupanya Bu Lusi akan pergi mengantar Andi yang memang sejak tadi tampak sudah selesai mandi.

Akhirnya Bu Lusi pergi mengajak Andi yang didampingi baby sitternya. Tinggallah aku di rumah besar itu bersama Pak Budi dan beberapa pembantunya, namun saat ini pembantu Pak Andi sedang sibuk di halaman rumah depan, ada yang menyapu halaman, ada yang menyiram taman dan yang satu lagi sedang membersihkan ruang tamu. Ini kuketahui saat aku datang tadi.

Kini tinggallah aku berdua dengan Pak Budi di teras halaman belakang yang cukup luas, untung Pak Budi tidak lama berdiri di dekatku. Pak Budi duduk di sofa teras belakang, yang letaknya di belakangku, jadi aku memunggunginya tapi jaraknya agak jauh, karena posisinya yang menghadap ke arahku maka saat aku sedikit membungkuk sewaktu membantu proses kelahiran Carla, tanpa kusadari bagian belakang rok miniku sedikit terangkat.

Karena rok yang kukenakan mini sekali maka begitu terangkat sedikit bentuk pantatku dapat terlihat dengan jelas oleh Pak Budi yang duduknya memang agak jauh dariku, namun posisi ini justru lebih menguntungkan baginya. Dengan jelas sekali Pak Budi memperhatikan lekuk belahan pantat dan pahaku bagian atas yang mulus itu. Pemandangan ini rupanya cukup membuat Pak Budi horny hingga dia sudah tidak tahan lagi, kemudian berdiri dan berjalan mendekatiku.

“Lia..! Tadi yang dimaksud Andi rambut apa toh?” Tanya Pak Budi pura-pura ingin tahu. Aku sedikit terkejut dengan pertanyaannya.
“Aaah..! Pak Budi ini kok ikutan tanya yang bukan-bukan?” sahutku tersipu malu.

Pak Budi ikut berjongkok di sampingku, tidak lama kemudian kedua tangannya meraih lenganku dan mengangkatku berdiri, kami pun berdiri berhadap-hadapan. Seketika itu juga Pak Budi langsung menciumku. Aku berusaha mengelak, namun Pak Budi lebih agresif memeluk sambil melumat bibirku.

Usia Pak Budi sekitar 35 tahun, wajahnya lumayan ganteng, badannya tegap dan gagah. Lumatannya membuatku horny, terlebih saat tangannya mulai menyusup ke dalam rok miniku, tangannya mengelus bagian depan pahaku hingga membuatku terangsang dan sedikit tak berdaya.

Akhirnya aku pun mulai berani membalas lumatan bibirnya. Kami berpagutan sambil berdiri, sementara tangan Pak Budi menyusup semakin ke atas pahaku, kurasakan jari-jari tangannya mulai menyentuh ujung CD-ku. Aku merasakan sebuah rangsangan yang cukup dahsyat, terlebih saat jari-jari tangan Pak Budi mulai menjelajah di selangkanganku. Vaginaku diremas-remas dari luar CD-ku, bibirnya tetap tidak berhenti melumat bibirku, lidahnya dijulurkan ke dalam mulutku, aku pun membalas dengan menghisapnya, demikian pula sebaliknya, kujulurkan lidahku ke dalam mulut Pak Budi dan Pak Budi langsung melumat dan menghisap lidahku.

Merasa tempat kami saat ini kurang aman dan bisa tiba-tiba kepergok oleh pembantunya, maka Pak Budi membisiki telingaku sambil mengajakku masuk ke dalam. Pak Budi rupanya juga tahu kalau posisiku saat ini sudah tidak mungkin lagi menolak, karena aku sudah benar-benar terangsang olehnya hingga ujung CD-ku juga sudah lembab oleh elusan jari-jarinya. Maka aku pun mengikuti Pak Budi dari belakang saat ia masuk menuju ruang keluarga dan kami menyelinap ke sebuah kamar tidur yang biasa mereka pakai kalau ada tamu atau kerabat yang datang menginap.

Setelah menutup dan mengunci pintu dari dalam, Pak Budi langsung menciumku kembali sambil merebahkan tubuhku ke tempat tidur. Kakiku masih terjuntai ke bawah sehingga posisiku yang telentang begini membuat bagian depan rok miniku terangkat sampai pangkal paha.

Tangan Pak Budi langsung mengelus selangkanganku yang tersembul keluar, jari tangannya segera disusupkan ke dalam CD-ku melalui ujung lipatannya. Ujung jari Pak Budi langsung dapat menyentuh bibir vaginaku dengan mudahnya. Dielus dan digesek-gesekkannya bibir vaginaku dengan jarinya, sementara jari telunjuknya mengorek-ngorek klitorisku.

Tangan kirinya mulai membuka kancing hem-ku satu persatu hingga buah dadaku langsung terpampang dengan jelas karena aku tidak memakai BH. Seperti kisahku terdahulu, aku memang sejak kecil tidak suka dan tidak terbiasa mengenakan BH hingga hingga kini usiaku sudah 28 tahun, aku tetap tidak pernah memakai BH, jadi tak heranlah kalau aku juga tidak tahu berapa besar ukuran payudaraku.

Yang jelas payudaraku tidak terlalu besar bentuknya, namun sangat indah dan berwarna sedikit merah muda agak kecoklatan di puting dan sekitarnya. Kini payudaraku pun sudah mulai mengeras, dan giliran mulut Pak Budi turun mengulum kedua payudaraku secara bergantian. Dihisapnya puting susuku sambil memainkan ujung lidahnya di ujung puting susuku.

Tangan kanan Pak Budi mencari dan melepas pengait rok miniku dan kubiarkan saja bahkan kuangkat sedikit pinggangku agar dia lebih mudah melepas pengait rok-ku, kemudian ditarik dan dilemparkannya begitu saja ke lantai. Langsung saja sisa penutup alat vitalku ditariknya ke bawah, kakiku pun membantu melepas CD yang kukenakan.

Serta merta Pak budi langsung saja membenamkan wajahnya di selangkanganku sambil tangannya membuka kedua pahaku lebar-lebar. Posisinya sekarang berjongkok di tepian tempat tidur dan wajahnya berada tepat di pangkal pahaku, bibirnya mengulum bibir kemaluanku dengan lembut, lidahnya dijulurkannya di antara lipatan bibir vaginaku.

“Ayo masukin dong Pak!” pintaku pada Pak Budi.

Mungkin karena Pak Budi juga tak ingin ketahuan istrinya yang mungkin saja tiba-tiba pulang, maka ia pun begegas melepas celananya. Batang kemaluannya yang tidak terlalu besar, ukurannya biasa saja, langsung ditancapkannya ke dalam liang vaginaku.

Kami bermain tidak terlalu lama karena takut istrinya tiba-tiba muncul, namun kami merasakan orgasme secara bersama-sama saat itu. Sungguh sangat berkesan sekali kejadian itu. Enak juga ML sambil curi-curi karena takut ketahuan.

E N D

kena rogol

by admin | August 9, 2010 | In cerita dewasa

Aku nak citerkan kat korang fasal pengalaman aku kena rogol dengan kawan kawan suami aku. Aku nie baru kawin, tapi takda anak masa tu, ntah camana masa hari ulangtahun perkawinan aku yang pertama kami diraikan dalam satu majlis sederhana oleh kawan pejabat suami aku.

Kawan suami aku pulak ada yang bujang dan ada yang sudah kawin. Aku nie pulak dikategori dalam wanita yang ada rupa dan bodylah. Walau tak secantik ratu dunia tapi kalau lelaki tengok mesti menoleh 2 kali, bukan perasan tapi kenyataan kerana aku selalu mendapat pujian dari kawan-kawan suami aku sebab itu aku tahu malah ada yang berani ajak bergurau cara lucah dengan aku. Tambah lagi kami laki bini open minded dan taklah terlalu kolot sangat. Setakat nak ucap konek dan nonok tu biasalah terpacul dari mulut aku, tapi aku ni setakat berani cakap je. Kalau ada yang cuba-cuba nak peluk aku atau ambil kesempatan aku melawan juga, bagi aku, nonok aku tu hanya untuk lelaki bernama suami. So malam tu aku pakai baju seksi sikitlah..

Dengan tali halus dan leher lebar menampakkan pangkal payudara aku yang gebu dan padat ni, skirt pendek sampai pangkal peha.. Warna hitam lagi.. Lepas tu aku biarkan rambut aku yang paras bahu ni mengerbang.. dengan make up yang simple nampaklah keayuan semula jadi aku walaupun sudah bersuami tapi disebabkan kami jarang dapat bersama kerana suami selalu keluar negara kerana tugasnya jadi kira bontot dan payudara aku nie taklah jatuh sangat sebab tak selalu ditenyeh laki tapi aku tetap bahagia dengannya. Jadi sampai saja kami kerumah kawan yang oranganise majlis tu, aku bersalam dengan kawan-kawan suami tapi aku heran sikit sebab tiada wanita lain selain aku. Bila aku tanya mereka kata isetri masing-masing tak free, kena jaga anak demamlah, ada yang kata gf takdalah. So aku tak kisahlah memandangkan majlis ni aku hadiri bersama suami, so acara makan dan potong kek pun bermula, aku tak sangka mereka hidangkan minuman keras..

Malam tu laki aku pun mabuk jugalah termasuk juga aku.. Kononnya tak mahu minum tapi setelah dipaksa kawan-kawan suami dan demi menjaga hati mereka dan suami [nanti dikata aku tak sporting pula] so aku pun minumlah benda tu.. Aku ingat cognac ke.. Ntah apalah aku tak tahu.. yang aku tahu banyak botol minuman keras kat atas meja tu.. Kawan laki aku tu adalah dalam 7-8 orang.. Lebih kurang pukul 11 malam aku rasa aku sudah mula mabuk sebab rasa pening semacam dan aku rasa nak gelak aje.. Aku minum tak banyak, rasanya 2 gelas je kott tapi disebabkan tak biasa minum jadi cepatlah aku ni mabuk, manakala laki aku pula aku tengok sudah terlentok kat kerusi sambil tengok cerita apa ntah [video blue kalau tak silap] so salah sorang kawan laki aku tu.. Nathan kalau tak silap aku, tanya aku nak baring ke? aku kata takpa, biar aku duduk sebelah laki aku..

So aku pun duduk.. Ntah macamana aku hampir terjatuh betul-betul depan Nathan, secara spontan Nathan menarik tangan aku langsung tertarik tali baju aku yang halus tu.. Dahlah putus tali baju tu sebelah, so terlondehlah sikit dan menampakkan terus payudara aku yang sebelah tu.. Agaknya si Nathan tu stim tengok payudara aku, maklumlah aku rasa malam tu semua orang mabuk, so aku kata takapalah sambil menarik baju tu untuk cover payudara aku yang terdedah tapi si Nathan insist nak tolok aku..

Aku rasa dia sengaja ambil kesempatan untuk memeluk aku, so aku tepis tangannya sayangnya dia makin berahi pula bila aku melawan, dimasa yang sama kawan-kawannya yang lain tergelak melihat kelakuannya dan menggalakkan Nathan supaya memeluk aku sekali lagi, aku minta pertolongan dari suami tapi dia sudah terlalu mabuk, malah sudah tertidur pun dikerusi tu [aku tahu dia minum dari awal majlis tadi lebih kurang kol 7 malam. dia minum tak henti-henti, agaknya dia lepas gian kott sebab sejak kawin dia tak minum lagi arak] bila tiada jawapan dari suami aku bergegas lari dan cuba masuk kebilik tapi kawan-kawannya yang lain mengepung aku keliling.

Aku menjerit tapi siapalah nak dengar sebab suara radio membatasi jeritan aku.. Dalam hati aku dapat rasa sesuatu yang buruk pasti berlaku.. Lalu aku merayu kepada mereka supaya jangan mengapakan aku dan mengingatkan mereka bahawa suami ku adalah kawan mereka tapi dek kerana terlalu mabuk mereka tidak mengendahkan rayuan aku.. Nathan terus memeluk aku dari belakang manakala 2-3 orang kawannya yang lain menangkap kaki dan memegang tangan aku.. Lalu mereka beringkan aku kat lantai yang berkapet tebal tu.. Sakit juga kepala aku terhentak kat lantai..

Mereka terus memegang tangan aku kiri dan kanan serta kedua kaki aku.. Mereka kangkangkan kaki aku.. Nathan pula terus bertindak ganas dan menyentap pakaian aku.. Hingga koyak rabak, aku menjerit tapi seorang dari mereka terus menekup mulut aku dengan tuala.. Aku jadi makin sesak nafas.. Dan aku dapat rasakan seluar dalam aku dibuka orang.. Aku rasa ada tangan-tangan kasar mula meraba dan meramas tubuh badan aku, payudara aku menjadi sasaran mereka.. Aku meronta tapi tidak berdaya sebab 4 orang dari mereka memegang aku, kemudian aku dengar mereka bersorak menmanggil Nathan.. Nathan.. Nathan.. Sku lihat Nathan mula terseyum sambil memandang tubuh aku yang terlantar berbogel tanpa seurat bbenangpun. dalam hati aku tahu apa yang mereka akan buat..

Aku masih cuba meronta dan menjerit sayangnya mulut aku tersumbat kain dan anggota badan aku dipegang kejab oleh mereka, seketika kemudian aku rasa nonok aku panas dan basah.. Aku cuba bangun dan aku dapat lihat Nathan sedang menjilat nonok aku dengan rakus, manakala kawannya yang 2 lagi sedang membuka pakaan mereka masing-masing.. Menampakkan batang konek mereka yang semuanya sedang tegang dan kerass.. Aku makin takutt.. Aku menangis tapi tangisan aku sedikitpun tidak mereka hiraukan malah mereka terus mengusap konek masing-masing supaya ketegangannya berterusan, kemudian aku dapat rasakan Nathan telah memasukkan batang koneknya kedalam nonok aku..

Aku rasa sakit sangat keran dia merodok dengan rakus sekali.. Tersentak aku dibuatnya kerana koneknya agak besar dan panjang berbanding dengan suami aku.. Nathan tak henti-henti memuji nonok aku ketat dan sedap serta sebagainya, kawan-kawannya yang lain tak sabar nak menjolok sama.. Ada yang terus menghisap dan menggentel payudara aku.. Tubuh badan aku digomol mereka bergilir-gilir.. Dalam masa yang sama Nathan terus menerus menusukkan batang koneknya kedalam nonok aku selaju dan sekuat hatinya.. Berdecap-decap jugaklah bunyi air nonok aku tu, walaupun aku tahu aku dirogol mereka tapi kerana mabuk aku juga rasa steam dan sedap dilakukan begitu.

Lama-kelamaan rontaan aku makin lemah.. Malah aku membiarkan mereka melakukan apa saja ketubuh badan aku.. Dalam 20 minit kemudian Nathan menjerit kessedapan.. Dia melepaskan air maninya dalam nonok aku sambil menghentakkan kuat koneknya kat nonok aku tu.. dalam hati aku.. Sedaapp juga keling nie punya konekk.. Kemudian tiba-tiba seorang dari kawannya terus menarik Nathan dan dengan cepat menjolokkan koneknya pula kedalam nonok aku yang sedang basah dengan air mani Nathan.. Dia terus menghayunkan konekknya berkali-kali dan tak sampai 10 minit dia pun terpancuntukan air maninya dalam nonok aku..

Kemudian seorang demi seorang merodok nonok aku dengan konek mereka yang tegang dan keras itu, aku jadi lemah dan tak bermaya.. Selepas lelaki ke-3 melepaskan air maninya kedalam nonok aku, lelaki ke-4 tidak merodok terus, tapi dia lapkan sisa air mani tu dan menjilat semula nonok aku.. Dan seperti yang lain dia juga melepaskan airmaninya kedalam nonok aku tu, seterusnya lelaki ke-5, ke-6, ke-7 dan ke-8 melakukan perkara yang sama.. Malah masa lelaki ke-6 merogol aku, aku bukan setakat steam aje, malah aku minta dia berbaring dan aku diatas..

Aku tunggang lelaki tu selaju yang boleh hingga aku climax berkali-kali.. Lelaki yang lain [yang sudah sudah merogol aku] menjerit gembira sebab aku beri respon tanpa diduga.. Malah sambil aku menunggang lelaki tadi, aku hisap konek salah seorang lelaki yang masih menunggu giliran untuk menjunamkan konekknya kesara nonok aku.. Aku makin ghairah dna bertindak liar.. Meraka makin suka dan gamat.. Terus ada yang menjilat bontot aku dna memasukkan jari kedalam lubang jubur aku.. Aku rasa makin sedap dan climax ntah berapa kali..

Adegan seterusnya berlangsung hingga kesemua lelaki merasa puas dengan layanan aku dan tak disangka Nathan sekali lagi merangkul dan merodokkan koneknya yang tegang semula.. Aku main dengan Nathan hampir 1 jam berikutnya.. Seingat aku dari pukul 11 mlm sampai 2 pagi rasanya nonok aku dikerjakan oleh 8 orang lelaki india/china dan melayu.. Aku betul-betul teruk dikerjakan mereka, tapi nasib baik jubur aku tak dirodok dengan konek mereka.. Kalau tidak lagi teruk aku kena..

Mereka setakat jolok dengan jari jemari saja. Selepas aku dirogol bergilir-gilir, mereka pun keletihan termasuk aku sendiri dan kami terlelap disitu juga dengan keadaan berbogel hingga kepagi kira-kira jam 10 pagi baru aku tersedar itupun setelah dikejut suami.. Aku menangis dalam pelukan suami dan ceritakan kat dia apa yang sudah berlaku, sayangnya suami aku buat dono aje seolah-olah dia merestui kawan-kawannya merogol aku..

Seketika kemudian seorang demi seorang bangun dan bergegas mengenakan pakaian masing-masing, aku tengok Nathan sudah siapkan minuman pagi, lepas minum pagi baru aku tahu bahawa suami aku berpakat dengan Nathan dan suami aku kata kejadian itu adalah hadiah bagi hari ulangtahun perkawinan kami yang pertama kerana aku dulu pernah menceritakan pada suami tentang imiginasi nakal aku.. Yaitu kena rogol oleh lebih dari 5 lelaki dalam satu masa.. Rupanya imiginasi aku itu dipenuhi oleh suami aku sendiri dan kawan-kawannya yang bersetuju untuk mengambil bahagian bila dia ceritakan pada Nathan.. Patutlah dia mabuk sakan malam tu..

Dan sekali lagi hari tu aku dikerjakan oleh 9 lelaki termasuk suami aku sendiri, kali ini aku yang merelakan diri aku di tenyeh oleh lelaki-laki itu.. Bermacam aksi aku diperlakukan, dan acara mainan tu berlangsung hampir 4 jam berikutnya kerana masing-masing melanyak nonok aku sepuasnya dan selama yang mereka mampu bertahan.. Dan Nathan is the best amongs them..

Hari tu aku tak kemana-mana selain kena fuck dengan lelaki tu bergilir-gilir, sementara menanti lelaki ke 9 menghabiskan permainan, lelaki pertama kembali tegang semula dan mahu menyetubuhi aku sekali lagi.. Pendek kata hari tu seharian tubuh badan dan nonok aku bermandi air mani lelaki.. Dan suami aku orang yang paling gembira melihat impian aku jadi kenyataan.. Dan aku juga turut gembira kerana dapat merasa konek lain selain dari suami aku..

Keesokannya aku demam.. Hampir seminggu baru aku kembali pulih.. Mana tidaknya 9 lelaki lanyak nonok aku berkali-kali, rasanya setiap sorang tu fuck aku 3 kali.. Bayangkan betapa penatnya aku dan sampai bengkak juga nonok aku kena kerjakan dek mereka.. Mau tak demam seminggu.. Nasib baik tak memudaratkan dan tak mengandung.. Kalau tidak, aku tak tahu anak sapa yang aku kandungkan tu..

Sebulan dari kejadian tu aku teruskan hubungan dengan Nathan.. Setiap kali suami aku keluar negara, kehendak seks aku dipenuhi oleh Nathan tanpa berselindung dari suami aku.. Dan perkara tu berlarutan hingga Nathan berkahwin. Sekarang masing-masing sudah ada keluarga sendiri, aku ada 2 anak, tapi aku tak tahu anak sapa sebenarnya.. Sebab selain Nathan dan suami ada juga 2-3 dari lelaki tu yang datang fuck aku dengan rela aku sendiri..

Untill now aku masih berhubung dengan salah seorang dari mereka tapi bukan Nathan.. Suami aku seolah merestui perbuatan aku itu.. Malah kekadang dia jadi penonton dikala aku di kongkek jantan lain.. Aku tak tahu sampai bila perkara ini berlanjutan..

E N D

Partly powered by CleverPlugins.com