<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita dewasa seks panas bogel melayu indonesia</title>
	<atom:link href="http://www.difunde.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.difunde.com</link>
	<description>Cerita dewasa, Download bokep 3gp, gambar bugil, abg bugil, tante girang bugil, spg bugil, model telanjang.film bokep, bokep gratis, 3gp bokep, download film bokep gratis, cerita bokep, gambar bokep, bokep video,smu bugil.</description>
	<lastBuildDate>Wed, 10 Mar 2010 22:06:10 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Wanita Penuh Variasi</title>
		<link>http://www.difunde.com/wanita-penuh-variasi.html</link>
		<comments>http://www.difunde.com/wanita-penuh-variasi.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 22:06:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>17tahun</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita sex]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.difunde.com/?p=315</guid>
		<description><![CDATA[Halo saya pengemar situs 17tahun. Saya ingin menyumbangkan cerita tapi cerita ini hanya rekaan semata jadi tidak ada hubungannya dengan nama, tempat, dan kejadian sebenarnya. Untuk memudahkan ceritanya maka saya akan menggunakan diri saya sendiri sebagai pelaku dalam cerita ini.
Nama saya Jeffry dan saya saat ini sedang kuliah di salah satu PTS di salah satu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Halo saya pengemar situs 17tahun. Saya ingin menyumbangkan cerita tapi cerita ini hanya rekaan semata jadi tidak ada hubungannya dengan nama, tempat, dan kejadian sebenarnya. Untuk memudahkan ceritanya maka saya akan menggunakan diri saya sendiri sebagai pelaku dalam cerita ini.</p>
<p>Nama saya Jeffry dan saya saat ini sedang kuliah di salah satu PTS di salah satu kota besar di Indonesia, dan hari ini adalah hari pertama saya datang ke kota ini karena besok perkuliahan saya sudah dimulai. Sesudah sampai dari kampung, maka saya segera menuju tempat kost saya karena saya sendiri sebenarnya belum mengenal kost baru itu. Sesampainya saya segera menekan bel tapi kemudian terdengar dari rumah sebelah seorang wanita setengah baya memanggil saya dan berkata,<br />
“Kamu Jeffry yach?”<br />
Dan saya menjawabnya,<br />
“Iya, kok tahu?” tanya saya penuh rasa ingin tahu.<br />
Lalu wanita itu segera berkata,”Nggak, saya adalah ibu kost rumah ini dan saya tinggal di sebelah sini.”<br />
Lalu saya bergumam,<br />
“Ooh..”<br />
Setelah itu ibu ini segera membawa saya untuk masuk dan mengenalkan tempat kost ini.</p>
<p>Setelah di dalamnya ibu itu segera menerangkan keadaan rumahnya, rumah ini terdiri dari 4 tingkat dan di dalam sudah ada penghuninya yaitu sepasang suami istri yang menyewa tingkat 2, seorang wanita yang menghuni tingkat 3 dan 3 orang mahasiswa dari luar kota yang menghuni tingkat 4 yang terdiri dari 4 ruangan kamar 3×2 meter dan kami masing-masing menempati kamar-kamar ini, dan kamar untuk saya tepat menghadap ke arah tempat jemuran. Setelah itu saya pun berkenalan dengan para mahasiswa ini dan malamnya ketika kami sedang menonton TV (yang di letakkan di tingkat 3) tercium oleh saya wangi parfum yang sangat mengoda. Ternyata seorang wanita yang saya taksir berusia sekita 35 tahun naik ke atas dan dialah yang menghuni kamar di tingkat 3 ini.</p>
<p>Lalu saya pun segera berkenalan dengannya dan dia bernama Eva, tapi dilihat dari bentuk tubuh dan wajahnya dia tak beda dengan wanita usia 20-an. Wajahnya terlihat sangat manis belum lagi dada dan pinggulnya yang sangat menantang. Sungguh membuat saya menelan ludah. Lalu saya tahu dari ketiga temen saya kalau Mbak Eva ini bekerja di salon dan mungkin saja menjadi simpanan seorang pria, lalu saya mengangguk tanda mengerti.</p>
<p>Tak terasa saya sudah tinggal di kost itu hampir 2 minggu dan kalau di pagi hari rumah itu selalu kosong karena selain ketiga teman baru saya itu kuliahnya pagi, Mbak Eva juga selalu keluar rumah dan sepasang suami istri itu juga jarang pulang ke rumah ini. Singkatnya kalau pagi hari saya selalu sendirian, dan pagi ini saya bangun tentu saja suasana sunyi senyap dan saya melihat keluar jendela yang menghadap ke tempat jemuran tampak oleh saya dijemur celana dalam yang berwarna hitam dan tentu saja saya tahu kalau itu adalah celana dalam Mbak Eva, tapi entah kenapa timbul niat saya untuk melihat CD itu dari dekat. Lalu saya pun segera keluar dan setelah melihat situasi cukup aman saya segera mengambilnya ke dalam kamar saya dan di dalamnya saya segera mencium CD itu dan tercium wangi deterjen yang harum. Belum puas dengan tindakan itu, saya segera menurunkan celana sekaligus dengan CD saya dan segera memakai CD itu dan tampak oleh saya sangat memikat yaitu terdapat renda di sekelilingnya dan sekitar selangkangannya terdapat jala-jala yang kalau dipakai oleh Mbak Eva tentu akan tampak di jala-jala ini bulu kemaluannya.</p>
<p>Langsung saja kemaluan saya segera menegang dan setelah mengembalikan CD-nya ke tempat semula. Saya segera masuk ke kamar mandi untuk mandi dan tentu saja saya segera melakukan onani untuk memuaskan nafsu saya. Setelah kejadian itu saya hampir setiap pagi mempunyai kegiatan rutin yaitu mengamati CD Mbak Eva dan tentu saja memakainya sambil melihat keindahannya, dan tak lama kemudian saya sudah hampir dapat mengetahui jumlah CD Mbak Eva (mungkin karena selalu mengamati CD-nya), CD Mbak Eva berjumlah sekitar 6 potong dan setiap potongnya mempunyai keunikannya baik dalam coraknya maupun warnanya sepeti warna hitam berenda, warna pink dengan lipatan lipatan kecil, dan warna kuning kilat. Tapi yang paling menarik menurutku adalah CD warna putihnya yang setengahnya yaitu bagian depannya terdiri dari renda dan bagian belakangnya terbuat dari sutra. Selain itu saya juga suka CD-nya berwarna biru langit dan di depannya yaitu tepat di arah selangkangannya terdapat gambar seekor kucing dalam gaya memberikan tanda “peace” (lucu juga CD ini dalam pikiranku).</p>
<p>Semuanya berjalan lancar hingga suatu pagi ketika bangun tentu saja saya segera melihat keluar dan tampak oleh saya CD Mbak Eva. Lalu saya bermaksud untuk mengambilnya untuk diamati. Begitu melepas jepitan jemurannya dan mengambilnya tiba-tiba terdengar ada suara orang naik ke atas dan tentu saja saya terkejut dan segera melempar CD-nya ke lantai lalu saya bermaksud kembali ke kamar saya, tapi baru sampai di pintu saya melihat Mbak Eva sedang memakai baju tidur terusannya dan Mbak Eva bertanya kepada saya, “Lho baru bangun yach?” lalu saya mengiyakannya dan bertanya, “Mbak Eva nggak kerja hari ini?” dan dijawab, “Nggak, malas tuh,” dan saya segera masuk ke kamar saya dengan perasaan was-was lalu tak berapa lama kemudian terdengar pintu kamar saya diketuk, dengan perasaan berdebar saya membuka pintunya.</p>
<p>Tampak di luar Mbak Eva dan dengan mata tajam Mbak Eva berkata, “Boleh saya masuk? saya ingin bicara sama kamu,” dan saya pun membiarkan Mbak Eva masuk lalu Mbak Eva masuk dan bertanya sama saya,<br />
“Kamu tadi mau mengambil celana dalam saya yach?”<br />
“Nggak kok.”<br />
“Apanya yang nggak, buktinya itu CD saya terjatuh di lantai padahal saya sudah menjepitnya dengan kuat.”<br />
Seperti sudah tak dapat disembunyikan saya pun mengakui kalau saya yang mengambilnya. Lalu Mbak Eva berkata lagi,<br />
“Sudah berapa lamu kamu melakukan ini?”<br />
“Sudah hampir 2 minggu Mbak.”<br />
“Apa yang kamu lakukan dengan CD saya?”<br />
“Saya menciumnya lalu memakainya, itu saja kok nggak ada yang lain.”</p>
<p>Lalu Mbak Eva tersenyum dan berkata, “Apa enaknya kamu mencium dan memakainya, kamu mau nggak melihat saya yang memakainya dan mencium wangi yang sesungguhnya?”<br />
Seperti mendapat kesempatan emas lalu saya berkata, “Ah.. Mbak jangan bercanda ah..”<br />
Dan Mbak Eva berkata, “Nggak, saya nggak bercanda, saya serius, kalau kamu nggak mau yach sudah, Mbak mau turun,” sambil Mbak Eva membalikkan badannya.<br />
Tapi saya segera menarik tangannya dan segera berkata, “Saya mau kok Mbak!”<br />
Sedangkan tangan saya satunya lagi segera menarik rok baju tidurnya ke atas dan tampak oleh saya CD-nya yang menjadi kesukaan saya yaitu CD berwarna putih dengan renda di bagian depan dan bagian belakangnya terbuat dari sutra.<br />
Lalu Mbak Eva berkata, “Ih.. kamu jangan gitu ah..’” tapi saya segera mencium bibirnya yang mengoda itu dan Mbak Eva membalasnya dengan hisapan dan gigitan kecil dan tangannya memegang kemaluan saya yang sudah mulai mengeras itu, lalu saya melepas ciuman saya sedangkan tangan Mbak Eva masih di kemaluan saya meskipun cuma dari luar celana tidur saya.</p>
<p>Kemudian saya segera mendorong tubuh Mbak Eva untuk merapat di dinding, dan kemudian tangan saya mulai bergerilya di daerah sensitifnya dan tentu saja dari luar CD-nya tapi tak lama kemudian karena tak sabar saya segera memasukkan tangan saya ke dalam CD-nya dan menyentuh kemaluannya, Mbak Eva mendesah “Uuh.. geli Jeff.. tapi nikmat sekali.. terus.. enak sekali.. uh.. ah..” Lalu tak lama kemudian kemaluan Mbak Eva sudah mulai basah. Karena sudah terangsang maka Mbak Eva segera mendorong tubuh saya ke tempat tidur dan dengan segera Mbak Eva memeloroti celana saya dan CD saya, lalu dengan pelan dia menjilat kepala kemaluan saya yang sudah menegang itu kemudian memasukannya ke dalam mulutnya hingga masuk semuanya ke dalam mulutnya dan menghisapnya seperti menghisap es batangan. Tanpa sadar karena keenakan saya mendesah, “Uh.. enak sekali Mbak.. isap terus Mbak.. jangan berhenti..!” Lalu tangan saya mulai menjambak rambutnya dan menekan kepalanya terus, sedangkan kaki saya mulai menegang karena keenakan, lalu Mbak Eva menghentikan kegiatannya.</p>
<p>Kemudian Mbak Eva mulai membuka baju piyamanya dan tampaklah oleh saya sepasang buah dadanya yang sangat menantang terbungkus oleh BH yang unik sekali, tapi seperti sudah tidak tahan Mbak Eva segera melucuti BH-nya dan melepas CD sutranya. Tampaklah oleh saya pemandangan yang sangat indah dengan buah dada yang bulat dan pentilnya yang berwarna kecoklatan menantang dan paha yang mulus tapi yang paling menggoda adalah bagian selangkangan yang ditumbuhi pelindung alami yang cukup lebat tapi terbentuk dan terawat sangat rapi, sungguh membuat saya menelan ludah.</p>
<p>Lalu Mbak Eva naik ke atas tubuh saya, dan dalam posisi jongkok kemudian mengarahkan lubang kemaluannya ke arah kepala kemaluan saya. Begitu tersentuh, saya dan Mbak Eva menjerit pelan bersamaan, “Uuh..” dan dengan pelan Mbak Eva menekan lubang kemaluannya dan kepala kemaluan saya amblas ke dalamnya meskipun tidak terlalu susah tapi untuk ukuran wanita seperti Mbak Eva kemaluannya termasuk sangat sempit, dan Mbak Eva berteriak, “Aduh.. sakit sekali.. tapi terasa nikmat,” dan saya tak hentinya menjerit, “Terus Mbak.. nikmat sekali kemaluannya.. terus Mbak..” lalu Mbak Eva makin menekan turun tubuhnya dan tak lama kemudian maka masuklah seluruh batang kemaluan saya yang termasuk ukuran besar itu ke dalam lubang surgawinya. Kemudian tubuh Mbak Eva segera menimpa badan saya dan berteriak, “Aduh sakit sekali.. uh.. aduh.. uh.. ahh..” Sesudah istirahat hampir 5 menit lamanya Mbak Eva mulai bangkit dan batang kemaluan saya tentu saja masih di dalam lubang kemaluannya. Lalu Mbak Eva mulai menggerakkan pinggulnya maju-mundur sambil tangannya menopang pada tubuh saya dan terdengar suara tubuh kami berbenturan, “Piak pret piak..” dan dengan gerakan yang liar Mbak Eva menaiki tubuh saya dan sambil terus menggoyang tubuhnya dan terus berpacu untuk mencapai puncak kenikmatan dunia dan terus mendesah, “Uuh.. ah.. ah.. nikmat sekali.. uh.. ah..” Sedangkan tangan saya tak hentinya meremas buah dadanya dan memainkannya.</p>
<p>Lalu sesudah hampir 10 menit Mbak Eva berkata, “Saya mau sampai..”<br />
Saya pun berkata, “Saya juga Mbak.. tahan sebentar lagi..”<br />
Tak lama kemudian terdengar Mbak Eva menjerit “Uuh.. saya sampai.. uh..”<br />
Dan saya juga merasa bendungan saya sudah jebol dan mendesah, “Uh.. saya juga.. nikmat sekali.. ahh.. enakk..” dan terasa adanya cairan hangat di kemaluan saya, lalu Mbak Eva jatuh lemas di tubuh saya, sedangkan kemaluan saya juga belum dicabut keluar karena kami sudah lemas sesedah pertempuran yang hebat tersebut. Lalu setelah hampir 15 menit Mbak Eva bangkit dan sambil tersenyum berkata, “Nikmat sekali Jeff.. kamu hebat dech..” dan saya berkata, “Sekali lagi dong Mbak.. yach..!” tapi Mbak Eva berkata, “Lain kali aja yach, Mbak capek..’ Lalu saya mengiyakannya dengan sangat kecewa.</p>
<p>Lalu Mbak Eva bangkit dan bermaksud mengambil pakaiannya, tapi melihat bukit kemaluannya Mbak Eva, nafsu saya bangkit kembali. Lalu saya menarik tangan Mbak Eva serta mendorongnya merapat ke dinding lalu saya jongkok dan saya benamkan kepala saya ke selangkangan Mbak Eva dan dengan pelan saya menjilatinya, dan Mbak Eva mendesah, “Aduh.. geli.. ah.. udah dech!” sambil tangannya menekan kepala saya, tapi saya tidak menghiraukan peringatannya sambil terus memainkan lidah saya di kemaluannya. Setelah seluruh bulu kemaluan Mbak Eva basah, saya beralih ke klitorisnya dan Mbak Eva mendesah hebat sambil menjambaki rambut saya, “Uuh.. terus.. enak sekali.. sungguh.. ah.. ahh.. ehmm..” dan terus saja lidahku bermain di klitoris dan lubang kemaluannya. Tak lama kemudian jambakan Mbak Eva makin dahsyat dan menjerit serta mencapai orgasme keduanya, “Aduh.. saya sampai.. terus Jeff.. uh.. ehm.. uh.. hu..” dan saya segera menghisap habis seluruh cairan kemaluannya.</p>
<p>Setelah agak lama Mbak Eva mulai tenang dan setelah itu saya bangkit tapi tubuh Mbak Eva seperti kehilangan keseimbangan dan mau jatuh, untung saya segera menangkapnya dan dia berkata, “Huh.. kamu ini, Mbak lemas sekali gara-gara kamu..”<br />
Dan saya berkata, “Sorry Mbak, soalnya saya nafsu sekali melihat Mbak, tapi Mbak Eva musti janji yach, lain kali Mbak harus menebus kekurangan hari ini.”<br />
Mbak Eva berkata, “Iya dech.. Mbak janji tapi sekarang Mbak musti istirahat, Mbak capek sekali, kalau nanti sudah pulih Mbak pasti melayani kamu lagi, tapi sekarang sebagai hukuman kamu musti nemenin Mbak ke bawah, soalnya Mbak lelah sekali nanti jatuh lagi.”<br />
Saya berkata, “Beres Mbak!”</p>
<p>Setelah mengantar Mbak Eva ke tempat tidurnya saya mencium pipinya dan berkata, “Selamat beristirahat Mbak!” Mbak Eva tersenyum. Sebelum keluar dari kamarnya, tangan saya pun meremas buah dadanya yang empuk sedangkan tangan satu lagi bergerilya di dalam CD-nya dan memainkan bukit kemaluannya. Mbak Eva segera melototkan matanya kepada saya dan saya segera berlari keluar dengan tersenyum dan Mbak Eva berkata, “Dasar kamu ini nggak pernah puas yach.. dan tolong kunci pintunya..!” dan saya menjawabnya penuh kepuasan, “Beres Mbak..’ Lalu saya kembali ke kamar tidur saya lagi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.difunde.com/wanita-penuh-variasi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gairah di pesawat terbang</title>
		<link>http://www.difunde.com/gairah-di-pesawat-terbang.html</link>
		<comments>http://www.difunde.com/gairah-di-pesawat-terbang.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 21:52:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>17tahun</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita sex]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.difunde.com/?p=313</guid>
		<description><![CDATA[“Ladies and gentlemen welcome aboard flight SQ318 destination Los Angeles from Taipei. We will stop in Hawaii for a few moment to refill our fuel and continue to Los Angeles. The flight to Hawaii will take seven hours. So sit down and enjoy our flight entertainment. Dinner will be served at seven pm Taiwan time.”Sekali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Ladies and gentlemen welcome aboard flight SQ318 destination Los Angeles from Taipei. We will stop in Hawaii for a few moment to refill our fuel and continue to Los Angeles. The flight to Hawaii will take seven hours. So sit down and enjoy our flight entertainment. Dinner will be served at seven pm Taiwan time.”Sekali lagi aku menguap. Perjalanan ini pasti membosankan pikirku. Aku melirik penumpang yang duduk di sebelahku. Wanita yang duduk di sebelahku cantik sekali. Kulitnya putih mulus, mukanya manis. Rambutnya dipotong pendek. Mukanya mengingatkanku akan sebuah karakter dalam kartun Jepang Amy dalam film Sailormoon. Mataku mulai berkeliaran, dadanya tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil tapi kelihatan ketat dan tidak menunjukkan kekenduran sedikitpun. Bajunya putih ketat terbuat dari bahan yang elastis menunjukan lekukan tubuhnya yang sempurna. Perutnya datar dan pinggangnya yang melekuk sungguh aduhai.</p>
<p>Tak kusadari dia melihat ke arahku. “Kok ngeliatin kayak gitu sih Mas?” Mukaku langsung merah padam menanggung malu. Aku gelagapan bilang, “Maaf Non habis kamunya cakep sih.”</p>
<p>Di luar dugaan dia cuma tersenyum kecil. Sambil mengulurkan tangannya dia berkata, “Nama saya Annie, nama kamu siapa?” aku agak bengong sebentar tapi kemudian menjabat tangannya dan menjawab, “Eh.. nama saya Jonathan.” Tangannya lembut sekali. Pikiranku mulai ngeres. Wah enak sekali kalau yang dipegang itu kemaluanku.</p>
<p>“Kok jabat tangannya nggak lepas-lepas sih?” aku tersentak lagi dan minta maaf. Aku mengambil majalah dan mulai membacanya untuk menutupi mukaku yang mulai merah menahan malu. Aku memang boleh dibilang jarang ada pacar walaupun aku boleh dibilang lumayan. Kalau masalah seks, aku sih personal experience masih belum ada, cuma masturbasi saja pernahnya. Aku sudah ngebet sekali nge-seks dengan cewek tapi sampai sekarang peruntungan masih belum ada.</p>
<p>“Eh kamu pernah sekolah di SMP **** (edited) bukan?” tanyanya secara tiba-tiba.<br />
“Kamu kok tahu?”<br />
“Tadi waktu ngeliat kamu rasanya aku pernah ngeliat kamu sih, apa lagi ngedenger nama kamu. Aku dulu pernah sekelas sama kamu.”<br />
“Tapi rasanya nggak ada yang namanya Annie di kelasku.”<br />
“Waktu itu aku belum ganti nama, waktu itu namaku Li Ruyin, inget nggak?”</p>
<p>Aku seperti tersentak saja, si Li Ruyin itu pacar impianku, biarpun badannya tidak perfect tapi cantik sekali. Tapi cewek yang di depan mataku ini kelihatannya lain sekali, jauh lebih cantik. “Oh kamu toh, gila, kamu beda banget. Kamu dulu kayak anak kecil saja, sekarang kayak bidadari saja,” timpalku.</p>
<p>Dia cuma tersipu saja, kemudian kami pun mulai menceritakan keadaan masing-masing. Ternyata setelah lulus SMP, dia pergi ke Kanada untuk belajar di sana. Dari Kanada, dia berjalan-jalan ke Taiwan dan dalam perjalanan balik ke Kanada tapi bakal tinggal di L.A untuk sementara. Sementara di Kanada, dia tidak ada cowok, katanya sih tidak ada yang mengejar dia. Gila, pikirku, cewek cakep, body perfect seperti dia tidak ada yang mengejar.</p>
<p>Akhirnya makan malam pun mulai dihidangkan. Sebagai penumpang First Class, kami ditawari bermacam jenis arak dan anggur. “Whisky please,” ucapku kepada sang pramugari. Dia menuangkan segelas Whisky. Annie ternyata memilih untuk minum Brandy. Sewaktu makan malam dihidangkan, lampu mulai diredupkan. Tiba-tiba saja aku ada rasa untuk mengungkapkan perasaanku kepadanya yang tak tersampaikan sewaktu di Surabaya.</p>
<p>“Yin, aku mau tanya nih tapi kamu jangan kaget ya…”<br />
Sambil tetap mengunyah dia menoleh ke arahku dan mengangguk.<br />
“Yin, aku waktu di **** (edited) dulu udah mulai suka sama kamu, tapi tidak ada kesempatan dan keberanian.”<br />
“Jon, kamu mah gombal,” jawabnya sambil meminum Whisky-nya.<br />
“Yin, yang mau aku tanyain, kalau misalnya aku ngejar kamu gimana?”<br />
“Tergantung,” jawabnya polos.</p>
<p>Aku tidak banyak tanya lagi, kata “tergantung” sudah membuatku hilang semangat dan putus asa. Akhirnya piring kami diambil kembali dan waktu telah agak malam dan aku sudah kepingin tidur. Aku minta selimut kepada pramugari pesawat itu dan Annie pun juga minta selimut. Tapi pramugarinya kembali dan memberitahu kalau selimutnya tinggal satu saja tapi selimut ini cukup untuk dua orang.</p>
<p>Akhirnya aku dan Annie share selimut itu dan tempat menaruh tangan di tengah kuangkat. Aku masih tidak bisa tidur, memikirkan si Annie. Bagiku kata “tergantung” adalah sebuah tolakan halus yang menyakitkan. Pernah aku menunggu jawaban seorang cewek yang memberi kata “tergantung” tetapi ternyata dia sudah punya pacar. Tiba-tiba saja aku merasakan kepala Annie di pundakku, rupanya dia tertidur dan tidak sengaja. Aku tatap wajahnya yang manis dan cakep itu. Bibir imutnya seakan menggodaku untuk menciumnya. Tetapi aku berhasil menahan nafsuku dan mulai membetulkan dudukku.</p>
<p>Aku menoleh lagi, seakan aku ingin sekali melihati dia terus. Akhirnya tanpa peduli resiko, tanganku, kutaruh di pinggangnya sementara tangan satunya kutaruh di belakang kepalanya dan kucium bibirnya. Tanpa diduga, lidahnya mulai menerobos bibirku dan akhirnya lidah kami berduel di dalam mulut kami. Tangannya menarikku supaya lebih dekat. Akhirnya kami beristirahat untuk mengambil nafas.</p>
<p>“Yin, apa sih maksudmu ‘tergantung’?”<br />
“Maksudku, tergantung kamu mau nggak ngejar aku. Kalau kamu mau, sih aku terima saja.”</p>
<p>Aku tercengang, ternyata tadi dia cuma main hard-to-get. Kucium dia sekali lagi tapi kali ini aku mulai ciumi juga lehernya dan kupingnya. Tanganku juga mulai masuk ke dalam bajunya yang ketat itu. Akhirnya tanganku mulai menyentuh bagian dasar payudaranya, dengan satu gerakan mulus, tanganku mulai menggenggam payudaranya yang lentur itu. Pentilnya yang sudah berdiri itu kumainkan dengan ibu jariku. Dia cuma mendesah kecil. Dia melepas ciuman kami dan di bawah selimut yang hangat itu dia melepaskan kaos dan BH-nya. Penumpang lain sudah tidur dan kami duduk di kursi paling belakang, sehingga tidak ada yang dapat melihat ataupun menduga apa yang kami lakukan.</p>
<p>Setelah itu kami pun mulai melanjutkan permainan kami yang gila ini. Tanganku mulai meraba masuk celananya tak dapat dikira, ternyata dia tidak memakai celana dalam. Tanganku mulai menelusuri “hutan” kemaluannya dan akhirnya menemukan klitorisnya yang juga telah berdiri seperti pentil payudaranya. Sewaktu tanganku menyentuh klitorisnya, dia bergetar sedikit. Kubenamkan kepalaku di bawah selimut dan dengan lahapnya kuhisap dan kujilat pentilnya sementara tanganku sibuk bermain dengan klitoris dan liang kemaluannya. Desahannya mulai agak cepat dan aku mulai takut ketahuan dan tertangkap. Jadi kucium dia sambil tanganku tetap bermain di kemaluannya. Akhirnya dia mendapat klimaks dan jeritannya cuma terdengar dalam mulutku. Ledakan klimaksnya sangat dahsyat dan tanganku dibanjiri oleh air bah klimaksnya seolah-olah seperti bendungan pecah keluar dari liang kemaluannya. Celananya kini pun telah basah oleh air klimaksnya.</p>
<p>Tanganku yang untuk pertama kalinya bermain dengan kemaluan cewek ini mulai pegal. Akhirnya kubetulkan posisi dudukku dan kupeluk dia. Dia memakai kembali kaosnya dan bersandar pada dadaku. “Jon, kamu belum puas kan, aku puasin yah?” Aku mulai gelagapan, jangan-jangan si Annie mau main di pesawat. Aku tidak mau menanggung malu kalau ketahuan orang-orang, jadi aku bilang, “Yin, kamu keliatannya capek, kamu istirahat saja, kamu kalau mau puasin aku boleh saja tapi nanti saja.”</p>
<p>Akhirnya pesawat kami tiba di Honolulu, Hawaii untuk mengisi bahan bakar. Kami diperbolehkan menunggu di dalam pesawat ataupun turun pesawat dan melihat-lihat keadaan Hawaii dari ruang tunggu. Aku dan Annie turun pesawat dan ke ruang tunggu. Kami punya 2 jam untuk jalan-jalan.</p>
<p>“Yin, kita mau ngapain?” tanyaku sambil menggandeng tangannya bak sepasang kekasih.<br />
“Kamu maunya apa?” jawabnya sambil memberikan senyuman seribu arti.</p>
<p>Waktu masuk, aku melihat ada iklan hotel dalam airport. Kuajukan saranku untuk beristirahat di dalam hotel. Annie setuju saja dan kami memesan satu kamar. Sesampai di kamar, aku langsung merebahkan diri di ranjang setelah melepas kaos dan sepatu serta kaos kakiku. Annie berdiri di depan ranjang dan menyalakan TV, acara yang ditayangkan adalah MTV. Dia berjalan pelan mendekati ranjang tanpa melepaskan kontak mata. Pinggulnya bergerak ke kiri dan kanan dengan seksinya. Dengan gerakan yang mulus, dia mulai berdansa dengan seksinya. Satu persatu pakaiannya dilepas hingga badannya tidak terbungkus sehelai kain pun. Batang kemaluanku sudah tegang dan keras seperti baja. Perlahan-lahan dia naik ke ranjang. Dengan kedua lututnya, dia menopang badannya dan dia mulai menunduk dan menyingkapkan selimut ranjang yang kupakai. Sabukku dilepasnya dan celanaku ditarik sampai ke lutut. Batang kemaluanku sudah sangat menonjol dan kepalanya keluar dari bagian atas celana dalamku. Kutendang celanaku ke lantai. Celana dalamku dipelorotnya dan mulutnya yang kecil itu mulai mengulum batang kemaluanku. Semua itu dilakukannya tanpa melepaskan kontak matanya dari mataku. Gerakan mulutnya yang naik turun diiringi dengan sedotannya yang keras sungguh membuat nafsuku meledak. Pinggulku, kugerakkan naik turun seirama dengan naik turun mulutnya.</p>
<p>Kepalanya kupegang dan setiap kali kepalanya turun, kudorong kepalanya serendah mungkin agar seluruh batang kemaluanku ditelannya sedalam mungkin. Akhirnya klimaksku mulai mendaki naik dengan tajam, gerakan mulutnya pun mulai cepat dan hisapan-hisapannya semakin keras. “Yin, aku mau keluar nih, kalau kamu nggak lepasin entar aku bakal nyemprot di mulut kamu nih…” ucapku.</p>
<p>Dia tidak menggubris peringatan yang kuberikan, bahkan gerakannya makin dipercepat. “Ohhh yesss… arghhh…” Aku menjerit keras. Aku seolah melayang di dimensi keempat dan kenikmatan yang kudapat tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata sewaktu aku menyemprotkan spermaku di dalam mulutnya yang mungil itu. Seluruh spermaku ditelannya dan batang kemaluanku dijilatinya agar tidak ada setetes sperma pun yang bakal tertinggal.</p>
<p>Dia memandangku dan bertanya, “Gimana, aku hebat nggak?” Hebat? Apa saja yang dilakukannya sangat hebat dan mungkin dia penjilat kemaluan laki-laki yang terbaik di dunia. Aku tidak tahu berapa tahun dia latihan dan berapa batang kemaluan yang telah dia hisap.</p>
<p>“Yin, aku nggak tahu gimana bilangnya, kamu bukan hebat lagi, kamu the best.”<br />
“Jon, aku tahu kamu cuma basa basi saja. Tadi itu pertama kali aku nyoba ngisep kontol orang loh…”<br />
“Yang bener saja, aku tidak percaya Yin. Masa aku cowok pertama yang kamu isep.”<br />
“Okay deh Jon, aku ceritain deh. Aku dulunya ada banyak cowok, tapi semua tidak cocok. Tiap kali aku sama cowok-cowokku yang dulu dating, kami sampai petting.”<br />
“Terus?”<br />
“Yah, waktu sampai heavy petting, kusuruh cowokku ‘ngisep aku’ tapi tidak ada yang mau. Jadi satu persatu aku putusin.”<br />
“Nah apa hubungannya sama kamu ‘ngisep aku’?”<br />
“Aku sayang sama kamu Jon, alasan kedua aku putusin cowok-cowokku yang dulu sebab aku tidak bisa ngelupain kamu. Aku masih inget waktu itu aku diganggu sama orang jahat di dekat Mal Galaxy, kamu ngebantu aku. Kalau nggak ada kamu aku nggak tahu bakalan gimana. Sejak waktu itu aku mulai suka sama kamu.”</p>
<p>Hatiku mulai tersentuh dengan ucapannya itu. Kupeluk dia dan kucium bibirnya. Ciumanku mulai menjalar ke pipinya, kupingnya, dagunya dan lehernya. Tak berapa lama, ciumanku sampai ke buah dadanya. Sambil kucium dan kujilat pentil buah dadanya yang mulai keras dan tegak, tanganku menelusuri perutnya, hutannya dan akhirnya jariku masuk ke dalam liang kemaluannya. Dia mulai mendesah kecil. Tangannya mengelus kepalaku dan rambutku. Ciumanku mulai menurun ke bawah sampai ke liang kemaluannya. Klitorisnya yang telah berdiri tegak terlihat jelas. Kujilat sekali dan efeknya sangat dahsyat. Jeritan-jeritan kenikmatan mulai keluar dari mulutnya. Sambil jariku keluar masuk lubangnya yang sempit itu, kujilati klitorisnya dengan penuh semangat. Bau odor seks yang keluar dari kemaluannya terasa harum di hidungku, menambah semangatku. Jilatanku keras dan cepat. Irama sodokan jariku kupercepat dan kuperlambat, membuat Annie menggeliat dan menjerit keenakan.</p>
<p>“Jon, kontolmu Jon, masukin donk…”<br />
“Yin, kamu udah pernah belum?”<br />
“Kok nanya sih? Pasti belum lah!”<br />
“Yin, pertama kali bakal sakit loh.”<br />
“Gini saja Yin, aku tiduran di ranjang and kamu mengangkang di atasku, terus kamu saja yang masukin agar kamu enak. Kalau gitu, semua kamu yang ngatur. Kalau sakit diem, kalau udah biasa masukin lagi.”<br />
“Suka-suka kamu deh.”</p>
<p>Akhirnya dia pun mengangkang di atas batang kemaluanku dan berat badannya ditopang dengan lututnya. Perlahan-lahan dia menurunkan badannya. Tangannya memegang batang kemaluanku dan diarahkannya ke dalam liang kemaluannya. Liang kemaluannya sempit sekali. Sedikit demi sedikit batang kemaluanku ditelan lubang kemaluannya. Kurasakan ada hambatan di depan batang kemaluanku, rupanya dia masih benar-benar perawan.</p>
<p>“Yin, waktu hymen kamu pecah kamu pasti ngerasain sakit jadi kamu kerasin saja agar sekali langsung masuk.” Dia menurut anjuranku dan menggunakan seluruh berat badannya dan gravitasi, dia menurunkan badannya. Pada saat yang sama, kuangkat lututku untuk menopang badannya. Jeritannya menggema di dalam kamar yang kecil itu dan seprei ranjang diremasnya kuat-kuat.</p>
<p>Kami beristirahat sebentar, agar liang kemaluannya bisa beradaptasi dengan adanya batang kemaluanku di dalam liang kemaluannya. Setelah kurang lebih 3 menit, kutidurkan dia di ranjang. Kedua kakinya di pundakku dan aku bertanya,<br />
“Yin, aku mulai ya?”<br />
“Iya Jon, tapi jangan sakiti aku.”<br />
“Tenang kalau sakit bilang saja, aku pasti stop.”</p>
<p>Pinggulku mulai kugerakan maju mundur dan jariku bermain dengan klitorisnya. Irama sodokanku dimulai dengan irama yang pelan, dan irama itu terkadang kupercepat. Erangan kenikmatan menggema di dalam kamar. Annie telah klimaks dua kali selama irama ini kupermainkan. Akhirnya klimaksku pun telah mendekat. Iramanya kupercepat dan Annie pun mengikuti iramaku dan menarik tanganku agar batang kemaluanku bisa masuk sedalam mungkin. Pas sebelum aku klimaks, kurasakan dinding lubang kemaluan Annie mengeras dan mencengkeram batang kemaluanku dengan kuatnya dan dia pun mendapatkan klimaksnya sekali lagi. Tidak lebih dari dua detik, aku pun menyemprotkan spermaku di dalam liang kemaluannya.</p>
<p>Badan kami penuh keringat dan aku pun berbaring di sebelah Annie. Kami kembali berpakaian dan bergegas menuju pesawat, sebab kami hanya ada sepuluh menit sebelum pesawatnya</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.difunde.com/gairah-di-pesawat-terbang.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Doi dah horny</title>
		<link>http://www.difunde.com/doi-dah-horny.html</link>
		<comments>http://www.difunde.com/doi-dah-horny.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 21:30:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>17tahun</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita sex]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.difunde.com/?p=311</guid>
		<description><![CDATA[Waktu kuliah di salah satu universitas negeri di Jateng 1995-2002
Suatu siang tiba2 hpku ada sms dari no yg ngga aku kenal..’masih ingat aku?’ trus aku langsung call no tadi,ternyata dari seorang cewek Tuti namanya, temen waktu awal masuk kuliah dulu tapi beda fakultas. Sempat deket sih waktu penataran dulu (dan aku emang suka)..berawal dari itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Waktu kuliah di salah satu universitas negeri di Jateng 1995-2002</p>
<p>Suatu siang tiba2 hpku ada sms dari no yg ngga aku kenal..’masih ingat aku?’ trus aku langsung call no tadi,ternyata dari seorang cewek Tuti namanya, temen waktu awal masuk kuliah dulu tapi beda fakultas. Sempat deket sih waktu penataran dulu (dan aku emang suka)..berawal dari itu aku mulai maen ke kos Tuti. dari beberapa ketemuan aku tahu Tuti sdh punya pacar tapi kuliah di luar kota…<br />
Pada suatu malam aku ngobrol ma Tuti di kamar kosnya,waktu itu jam udah mendekati angka 9..tau kan kalo peraturan di kos cewek kalo lewat jam 9 dah ga boleh. Nah waktu jam 9 tepat aku pamit mo pulang tiba-tiba Tuti memegang tanganku ‘ kamu ga usah pulang..tidur sini aja.. katanya. Wah kebetulan ni pikirku. Kemudian Tuti menutup pintu kamarnya, aku enjoy aja rebahan di bednya sambil ndengerin radio.<br />
Tuti lalu bilang ‘ ga papa kan nginep disini..’ sambil duduk disebelahku.<br />
‘Ya kalo itu maunya Tuti aku ok aja, cuma ga enak ma temen2 kamu,kataku.<br />
2 jam selanjutnya aku ma Tuti ngobrol terus…Pas jam 11 malam Tuti matiin lampu kamarnya gantian nyalain lampu mejanya ,suasana jadi remang2 gitu di iringi suara Dido..aku lihat dia nglepasin branya, jadi tetep pake kaos tanpa bra…lalu ikut tiduran di sebelahku. Waktu itu my P dah mulai tegang nglihat putingnya nongol dibalik kaos putihnya. Tak lama aku cium bibirnya sambil memainkan lidahku dalam mulutnya, tangan kananku merangsuk di dalam kaos sambil meremas susunya…Oh halus banget bro..kuplintir putingnya .Tuti terengah-engah merasakan kenikmatan..kemudian kuraih tangannya ke penisku…dielus-elus sesekali dikocok pake tangannya…bener2 enak kocokannya beda ma pacarku. aku lepas kaosnya, menyembul buah dadanya…putingnya dah tegang,langsung aku emut bergantian kanan kiri… Tuti semakin horny..tiba2 Tuti melepas celanaku sdh ga tahan lagi pengin mengulum penisku..selang beberapa menit aku ma Tuti sdh telanjang bulat…dan sama2 nafsu..<br />
Ku cium mem*knya,kujilati sampai lidahku masuk dalam lubang mem*knya…ehmm mem*knya wangi…Kujilati mem*k Tuti sambil tanganku meremas-remas buah dadanya..rupanya Tuti dah horny banget kelihatan dari mem*knya yg udah mekar terbuka…ngga usah nunggu lama aku gesek2kan penisku ke mem*knya…Oh..rasanya nikmat bro..’<br />
ayo masukkan kont*lnya Mas aku dah ga tahan’ kata Tuti…tapi ga aku masukkan dulu terus aku gesek2kan sambil ku tekan itilnya pake penisku….Tuti semakin ga kontrol, dia menarik badanku sambil meraih penisku dicobanya dimasukkan kedalam mem*knya<br />
..Ah..Uh..ayo Mas …cepet masukkan….Tuti nyeocos ga karuan….Kudorong penisku pelan2 ke mem*knya sampai masuk seluruhnya…Aaahhh…enak Mas..hangat Mas kont*lmu…jangan dicabut dulu…pelan2 aku tarik lalu dorong lagi keluar…masuk.. Tuti juga menggoyangkan pantatnya kekiri kanan..Oh..enak Mas…trus Mas…Clop..clop..clop…suara dari keluar masuk penisku..Kulihat wajah Tuti yang makin horny.<br />
Oh..Tuti…mem*kmu enak banget…jepit yg keras ya…kurasakan denyutan dinding mem*k Tuti meremas penisku…Oh..Oh…enak Tuti…sambil kuciumi bibirnya…<br />
Tiba-tiba pintu kamar di ketok dari luar…Tuti…aku Heni…aku mo ambil bukuku…Tuti…bukain dong..<br />
Lalu aku bilang ke Tuti…gimana ni..temuin dulu tu temenmu.. goyangan penisku makin aku percepat …bukain tu…clop..clop..clop..<br />
Ga usah Mas…Uh..Oh…Ga Usah…jawab tuti sambil geleng2 kepala sedagkan matanya merem melek merasakan kenikmatan….Tuti semakin kelojotan…Terus Mas …Terus…masukin yg dalam Mas….Ooh..Ooh…aku mau keluar Mas…kupercepat goyanganku..Mas…Mas…Akuu Keluuuaarrr…<br />
seerrr….kurasakan cairan hangat mengguyur penisku yg masih didalam mem*knya….kuhentikan goyanganku..kunikmati orgasme Tuti, Oohh..Oh…Enak banget Mas…Mas Hebat..Cowokku aja selalu keluar lebih dulu…Memang waktu itu aku belum merasakan mau keluar…(biasanya aku ML ,cewekku bisa orgasme sampai 3X )…Sambil kuciumi bibirnya aku membersihkan lubang mem*k Tuti dengan kaosnya….lalu kusuruh dia nungging, aku mau main doggy style. Ku elus pantatnya yg mulus…kemudian kumasukkan pelan2 penisku ke lubang anusnya…<br />
Oow sakit Mas…pelan2 Mas…rupanya Tuti belum pernah dioral lwt anus…ku ambil baby lotion di meja lalu kutumpahkan dikit di lubang anusnya…kumasukkan jariku sambil kuciumi mem*knya….selang beberapa lama lubang anus Tuti sudah mulai meregang..kumasukkan lagi penisku…<br />
Oohh…kenceng banget anusmu Tut..akhirnya masuk juga tu penis…kudorong keluar masuk pelan2 sambil tanganku bermain di mem*knya…..Ohh..Yes…enak Tut….,<br />
Iya Mas…Ooh..enak..terus Mas…Kupercepat gerakanku…Uh..Uh..Uh…Tuti terengah-engah…Mas…nanti kalo keluar masukkan aja ke dalam mem*k Tuti ya…katanya.<br />
Kamu ga takut hamil? kataku….<br />
Ngga Mas,soalnya aku barusan selesai mens…ga papa Oooh…Oohh..aku mau gini terus Mas… nikmat Mas..Oh..Uh..<br />
Semakin lama kurasakan penisku semakin kencang…lubang anus Tuti memang bikin ’sendut-sendut’….<br />
Kutarik penisku lalu kumasukkan ke mem*knya lagi….Eemmmhh..ayo Mas …keluar bareng2 ya…Kuatur posisiku ,aku rebahan dibelakang punggung Tuti, sambil miring rebahan aku sodok mem*knya dari belakang…<br />
Oh…Mas aku mau keluar lagi….kupercepat gerakan maju mundurku…Iya Tut…Oh…Clop..clop..clop…semakin cepat bunyinya.<br />
Mas…aku mau keluar…<br />
Tahan Tut…Mas juga bentar lagi keluar…<br />
sambil ku remas buahdadanya aku percepat sodokanku, akhirnya ga tahan lagi…Tut aku keluar..<br />
Iya Mas ayo mas…Aaahh…Crooot..crooot..crooot..kutumpahkan spermaku ke dalam mem*knya Tuti….dibarengi cairan hangat Tuti jadi satu bercampur dalam mem*knya…<br />
Oohhhh …Mas, aku lemas…Mas hebat,….aku rebahkan badanku di sebelah Tuti, tangannya masih memegang penisku sambil dielus-elus…Mas..besok aku mau di sodok sama kont*l ini lagi…boleh Mas? tanyanya manja…<br />
Boleh..boleh…kapan saja Tuti pengen.<br />
Sejak itu aku sama Tuti sering ML di kamar kosnya, kadang siang hari kalo pas lagi horny.</p>
<p>Setelah lulus kuliah,aku kehilangan kontak, lewat temen2nya Tuti nikah dengan pacarnya dan kini sudah punya anak satu.<br />
Anaknya mirip siapa ya?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.difunde.com/doi-dah-horny.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika nafsu mengalahkan segalanya-1</title>
		<link>http://www.difunde.com/ketika-nafsu-mengalahkan-segalanya-1.html</link>
		<comments>http://www.difunde.com/ketika-nafsu-mengalahkan-segalanya-1.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 21:19:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>17tahun</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita sex]]></category>
		<category><![CDATA[Bercinta]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita 17Tahun]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Panas]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Panas Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Seru]]></category>
		<category><![CDATA[situs dewasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.difunde.com/?p=309</guid>
		<description><![CDATA[Pertama tama perkenalkan nama saya Irwan bisanya dikenal dengan nickname @suxetasu oleh kawan kawan saya di Forum Bluefame .
Saya merupakan karyawan di sebuah perusahaan swasta di kawasan Kuningan, Jakarta.
Perusahaan tempat saya berkerja bergerak dalam bidang ekspor impor, di perusahaan tersebut saya memiliki sebuah jabatan yang cukup membuat iri bagi rekan kerja saya di perusahaan tersebut.
Dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pertama tama perkenalkan nama saya Irwan bisanya dikenal dengan nickname @suxetasu oleh kawan kawan saya di Forum Bluefame .<br />
Saya merupakan karyawan di sebuah perusahaan swasta di kawasan Kuningan, Jakarta.<br />
Perusahaan tempat saya berkerja bergerak dalam bidang ekspor impor, di perusahaan tersebut saya memiliki sebuah jabatan yang cukup membuat iri bagi rekan kerja saya di perusahaan tersebut.<br />
Dalam umur 27 tahun saya sudah menjabat kedudukan sebagai Direktur utama di perusahaan tersebut. Mesipun demikian, saya masih tak ingin mencari calon istri. Saya masih ingin merasakan kehidupan saya sebagai laki laki lajang yang sukses dengan segala apa yang saya miliki. Segala yang saya inginkan dapat dengan mudah saya miliki.</p>
<p>Saya tinggal disebuah perumahan yang cukup elite untuk warga Jakarta yang mengetahuinya. Menteng.<br />
Sesehari dirumah hanya di temani oleh 2 pembantu yang mengurusi segala kebutuhan saya sehari hari.</p>
<p>Pengalaman sex ini saya dapatkan ketika saya mencari seorang sekretaris untuk membantu saya dalam menyelesaikan pekerjaan saya di perusahaan tersebut.<br />
Mungkin kriteria saya dalam memilih seorang sekretaris sama dengan banyak laki laki lajang pada umumnya di kota jakarta ini. Kecantikan adalah utama, kulit putih bersih, paras yang ayu, serta mungkin kemolekan atas lekuk tubuhnya.</p>
<p>â€œIya… masuk.â€ Terdengar ketukan diluar pintu ruangan saya.</p>
<p>â€œMaaf pak. Apakah bapak mau memulai untuk menyeleksi calon sekretaris.â€</p>
<p>â€œHmmm… suruh masuk.â€ Perintah Irwan tanpa menoleh kepada bawahannya.</p>
<p>Beberapa saat kemudian terdengar kembali suara ketukan di pintu ruangan tersebut.</p>
<p>â€œMasuk…â€</p>
<p>â€œSiang pak…â€</p>
<p>â€œHmmm… silahkan perkenalkan siapa kamu.â€ Sahut Irwan tanpa terlalu memperdulikan kehadiran calon pelamar tersebut di hadapannya yang masih berdiri. Saat itu Irwan memang sedang asik membaca berita berita fresh news di Forum kecintaannya di Bluefame.com.</p>
<p>â€œTolong sebutkan nama kamu… umur kamu… sekarang kamu tinggal dimana… dan apa pendidikan terakhir kamu serta dari universitas mana.â€ Tanya kembali Irwan yang tak memperdulikan wanita yang kini duduk di depan mejanya.</p>
<p>â€œNama saya Sarah Pradipta, saat ini saya berusia 21 tahun. Saya tinggal di perumahan Jatinegara Kaum, Jakarta Timur. Saya merupakan Lulusan D3 jurusan sekretaris pada universitas Swasta Trisakti.â€ Jawab Sarah dengan lancar tanpa merasa gugup bila sedang interview.</p>
<p>Saat itu sarah mengenakan baju yang sungguh menawan. Blazer hitam dipadu kemben putih tanpa memakai Bra yang menahan buah dada yang berukuran 36B hingga terlihat jelas sekali terbentuk puting susunya pada pakainannya. Rok ketat pendek yang memamerkan kemulusan kulit pahanya yang putih, seakan memancing setiap tangan untuk menjamah serta merasakan kehalusannya. Dengan postur tubuh sekitar 170 cm yang cukup tinggi bagi wanita seperti Sarah. Terkadang banyak sahabatnya yang bertanya kepadanya, mengapa ia lebih memilih untuk menjadi seorang sekretaris dibandingkan menjadi seorang model karena Sarah memiliki segala kriteria seorang model papan atas. Paras wanita indo antara Belanda-Jawa. Bola mata coklat dipadu dengan Rambut berombak merah bata sepunggung, kulit putih bersih. Memiliki leher yang jenjang, dengan sedikit rambut halus yang tumbuh di lehernya. Lekukan tubuh yang mengiurkan setiap mata yang memandang. Seakan akan mengundang terjangan setiap laki laki yang memandangnya bila sedang berjalan. Memang selama ini Sarah sangat menjaga kebugaran tubuhnya dengan erobik rutin di sebuah gym Selebritis Fitnnes dibilangan Kelapa Gading, Jakarta Utara.</p>
<p>Sepintas Irwan tertuguh dengan hadirnya bidadari yang berdiri dihadapannya saat itu. Tanpa kembali memperdulikan fresh news yang paling ia suka bila membuka forum Bluefame.com.<br />
Tatapannya bagaikan menelanjang Sarah, menatap dan menilai setiap lekukan tubuh Sarah saat itu.</p>
<p>â€œPak… apakah ada yang salah dengan pakaian yang sekarang saya kenahkan. Apakah bapak kurang berkenan dengan pakaian ini.â€ Tutur Sarah setelah menyadari tatapan Irwan yang menatapnya dari ujung kaki hingga ujung rambut.</p>
<p>â€œOoh… tidak tidak ada yang salah, hmmm… saya suka dengan penampilan kamu… apakah kamu sudah berkeluarga saat ini.â€ Tanya Irwan yang ingin mengetahui status pelamarnya saat itu.<br />
â€œBelum pak… Saat ini saya ingin memfokuskan untuk karier saya, oleh karena itu saya tidak ingin menjalin sebuah hubungan dengan siapapun.â€ Jawab Sarah dengan menundukkan wajahnya menatap ke bawah karena malu atas pertanyaan itu. Atau mungkin karena malu atas tatapan Irwan yang terus menatapnya.</p>
<p>â€œSelain kemampuan dibidang kesektretarisan. Kamu memiliki kemampuan apa lagi. Mungkin ini agak mengherankan, namun ini sebetulnya sangat diperlukan sekali bagi seorang sekretaris saya.â€</p>
<p>â€œHmmm… dilain bidang kesekretarisan… mungkin saya juga bisa memberikan sesuatu yang lebih untuk bapak… namun bila bapak juga mengingginkannya.â€</p>
<p>Perlahan Sarah berjalan mendekati tempat Irwan, dengan menampilkan paras muka nakalnya Sarah membuka retsleting celana Irwan dan mengeluarkan naga saktinya keluar dari sarangnya. Di genggamnya batang kemaluan Irwan dengan jari jari lentiknya. Perlahan dikocok kocok batang kemaluan itu naik turun seirama. Sesekian detik kemudian naga yang tertidur itu terbangun dan mengeliak dengan urat urat yang menonjol di tubuhnya.<br />
Dengan lidah nakalnya Sarah memulai permainannya dengan menjilat kepala kemaluan yang ia genggam itu. Memasukkan kemaluan Irwan dengan diameter cukup besar dan panjangnya sekitar 17 â€“ 20 sentimeter itu ke dalam mulutnya. Dengan lahap Sarah menelan habis batang kemaluan itu. Mengoral dengan menaik turunkan sambil tangan sebelah kanannya membelai kantung kemenyan Irwan.</p>
<p>Merasa kemaluannya sedang di oral oleh Sarah dengan nikmatnya, tangan sebelah kanan Irwan pun turun mencari bongkahan buah surga yang menjulang mengemaskan ke dalam genggaman tangannya yang kekar berotot itu.<br />
Merasa tak ingin sensasi ini terganggu, Irwan melepaskan genggaman buah dada Sarah yang kini telah mengelantung di luar baju dalamnya dan mengapai telphonenya serta memberitahukan bawahannya bahwa untuk saat ini ia tak ingin diganggu serta memberitahukan bahwa ia telah menerima Sarah sebagai sekretarisnya yang baru. saat ini ia memberitahukan juga bahwa ia sedang memberikan tugas kepada Sarah tentang tugas tugasnya sebagai sekretarisnya.<br />
Setelah menaruh kembali gagang telphone tersebut Irwan kembali mencari mainannya yang tadi sempat tertunda.<br />
Kemudian Sarah melepaskan kulupannya dan menanyakan kemungkinan apakah Irwan mengingginkan sensasi yang lebih dari permainan ini dan yang merupakan tanda terima kasih karena ia telah diterima untuk berkerja di perusahaan ini.<br />
Sarah duduk di atas meja kerja Irwan dan merenggangkan kedua kakinya tepat dihadapan Irwan yang menampilkan celana dalam putih dengan model renda.<br />
Menurunkan celana dalam berendanya yang membungkus lipatan gundukan daging montok itu dihadapan Irwan yang mulai terpanah dengan pemandangan yang kini ia saksikan.<br />
Tak ingin berlama lama memandangnya. Irwan langsung memendamkan kepalanya di dalam selangkangan Sarah dan melahap harumnya liang kemaluan Sarah yang terawat itu. Ternyata selain merawat kebugaran tubuhnya. Sarah juga tak lupa merawat liang kewanitaannya dengan segala ramuan ramuan tradisional yang berasal dari ibunya yang keturunan orang Jawa.<br />
Keharuman terpancar di dalam selangkangannya, memberikan sejuta rangsangan terhadap Irwan.</p>
<p>â€œSshhhhh…. mmmmm….â€ rintih Sarah mendahakkan kepalanya menatap ke atas menikmati setiap jengkal jilatan Irawan terhadap vaginanya.<br />
Sluup… sluup… terdengar suara jilatan Irwan yang sedang menikmati.</p>
<p>â€œSssshhh…. Pak. Ooohh….â€ erang kembali Sarah saat Irwan memainkan klitorisnya dan mengigit halus serta menekan nekan kepala Irwan tanpa memperdulikan bahwa Irwan adalah atasannya saat itu.</p>
<p>Jilatan demi jilatan menjelajahi vagina Sarah, hingga tak sanggup lagi Sarah menahan lebih lama rasa yang ingin meledak didalam dirinya.<br />
Nafas yang makin memburu… sahut menyahut didalam ruangan yang cukup besar itu. Beruntung ruangan Irwan kedap suara, jadi tak kwatir sampai terdengan oleh karyawannya di luar sana.<br />
Beberapa menit kemudian Sarah mengejang sambil mendesah keras serta meluruskan kedua kakinya yang jenjang itu lurus tepat di belakang kepala Irwan yang sedang terbenam menjilati bongkahan vagina Sarah. Akhirnya Sarah mencapainya dengan keringat disekujur tubuhnya. Meskipun ruangan tersebut Full AC namun Sarah masih merasa kepanasan di sekujur tubuhnya saat itu. Mungkin karena pengaruh hawa nafsu yang kini menjalar didalam dirinya atas rasa yang barukali ini ia dapatkan.<br />
Masih dengan posisi Sarah duduk di atas mejanya. Irwan membuka seluruh celana serta celana dalamnya dan membebaskan sepenuhnya naga sakti yang ia banggakan itu.<br />
Menyadari hal itu Sarah menaikan lebih tinggi Rok ketatnya hingga ke pinggangnya yang ramping dan merenggangkan kedua pahanya yang siap akan dinikmati oleh atasan barunya.<br />
Irwan mengenggam batang kemaluannya dan mengosokannya diantara bibir vagina Sarah yang telah basah bercampur liur Irwan dan mani Sarah yang tadi keluar.<br />
Perlahan Irwan menekan kepala kemaluannya ke dalam vagina Sarah yang menantang ingin segera di ganjal oleh batang kemaluaan besar berurat Irwan. Vagina yang hanya dihiasi bulu bulu halus berbentuk V diatas liangnya. Semakin membuat gemas Irwan yang memandangnya. Dengan dibantu Sarah yang membuka kedua pahanya semakin lebar, mempermudah kemaluan Irwan untuk segera menerobos masuk.</p>
<p>â€œPak… plan… pelan Pak. Sakit.â€ Ujar Sarah ketika merasakan mahkota keperwanannya ini akan segera dilahap oleh atasannya. Dengan mimik muka Sarah yang mengigit bibir sensualnya.</p>
<p>â€œTahan sebentar yah… setelah ini kamu akan merasakan sebuah sensasi yang tak mungkin kamu dapatkan ditempat lain selain dengan saya.</p>
<p>Sarah hanya mengangguk kecil kepada Irwan yang melanjutkan dorongannya untuk segera mendobrak pintu surganya yang masih rapat tertutup itu.<br />
Dengan kedua tangan yang memegang kedua sisi meja Irwan, Sarah menahan dorongan Irwan yang terus berusaha.<br />
Akhirnya usahanya membuahkan hasil. Kepala kemaluannya memasuki vagina Sarah perlahan lahan dan semakin dalam. Setelah terasa seluruh dari batang kemaluannya masuk semua. Irwan tak langsung menariknya kembali. Sesaat didiamkan dulu batang kemaluannya didalam vagina sempit Sarah yang perawan itu. Menikmati remasan remasan otot vagina Sarah terhadap batang kemaluannya.<br />
Sensasi wajah Sarah yang menahan sakit yang dirasakan semakin membuat Irwan semakin meluap birahinya untuk lebih lanjut menyetubuhi Sarah.<br />
Pelan pelan Irwan menarik kembali batang kemaluannya dari dalam vagina Sarah dan hanya menyisakan kepalanya saja dan kembali menekan masuk terus dan berulang ulang hingga Sarah merasakan birahinya kembali bangkit bersamaan dengan gesekan gesekan yang dibuat oleh Irwan kepada liang kewanitaannya.</p>
<p>â€œPak… lebih cepat dong pak dorongannya.â€ Ujar Sarah meminta agar Irwan semakin cepat memompa vaginanya.</p>
<p>Setiap tekanan yang dilakukan Irwan terhadap vagina Sarah, mengakibatkan klitorisnya ikut tergesek dan menimbulkan sensasi nikmat yang begitu indah.</p>
<p>Merasa Vagina Sarah telah dapat menerima kehadiran batang kemaluannya yang besar ini, maka pompaan Irwan pun semakin genjar keluar masuk kedalam vagina Sarah.</p>
<p>Tak terasa pergumulan ini berlangsung selama 30 menit lamanya. Hingga Sarah telah keluar sebanyak 4 kali.</p>
<p>â€œPak… sssshhh…. please pak… nikmatnya batang kemaluan bapak ini. Trus pak….â€ desah Sarah semakin mengila atas rasa yang ia dapatkan ini.</p>
<p>â€œPaaaakkk… Sarah tidak kuat lagi…. Aaakkkhhh…â€</p>
<p>Mendengar seruhan Sarah yang sedikit lagi mencapai puncaknya, maka Irwan pun tak ingin lebih lama lagi. Kali ini Irwan ingin mengakhiri dengan bersama sama.<br />
â€œTahan sebentar Sarah… kita sama sama keluarinnya. Jangan dikeluarin dulu… tahan.â€ Perintah Irwan yang semakin genjar memompa vagina sarah yang tak memperdulikan perih yang dirasakan Sarah pada bibir vaginanya yang semakin memerah itu.</p>
<p>Akhirnya….</p>
<p>â€œAaaakkkhhh… Saaaarrraaah.â€ Erang Irwan yang bersamaan dengan erangan sarah pada saat itu memanjang sambil saling berpelukan dalam dekapannya masing masing.</p>
<p>Anita ( 20 tahun )</p>
<p>Seusai persenggamahan mereka. Sarah bergegas mengenakan seluruh pakaiannnya dan merapikan pakaian yang agak lesuh itu karena pergumulannya dengan Irwan atasan barunya. Tak lupa Sarah mengambil secarik Tissue basah dari tas kecilnya dan membersihkan vaginanya dari bekas bekas sperma yang di muncratkan Irwan didalam liang kewanitaannya.</p>
<p>Sepulang kerja Irwan menawarkan untuk mengantar sekretaris barunya Sarah pulang ke rumahnya yang berada di perumahan Jatinegara Kaum, Jakarta Timur.<br />
Setibanya Sarah dan Irwan didepan rumahnya. Sarah dikejutkan dengan hal yang membuat Sarah untuk meninggalkan Irwan sendiri dirumahnya bersama dengan adiknya Anita. Kepergian Sarah yang tiba tiba itu dikarena ada salah satu keluarganya yang sakit keras malam itu juga.<br />
Dan Sarah tak sungkan meminta pertolongan Irwan untuk menunggunya di rumahnya bersama Anita adiknya yang masih kuliah di Universitas Gunadarma. Karena mereka hanya tinggal bertiga di rumah itu, sedangkan ayahnya Sarah telah meninggal dunia sekitar 4 tahun yang silam. Bersama dengan ibunya yang kini menjanda.<br />
Dengan spontan Irwan menawarkan Sarah untuk mengunakan mobil Jaguarnya untuk menemani ibunya ke rumah saudaranya malam itu. Tawaran Irwan pun tak sia sia kan. Sarah bersama ibunya berangkat menuju rumah saudaranya yang berada cukup jauh daritempat tinggalnya dengan mengunakan mobil Jaguar yang Irwan tawarkan.<br />
Kecantikan Anita tak kalah dengan kecantikan kakaknya. Paras muka Anita mungkin dapat dikatakan lebih menawan dan mempesona dibandingkan dengan kakaknya Sarah. Dengan kulit yang sama putih serta berambut hitam lurus sebahu, dihiasi bibir dan mata yang menantang laki laki disekitar komplek perumahannya. Postur tubuh Anita lebih pendek dibandingkan dengan kakaknya. Sekitar 165 cm dengan sepasang buah dada berukuran 36 C lebih besar diatas kakaknya. Sepasang bongkahan pantat menawan yang dipadu dengan pinggulnya yang langsing.<br />
Postur tubuh Anita membuat Darah muda Irwan kembali terbakar setelah mengetahui kemolekkan tubuh adik Sarah ini.</p>
<p>â€œMimpi apa aku kemarin malam… hingga hari ini aku dikelilingi oleh bidadari cantik seperti Sarah dan Anita. Sungguh beruntungnya diriku hari ini.â€ Kata Irwan dalam hatinya. Ketika merasa keberuntungan berpihak kepadanya saat ini. Pertama mendapatkan seorang sekretaris secantik Sarah serta mendapatkan kenikmatan menyetubuhi Sarah siang tadi didalam ruangannya.</p>
<p>â€œyuk masuk… kita tunggu mama dan kak Sarah didalam saja.â€ â€œOh yah, perkenalkan nama saya Anita, umur saya 20 tahun nanti bulan depan. Anita panggil siapa yah sama….â€ Oceh Anita yang terus menerus sambil berjalan kedalam rumahnya.</p>
<p>â€œNama saya Irwan Direktur disalah satu Perusahaan swasta yang bergerak dalam bidang ekspor impor. Sekaligus merupakan atasan baru kakakmu Sarah. Panggil saja kak Irwan.â€ Ujar Irwan buru buru karena belum sempat memperkenalkan namanya sebari tadi karena ocehan Anita wanita yang membuat mata Irwan terus terpanah dengan goyangan pantatnya ketika berjalan tepat dibelakangnya.</p>
<p>â€œOh… jadi boss baru kak Sarah yah… wah kak Sarah beruntung sekali yah memiliki boss yang baik hati serta tampan seperti kak Irrrrwaaan…â€ â€œAnita juga mau bila nanti kerja memiliki boss setampan kakak Irwan.â€ Ujar Anita yang panjang lebar.</p>
<p>â€œKak… sebentar yah, Anita mau menyegarkan badan Anita dulu. Bau nih, seharian kena terik matahari. Kak Irwan kalau mau minum ambil saja sendiri, jangan malu malu anggap saja seperti rumah kakak sendiri.â€ Kata Anita sambil memainkan matanya yang nakal ke arah tatapan Irwan.</p>
<p>Gila sungguh mengiurkan tubuh Anita adiknya Sarah ini. Beruntung sekali bila ada pria yang akan menjadi kekasihnya kelak nanti. Tak kalah dengan kakaknya Sarah.<br />
Merasa haus… Irwan berjalan mencari kulkas untuk mengambil sebotol minuman ringan menghapus dahaganya.<br />
Sambil kembali duduk di sofa ruang tamu keluarga Sarah. Irwan kembali dikagetkan dengan kehadiran Anita yang hanya mengenahkan gaun tidur putih tipis tiga jari dari lututnya, samar samar menampakkan seluruh lekukkan tubuhnya dibalik gaun yang seksi itu.<br />
Begitu indah pemandangan yang sekarang Irwan saksikan, sayang bila matanya harus mengedip meski hanya sekejap. Anita mengunakan gaun putih dengan celana dalamnya hitam model G-String dipadu dengan Bra berwarna hitam segitiga yang hanya menutupi puting susunya saja.<br />
Tak terasa naga yang bersembunyi didalam celana katun Irwan kembali mengeliak dengan hebat hingga membentuk tonjolan yang cukup besar pada luar celananya.</p>
<p>â€œLoh kok malah bengong sih… apa ada yang salah yah dengan baju tidur yang Anita pakai ini atau mungkin kakak kurang menyukainya.â€ Ujar Anita setelah melihat tatapan Irwan yang kaget melihatnya keluar dari dalam kamarnya yang masih dengan rambutnya yang masih basah karena mandi tadi.</p>
<p>â€œTidak… tidak ada yang salah dan saya suka kok dengan gaun tidur kamu… hanya saja hhhmmmm…â€ jawab Irwan dengan gugup karena tertangkap basah melihat kearah buah dadanya serta ke arah selangkangannya.</p>
<p>â€œHanya saja… apa? Kok diam sih. Atau mungkin karena kakak kaget malihat Anita mengenahkan gaun tidur dengan dalamanya yang terlihat jelas yah.â€ Sahut Anita sambil mengoda Irwan yang merasa malu karena melihatnya begitu seksi.</p>
<p>Dengan agak gugup Irwan menjawab â€œHanya saja kamu terlihat begitu sangat dewasa di bandingkan dengan saat kamu mengenakan kaos dan celana jeans.â€ Tutur Irwan.</p>
<p>â€œTrus setelah itu…â€<br />
â€œTrus kamu juga sangat seksi sekali mengenahkan gaun tidur itu. Kakak sangat mengagumi keindahan tubuhmu.â€</p>
<p>Tiba tiba deringan Handphone Anita berbunyi. Ternyata yang menelphone itu adalah kakaknya. Sarah.</p>
<p>â€œHallo… kenapa Kak Sarah.â€ Sahut Anita menjawab panggilan itu.<br />
â€œAnita. Mungkin kakak tidak bisa pulang malam ini karena paman ternyata sedang mengalami pendarahan, saat ini paman sedang dirawat intensif dirumah sakit RSCM, Salemba. Kak Irwan masih disana tidak? Suruh saja ia menginap dirumah kita, karena hari semakin malam dan mustahil ada taksi yang berkeliaran jam segini. Kak Irwan nanti persilahkan saja untuk tidur di kamar kakak saja.â€ Ujar Sarah memberitahukan bahwa ia serta ibunya tak dapat pulang malam ini.</p>
<p>â€œIya… kak Irwan masih disini sedang ngobrol dengan Anita.â€ Jawab Anita kembali.<br />
â€œAnita ingat yah… kak Irwan adalah milik kakak. Jadi jangan kamu sekali kali berbuat yang bukan bukan terhadapnya malam ini. Ingat pesan kakak yah.â€ Ancam Sarah yang memfokuskan pembicaraannya untuk tidak mengusik kehadiran Irwan malam ini disaat ia tak ada disana.<br />
â€œOke boss… bagi bagi dong kalau punya cowok setampan ini kak…â€ ejek Anita kepada Sarah di telphone.<br />
â€œAwas kamu kalau macam macam yah…â€</p>
<p>â€œGimana… apakah Sarah pulang malam ini…â€ Tanya Irwan yang ingin tahu apakah Sarah pulang malam ini.<br />
â€œKak Sarah tidak dapat pulang malam ini, dan kakak diminta untuk menginap saja disini dan tidur di kamarnya nanti malam.â€ Ujar Anita sambil meletakkan Handphonenya di atas meja tamu setelah mengakhiri pembicaraan itu.</p>
<p>â€œKak kayaknya ada sesuatu yang menonjol tuh di balik celana kak Irwan… kayaknya besar banget!â€ sambil menhampiri Irwan yang duduk depannya dan duduk tepat disampingnya.</p>
<p>â€œAh gak ini bisa lah… kalau liat wanita cantik bergaun tidur sexy serta transparan lagi… yah gini deh akibatnya. Gak bisa kompromi, minta jatah…â€ canda Irwan menutup malunya karena adik kecilnya menonjol dibalik celananya.</p>
<p>â€œKayaknya kalau diusap usap sama tangan Anita mungkin bisa lebih besar lagi yah… ih jadi pengen nih liat itunya kak Irwan.â€ Seru Anita sambil memegang batang kemaluan Irwan diluar celana panjangnya.</p>
<p>Karena merasa mendapatkan angin segar dari perbincangan yang mulai menjurus ke hubungan badan. Maka tak sungkan sungkan Irwan mulai meraba halus paha Anita yang putih mulus itu. perlahan namun semakin berjalan menuju titik temu nikmatnya.<br />
Antara bibir Irwan dan Anita saling berpangutan, mendesah, nafas yang memburu karena nafsu yang menjadi.<br />
Tak kala desahan Anita semakin menjadi saat tangan kekar Irwan mulai menyusup di balik celana dalam G-string yang dikenakan Anita. Mengorek… mencari dimana gerangan daging lebih tersebut… setiap gesekan yang dilakukan Irwan membuat Anita mendesah bagaikan setan kepanasan dengan mulut yang engap engapan layaknya manusia yang kekurangan oksigen.<br />
Merasa tak ingin disaingi kegesitannya. Anita pun segera melancarkan serangannya. Membuka gesper yang melingkar pada pinggang Irwan dan menurunkan retsleting celana serta langsung membuka seluruh kain yang membalut bagian bawah Irwan.<br />
Dengan posisi Anita berjongkok di bawah. Anita dengan bebasnya menikmati batang kemaluan Irwan bertubi tubi, layaknya seorang anak kecil yang sedang menemukan mainan barunya. Tak henti hentinya Anita mengulup kepala serta batang kemaluan Irwan… naik turun keluar masuk mulutnya.<br />
Terasa sekali ngilu kepala kemaluan Irwan saat Anita mengesikkan batang kemaluannya pada sisi gigi rahangnya, kanan kiri dan terus bergantian.</p>
<p>â€œGila nih cewek… kayaknya Anita lebih berpengalaman dibandingkan dengan kakaknya Sarah… pintar sekali ia mempermainkan batang kemaluanku… sungguh nikmat sekali, meski terkadang rasa ngilu bertubi datang namun nikmatnya gak bisa di utarakan dengan kata kata.â€ Guyam Irwan dalam hati sambil menikmati setiap jengkal batang kemaluaanya di hisap oleh Anita.</p>
<p>Lalu tak ingin akan berakhir sampai disini… Irwan menarik tubuh Anita dan disuruhnya mengangkang tepat di atas mukanya.<br />
Dengan gencar Irwan menyapu vagina Anita yang sama sama nikmatnya dengan Sarah. Namun vagina Anita seakan menebarkan bau yang sungguh membuat Irwan semakin gencar dan lahap menjilati liang kewanitaannya hingga setiap cair yang keluar dari sela bibir kemaluannya yang montok itu, tak dibiarkan sia sia oleh Irwan.<br />
Dibukanya kedua belah bibir kemaluan Anita dengan jari telunjuk Irwan, kemudian dengan leluasa lidah Irwan bermain… berputar putar… dan menekan nekan menerobos liang kewanitaan Anita yang berwaran merah muda itu. sungguh rasa dan sensasi yang berbeda.<br />
Merasa mereka berdua hampir sama sama akan sampai, maka di turunkan tubuh Anita yang semula mengangkang di kepalanya dan berjongkok tepat di atas batang kemaluannya yang tegang menunjuk ke atas tepat dibawah bibir vagina Anita berada.</p>
<p>Hanya dengan sedikit tekanan pada bibir vagina Anita. Batang kemaluan Irwan berhasil menerobosnya tanpa harus bersusah payah seperti vagina milik kakaknya Sarah.<br />
Sesaat ketika batang kemaluan Irwan telah tertancap penuh didalam vagina Anita.</p>
<p>â€œUuuuhhh… kak. Mmmmhhh… nikmatnya punya kakak yang besar ini.â€<br />
â€œSssshhhh…. mmmmhhh… pantas kak Sarah takut tinggalin kak Irwan sendiri di sini dengan Anita. Ternyata kak Sarah tergila gila dengan punya kak Irwan yang sungguh perkasa ini…â€ ujar Anita sambil mengoyangkan pinggulnya maju mundur… berputar putar merangsang batang kemaluan Irwan yang mengaduk liang kewanitaannya.</p>
<p>â€œkalau begini nikmatnya… Anita mau selama 1 bulan nonstop dient*t setiap hari sama kak Irwan yang ganteng dan perkasa ini.â€ Goda Anita dengan bahasa yang mulai berbicara kotor. Layaknya pelacur yang haus akan sodokan sodokan kejantanan laki laki.<br />
Kenyataannya ternyata Anita sudah tak perawan lagi seperti kakaknya Sarah saat pertama kali Irwan menyetubuhinya siang tadi di dalam kantornya.</p>
<p>â€œuuuhh… kak… uuuuhh… kak. Gendong Anita kedalam. Please…â€ pinta Anita sambil mencium puting susu Irwan yang berbulu itu.</p>
<p>â€œDengan senang hati sayang… kak akan memberikan kepuasan yang kamu inginkan. Asal kamu tak memberitahukan kepada kakak mu Sarah.â€ Sahut Irawan sambil berdiri dengan mengendong Anita di pangkuannya tanpa melepaskan batang kemaluannya keluar dari dalam vagina Anita.</p>
<p>Setiap gerakan langkah yang diambil oleh Irwan mengendong Anita menuju kamarnya. Desahan dan erangan Anita semakin menjadi karena hentakan hentakan yang diakibatkan oleh sodokan yang mementok hingga rahim Anita.<br />
Namun sensasi yang begitu nikmatnya… begitu beringasnya Anita kala bersenggama dengan Irwan, tak sungkan sungkan Anita mengigit pundak Irwan hingga bertanda…<br />
Hingga tiba pula didalam kamarnya… Irwan merebahkan tubuh Anita diatas ranjang springbednya dan menekukkan salah satu kaki jenjang mulus Anita ke atas dan yang satunya tetap di bawah. Dengan posisi ini batang kemaluan Irwan dapat dengan leluasa menhujam keluar masuk vagina Anita tanpa merasa terhalangi oleh bongkahan pantatnya yang bulat padat berisi itu.</p>
<p>â€œplak… plak… plak…â€ suara yang muncul ketika hentakan yang di lakukan oleh Irwan menyodok vagina Anita bertubi tubi.</p>
<p>â€œKak… truuus… beri Anita kenikmata seperti kakak berikan buat kak Sarah…â€<br />
â€œuuuhhh… kak. Nikmatnya. Uuuhhh….â€ erang Anita yang mengila sambil mencakar punggung Irwan.</p>
<p>Irwan tak memperdulikan Anita. Sekarang yang ada di pikirannya adalah mengalahkan Anita di atas ranjang. Irwan ingin merasa selalu perkasa diatas ranjang meski dengan wanita manapun, tentunya masuk kategori seleranya.<br />
Seakan Irwan tak memberi ruang istirahat untuk Anita sesaat. Irwan terus menyodok batang kemaluannya tak henti henti… hingga Anita sendiri wanita yang haus akan seks ini merasa heran atas keperkasaan yang ada dalam diri Irwan.<br />
Dengan postur tubuh yang tegap kekar, tinggi, tampan, serta memiliki kedudukan yang tinggi disalah satu perusahaan swasta.</p>
<p>Akhirnya Anita pun terkapar tak berdaya mengimbangi kekuatan seksual Irwan yang hingga saat ini masih terpacu menyetubuhinya tanpa merasa lelah sedikitpun.</p>
<p>â€œKak… Aaannita tidak tahan lagi… kak. Aaakkkhhh…. Anita sampai….â€ Erang Anita panjang yang menyatakan ia akan telah mencapai puncak kenikmatannya yang ke 3 semenjak pertama kali vaginanya di aduk aduk oleh tangan Irwan yang kekar itu.</p>
<p>Tak memperdulikan keadaan Anita yang telah lemas ditindih tubuhnya… Irwan tetap terus menhantam vagina Anita bertubu tubi… masuk keluar tak henti hentinya…<br />
Namun tak lama kemudian Irwan merasakan denyut denyut yang keras sekali pada pangkal kemaluannya. Lalu Irwan pun mencabut batang kemaluannya dari dalam liang vagina Anita dan sambil tetap mengocok kemaluaannya Irwan membimbing batang kemaluaannya ke mulut Anita dan memasukkan kemaluaannya hingga menumpahkan seluruh spermanya. Tak sedikitpun sperma yang tersisa atau tertumpah keluar dari mulut Anita. Karena Irwan menyuruh Anita untuk menikmati setiap tetes sperma yang keluar dari kemaluannya. Kalau tidak maka Irwan takâ€™kan mengulanggi persetubuhan ini lagi kepada Anita. Meski Irwan sendiri memiliki kelebihan dalam hal seks yang lama dengan lawan jenisnya.<br />
Tak terasa Irwan melirik jam yang masih melekat di lengan tangannya. Hampir selama tiga jam persenggamahan mereka berlangsung. Kelelahan dan keletihan baru terasa setelah ia merebahkan tubuhnya di samping Anita yang tergulai lemas tampa sehelai benangpun.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.difunde.com/ketika-nafsu-mengalahkan-segalanya-1.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita 17 Tahun – Mengetik</title>
		<link>http://www.difunde.com/cerita-17-tahun-%e2%80%93-mengetik.html</link>
		<comments>http://www.difunde.com/cerita-17-tahun-%e2%80%93-mengetik.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 21:12:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>17tahun</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita sex]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita 17Tahun]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Panas]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Seru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.difunde.com/?p=307</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah pengalamanku beberapa bulan lalu di tempat kost pacarku Nina. Aku sudah terbiasa keluar masuk di tempat kost itu baik itu bersama Nina atau sendirian. Kadang aku juga nginep kalau kemalaman. Kost ini memang nggak ada yang ngawasi, pemiliknya hanya datang sebulan sekali ambil duit.
Suatu hari aku datang ke kost Nina, sialnya pas saat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini adalah pengalamanku beberapa bulan lalu di tempat kost pacarku Nina. Aku sudah terbiasa keluar masuk di tempat kost itu baik itu bersama Nina atau sendirian. Kadang aku juga nginep kalau kemalaman. Kost ini memang nggak ada yang ngawasi, pemiliknya hanya datang sebulan sekali ambil duit.</p>
<p>Suatu hari aku datang ke kost Nina, sialnya pas saat itu Nina sudah keburu pergi ke Bromo bersama teman kuliahnya. Dalam hatiku aku mengumpati si Nina yang nggak lagi pamit kek atau ngasih tahu seperti biasanya. Mentang-mentang dia ada yang naksir lagi trus aku mulai nggak dianggap lagi.</p>
<p>Sore itu iseng-iseng aku nyalakan komputer di kamar Nina, ntar biar aku masukin virus makro-nya MS-Word lagi biar ilang semua ketikan dia. Tapi aku main DOOM dulu biar medongkolku agak berkurang. Belum lima belas menit aku main tiba-tiba pintu kamar yang nggak aku kunci terbuka. Eva dengan celana pantai dan kaos dagadunya sudah menerombol masuk ke kamar Nina. Waduh aku kena jadi sembur monster Doom deh.</p>
<p>“Hai mas,â€¦ sedang apa ?” si Eva teman sekost nya Nina datang, wah si Eva nih pasti minta tolong ngetik lagi.<br />
“Minta tolong dong mas,â€¦” pintanya sambil berganyut di daun pintu. Aku pura-pura nggak mau</p>
<p>“Aduh,.. aku bener-bener capek sekarang Va,â€¦ kalau kamu sendiri mau pake komputer ini pake aja” Eva memonyongkan bibirnya, aku tahu dia nggak lancar ngetik maklum nggak sering make komputer.<br />
“Tolonglah mas,â€¦ aku nggak bisa ngetik lancar nih apalagi ini banyak rumusnya, bisa-bisa dua lembar selesai dua hari “. Memang sih kalo MSWord pake rumus mesti klak-klik terusan ngerjakannya.</p>
<p>“Kamu bawa ke rental saja deh, ntar disana ada kok yang mau ketikin”.<br />
“Penuh,â€¦ besok sudah harus dikumpulin” jawabnya singkat.<br />
“Duh mahasiswa, kebiasaan pake acara dadakan tuh,â€¦ Oke aku ketik tapi nanti kamu harus pijitin aku. Bagaimana ?” aku mengajukan penawaran.<br />
“Nanti kalo ketahuan Nina ?” Eva memandang langit-langit dan aku memandangi pahanya.<br />
“Enggak,â€¦ kan Nina lagi ke Bromo”</p>
<p>Singkatnya penawaranku diterima dan aku langsung ketik naskah punya Eva. Baru dua paragraf aku ketik, aku jadi teringat kalau aku juga pernah ketik naskah semacam ini untuk Nina. So jadi tinggal Copy dan Paste lalu Edit sedikit dan selesai.</p>
<p>“Di print sekalian nggak nih Va ?” tanyaku pada Eva yang malah asik bolak-balik majalah punya Nina.<br />
“Lho kok cepet sekali, nggak ada yang salah ketik apa ?” ia bangkit dan mendekat ke arah monitor memeriksa naskah itu. Eva agak membungkuk membaca hasil ketikanku di monitor. Eh ada kesempatan baik, leher kaosnya jadi turun dan aku bisa melirik tetek milik Eva. Luar biasa, sekilas saja aku bisa pastikan tetek milik Eva masih kencang.</p>
<p>“Eh nakal ya,â€¦” aduh ketahuan deh. Eva segera bangkit dan menutup leher kaosnya. Aku nyengir-nyengir saja. Tapi dia nggak serius tuh marahnya, Eva malah senyum-senyum malu sambil memaksakan diri melotot.<br />
“Ntar aku bilangin Nina lho, mas suka ngintip” ancamnya lagi.<br />
“Ah bukannya kamu yang suka ngintip kalo aku pas tidur sama Nina”, aku balikan kata sambil menyalakan printer. Memang Eva pernah ketahuan ngintip pas aku sedang minta jatah biologis sama Nina.</p>
<p>“Nih ” empat lembar naskah itu sudah tercetak dan aku serahkan sama Eva.<br />
“Trims ya mas,â€¦. Jadi nggak pijit nya ?”<br />
“Oh ya jadi dong,â€¦”</p>
<p>Aku tiduran di ranjang dan Eva memijiti punggungku. Pintu aku tutup tapi nggak aku kunci. Aku melepaskan baju yang aku pakai, aku bilang takut kusut. Pijatan Eva terasa enak sekali malah seperti sudah prof. Dari leher sampai pinggang diurut dengan seksama.</p>
<p>“Va,â€¦ kamu cerita sama Budi (pacarnya Eva) nggak ?” tanyaku membuka kebisuan.<br />
“Cerita apa ?”<br />
“Tentang yang kamu intip itu”<br />
“Ah ya enggak dong ”<br />
“Bener ?”<br />
“Iya,..!!!”</p>
<p>Dua puluh menit aku dipijitin sama si Eva lalu dia mengeluh capek. Aku menawarakan diri untuk gantian pijit.</p>
<p>“Ah enggak ah, geli,â€¦”.<br />
“Tapi enak lho Va percaya deh” mulanya dia nolak tapi akhirnya mau juga. Aku bangkit sambil aku geser dia untuk naik ke ranjang. Aku pijit mulai dari lehernya lalu turun ke punggung dan pinggang. Aku perhatikan paha bagian belakang Eva mulusnya bukan main, putih lagi.</p>
<p>“Va kamu pernah nggak main sama Budi ?” aku beranikan diri untuk masuk ke dalam topik yang rada ngeres.<br />
“Main apaan ?”<br />
“Main kayak aku sama Nina”<br />
“Ehm,â€¦ mulai aneh-aneh ya,â€¦”<br />
“Cuma nanya kok ”<br />
“Kalo pernah kenapa dan kalo belum pernah juga kenapa ?”<br />
“Yah nggak apa-apa, cuma pingin tahu aja, kamu tahu aku sama Nina, aku juga kepingin tahu kamu dengan Budi”<br />
“Nggak ah,â€¦ nggak aku jawab”<br />
“Ah berarti pernah nih”<br />
“Lho kok bisa ambil kesimpulan?”<br />
“Iya biasanya kalo belum pernah pasti jawabnya tegas belum”<br />
“Terus, kalo aku sudah pernah main sex begitu sama Budi kenapa juga”<br />
“Yah,â€¦ barangkali,â€¦.” Aku sengaja nggak nerusin kata-kataku.<br />
“Barangkali apa ?!”<br />
“barangkali aku boleh coba”<br />
“Ah nggak mau,â€¦.”<br />
“Kenapa,â€¦”<br />
“Aku takut, punya mas besar sekali”<br />
“Justru yang besar itu yang enak tahu ”</p>
<p>“Ah masak ?” Eva memutar badannya dari yang tadinya telungkup jadi telentang. Aku nggak buang waktu lagi, aku segera menindihnya. Eva gelagepan ketika aku serang teteknya yang membuat aku penasaran dari tadi. Aku ciumi lehernya sampai dia terengah-engah kehabisan nafas. Ketika aku dapatkan bibirnya tanganku mulai melepasi kaos dan celana pantai sekalian cd-nya. Aku tangkap gundukan daging di selangkangannya dan dengan jari tengahku aku gosok lipatan dagingnya yang sudah becek dengan lendir. Eva jadi Ahhh uhhhh sambil menggelinjang ke kanan dan ke kiri.</p>
<p>Tiba tiba Eva jadi buas, ia mendorong tubuhku dan duduk diatas perutku membelakangi aku. Dengan terburu-buru ia melepaskan ikat pinggang celana yang aku pakai. Aku ngeri takut kalau resleting celanaku makan korban. Dan sebentar saja Eva sukses menurunkan celana yang aku pakai sebatas lutut. Dan bongkahan daging yang sedari tadi sudah membengkak diselangkanganku menyembul keluar. Eva meremasnya kuat-kuat sebelum ia memundukkan pantatnya ke arah mukaku dan “slup” bongkahan dagingku itu sudah masuk dalam mulutnya. Nggak nyangka, Eva yang selama ini aku kira diem eh ternyata,â€¦. Boleh juga permainannya.</p>
<p>Aku juga nggak tinggal diam, memiaw Eva yang hampir tanpa bulu itu sudah terpampang didepan mukaku dan aku hisap serta jilati sepuasnya. Lidahku aku julurkan mencoba menerobos ke dalam lobang memiaw Eva. Sejenak ia melepaskan kulumannya dan menengadah sambil merancu “Ehhh lagi mas ehhh terus terus yah yang itu ehhhh” ….</p>
<p>Aku nggak tahan lagi didiemin barangku. Segera aku dorong pantat Eva sehingga ia telungkup lagi dan aku arahkan rudal scottku ke balik pahanya.</p>
<p>“Agak diangkat dikit dong Va” pintaku supaya Eva agak nungging. Ia menuruti sambil membuka selangkangannya lebih lebar. Dan aku mulai membenamkan rudalku dalam memiawnya. Ia meringis dan katanya punyaku lebih besar dari pada milik si Budi. Tapi ketika aku mulai membenamkan lebih dalam lagi Eva melotot dan mengaduh kesakitan. Mungkin karena ia baru pertama kali ini mendapatkan the real penis macam punya aku. Aku diamkan sebentar sambil menenangkan Eva. Kalau gara-gara ini akhirnya di cancel wah rugi dong aku.</p>
<p>Aku mulai pelan pelan menarik dan membenamkannya lagi sampai Eva terbiasa. Nggak seberapa lama kok, lima enam kali memiaw Eva sudah bisa adaptasi dengan punyaku. Meskipun begitu lobang memiaw Eva masih terasa menggenggam batang dagingku erat sekali. Jadi ingat rasanya seperti pertama aku memperawani si Nina dulu. Nggak sampai sepuluh menit Eva sudah kejang melepaskan orgasmenya yang pertama. Ah dasar pemula sih. Aku berhenti sejenak disaat aku sudah sampai pada tujuh puluh lima persen hampir orgasme.</p>
<p>Aku bangkitkan lagi gairahnya dengan meremas kedua puting tetek Eva dari belakang. Berhasil, Eva mulai menggoyangkan lagi pantatnya dan aku nggak buang waktu lagi, aku segera mengayunkan ke depan dan kebelakang mengimbanginya. Eva orgasme sampai empat kali sebelum yang kelimanya aku dan Eva orgasme bareng-bareng. Aku hamburkan semua spermaku dalam memiaw Eva yang berdenyut kuat dan aku tertidur.</p>
<p>Aku bangun sekitar pukul setengah sembilan dengan kemaluan masih menancap dalam memiaw Eva. Aku bangunkan dia dan,â€¦ asiknya si Eva jadi minta lagi. Malam itu aku ganti ganti style mulai dari frontal, berdiri, doggy style juga dengan duduk diatas kursi. Aku bermalam di tempat kost itu kali ini bukan di kamar Nina tapi di kamar Eva. Aku jadi nggak kesepian lagi meski Nina ke Bromo sampai empat hari dan empat hari itu aku dan Eva menggunakan kesempatan sebaik-baiknya.</p>
<p>Eva pindah kost setelah dua minggu sejak itu. Tempat kost baru Eva sejenis dengan tempat kost sebelumnya bebas keluar masuk. Aku dapat dua jatah satu dengan Nina satu lagi dengan Eva. Terus terang aku lebih suka main dengan Nina yang lebih prof daripada Eva. Beberapa hal yang aku suka pada tubuh Eva adalah memiawnya yang nggak terlalu banyak bulu dan teteknya yang begitu ranum, sedang yang aku suka pada Nina adalah teknik main sexnya yang luar biasa. Sorry nggak sempat aku ceritakan disini, mungkin lain kali. Buat Budi aku minta maaf telah melanggar kebunmu, habis menurut Eva kamu kurang bersungguh-sungguh dan selalu ketakutan dengan kehamilan. Kan ada tekniknya supaya nggak hamil tanpa harus ketakutan</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.difunde.com/cerita-17-tahun-%e2%80%93-mengetik.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita 17 Tahun – Kirani</title>
		<link>http://www.difunde.com/cerita-17-tahun-%e2%80%93-kirani.html</link>
		<comments>http://www.difunde.com/cerita-17-tahun-%e2%80%93-kirani.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 21:08:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>17tahun</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita sex]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita 17 Tahun – Kirani]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita 17Tahun]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Panas]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Panas Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Seru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.difunde.com/?p=304</guid>
		<description><![CDATA[Kenalkan, panggil saja aku Raymond (Ray). Saat ini berusia 22 tahun, dan kuliah di sebuah universitas terkemuka di Surabaya, dan belum juga lulus. Nah, begini. Aku sama sekali tidak merasa diriku ganteng, pandai, ataupun alim. Aku mantan pecandu (hampir semua sudah aku coba) yang berhasil rehab (yang ternyata banyak sekali gunanya). Hampir setiap hari aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kenalkan, panggil saja aku Raymond (Ray). Saat ini berusia 22 tahun, dan kuliah di sebuah universitas terkemuka di Surabaya, dan belum juga lulus. Nah, begini. Aku sama sekali tidak merasa diriku ganteng, pandai, ataupun alim. Aku mantan pecandu (hampir semua sudah aku coba) yang berhasil rehab (yang ternyata banyak sekali gunanya). Hampir setiap hari aku melakukan hubungan seksual dalam bentuk bagaimanapun, dan maaf-maaf saja, aku tidak pernah melakukannya dengan pereks ataupun pelacur, tapi perawan kampus maupun anak SMU, dan terkadang tangan kiriku. Ah.. itulah sebabnya. Aku merasa beruntung dilahirkan dari sebuah keluarga menengah, yang sanggup membelikanku sebuah city-z dan m35 untuk bekal kuliah. Hanya modal itu? Tidak dong. Modal utamaku = Mulut dan Otak! Mau tahu caranya? Coba kuulas pengalamanku baru-baru ini.</p>
<p>Aku mengenal Kirani sebenarnya melalui no. telp di phonebook HP temanku. Waktu itu, aku hanya sekedar iseng mengecek nomor-nomor cewek yang ada di situ. Dan, voila! Kulihat nama KIRANI. Ah, pertama kali tentu saja aku tidak berharap banyak. Siapa tahu toh tampangnya kayak kuntilanak, hueheuheuhe.. tapi suatu hari, tapatnya tanggal 9 Desember 2000, karena nganggur abis, di samping pingin merasakan ‘fresh meat’, kucoba menghubungi nomer telponnya.</p>
<p>“Hallo.”<br />
Lah kok suara bapak-bapak?<br />
“Selamat malam, bisa dengan Kirani, Pak?” sahutku dengan nada sesopan mungkin.<br />
“Dari siapa?” jawab suara di seberang.<br />
“Dari Ray, Pak.”<br />
Dan bapak itu memintaku menunggu.<br />
“Halo?”<br />
Eh merdu juga suara si ‘neng’ ini. Dan karena ia di rumah, padahal ini malam minggu, berarti..<br />
“Halo? Kirani?” tanyaku dengan suara dimaniskan.<br />
“Siapa ini?” gadis itu bertanya.<br />
“Ray.” Jawabku singkat.</p>
<p>Sistemnya begini, kita tidak bisa membuat cewek tertarik pada konversasi kita hanya dengan menggunakan interogasi lapuk seperti ‘rumahnya di mana’, ‘kuliahnya di mana’,&#8217;udah punya pacar belum’. Namun kita pasti bisa menarik perhatian seorang cewek apabila kita menyerbunya dengan sebuah cerita atau pertanyaan spesifik di luar identitasnya. Dan itulah yang kulakukan, tanpa memberinya kesempatan untuk menanyakan identitasku.</p>
<p>“Ah, cuman Ray saja.” jawabku, dan dengan cepat kulanjutkan, “Aku pingin curhat..” dan membiarkannya bingung dan merasa lucu sendiri, akhirnya (90% cewek selalu begini) ia berkata, “Oke deh, curhat apa?”<br />
Masuk, kan? Kalau dia tidak bilang begitu, tinggal saja. Cewek seperti itu takkan bisa masuk perangkap.. hehehehe.<br />
“Begini, Rani..” dan akupun mengarang cerita tentang betapa cintaku dikhianati seorang gadis yang sudah kukasihi sekian tahun lamanya, betapa hatiku sedih membayangkan seluruh pengorbananku sia-sia dan sebagainya (pokoknya yang sedih-sedih dan semua salah si cewek).<br />
“..begitu.” aku mengakhiri ceritaku, “Bagaimana menurutmu?”<br />
“Gimana, yaa..” suaranya terdengar ragu, “Menurutku sih, yang salah ceweknya..”<br />
Sampai di sini aku menarik nafas lega, jadi aku sudah berhasil menarik simpatinya atas penderitaanku. Dan kami berbincang-bincang cukup lama mengenai masalah itu sampai akhirnya ia kembali menanyakan, “Ray siapa sih? Tahu nomer telponku dari mana?” Namun tentu saja dengan nada yang lebih akrab. Oh, satu hal yang selalu kupegang, jangan pernah terlalu banyak cerita mengenai diri sendiri, karena mendengar cerita lawan bicara dengan baik akan memberikan kesan yang baik pula, cerita mengenai diri sendiri justru akan bernuansa membosankan. Jadi kujawab apa adanya dan kuajukan pertanyaan universal yang membuatnya banyak omong kepadaku, sampai akhirnya ia bertanya sendiri, “Dih, aku cerewet yah?” Oh, tentu tidak. Ceritamu sangat menarik, walaupun aku ngantuk mendengarnya, dan rokokku hampir habis. Hehehehe.</p>
<p>Jadi aku berhasil mendapatkan alamatnya, cukup, jangan mendesak lebih lanjut, kukatakan aku akan menelponnya besok, ia setuju, dan tanpa menunggu lebih lama, aku langsung menuju ke jl. Gubeng Airlangga xx no. xx. Tidak mampir, aku hanya melihat dan melewatinya saja. Santai, tak perlu terburu-buru. Dan daripada nganggur, aku langsung berangkat ke kos-kosan te-te-em (teman tapi mesra) ku di Barata Jaya xx. Mengajaknya keluar jalan-jalan dan membujuknya hingga dia mau menghisap penisku di dalam mobil.</p>
<p>Keesokan harinya, tepat pukul tujuh malam, sesuai janji kemarin, aku melancarkan serangan berikutnya. Kali ini kuawali dengan bercerita tentang sebuah tabrakan maut yang entah di mana (aku lupa, soalnya aku hanya mengarang saja, hehehe), yang membuatnya sangat tertarik, lalu menarik simpatinya dengan pengalamanku dengan mantan kekasihku, si narkoba, dan membahas topik permasalahan kemarin, sehingga aku berhasil berbicara dengannya kurang lebih satu jam setengah. Seperti biasa pula, cewek akan merasa akrab kalau kita bisa membuatnya tertawa, senang, dan banyak omong. Sehingga..</p>
<p>“Rani, aku pingin tahu wajahmu loh.” kataku tiba-tiba.<br />
“Kapan? Sekarang? Udah malam lagi.” kudengar Rani berkata di seberang. Jadi sudah boleh, kan.<br />
“Besok, jam lima sore.”<br />
Jangan membuat langkah ragu, dan pilih waktu yang tak membuatnya curiga.<br />
“Okeh, nggak pa-pa. Kutunggu.”<br />
Pembicaraan yang lama akan membuat seseorang lupa ketika berjanji, sehingga Rani lupa bahwa besok masih puasa, jadi aku bisa menawarkan berbuka puasa bersama setibanya di kosnya. Lumayan cerdik? Tentu saja. Oh, beberapa hari ini kukonsentrasikan energiku untuk mengejarnya, jadi sejenak aku mengesampingkan tuntutan nafsuku, paling tidak sampai aku mendapatkan Rani.</p>
<p>Semuanya berjalan lancar-lancar saja. Jangan pernah menunjukkan perubahan dari gaya bicara di telpon dengan saat bertemu, seburuk apapun kemungkinan yang akan terjadi. Dan ternyata, wow, sangat jauh dari buruk. Heran juga kenapa temanku bisa dapat no. telpon si Rani. Anaknya cantik, kulitnya putih bersih, rambutnya bergelombang mengingatkanku kepada Bella Saphira, hanya dadanya sedikit kecil untuk tipeku, selebihnya oke-oke saja, bahkan sangat oke. Kuusahakan membuat ia tertawa terus, dengan mengarang cerita-cerita konyol dan memainkan raut wajahku. Matanya berbinar-binar, sebagai pernyataan keakrabannya denganku. Dan ketika aku mengingatkannya pada waktu buka puasa, setelah menunggunya shalat (aku shalat darurat di mobil, hehehe), kamipun meluncur mencari tempat makan. Oh, tentu saja kuusahakan mencari tempat kelas menengah yang menimbulkan kesan atraktif, seperti Wapo Airlangga, misalnya.</p>
<p>Selama perjalanan, aku agaknya berhasil membuatnya terpesona dengan sikap gentle-ku. Ia tersenyum manis saat kuberikan sebatang Toblerone (yang sudah kusiapkan sebelumnya), dan mengucapkan terima kasih saat kubukakan pintu mobil untuknya. Dan ketika aku menanyakan kapan ketemu lagi (bukan ‘boleh ketemu lagi?’), ia langsung mengatakan, “Jumat aku kosong.” Dan lihat, semuanya sangat perfect!</p>
<p>Hari Jumat aku mengajaknya jalan, dengan terlebih dahulu memberikan alasan bahwa aku paling bosan duduk terus, dan dengan keakraban yang sudah terjalin, alangkah mudahnya mengajaknya keluar. Hari itu aku mengajaknya ke Pizza Hut di Plasa Tunjungan untuk sekedar minum dan makan salad, karena kami sudah berbuka puasa sendiri-sendiri sebelum aku ke kosnya. Kali ini perbincangan kami seputar tipe cewek idamanku, dan tipe cowok idamannya. Dan tentu saja, dengan menjadi pendengar yang baik, aku bisa mencocokkan tipe cewek idamanku dengan sifat-sifatnya yang sudah kukira-kira dari cerita-ceritaya selama beberapa hari yang lalu. Dan aku tahu, tipe cowok idamannya pastilah sudah kupenuhi semua, kecuali studi tentu saja, soalnya aku paling malas kuliah. Aku tahu, kemungkinan untuk me’nembak’nya saat itu masih 80% berhasil. Jadi kuputuskan untuk menahan sabar. Aku hanya memancing dengan kata-kata, “Enak yah, punya cewek kaya kamu.” Dan itu bisa membuatnya tersanjung, membubung tinggi ke awang-awang.. dan.. brukk? Oh, itu nanti saja.</p>
<p>Sabtu besoknya, nah ini yang seru. Pukul sembilan malam, aku menelponnya tiba-tiba, yang tentu saja membuatnya bertanya-tanya. Dan kubilang, ada hal penting yang membuatku harus ke sana sekarang juga. Karena itu ‘hal penting’ akhirnya ia bersedia menemuiku. Hohoho.. sesampainya di kosnya, aku langsung berlutut, tanpa mempedulikan teman-temannya yang lagi nonton TV di ruang tamu. Memegang tangannya dan memintanya menjadi pacarku. Hehehe, wajahnya tersipu, dan aku tahu dalam keadaan begini, dilihat oleh teman-temannya, hanya 1% kemungkinanku untuk ditolak. Dan begitulah, ia ikut berlutut dan menganggukkan kepalanya, diiringi suit-suit teman-temannya yang menyaksikan kami. Dengan luapan kegembiraanku (berhasil! berhasil!) kupeluk pinggangnya yang ramping dan kuangkat tinggi-tinggi, membuatnya menjerit-jerit kecil dan teman-temannya tertawa. Aku, langsung pulang, membiarkannya larut dalam kejadian yang mungkin baginya sangat luar biasa, hahaha.. jahatnya aku.</p>
<p>Minggu besoknya, kami berdua menghabiskan waktu di Dunkin’s Donuts, sambil bercerita ‘ngalor-ngidul’. Oh, Rani yang lugu. Tarkadang terselip rasa menyesal.. masa? Hohoho..<br />
Hari Selasa, minggu lalu, aku berhasil mencium bibirnya, untuk hal ini, aku selalu menjaga reputasiku yaitu dengan tanpa harus mengajukan pertanyaan bodoh seperti “boleh kucium bibirmu?”. Kalau pingin cium, ya cium saja. Itu prinsipku, buat apa tanya?</p>
<p>Jumat kemarin, aku mengajaknya shalat tarawih. Setelah itu, aku mengajaknya berputar-putar di jalanan Surabaya, sambil memeluk dan menikmati lengan kiriku yang tertekan ’susu’-nya. Dan sampailah kami di saat setan lewat, dimana kami diam menikmati ‘kebersamaan’ kami.<br />
Nah, saat itulah kubisikkan di telinganya, “Rin, ke rumahku yuk.”<br />
Rina hanya menggelendot manja di pelukanku.</p>
<p>Ah ya, aku tinggal di Surabaya dengan mengontrak sebuah rumah yang lumayan di daerah Rungkut Harapan. Aku tinggal bersama dua orang temanku. Yang tentu saja sudah kusuruh ngacir ketika aku berhenti untuk mengisi bensin.<br />
Lalu..</p>
<p>Rani tidak meronta ketika sambil berdiri kupeluk dan kulumat bibirnya. Aku tidak pernah menutup mataku kalau sedang berciuman, hal yang bodoh, karena melihat matanya yang terpejam dan hidungnya yang kembang-kempis merupakan sebuah kenikmatan tersendiri bagiku.”Ahh..” kudengar nafasnya yang mendesah saat kupegang dan kuremas payudaranya dari lapisan bajunya, “Oohh.. hh..” kurasakan nafasku juga sedikit memburu, kumasukkan tanganku ke dalam bajunya, meraba raba cup BH-nya, menikmati kekenyalan ‘bemper’nya. Kubiarkan saja tangannya tergantung di sisi-sisi tubuhnya, lagipula, Rani (sesuai pengakuannya) kan masih hijau dalam berpacaran.. hehehe.. bingung kali dia harus ditaruh di mana tangannya, tidak seperti Eci yang pasti sudah langsung merogoh celanaku.</p>
<p>“Mmmhh..” kulumat bibirnya yang terbuka, dan kutekan pantatnya dengan tangan kananku sehingga menekan penisku yang mulai ’siap grak’. “Hhh..” hembusan nafasnya terasa mulai cepat.. dengan tetap memeluknya (dan tanganku masih meremas payudaranya), kubimbing dia memasuki kamarku. Toh nggak ada orang, jadi kubiarkan pintu kamar terbuka. Kududukkan dia di tepi ranjangku, sip. Kuangkat kakinya dan kujatuhkan kepalanya sehingga ia berada dalam posisi terlentang, sementara aku berjongkok di sebelah ranjang. Kulumat lagi bibirnya, sementara tangan kananku mengangkat bajunya hingga BH-nya menyembul keluar, dan menyelipkan tanganku di BH-nya, merasakan putingnya yang mulai mengeras di ujung jari-jariku.</p>
<p>“Ahh.. uhh..” Rani mulai mendengus-dengus menikmati sentuhanku. Tanpa pikir panjang, langsung kuraih kancing celananya dan menarik reitsletingnya, ehk, tangannya memegangi tanganku, matanya mendadak terbuka.. ups.. “Ssshh.. kamu percaya kan sama aku?” bisikku di bibirnya. Dan kulumat bibirnya sebelum ia sempat menjawab apapun. Kurasakan pegangannya pada tanganku melemas, matanya mulai terpejam lagi. Jadi kuteruskan saja. Kumasukkan tanganku di lipatan celana dalamnya yang berwarna krem, merasakan bulu-bulu vaginanya yang lebat, memijat-mijat permukaan vaginanya, merasakan tanganku basah oleh ‘cairan’nya. “Aahh.. hh.. mm..” kudengar nafasnya yang mendesah-desah dan matanya berkerut-kerut saat kujepit labia mayoranya dengan jari-jariku, memainkannya, memijat-mijatnya, dan kepalanya tertarik ke belakang saat jari tengahku menemukan kelenjar vaginanya dan menekan-nekan serta menggosok kelenjar tersebut.Akupun tenggelam dalam kenikmatanku sendiri, ‘adik’ku sudah tegang sekali, jadi akupun bangkit berdiri, melihat matanya yang masih terpejam dan bibirnya yang tergigit.</p>
<p>“Ray.. hh..” kudengar ia mengeluh sambil memandangiku saat kutarik celananya berikut celana dalamnya. Bulu-bulu vaginanya terlihat lebat dengan celah yang mengundang, bibir vaginanya tampak memerah, mungkin akibat gesekan dan pijatan jariku tadi. Dan tanpa menunggu reaksinya lebih lanjut, kumasukkan kepalaku ke dalam lipatan pahanya dan menjilat penuh nafsu, “Aahhkk.. nngghh..” kudengar ia mengeluh, badannya bergerak-gerak, pahanya menjepit kepalaku saat kugerakkan lidahku menjilat-jilat kelenjar vaginanya. Kunikmati rasa anyir yang memasuki mulutku, kuangkat tanganku, meraih kedua buah dadanya sekaligus, dan menekan-nekan memijat-mijat, membuatnya menjambak-jambak rambutku, pantatnya mulai terangkat dan bergerak liar.</p>
<p>Kutinggalkan vaginanya, dan bangkit berdiri, lalu melepas bajuku dan celanaku. Oh.. Rani rupanya lebih memilih untuk tidak melihatku telanjang. Ya sudah, pikirku. Kubuka pahanya dan kutempelkan batang penisku ke atas vaginanya. Mmmhh.. kunikmati benda yang empuk itu menekan penisku. Kubiarkan saja. Kuciumi bibirnya dan kuangkat punggungnya, melepaskan kaitan BH-nya, dan mengangkat bajunya melewati kepala dan tangannya, sementara Rani hanya pasrah saja, sambil sesekali mengeluh nikmat. “Ahh..” kuhembuskan nafasku penuh kenikmatan saat kujatuhkan tubuhku menempel ke tubuhnya yang telanjang. Kugerak-gerakkan pinggulku, mambuat penisku menekan dan menggesek kemaluannya. Kuciumi matanya, hidungnya, bibirnya, dagunya, menelusuri lehernya, ke dadanya, kuremas payudaranya dan kuhisap putingnya yang berwarna coklat muda secara bergantian.</p>
<p>“Ray.. ahh..” kudengar Rani menyebut-nyebut namaku penuh kenikmatan, kutekan penisku lebih kuat, menggesekkannya menelusuri celah vaginanya, licin, terkadang kutarik penisku agak jauh turun, dan menekan maju, sehingga menekan lubang vaginanya dan menyibakkan bibir-bibirnya ke samping. “Ahh.. kk.. hh.. aahh..” nafasku memburu, dadanya terasa hangat di dadaku, kuciumi lagi bibirnya yang terbuka terengah-engah, kuangkat sedikit dadaku, membiarkan ujung-ujung putingnya menyapu kulitku, kupegang pantatnya dengan tanganku dan kutekan lagi penisku. “Rani.. uhh..” aku mulai terbawa nafsuku sendiri.</p>
<p>Kutarik lagi penisku, dan kali ini menekannya agak kuat, dan (aku sendiri kaget) Rani menjerit kesakitan saat ujung penisku mendadak masuk persis di lubang vaginanya.<br />
“Ray.. jangan..”<br />
bangsat.. kepalang tanggung.<br />
“Rani.. please..” desahku, ujung penisku masih menancap sedikit di ujung lubangnya yang sempit.<br />
“Ray.. jangan, Ray..”<br />
Shit.. kutekan lebih dalam.. Rani menjerit kecil, “Aaachkk.. nngghh..” kulihat air mata menetes di pipinya. Shit.. shit.. kugigit lehernya dan.. shit.. kutekan sekali lagi lebih dalam.<br />
“Ray.. hhkk..”<br />
Kutarik.. kutekan lagi.<br />
“Rani.. uhh..”<br />
Ahhkhkkh.. dan cepat-cepat kutarik keluar sebelum spermaku memasuki vaginanya. Kulepaskan gigitanku, merasakan penisku yang menempel di sprei ketika kuturunkan pantatku. Keringat membasahi tubuhku.<br />
v”Rani ..?” kucoba memanggil namanya, “Rani..??”<br />
“Rani..!!” kuangkat tubuhku, dan kulihat mukanya yang memerah. Buliran air mata tampak jatuh dari ujung matanya, Rani menggigit bibir bawahnya, matanya terpejam dan alisnya berkerut, hidungnya kembang-kempis. Shit.. kulirik ke bawah dan alangkah terkejutnya aku melihat setitik gumpalan darah kehitaman menodai ujung penisku yang mulai mengecil.</p>
<p>“Rani.. sakit ya?” tanyaku sambil kuturunkan tanganku menyentuh celah vaginanya, menggosok-gosok sebentar. Kulihat mata Rani masih terpejam dan air matanya masih keluar, bibirnya bergetar. Kugosok lagi celah vaginanya dengan gerakan memijat dan kugosokkan di kulit pantatku.<br />
“Rani.. sori yah.. sakit?” terus kuulang-ulang pertanyaan itu sambil tetap menggosok-gosok, akhirnya kulihat tangannya terangkat menutupi matanya, dan Rani mengangguk perlahan.<br />
“Uuuh.. sayang..” kukecup manja bibirnya.<br />
“Kusayang, yah?” tanyaku pelan dan dia mengangguk. Kuturunkan kepalaku ke perutnya, terus turun sehingga aku dapat melihat dengan jelas kondisi vaginanya. Wah, lumayan hancur.</p>
<p>Kuperhatikan dengan seksama, memastikan tak ada noda yang menempel, kubelai noda-noda yang tersisa dengan tanganku, membaurkannya dengan air liurku, dan menggosokkannya di pantatku sambil berkata, “Disayang, yaa.. cup cup..” Sebentar-sebentar kutekan permukaan vaginanya, memastikam cairan itu tidak keluar lagi. Setelah yakin semuanya bersih. Kutarik tubuhku ke sampingnya, kupeluk Rani dengan mesra, dan kubisikkan di telinganya,<br />
“Rani.. kamu tahu apa yang membuatku senang saat ini?”<br />
Rani menggeleng lemah, tangannya masih menutupi matanya.<br />
“Hihihi.. bener mau tahu?”<br />
Rani diam saja.. bahunya masih bergerak-gerak.<br />
“Ngga sampai bobol kok.. tuh lihat saja.. masih bersih..”<br />
Dan Rani mengangkat tangannya, tertawa sambil menangis dan memelukku.<br />
“Kan aku sudah bilang tadi.. percaya dong sama Ray,” ucapku setengah berbisik, dan kukecup keningnya. Ahh.. Rani.</p>
<p>Uwaahh.. aku mungkin harus bersyukur entah pada setan mana soalnya spreiku tak sampai ternoda, bisa cialat deh kalau Rani melihat ada noda di situ. Dan.. satu lagi nama perawan masuk ke buku harianku.</p>
<p>Mungkin pembaca 17Tahun bertanya padaku, kenapa bisa semudah itu Rani bisa diajak bercinta, oh, Rani bukan cewek gampangan. Tapi yang terpenting, carilah cewek yang di bawah kelas kamu, lugu, agak jauh lebih muda, dan berikan dia pesona dan sebuah keoercayaan, then.. see now?</p>
<p>Hmm, sampai sekarang aku masih berhubungan dengannya, sambil mencari-cari cara bagaimana untuk meninggalkannya. Beberapa teman cewekku menawarkan untuk membantu, tapi sepertinya aku mempunyai cara sendiri, mungkin setelah tahun baru. hehehehe.. kita lihat saja, oke. Tunggu saja.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.difunde.com/cerita-17-tahun-%e2%80%93-kirani.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita Seks – 3 Cewe Cantik</title>
		<link>http://www.difunde.com/cerita-seks-%e2%80%93-3-cewe-cantik.html</link>
		<comments>http://www.difunde.com/cerita-seks-%e2%80%93-3-cewe-cantik.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 21:03:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>17tahun</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita sex]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita 17Tahun]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Panas]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Seru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.difunde.com/?p=301</guid>
		<description><![CDATA[Cerita Seks – 3 Cewe Cantik. Cerita ini berawal dari perkenalanku dengan seorang wanita karir, yang entah bagaimana ceritanya wanita karir tersebut mengetahui nomor kantorku.
Siang itu disaat aku hendak makan siang tiba-tiba telepon lineku berbunyi dan ternyata operator memberitau saya kalau ada telepon dari seorag wanita yang engak mau menyebutkan namanya dan setelah kau angkat.
“Hallo, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerita Seks – 3 Cewe Cantik. Cerita ini berawal dari perkenalanku dengan seorang wanita karir, yang entah bagaimana ceritanya wanita karir tersebut mengetahui nomor kantorku.</p>
<p>Siang itu disaat aku hendak makan siang tiba-tiba telepon lineku berbunyi dan ternyata operator memberitau saya kalau ada telepon dari seorag wanita yang engak mau menyebutkan namanya dan setelah kau angkat.</p>
<p>“Hallo, selamat siang joko,” suara wanita yang sangat manja terdengar.<br />
“Helo juga, siapa ya ini?” tanyaku serius.<br />
“Namaku Karina,” kata wanita tersebut mengenalkan diri.<br />
“Maaf, Mbak Karina tahu nomor telepon kantor saya dari mana?” tanyaku menyelidiki.<br />
“Oya, aku temannya Yanti dan dari dia aku dapat nomor kamu,” jelasnya.<br />
“Ooo.. Yanti,” kataku datar.</p>
<p>Aku mengingat kisahku, sebelumnya yang berjudul empat lawan satu. Yanti adalah seorang wanita karir yang juga ‘mewarnai’ kehidupan sex aku.</p>
<p>“Gimana kabarnya Yanti dan dimana sekarang dia tinggal?” tanyaku.<br />
“Baik, sekarang dia tinggal di Surabaya, dia titip salam kangen sama kamu,” jelas Karina.</p>
<p>Sekitar 10 menit, kami berdua mengobrol layaknya orang sudah kenal lama. Suara Karina yang lembut dan manja, membuat aku menerka-nerka bagaimana bentuk fisiknya dari wanita tersebut. Saat aku membayangkan bentuk fisiknya, Karina membuyarkan lamunanku.</p>
<p>“Hallo.. Joko, kamu masih disitu?” tanya Karina.<br />
“Iya.. Iya Mbak..” kataku gugup.<br />
“Hayo mikirin siapa, lagi mikirin Yanti yaa?” tanyanya menggodaku.<br />
“Nggak kok, malahan mikirin Mbak Karina tuh,” celetukku.<br />
“Masa sih.. Aku jadi GR deh” dengan nada yang sangat menggoda.<br />
“Joko, boleh nggak aku bertemu dengan kamu?” tanya Karina.<br />
“Boleh aja Mbak.. Bahkan aku senang bisa bertemu dengan kamu,” jawabanku semangat<br />
“Oke deh, kita ketemuan dimana nih?” tanyanya semangat.<br />
“Terserah Mbak deh, Joko sih ngikut aja?” jawabku pasrah.<br />
“Oke deh, nanti sore aku tunggu kamu di Mc. Donald plasa senayan,” katanya.<br />
“Oke, sampai nanti joko.. Aku tunggu kamu jam 18.30,” sambil berkata demikian, aku pun langsung menutup teleponku.</p>
<p>Aku segera meluncur ke kantin untuk makan siang yang sempat tertunda itu. Sambil membayangkan kembali gimana wajah wanita yang barusan saja menelpon aku. Setelah aku selesai makan aku pun langsung segera balik ke kantor untuk melakukan aktivitas selanjutnya.</p>
<p>Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 17.00, tiba saatnya aku pulang kantor dan aku segera meluncur ke plasa senayan. Sebelumnya prepare dikantor, aku mandi dan membersihkan diri setelah seharian aku bekerja. Untuk perlengkapan mandi, aku sengaja membelinya dikantin karena aku nggak mau ketemu wanita dengan tanpak kotor dan bau badan, kan aku menjadi nggak pede dengan hal seperti itu.</p>
<p>Tiba di Plasa Senayan, aku segera memarkirkan mobil kijangku dilantai dasar. Jam menunjukkan pukul 18.15. Aku segera menuju ke MC. Donald seperti yang dikatakan Karina. Aku segera mengambil tempat duduk disisi pagar jalan, sehingga aku bisa melihat orang lalu lalang diarea pertokaan tersebut.</p>
<p>Saat mataku melihat situasi sekelilingku, bola mataku berhenti pada seorang wanita setengan baya yang duduk sendirian. Menurut perkiraanku, wanita ini berumur sekitar 32 tahun. Wajahnya yang lumayan putih dan juga cantik, membuat aku tertegun, nataku yang nakal, berusaha menjelajahi pemadangan yang indah dipandang yang sangat menggiurkan apa lagi abgian depan yang sangat menonjol itu. Kakinya yang jenjang, ditambah dengan belahan pahanya yang putih dan juga montok dibalik rok mininya, membuat aku semakin gemas. Dalam hatiku, wah betapa bahagianya diriku bila yang aku lihat itu adalah orang yang menghubungiku tadi siang dan aku lebih bahagia lagi bila dapat merasakan tubuhnya yang indah itu.</p>
<p>Tiba-tiba wanita itu berdiri dan menghampiri tempat dudukku. Dadaku berdetuk kencang ketika dia benar-benar mengambil tempat duduk semeja dengan aku.</p>
<p>“Maaf apakah kamu Joko?” tanyanya sambil menatapku.<br />
“Iy.. Iyaa.. Kamu pasti Karina,” tanyaku balik sambil berdiri dan mengulurkan tanganku.</p>
<p>Jarinya yang lentik menyetuh tanganku untuk bersalaman dan darahku terasa mendesr ketika tangannya yang lembut dan juga halus meremas tangaku dengan penuh perasaan.</p>
<p>“Silahkan duduk Karina,” kataku sambil menarik satu kursi di depanku.<br />
“Terima kasih,” kata Karina sambil tersenyum.<br />
“Dari tadi kamu duduk disitu kok nggak langsung kesini aja sih?” tanyaku.<br />
“Aku tadi sempat ragu-ragu, apakah kamu memang Joko,” jelasnya.<br />
“Aku juga tadi berpikir, apakah wanita yang cantik itu adalah kamu?” kataku sambil tersenyum.</p>
<p>Kami bercerita panjang lebar tentang apapun yang bisa diceritakan, kadang-kadang kami berdua saling bercanda, saling menggoda dan sesekali bicara yang ‘menyerempet’ ke arah sex. Lesung pipinya yang dalam, menambah cantik saja wajahnya yang semakin matang.</p>
<p>Dari pembicaraan tersebut, terungkaplah kalau Karina adalah seorang wanita yang sedang bertugas di Jakarta. Karina adalah seorang pengusaha dan kebetulan selama 4 hari dinas di Jakarta.</p>
<p>“Karin, kamu kenal Yanti dimana?” tanyaku.</p>
<p>Yanti adalah teman chattingku di YM, aku dan Yanti sering online bersama. Dan kami terbuka satu sama lain dalam hal apapun. Begitu juga kisah rumah tangga, bahkan masalah sex sekalipun. Mulutnya yang mungil menjelaskan dengan penuh semangat.</p>
<p>“Emangnya Yanti menikah kapan? Aku kok nggak pernah diberitahu sih,” tanyaku penuh penasaran.<br />
“Dia menikah dua minggu yang lalu dan aku nggak tahu kenapa dia nggak mau memberi tahu kamu sebelumnya,” Jawabnya penuh pengertian.<br />
“Ooo, begitu..” kataku sambil manggut-manggut.<br />
“Ini adalah hari pertamaku di Jakarta dan aku berencana menginap 4 hari, sampai urusan kantorku selesai,” jelasnya tanpa aku tanya.<br />
“Sebenarnya tadi Yanti juga mau dateng tapi berhubung ada acara keluarga jadi kemungkinan dia akan datang besok harinya dia bisa dateng,” jelasnya kembali.<br />
“Memangnya Mbak Karina menginap dimana nih?” tanyaku penasaran.<br />
“Kebetulan sama kantor sudah dipesankan kamar buat aku di hotel H..”jelasnya.<br />
“Mmm, emangnya Mbak sama siapa sih?” tanyaku menyelidik.<br />
“Ya sendirilah, Joko.. Makanya saat itu aku tanya Yanti,” katanya<br />
“Tanya apa?” tanyaku mengejar.<br />
“Apakah punya teman yang bisa menemaniku selama aku di Jakarta,” katanya.<br />
“Dan dari situlah aku tahu nomor telepon kamu,” lanjutnya.</p>
<p>Tanpa terasa waktu sudah menunjukan pukul 10.25 wib, dan aku lihat sekelilingku pertokoan mulai sepi karena memang sudah mulai larut malam. Dan toko pun sudah mulai tutup.</p>
<p>“Jok.. Kamu mau anter aku balik ke hotel nggak?” tanyanya.<br />
“Boleh, masa iya sih aku tega sih biarin kamu balik ke hotel sendirian,” kataku.</p>
<p>Setelah obrolan singkat, kami segera menuju parkiran mobil dan segera meluncur ke hotel H.. Yang tidak jauh dari pusat pertokoan Plasa Senayan. Aku dan Karina bergegas menuju lift untuk naik ke lantai 5, dan sesampainya di depan kamarnya, Karina menawarkan aku untuk masuk sejenak. Bau parfum yang mengundang syaraf kelaki-lakianku serasa berontak ketika berjalan dibelakangnya.</p>
<p>Dan ketika aku hendak masuk ternyata ada dua orang wanita yang sedang asyik ngegosip dan mereka pun tersenyum setelah aku masuk kekamarnya. Dalam batinku, aku tenyata dibohongi ternyata dia nggak sendiri. Karina pun memperkenalkan teman-temannya yang cantik dan juga sex yang berbadan tinggi dan juga mempunyai payudara yang besar dia adalah Miranda(36b) sedangkan yang mempunyai badan yang teramat sexy ini dan juga berpayudara yang sama besarnya bernama Dahlia(36b). Dan mereka pun mempersilahkan aku duduk.</p>
<p>Tanpa dikomando lagi mereka pun perlahan-lahan memulai membuka pakaian mereka satu persatu, aku hanya bisa melotot saja tak berkedip sekali pun, tak terasa adik kecilku pun segera bangun dari tidurnya dan segera bangun dan langsung mengeras seketika itu juga. Setelah mereka telanjang bulat terlihatlah pemandangan yang sangat indah sekali dengan payudara yang besar, Karina pun langsung menciumku dengan ganasnya aku sampai nggak bisa bernafas karena serangan yang sangat mendadak itu dan aku mencoba menghentikannya.</p>
<p>Setelah itu dia pun memohon kepadaku agar aku memberikan kenikmatan yang pernah aku berikan sama Yanti dan kawan-kawan. Setelah itu Karina pun langsung menciumku dengan garangnya dan aku pun nggak mau tinggal diam aku pun langsung membalas ciumannya dengan garang pula, lidah kamipun beraduan, aku mulai menghisap lidahnya biar dalam dan juga sebaliknya. Sedangkan Miranda mengulum penisku ke dalam mulutnya, mengocok dimulutnya yang membuat sensasi yang tidak bisa aku ungkapkan tanpa sadar aku pun mendesah.</p>
<p>“Aaahh enak Mir, terus Mir hisap terus, aahh..”</p>
<p>Sedangkan Dahlia menghisap buah zakarku dengan lembutnya membuat aku semakin nggak tertahankan untuk mengakhiri saja permaianan itu. Aku pun mulai menjilati vagina Karina dengan lembut dan perlahan-lahan biar dia bisa merasakan permaianan yang aku buat. Karina pun menjerit keras sambil berdesis bertanda dia menikmati permainanku itu.</p>
<p>Mirandapun nggak mau kalah dia menghisap payudaranya Karina sedangkan Dahlia mencium bibir Karina agar tidak berteriak ataupun mendesis. Setelah beberapa lama aku menjilati vaginanya terasa badannya mulai menegang dan dia pun mendesah.<br />
“Jok.. Akuu mauu keeluuarr.”</p>
<p>Nggak beberapa lama keluarlah cairan yang sangat banyak itu akupun langsung menghisapnya sampai bersih tanpa tersisa. Setelah itu aku pun langsung memasukkan penisku ke dalam vagina Karina, perlahan-lahan aku masukkan penisku dan sekali hentakan langsung masuk semua ke dalam vaginanya yang sudah basah itu. Aku pun langsung menggenjotnya dengan sangat perlahan-lahan sambil menikamati sodokan demi sodokan yang aku lakukan dan Karina pun mulai mendesah nggak karuan.</p>
<p>“Aaahh enak Jok, terus Jok, enak Jok, lebih dalam Jok aahh, sstt..”</p>
<p>Membuat aku bertambah nafsu, goyanganku pun semakin aku percepat dan dia mulai berkicau lagi.</p>
<p>“Aaahh enak Jok, penis kamu enak banget Jok, aahh..”</p>
<p>Setelah beberapa lama aku mengocok, diapun mulai mengejang yang kedua kalinya akupun semakin mempercepat kocokanku dan tak beberapa lama aku mengocoknya keluarlah cairan dengan sangat derasnya dan terasa sekali mengalir disekitar penisku. Akupun segera mencabut penisku yang masih tegang itu. Miranda segera mengulum penisku yang masih banyak mengalir cairan Karina yang menempel pada penisku, sedangkan Dahlia menghisap vaginanya Karina yang masih keluar dalam vaginanya dengan penuh nafsunya.</p>
<p>Miranda pun mulai mengambil posisi, dia diatas sedangkan aku dibawah. Dituntunnya penisku untuk memasuki vaginanya Miranda dan serentak langsung masuk. Bless.. Terasa sekali kehangatan didalam vaginanya Miranda. Dia pun mulai menaik turunkan pantatnya dan disaat seperti itulah dia mulai mempercepat goyangannya yang membuat aku semakin nggak karuan menahan sensasi yang diberikan oleh Miranda.</p>
<p>Dahlia pun mulai menghisap payudara Miranda penuh gairah, sedangkan Karina mencium bibir Miranda dengan garangnya, Miranda mempercepat goyangannya yang membuat aku mendesah.</p>
<p>“Aaahh enak Mir.. Terus Mir.. Goyang terus Mir.. Lebih dalam lagi Mir.. Aaahh sstt”</p>
<p>Dan selang beberapa menit aku merasakan penisku mulai berdenyut,</p>
<p>“Mir.. Aku.. ingiin keeluuaarr”</p>
<p>Seketika itu juga muncratlah air maniku didalam vaginanya, entah berapa kali munceratnya aku nggak tahu karena terlalu nikmatnya dan diapun masih mengoyang semakin cepat. Seketika itu juga tubuhnya mulai menegang dan terasa sekali vaginanya berdenyut dan selang beberapa lama keluarlah cairan yang sangat banyak sekali, aku pun langsung mengeluarkan penisku yang sudah basah kuyup ditimpa cairan cinta. Mereka pun berebutan menjilati sisa-sia cairan yang masih ada dipenisku, Dahlia pun langsung menjilati vaginanya Miranda yang masih mengalir cairan yang masih menetes di vaginanya. Akupun melihat mereka seperti kelaparan yang sedang berebutan makanan, setelah selang beberapa lama aku mulai memeluk Dahlia dan aku pun mulai mencium bibirnya dan mulai turun ke lehernya yang jenjang menjadi sasaranku yang mulai menari-nari diatasnya.</p>
<p>“Ooohh.. Joko.. Geelli..” desah Dahlia.</p>
<p>Serangan bibirku semakin menjadi-jadi dilehernya, sehingga dia hanya bisa merem melek mengikuti jilatan lidahku.</p>
<p>Miranda dan Karina mereka asyik berciuman dan saling menjilat payudara mereka. Setelah aku puas dilehernya, aku mulai menurunkan tubuhnya sehingga bibirku sekarang berhadapan dengan 2 buah bukit kembarnya yang masih ketat dan kencang. Aku pun mulai menjilati dan sekali-kali aku gigit puntingnya dengan gigitan kecil yang membuat dia tambah terangsang lagi dan dia medesah.</p>
<p>“Aaahh enak sekali Jok.. Terus Jok hisap terus Jok enak Jok aahh sstt..”</p>
<p>Dahlia pun membalasnya dengan mencium bibirku dengan nafsunya dan setelah itu turun ke pusar dan setelah itu dia mulai mengulum, mengocok, menjilat penisku didalam mulutnya. Setelah dia puas aku kembali menyerangnya langsung ke arah lubang vaginanya yang memerah dan disekelilingi rambut-rambut yang begitu lebat. Aroma wangi dari lubang kewanitaannya, membuat tubuhku berdesis hebat. Tanpa menunggu lama lagi, lidahku langsung aku julurkan kepermukaan bibir vagina.</p>
<p>Tanganku bereaksi untuk menyibak rambut yang tumbuh disekitar selangkangannya untuk memudahkan aksiku menjilati vaginanya.</p>
<p>“Ssstt.. Jok.. Nikmat sekali.. Ughh,” rintihnya.</p>
<p>Tubuhnya menggelinjang, sesekali diangkat menghindari jilatan lidahku diujung clitorisnya. Gerak tubuh Dahlia yang terkadang berputar-putar dan naik turun, membuat lidahku semakin menghujam lebih dalam ke lubang vaginanya.</p>
<p>“Joko.. Gila banget lidah kamu..” rintihnya<br />
“Terus.. Sayang.. Jangan lepaskan..” pintanya.</p>
<p>Paha Dahlia dibuka lebar sekali sehingga memudahkan lidahku untuk menjilatnya. Dahlia menggigit bibir bawahnya seakan menahan rasa nikmat yang bergejola dihatinya.</p>
<p>“Oohh.. Joko, aku nggak tahan.. Ugh..” rintihnya.<br />
“Joko cepet masukan penis kamu aku sudah nggak tahan nih,” pintanya.</p>
<p>Perlahan aku angkat kaki kanannya dan aku baringkan ranjang yang empuk itu. Batang kemaluanku sudah mulai mencari lubang kewanitaannya dan sekali hentak.</p>
<p>“Bleest..” kepala penisku menggoyang vaginanya Dahlia.<br />
“Aowww.. Gila besar sekali Jok.. Punya kamu,” Dahlia merintih.</p>
<p>Gerakan maju mundur pinggulku membuat tubuh Dahlia mengelinjang hebat danm sesekali memutar pinggulnya sehingga menimbulkan kenikmatan yang luar biasa dibatang kemaluanku.</p>
<p>“Joko.. Jangan berhenti sayang.. Oogghh,” pinta Dahlia.</p>
<p>Dahlia terus menggoyangkan kepalanya kekanan dan kekiri seirama dengan penisku yang menghujam dalam pada lubang kewanitaannya. Sesekali Dahlia membantu pinggulnya untuk berputar-putar.</p>
<p>“Joko.. Kamu.. Memang.. Jagoo.. Ooohh,” kepalannya bergerak ke kiri dan ke kanan seperti orang triping.</p>
<p>Beberapa saat kemudian Dahlia seperti orang kesurupan dan ingin memacu birahinya sekencang mungkin. Aku berusaha mempermainkan birahinya, disaat Dahlia semakin liar. Tempo yang semula tinggi dengan spontan aku kurangi sampai seperti gerakan lambat, sehingga centi demi centi batang kemaluanku terasa sekali mengoyang dinding vagina Dahlia.</p>
<p>“Joko.. Terus.. Sayang.. Jangan berhenti..” Dahlia meminta.</p>
<p>Permainanku benar-benar memancing birahi Dahlia untuk mencapai kepuasan birahinya. Sesaat kemudian, Dahlia benar-benar tidak bisa mengontrol birahinya. Tubuhnya bergerak hebat.</p>
<p>“Joko.. Aakuu.. Kelluuaarr.. Aaakkhh.. Goyang sayang,” rintih Dahlia.</p>
<p>Gerakan penisku kubuat patah-patah, sehingga membuat birahi Dahlia semakin tak terkendali.</p>
<p>“Jok.. Ooo.. Aaammpuunn,” rintihnya panjang.</p>
<p>Bersamaan dengan rintihan tersebut, aku menekan penisku dengan dalam hingga mentok dilangit-langit vagina Dahlia. Aku merasakan semburan cairan membasahi seluruh penisku.</p>
<p>Dahlia yang sudah mendapat kedua orgasmenya, sedangkan aku masih berusaha untuk mencari kepuasan birahiku. Posisi Dahlia, sekarang menungging. Penisku yang masih tertancap pada lubang vaginanya langsung aku hujamkan kembali ke lubang vaginanya Dahlia.</p>
<p>“Ooohh.. Joko.. Kamu.. Memang.. Ahli..” katanya sambil merintih.</p>
<p>Kedua tanganku mencengkeram pinggul Dahlia dan menekan tubuhnya supaya penisku bisa lebih menusuk ke dalam lubang vaginanya.</p>
<p>“Dahlia.. Vagina kamu memang enak banget,” pujiku.<br />
“Kamu suka minum jamu yaa kok seret?” tanyaku.</p>
<p>Dahlia hanya tersenyum dan kembali memejamkan matanya menikmati tusukan penisku yang tiada hentinya. Batang kemaluanku terasa dipijiti oleh vagina Dahlia dan hal tersebut menimbulkan kenikmatan yang luar biasa. Permainan sexku diterima Dahlia karena ternyata wanita tersebut bisa mengimbangi permainan aku.</p>
<p>Sampai akhirnya aku tidak bisa menahan kenikmatan yang mulai tadi sudah mengoyak birahiku.</p>
<p>“Dahlia.. Aku mau.. Keluar..”kataku mendesah.<br />
“Aku juga sayang.. Ooohh.. Nikmat terus.. Terus..” Dahlia merintih.<br />
“Joko.. Keluarin didalam.. Aku ingin rasakan semprotan.. Kamu..” pintanya.<br />
“Iya sudah.. Ooogh.. Aaakhh..” rintihku.</p>
<p>Gerekan maju mundur dibelakang tubuh Dahlia semakin kencang, semakin cepat dan semakin liar. Kami berdua berusaha mencapai puncak bersama-sama.</p>
<p>“Joko.. Aku.. Aku.. Ngaak kkuuaatt.. Aaakhh” rintih Dahlia.<br />
“Aku juga sudah.. Ooogh.. Dahh,” aku merintih.<br />
“Crut.. Crut.. Crut..” spermaku muncrat membanjiri vaginanya Dahlia.</p>
<p>Karena begitu banyak spermaku yang keluar, beberapa tetes sampai keluar dicelah vagina Dahlia. Setelah beberapa saat kemudian Dahlia membalikkan tubuhnya dan berhadapan dengan tubuhku.</p>
<p>“Joko, ternyata Yanti benar, kamu jago banget dalam urusan sex. Kamu memang luar biasa” kata Dahlia merintih.<br />
“Biasa aja kok Mbak, aku hanya melakukan sepenuh hatiku saja,” kataku merendah.<br />
“Kamu luar biasa..” Dahlia tidak meneruskan kata-katanya karena bibirnya yang mungil kembali menyerang bibirku yang masih termangu.</p>
<p>Segera aku palingkan wajahku ke arah Karina dan Miranda, ternyata mereka sudah tertidur pulas mungkin karena sudah terlalu lelah, dan akupun tak kuasa menahan lelah dan akhirnya akupun tertidur pulas. Dan setelah 4 jam aku tertidur aku pun terbangun karena ada sesuatu yang sedang mengulum batang kemaluanku dan ternyata Miranda sudah bangun dan aku pun menikmatinya sambil menggigit bibir bawahku. Dan kuraih tubuhnya dan kucium bibirnya penuh dengan gairah dan akhirnya kami pun mengulang kembali sampai besok harinya. Dengan terpaksa aku menginap karena pertarunganku dengan mereka semakin seru aja.</p>
<p>Ketika pagi telah tiba akupun langsung ke kamar mandi di ikuti oleh mereka dan akupun mandi bareng dan permainan dimulai kembali didetik-detik ronde terakhir. Tanpa terasa kami berempat sudah naik didalam bathup, kami mandi bersama. Guyuran air dipancurkan shower membuat tubuh mereka yang molek bersinar diterpa cahaya lampu yang dipancarkan ke seluruh ruangan tersebut. Dengan halus, mereka menuangkan sabun cair dari perlengkapan bag shop punya mereka. Aku mengosok keseluruh tubuh mereka satu persatu, sesekali jariku yang nakal memilih punting mereka.</p>
<p>“Ughh.. Joko..” mereka merintih dan bergerak saat aku permainkan puntignya yang memerah.</p>
<p>Sebelum aku meinggalkan mereka, kami berempat berburu kenikmatan. Dan entah sudah berapa kali mereka yang sedang membutuhkan kehangatan mendapatkan orgasme. Kami memburu kenikmatan berkali-kali, kami berempat memburu birahinya yang tidak kenyang.</p>
<p>Sampai akhirnya waktu menunjukkan pukul 08.00 wib, dimana aku harus berangkat kerja dan pada jam seperti ini jalanan macet akupun mempercepat jalannya agar tidak terkena macet yang berkepanjangan. Aku meninggalkan Hotel H.. Sambil menikmati sisa-sisa kenikmatan yang sudah ditinggalkan oleh permainan tadi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.difunde.com/cerita-seks-%e2%80%93-3-cewe-cantik.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita Seks – Cerita lagi, suster lagi</title>
		<link>http://www.difunde.com/cerita-seks-%e2%80%93-cerita-lagi-suster-lagi.html</link>
		<comments>http://www.difunde.com/cerita-seks-%e2%80%93-cerita-lagi-suster-lagi.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 20:55:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>17tahun</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita sex]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita 17Tahun]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Panas]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Seks]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Seru]]></category>
		<category><![CDATA[Ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[situs dewasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.difunde.com/?p=298</guid>
		<description><![CDATA[Cerita Seks – Cerita lagi, suster lagi. Saya ingin menceritakan suatu pengalaman seks yang pertama kali saya alami pada masa remaja. Saat itu saya berumur 14 tahun. Saya sering sakit-sakitan kala itu. Sampai-sampai suatu hari saya harus dirawat di rumah sakit A, di kota Surabaya. Sakit yang saya derita adalah karena terjadinya pembengkakan di saluran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerita Seks – Cerita lagi, suster lagi. Saya ingin menceritakan suatu pengalaman seks yang pertama kali saya alami pada masa remaja. Saat itu saya berumur 14 tahun. Saya sering sakit-sakitan kala itu. Sampai-sampai suatu hari saya harus dirawat di rumah sakit A, di kota Surabaya. Sakit yang saya derita adalah karena terjadinya pembengkakan di saluran jantung saya. Telapak kaki saya bengkak-bengkak dan kalau saya lari lebih dari satu kilometer, saya langsung ngos-ngosan. Ibu saya kemudian memutuskan saya untuk meminta perawatan dokter S, ahli jantung terkenal saat itu. Si dokter malam itu juga meminta saya dirawat inap di rumah sakit. Nah, dari rumah sakit itulah, saya mengalami pengalaman seks terhebat yang akan saya kenang seumur hidup saya.</p>
<p>Karena minum obat yang diberikan dokter, malam pertama saya menginap di rumah sakit, saya tidak bisa tidur. Saya maunya kencing terus. Sebuah botol besar telah disiapkan untuk menampung air urine saya. Otomatis, penis saya harus dimasukkan ke botol itu. Oleh dokter, saya tidak diperbolehkan untuk turun dari tempat tidur. Jadi sambil tiduran, saya tinggal memasukkan penis ke dalam botol yang sudah ada di samping ranjang. Ada satu perawat yang rupanya begitu telaten menjaga dan merawat saya malam itu. Seharusnya ia tidak boleh memperhatikan saya membuang urine di botol. Tetapi tatkala saya membuka piyama dan celana dalam saya, dan mengarahkan penis ke mulut botol, eh si perawat yang belakangan kuketahui bernama Wiwin D**** (edited) malah membantu memegang penis saya. Dengan pelan dan lembut tangan kirinya memegang penis kecil saya yang masih kecil, sedangkan tangan kanannya ikut memegang botol itu. Setelah urine saya keluar, ia membersihkan penis saya dengan tissue. Sambil terus membersihkannya, ia memperhatikanku dengan senyuman aneh.</p>
<p>“Dik… kamu tahu bendamu ini bisa membuat kamu melayang-layang?” tanyanya tiba-tiba.<br />
“Maksud Mbak?” tanyaku pura-pura tidak mengerti. Aku sudah tahu apa maksudnya. Wong, aku sudah pernah nonton video BF seminggu yang lalu.<br />
“Iya… kalo si kecil ini dipegang, dikocok-kocok oleh tangan halus seorang wanita kemudian dihisap dan dikulum olehnya, pasti deh kamu akan merasakan keenakan yang luar biasa.. lebih dari yang lain yang ada di dunia ini…” jawab Mbak Wiwin lagi.<br />
“Masa sih, Mbak? Pengen coba nih.. bisa nggak Mbak melakukannya buat saya?” tanyaku hati-hati dengan perasaan campur baur. Berani juga nih cewek.<br />
“Kamu benar-benar mau?” tanyanya penuh semangat.<br />
Tanpa menunggu jawabanku lagi, ia menaruh tissue itu lalu memegang kejantananku dan pelan-pelan mulai mengocok-ngocoknya. Wah… memang benar enak kocokannya. Pelan tapi pasti. Beberapa menit kemudian ia jongkok di samping tempat tidur. Mulutnya dibuka lalu batang kejantananku dimasukkan ke dalamnya. Mula-mula dihisapnya, dikulum lalu dijilat-jilatnya kepala kejantananku.</p>
<p>Untuk pertama kalinya dalam masa remajaku, aku merasakan sesuatu yang amat sangat nikmat! Entah apa namanya.. surga dunia kali ya? Tanpa disangka-sangka Mbak Wiwin memegang tangan kananku lalu menuntunnya masuk ke balik seragamnya. Ya.. itu dia!! Gunung kembarnya begitu kenyal dan besar kurasakan. Tanpa disuruh lagi aku pun meremas-remas, meraba-raba ’susu’ ajaibnya itu. Sementara itu ia terus saja mengulum dan mengisap kejantananku dengan penuh nafsu.</p>
<p>Beberapa menit kemudian aku mulai merasa akan ada sesuatu yang akan keluar dari tubuhku yang masih lemah karena sakit. “Crot..! crot…! crot…!” Sesuatu berwarna putih kekuning-kuningan dan agak kental keluar dari batang kejantananku dan tanpa ampun lagi langsung menyemprot masuk ke mulut Mbak Wiwin. Setelah sembilan kali semprot, ia menjilati kejantananku dengan mimik muka penuh kepuasan.</p>
<p>“Gimana Dik…? Puas nggak?…” tanyanya sambil tersenyum. Terlihat bekas cairan kental itu di mulut dan bibirnya.<br />
“Wah nikmat ya Mbak… Boleh dong aku minta lagi…?” jawabku penuh harap.<br />
“Boleh dong… tapi jangan sekarang ya… kamu harus istirahat dulu… besok pagi kamu pasti akan merasa lebih puas lagi… Mbak janji deh…” ujarnya dengan mimik seperti menyembunyikan sesuatu.</p>
<p>Aku pun mengangguk. Mungkin karena kelelahan setelah di ‘karaoke’ oleh gadis perawat yang cantik dan sexy, aku pun tertidur malam itu. Tapi tengah malam, sekitar pukul dua dini hari, aku merasa ’senjata’ andalanku kembali diobok-obok dan kini yang mengoboknya bukan hanya Mbak Wiwin tetapi seorang perawat lain juga. Namanya belakangan kuketahui adalah Viviana. Gadis ini juga tak kalah cantik bahkan buah dadanya itu benar-benar menggelembung di balik seragam putihnya. Lebih besar dari punya Mbak Wiwin dan juga pasti lebih kenyal!</p>
<p>Mereka terus saja menjilati, mengulum dan menghisap-hisap batanganku. Yang seorang di sebelah kananku dan yang seorang lagi di sebelah kiriku. Tanganku yang kiri meremas-remas susu Viviana sedang tangan yang kanan meremas susunya Wiwin. Setelah sepuluh menit, batang kejantananku mulai mengeras dan siap untuk ditusukkan. Viviana kemudian naik ke atas ranjang dan menyingkapkan roknya. Duh.. rupanya ia sudah tidak mengenakan celana dalam. Ia kemudian duduk di atas kepalaku. Dengan sengaja ia mengarahkan liang kewanitaannya ke wajahku. Aku tiba-tiba teringat dengan film porno yang pernah kutonton seminggu yang lalu. Ya… aku harus menjilatnya terutama di bagian kecil dan merah itu… ya apa ya namanya? Klitoris ya? nah itu dia! Tanpa disuruh dua kali aku langsung mengarahkan lidahku ke bagiannya itu.</p>
<p>“Slep… slep… slep…” terdengar bunyi lidahku saat bersentuhan dengan klitoris Viviana. Dan Wiwin? Rupanya ia sudah membuka seluruh pakaian seragamnya lalu menduduki batanganku yang sudah sangat mengeras dan berdiri dengan gagahnya. Dengan tangan kirinya ia meraih batang kejantananku itu lalu dengan pelan ia mengarahkan senjataku itu ke liang senggamanya. “Bles… jleb… bles…” batang kejantananku sudah masuk separuh, ia terus saja bergoyang ke bawah ke atas. Buah dadanya yang montok bergoyang-goyang dengan indahnya, kedua tangannya memegang sisi ranjang.</p>
<p>Wah… dikeroyok begini sih siapa yang nggak mau, bisa main dua ronde nih. Setelah beberapa menit, kami berganti posisi. Viviana kusuruh tidur dengan posisi tertelungkup. Sementara Wiwin juga tidak ketinggalan. Lalu dengan penuh nafsu aku membawa batanganku dan mengarahkannya ke liang senggama Viviana dari arah belakang. “Bles… bles… bles…jeb!!” Liang senggamanya berhasil ditembus oleh senjataku. Terdengar suara lenguhan Viviana karena merasa nikmat. “Uh.. uh.. uh.. uh.. Terus Dik.. Enak…ikmat..!” Tanganku pun tidak kalah hebatnya. Kuraih buah dadanya sambil kuremas-remas. Puting payudaranya kupegang-pegang.</p>
<p>“Gantian dong…” tiba-tiba Wiwin minta jatah. Duh, hampir kulupakan si doi. Aku cabut batang kejantananku dari liang senggama Viviana lalu kubawa ke ranjang sebelah di mana telah menanti Wiwin yang sedang mengelus-elus kemaluannya yang indah. Tanpa menunggu lagi, aku naik ke ranjang itu lalu kumasukkan dengan dorongan yang amat keras ke liang senggamanya.<br />
“Jangan keras-keras dong Dik…” erangnya nikmat.<br />
“Habis mau keluar nih, Mbak… Di dalam atau di luar…” aku tiba-tiba merasakan bahwa ada sesuatu yang nikmat akan lepas dari tubuhku.<br />
“Di mukaku aja Dik..” jawabnya di tengah erangan nafsunya.<br />
Lalu kutarik batang kejantananku dari liang senggamanya yang sedang merekah dan membawanya ke kepalanya. Lalu aku menumpahkan cairan putih kental itu ke wajahnya. “Crot.. crot…crott.. crot.. crot!” Kasihan juga Mbak Wiwin, wajahnya berlepotan spermaku. Ia tersenyum dan berkata, “Terima kasih Dik… aku amat puas… demikian juga Mbak Vivi…”</p>
<p>Belakangan setelah aku keluar dari rumah sakit, aku mendengar bahwa Wiwin dan Viviana memang bukan perawat tetap di rumah sakit itu. Mereka hanya bekerja sambilan saja. Mereka sebenarnya dua orang mahasiswi kedokteran di sebuah universitas swasta di Surabaya. Tiap kali mereka bekerja di sana, selalu ada saja pasien pria entah remaja atau orang dewasa yang berhasil mereka ajak berhubungan seks minimal satu kali. Nah lho.. gmana tertatik masuk rumah sakit</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.difunde.com/cerita-seks-%e2%80%93-cerita-lagi-suster-lagi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gara-Gara NickName</title>
		<link>http://www.difunde.com/gara-gara-nickname.html</link>
		<comments>http://www.difunde.com/gara-gara-nickname.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Mar 2010 14:29:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>17tahun</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita sex]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.difunde.com/?p=293</guid>
		<description><![CDATA[Sebelumnya perkenalkan namaku Rio. Sampai saat ini aku masih bekerja di salah satu perusahaan IT di Jakarta. Aku juga punya minat yang cukup tinggi dalam urusan seks. Pengalaman seks aku yang pertama kualami dengan salah satu teman chat-ku. Sejak saat itu, aku mulai ketagihan. Biasanya aku berhubungan seks dengan wanita-wanita yang kurang lebih sebaya denganku. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebelumnya perkenalkan namaku Rio. Sampai saat ini aku masih bekerja di salah satu perusahaan IT di Jakarta. Aku juga punya minat yang cukup tinggi dalam urusan seks. Pengalaman seks aku yang pertama kualami dengan salah satu teman chat-ku. Sejak saat itu, aku mulai ketagihan. Biasanya aku berhubungan seks dengan wanita-wanita yang kurang lebih sebaya denganku. Kali ini aku akan cerita pengalaman seks pertamaku dengan wanita yang beda umurnya cukup jauh denganku. Awalnya dari chatting. Suatu kali entah kenapa aku bosan dengan nick yang biasa aku pakai. Aku pun mencoba sebuah nick menarik perhatian. Nick yang menyiratkan fisik tubuhku, tapi tidak vulgar. Dari sekian banyak nick yang query aku, aku tertarik pada sebuah nick yang cukup menggoda Jnd_37_Jkt.</p>
<p>Aku pikir pemilik nick ini pasti seorang janda berumur 37 tahun yang tinggal di Jakarta. Aku membalas querynya. â€˜hi juga, asl pls..â€™ balasku. â€˜kan di nick udahâ€™ â€˜oh iya, tapi Jnd apa tuh?â€™ tanyaku pura-pura bego. â€˜Jendral ha3x. gak ding, janda kokâ€™ aku tersenyum melihat kelakarnya. â€˜ooo.. icâ€™ jawabku. â€˜asl u dongâ€™ tanya nick itu. â€˜aku lebih muda gpp nih?â€™ aku bertanya balik. â€˜gpp, justru yg muda lebih asik â€™ aku tertawa dalam hati. â€˜ok, 24 m jktâ€™ jawabku. â€˜hihihi.. 24 sih lagi seger2nya tuh â€™ hmm.. mulai menggoda nih. Kami pun terlibat obrolan yang mengasyikkan. Sekitar setengah jam aku chat dengannya hingga akhirnya kami bertukar nomer telepon. Aku baru saja tiba di rumah ketika tiba-tiba ponselku berbunyi. Hmm.. nomer siapa ini. Aku langsung mengangkat. â€œHalo..â€ sapaku. â€œRio ya? Udah pulang?â€ tanya suara di ujung sana yang ternyata suara seorang wanita. â€œIya, siapa ya?â€ tanyaku penasaran. â€œHai…â€ wanita itu menyebut nick yang kugunakan tadi siang. â€œTante Rissa ya?”aku mencoba menebak. Terdengar tawa di ujung sana. Betul, Tante Rissa yang tadi siang menggunakan nick Jnd_37_Jkt. Kami pun langsung menyambung obrolan tadi siang. Dari obrolan kami yang akrab aku tahu bahwa Tante Rissa sebetulnya masih menikah. Tante Rissa jarang sekali bisa merasakan kehangatan suaminya karena kesibukan keduanya yang bertolak belakang. Akibatnya wanita itu sering melepas kesepian dengan gigolo-gigolo simpanannya. Malam itu kami saling bertukar cerita, dan ujung-ujungnya kami pun janjian ketemu.</p>
<p>Tante Rissa mengajakku ketemu di Blok M Plaza. Semula aku menolak karena di Blok M cukup ramai, apalagi hari Sabtu. Tapi Tante Rissa beralasan bahwa di situ tempat yang paling aman karena kerabat-kerabatnya jarang sekali ke daerah tersebut. Akhirnya aku ok saja. Kami pun janjian bertemu Sabtu depan. Hampir setengah jam aku menunggu di Pizza Hut sambil mataku mencari-cari wanita berkulit putih dan berambut coklat sepunggung dengan tinggi sekitar 170 cm dan berat 58 kg yang mengenakan kemeja putih tanpa lengan dan celana jeans ketat sebetis. Spaghettiku sudah tinggal separuhnya dan mulai dingin. Aku baru saja akan menyuapnya lagi ketika tiba-tiba salah seorang pelayan Pizza Hut menghampiriku dan memberikan secarik kertas. Dia menggeleng ketika aku tanya dari siapa kertas tersebut. Penuh penasaran aku membukanya. â€˜CARI SIAPHAAA…? Iâ€™M BEHIND YOU MY BOYâ€™ aku terkejut dan langsung menoleh ke belakangku. Kira-kira 2 meja di belakangku, aku melihat satu meja yang ditempati 2 orang wanita.</p>
<p>Salah satu dari wanita itu melambai ke arahku sambil tersenyum. Aku memperhatikannya dengan cermat. Wanita itu persis sekali dengan ciri yang disebutkan Tante Rissa saat di telepon beberapa hari lalu. Itu pasti dia!! Tapi yang satu lagi siapa ya? Tanpa pikir panjang aku menghampiri meja tersebut, dan wanita yang melambaikan tangan padaku langsung berdiri menyambutku. â€œHalo sayang..â€ sambut wanita yang ternyata memang Tante Rissa itu seraya mencium kedua pipiku. Aku membalasnya dengan mesra. â€œTante iseng banget sih.. udah nunggu dari tadi juga, untung nggak pulang.â€ aku pura-pura merajuk. Tante Rissa tersenyum sambil mengacak-acak rambutku. â€œEeh.. nggak takut rugi kalo pulang nih? Ada yang mau kenalan sama kamu tuh..â€ cetusnya sambil melirik ke wanita yang ada di sebelahnya. Kami pun berkenalan. Tante Emma, wanita yang dimaksud ternyata adalah tetangga Tante Rissa. Dari obrolan kami, aku tahu kalau mereka bernasib sama dalam urusan rumah tangga, dan seringkali hunting bareng mencari gigolo-gigolo yang siap memuaskan nafsu mereka. â€œGila, Tante pikir nick kamu itu cuma boongan doang..â€ cetus Tante Rissa sedikit kagum pada tubuhku. Sebetulnya tubuhku tidak atletis seperti tubuh-tubuh idaman wanita.</p>
<p>Mungkin dengan tinggi badanku yang 182 cm dan berat sekitar 78 kg aku jadi terlihat tinggi besar. â€œIya nih Yo, gara-gara cerita kamu waktu di telepon, Emma jadi kepengen ketemu juga sama kamu.â€ kata Tante Rissa. Aku mengernyitkan kening. â€œCerita? Wah, Tante pake cerita-cerita segala sih sama Tante Emma. Kan jadi…â€ â€œSiapa yang cerita, lha wong kamu sendiri yang cerita sama kita..hihihi.â€ aku semakin tidak mengerti dan menatap Tante Rissa penuh tanya. Wanita itu tersenyum. â€œGini lho sayang, waktu kamu telepon kemaren itu Emma juga ada di rumah Tante, jadi kita berdua asyik deh denger cerita kamu yang hot itu hahaha..â€ aku langsung mencubit pinggang Tante Rissa gemas. Ternyata sejak awal mereka sudah berniat ngerjain aku.</p>
<p>Akhirnya kami bertiga langsung cabut ke rumah Tante Rissa yang sedang sepi. Sampai di rumah Tante Rissa kami bertiga langsung menuju ke kamar tidur. Aku baru saja ingin menghempaskan tubuhku di ranjang ketika Tante Emma memeluk tubuhku dari belakang dan menciumi leherku. â€œEnak aja kamu dateng-dateng mau istirahat.. pemanasan dulu ah hihihi..â€ celetuk Tante Emma. Dari belakang tubuhku, jemari lentik wanita itu masuk dari sisi kiri-kananku dan langsung melepas kancing kemejaku satu demi satu. Sementara Tante Rissa dari depan merangkul leherku dan mengecup bibirku. â€œMmhhh.. ayo Yo, kita pengen coba permainan kamu… hhmmmmmhhh…â€ Tante Rissa melumat bibirku dengan bibir tipisnya yang tersapu lipstik warne merah muda. Ahh.. lembut sekali bibirnya. Aku mencoba mengimbanginya, lidahku menjelajahi mulut Tante Rissa. Sementara Tante Emma baru saja berhasil melepaskan kemeja yang membalut tubuhku. Tante Rissa langsung menghentikan ciumannya dan lidahnya mulai menjelajah leher, dada dan perutku. Di belakang Tante Emma memandikan punggungku dengan lidah dan air liurnya. Gairahku mulai naik. Tante Rissa semakin turun ke bawah dan bibirnya sampai ke batas celanaku. Dengan cekatan jemarinya yang lentik mencopot kancing celana jeansku dan melorotkannya ke bawah.</p>
<p>Kemudian dengan liar lidahnya membasahi celana dalam yang membungkus batang penisku. lidahnya membasahi celana dalam yang membungkus batang penisku. Aku tidak menyadari sejak kapan Tante Emma melepas kaus ketatnya, tiba-tiba saja aku merasakan ada dua gumpalan lembut yang hangat menempel di punggungku. Aku menoleh ke belakang dan mendapati Tante Emma sedang menggesek-gesekkan payudaranya yang bulat dan montok di punggungku. Kedua bibir sexynya yang berlapis lipstik merah bata terbuka seakang mengundang bibirku untuk melumatnya. â€œMmhh… sslllppp… mmmm….â€ tanpa pikir panjang aku langsung melumat bibir sexy itu. Kedua tangan Tante Emma yang lembut menjelajahi dadaku yang telah basah oleh air liur Tante Rissa. Di bawah sana Tante Rissa telah berhasil melucuti celana dalamku, hingga batang penisku yang berukuran biasa saja itu terlihat jelas menantang. Tante Rissa menggenggam batangnya dengan tangan kirinya, sementara kepala penisku diusap-usap dengan jemari tangan kanannya yang lembut sambil sesekali dijilati. Ssshh.. nikmat sekali. Tante Emma mengajakku berbaring di ranjang agar kami bisa leluasa bercumbu. Aku dan Tante Emma pun berbaring di ranjang dengan setengah kakiku masih menjulur ke lantai. Sambil berciuman, kedua tanganku aktif meremas-remas payudara Tante Emma yang montok.</p>
<p>Tante Emma memelukku erat-erat. Bibir kami tak henti-hentinya saling melumat. Tante Rissa semakin asyik dengan batang penisku yang mulai mengeras. Dijelajahinya setiap centi penisku dengan lidah dan bibirnya. Ughh.. sampai akhirnya penisku amblas di mulutnya yang hangat dan basah. Kepala Tante Rissa naik-turun seiring kenikmatan yang diberikannya lewat mulut. Sementara kedua tangannya menjelajahi pinggangku. Bosan dengan bibir Tante Emma, lidahku mulai menjalar ke leher dan telinga. Aku mengulum telinga wanita itu yang putih bersih. Tante Emma sampai meremas rambutku karena keasyikkan. Aku terus menjelajahi tubuhnya dengan lidahku, sampai akhirnya aku mulai melumat kedua payudara dan putingnya. â€œSsshh..oohhh…Riooo..terussss Yoo…” tubuh Tante Emma mulai menggelinjang menahan kenikmatan yang kuberikan. Aku tidak peduli. Lidahku semakin liar menjilati dan mengulum putting susunya yang runcing. Kadang aku menggigitnya dengan gemas. Tante Emma memeluk kepalaku rapat ke payudaranya. Huuff.. hampir sesak nafas aku dibuatnya.</p>
<p>Tanpa aku sadari, Tante Rissa sudah melucuti pakaiannya sendiri hingga telanjang bulat. Wanita itu kelihatan gemas sekali dengan penisku. Padahal ukurannya biasa saja. Dibanding gigolo-gigolo simpanannya pasti penisku tidak ada apa-apanya. Tapi Tante Rissa bernafsu sekali menjilat, mengulum dan mengisap penisku. Hingga akhirnya wanita itu mulai tidak tahan dan tiba-tiba sudah berdiri mengangkangi tubuhku. Tante Rissa berdiri dengan lututnya dan mulai merendahkan badannya. Sebelah tangannya menggenggam batang penisku yang memang sudah keras dan basah oleh air liurnya. Tante Emma yang mengetahui hal itu langsung mengambil alih, tangannya menggenggam batang penisku yang semula digenggam Tante Rissa. Sementara kini kedua tangan Tante Rissa yang lembut bertopang di atas dadaku. Perlahan-lahan tubuh Tante Rissa semakin turun, dan aku mulai merasakan bibir kemaluannya menyentuh ujung penisku. Hhh… kepala penisku mulai masuk sebagian ke dalam vagina Tante Rissa yang sedikit basah, dan… bleeesssss!!! Amblas sudah penisku di dalam liang kenikmatan itu. Tubuh Tante Rissa naik-turun seiring kenikmatan yang kami nikmati bersama. Sementara Tante Emma langsung menyodorkan selangkangannya di wajahku.</p>
<p>Lidahku langsung sigap melumat klitoris Tante Emma yang mulai basah. Posisi Tante Emma berhadapan dengan Tante Rissa, sehingga mereka berdua menindihku sambil berciuman. Aku tak bisa melihat karena wajahku tertutup kemaluan Tante Emma, tapi dari suara mereka aku tahu betul bahwa mereka tengah berciuman dengan penuh gairah. Tak lama kemudian aku mulai merasa dinding vagina Tante Rissa mulai berdenyut-denyut. Tubuh wanita itu mulai menggelinjang tak karuan menahan rasa nikmat. Tante Emma kini tidak mencumbu bibir Tante Rissa lagi, tapi menunduk ke arah penisku dan vagina Tante Rissa yang sedang asyik menyatu. Tante Emma menjilati kemaluan kami bergantian. Akkhh.. semakin nikmat saja rasanya. â€œSsshhh… Riiiooo…. aaahhhhh…â€ Tante Rissa mencapai klimaksnya. Penisku banjir oleh lendir kenikmatan yang mengalir dari dalam vaginanya. Ayunan tubuhnya semakin pelan. Kemudian wanita itu mencabut penisku dari vaginanya dan memberi tempat untukku dan Tante Emma melanjutkan permainan. Tante Emma rupanya menginginkan posisi lain.</p>
<p>Wanita itu mengambil posisi nungging di atas ranjang. Dengan gairah yang masih penuh, aku menghampiri liang kemaluan yang menantang itu. Perlahan aku arahkan penisku yang semakin keras ke dalam vagina Tante Emma. Slllpp… bbleeesss… Vagina 6Tante Emma yang basah betul-betul menelan penisku. Pantatku maju-mundur memberikan kenikmatan untuk Tante Emma. Sementara kedua tanganku asyik meremas kedua payudaranya yang bulat dan montok itu. â€œAakhh.. Yoo.. sshhh.. sshhh…. ooohhhh….â€ Tante Emma merintih menahan rasa nikmat yang kuberikan. Hmmm… liang kemaluan Tante Emma betul-betul mencengkeram penisku. Nikmat sekali rasanya. Tadinya kupikir ibu-ibu seperti mereka liang vaginanya sudah lebar, tapi Tante Emma dan Tante Rissa kok masih sempit ya. Tubuh Tante Emma mulai menggeliat-geliat. Wanita itu menjatuhkan tubuhnya hingga kami berdua melakukannya dengan posisi menyamping. Kemudian tubuh kami berguling hingga tubuh Tante Emma kini berada di atas tubuhku.</p>
<p>Kemudian wanita itu bangkit tanpa melepas vaginanya dari penisku. Lantas Tante Emma berputar, aahhhh….aku merasa penisku dipelintir di dalam vagina Tante Emma, nikmat sekali. Akhirnya aku â€˜terjebakâ€™ dengan posisi woman on top. Tante Emma tidak menaik-turunkan tubuhnya tapi memutar pinggulnya. Uugghhh.. gila, enak sekali. Aku sampai mengejang menahan rasa nikmat. Tubuhku pun ikut bangkit untuk memeluk tubuh montok Tante Emma. Bibirku melumat kedua putting payudaranya untuk menambah birahinya. â€œSshh… Riiooo… aakkhh..â€ Tante Emma mengerang menahan nikmatnya. Tante Emma mendorong tubuhku hingga terebah, dan wanita itu kembali memutar tubuhnya membelakangi aku. Kemudian Tante Emma itu kembali merundukkan tubuhnya tanpa melepas penisku dari dalam vaginanya. Otomatis tubuhku mesti bangkit lagi, dan kami kembali dalam posisi doggie style. Ugghhh… pantatku kembali mengayunkan rasa nikmat di vagina Tante Emma.</p>
<p>Tiba-tiba dari arah belakang aku merasakan sesosok tubuh yang mulus merapati punggungku. Akkhh.. Tante Rissa yang sudah kembali bergairah memelukku dari belakang. Hhhgghhh.. birahiku semakin naik ke ubun-ubun. Tubuhku menggelinjang di pelukan Tante Rissa. Tanpa sadar ayunan pantatku semakin cepat. Aku merasa tubuh Tante Emma juga bergoyang menahan rasa nikmat. â€œSshhh…. aaaaaahhhh… Riiiooo….. bentar lagi nih…â€ Tante Emma mendesah. Aku berusaha bertahan untuk menunjukkan keperkasaanku. Tapi gangguan Tante Rissa yang menjilati telinga dan tengkukku membuatku tak kuasa menahan birahi. â€œAaaahh… Yooo..â€ Tante Emma mencapai klimaks. Aku mencoba bertahan, namun rembesan lendir dari dalam vagina Tante Emma yang membasahi penisku membuat tubuhku tak kuasa menahan nikmat. Crrooottt.. ccrrott… crooot.. ccroottt.. ccrroott… sekitar lima kali penisku menyemburkan sperma kuat-kuat ke dalam vagina Tante Emma. Kedua tanganku meremas pinggang Tante Emma. Sementara dari belakang Tante Rissa mendekap tubuhku erat-erat. Itu untuk pertama kalinya aku berbagi kenikmatan birahi dengan wanita yang jauh lebih tua dariku. Hari itu kami bersenang-senang dua kali lagi. Sorenya aku terpaksa harus meninggalkan rumah Tante Rissa, karena anaknya sudah pulang. Tapi Tante Emma mengajakku untuk bermalam di rumahnya. Dan malam itu aku dan Tante Emma bersenang-senang sampai pagi. Ternyata Tante Emma memiliki banyak sekali sex toy di rumahnya.</p>
<p>Aku betul-betul enjoy malam itu karena Tante Emma memperkenalkanku dengan banyak variasi permainan seks. Sejak saat itu aku sering melayani nafsu birahi mereka mereka. Kadang berdua, kadang bertiga. Namun sepeser pun aku menolak dibayar, karena aku melakukannya atas dasar suka dan fun saja. Dari Tante Rissa aku mendapat beberapa kenalan wanita teman-teman kantornya yang juga kesepian, dan kadang aku juga diminta melayani nafsu mereka. Kalau dari Tante Emma, aku dikenalkan pada adik iparnya yang baru berumur 32 tahun, namanya Leni. Tante Leni belum menikah dan masih virgin. Namun wanita ini cukup nakal dalam urusan seks. Lucunya aku sering diminta Tante Leni untuk memuaskan hasratnya tapi hanya sebatas petting dan oral seks.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.difunde.com/gara-gara-nickname.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tika, Istri Gelapku</title>
		<link>http://www.difunde.com/tika-istri-gelapku-2.html</link>
		<comments>http://www.difunde.com/tika-istri-gelapku-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Mar 2010 14:23:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>17tahun</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita sex]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.difunde.com/?p=291</guid>
		<description><![CDATA[Kisah ini sengaja aku ceritakan buat teman-teman penggemar cerita porno, terutama bagi mereka yang suka memanfaatkan internet sebagai alat komunikasi. Banyak peristiwa yang bersejarah yang terlahir akibat kenalan lewat e-mail, seperti yang telah kubuktikan.
*****
Berawal ketika aku mendapat respon dari beberapa wanita yang sempat membaca kisah-kisahku pornoku, di antaranya seorang gadis muda yang masih mahasiswi di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kisah ini sengaja aku ceritakan buat teman-teman penggemar cerita porno, terutama bagi mereka yang suka memanfaatkan internet sebagai alat komunikasi. Banyak peristiwa yang bersejarah yang terlahir akibat kenalan lewat e-mail, seperti yang telah kubuktikan.</p>
<p>*****</p>
<p>Berawal ketika aku mendapat respon dari beberapa wanita yang sempat membaca kisah-kisahku pornoku, di antaranya seorang gadis muda yang masih mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di kota Makassar. Usianya kutaksir maksimal 28 tahun. Namanya Tika (nama samaran). Dia sangat tertarik dengan kisahku dan ingin kenalan denganku lebih jauh, bahkan kami sepakat lewat e-mail untuk saling tukar pengalaman.</p>
<p>Saya masih ingat, waktu itu sekedar iseng membuka inbox emailku kalau-kalau ada email yang masuk. Tepatnya 4 Juni 2003, sebuah alamat email yang bertuliskan @yahoo.au di ujungnya, kucoba klik dan ternyata ia mengajakku kenalan. Akupun mencoba membalasnya sesuai janjiku pada setiap kisah porno yang kukirim, meskipun kalimatnya ala kadarnya yang penting tidak mengecewakan bagi pengirimnya. Apalagi namanya menunjukkan nama seorang wanita, sehingga pasti kuusahakan menyapanya. Hanya dalam tempo 24 jam kemudian, email itu kembali muncul di kotak emailku dan isinya menunjukkan ada keseriusan mau kenalan lebih jauh denganku. Akupun semakin menunjukkan keseriusan mau kenalan dengannya, apalagi setelah kuketahui kalau ia tinggal tidak terlalu jauh jaraknya dari kota tempat tinggalku. Kami hanya beda kota kabupaten, tapi ada dalam satu wilayah propinsi Sulsel.</p>
<p>Balas membalas email antara aku dan Tika boleh dibilang cukup lancar. Bayangkan saja sejak 4 Juni 2003 hingga saat ini, Tika tidak pernah alpa mengirim email padaku dan tentu saja sebaliknya aku tidak pernah alpa membalasnya secara otomatis pada saat itu juga. Sampai-sampai kami membuat kesepakatan untuk buka dan kirim email setiap hari Senin, Rabu dan Jum’at (3x seminggu). Banyak pengalaman dan informasi yang kami tukar. Mulai dari asal usul, pengalaman sex, ciri-ciri dan keinginan sex kami masing-masing serta jadwal pertemuan kami di kota makassar. Bahkan kami saling menginformasikan mengenai alat sensitif kami secara jujur, yang akhirnya saya kirimkan foto berkat pengajaran dari Tika soal cara mengirim foto lewat email, sebab saat itu saya masih awam dalam hal kirim mengirim foto lewat email.</p>
<p>Tidak kurang dari 25 kali kami saling membalas email, hingga sampai puncaknya pada tanggal 7 Oktober 2003, di mana kami betul-betul serius mau melakukan pertemuan secara langsung dan sekaligus memperaktekkan tentang pengalaman dan kebutuhan sex kami masing-masing. Saya tidak pernah yakin kalau perkenalan lewat email itu bisa mempertemukan kami secara langsung, apalagi jarak antara kota saya dengan kota tempat tinggal Tika sekitar 200 km lebih. Namun kenyataan menunjukkan bahwa janji dan keinginan sex kami bukan hanya isapan jempol dan teori saja, melainkan kami betul-betul berhasil bertemu muka, bahkan melakukan praktek bersama di salah satu wisma di Makassar.</p>
<p>Bagi Tika mungkin tidak terlalu sulit menemukanku di terminal setelah kami janjian ketemu di salah satu tempat di kompleks terminal Panaikan sebab dia telah menerima fotoku lebih dahulu yang kukirim lewat email. Tapi bagiku menemukan orang yang belum pernah kulihat sebelumnya, apalagi ciri-cirinya tidak sempat menjelaskan secara rinci di emailnya, tentu sangat sulit, sebab selain aku belum banyak pengalaman di kota Makassar, termasuk di terminal Panaikan, juga terlalu banyak wanita muda yang berkeliaran, apalagi aku belum yakin 100% atas janjinya mau menemuiku di terminal itu. Tapi aku tetap bertekad untuk ke Makassar siapa tahu bisa jadi kenyataan, kalaupun ia permainkan aku, kuanggap hal itu sebagai pengalaman buatku.</p>
<p>Jam 7.00 pagi saya sudah naik mobil dan berangkat meninggalkan rumah tempat tinggalku menuju kota makassar dengan alasan sama istriku bahwa ada urusan bisnis penting selama sehari di Makassar agar ia izinkan aku berangkat. Namun karena berbagai hambatan diperjalanan, maka aku terlambat 1 jam tiba di terminal sebagaimana rencana yang kusampaikan Tika semula. Sebelum aku turun dari mobil tumpanganku, aku tiba-tiba gemetar dan merasa takut kalau-kalau dia lebih dahulu memperhatikanku dan aku juga diliputi rasa was-wasa jangan-jangan dia mau menjebakku dengan membawa pasukannya atau teman laki-lakinya ke terminal serta berbagai macam dugaan yang muncul dibenakku.</p>
<p>Mataku mulai membelalak sejak mobil belok ke kanan dan berhenti di depan loket pembayaran retribusi hingga memasuki pelataran parkir. Aku turun dan membayar sewa mobil sambil berusaha tersenyum sendirian dengan perasaan tidak menentu kalau-kalau dia telah memperhatikanku. Akibat konsetrasiku mencari seorang gadis muda yang sedang bingung mencari seseorang, maka hampir aku kecolongan memberi uang kepada orang lain yang tidak kukenal. Untung saja orang itu tidak segera mengambil uang yang kusodorkan itu, sebab ternyata yang kuserahkan sewa mobilku bukan sopir mobil itu, melainkan orang lain yang kebetulan mencari muatan buat mobilnya. Ini gara-gara terlalu gembira mau ketemu dengan seorang gadis yang belum tentu datang ke terminal itu, apalagi bodi dan ciri-ciri pakaiannya belum jelas sama sekali. Kejadian itu pasti tidak pernah terlupakan seumur hidupku.</p>
<p>Sekitar 20 m aku bolak balik dari pelataran paling bawah ke pelataran paling atas di terminal itu, bahkan hampir semua warung dan tempat duduk-duduk para penumpang bis aku intip tanpa ada rasa segan, meskipun aku tetap agak malu kalau-kalau ada penumpang dari kotaku asalku yang mengenal dan memperhatikanku, yang bisa saja melaporkan sikapku itu pada istriku nanti. Setelah capek keliling, akhirnya aku putuskan untuk masuk wartel lalu menghubungi HV-nya, sebab lewat emailku sebelumnya aku telah berpesan agar tidak dimatikan HV-nya hari itu.</p>
<p>“Halo, Tika yah? di mana kamu sekarang? aku ini ada di terminal mencarimu sejak tadi” demikian kata saya melalui telepon.<br />
“Halo, betul ini Tika. Saya ada di kampus sekarang lagi makan siang ama teman-teman di warung kampus nih. Tunggu aja di situ yah, aku akan segera meluncur ke sana, tapi tepatnya kamu nunggu di mana yah?” itulah jawaban Tika saat itu seolah menunjukkan keseriusannya mau ketemu denganku.<br />
“Oke sayang, aku akan setia menunggumu di depan wartel belakang pos pungutan retribusi masuk, sudah ngga tahan nih mau ketemu denganmu” demikian jawaban singkat saya saat itu.</p>
<p>Hampir setiap mobil, terutama petek-petek dan taxi kuamati isinya dan penumpang yang turun kalau-kalau ia naik kendaraan itu, meskipun sesekali juga kuperhatikan motor yang lewat jangan sampai ia naik motor. Hanya dalam waktu sekitar 20 menit kemudian, aku tiba-tiba mendengar suara panggilan dari sebelah kiri di mana aku duduk dengan sedikit tertahan, “Halo-halo, eh-eh,” ternyata suara itu adalah berasal dari seorang gadis muda yang sedang menjinjing tas mahasiswa, yang nampaknya diarahkan padaku.</p>
<p>Akupun segera berbalik ke arahnya, namun ia segera berjalan berputar di samping mobil yang ada di belakangku. Walaupun sedikit ragu, tapi keyakinanku lebih besar mencurigai kalau wanita itu adalah Tika yang sejak tadi aku tunggu, aku cari dan aku idam-idamkan selama ini. Sambil mengikuti langkah kakinya, getaran jantungku semakin dag dig dug, dan tiba-tiba ia membalikkan wajahnya sehingga kami berhadap-hadapan dan saling menatap sejenak di tengah-tengah keramaian penumpang yang ada di terminal itu, hanya 30 cm jaraknya.</p>
<p>“Kamu Aidit khan” katanya dengan suara yang lembut.<br />
“Yah, dan kamu Tika khan” aku balik bertanya dengan mengarahkan telunjukku pada wajahnya sambil kami tersenyum.</p>
<p>Entah apa yang bergejolak di pikirannya saat itu, tapi yang jelas aku rasanya ingin langsung memeluk tubuhnya, untung segera kusadari kalau tempat ini dihuni oleh banyak orang, yang tidak mustahil ada yang mengenal kami. Tanpa banyak basa basi lagi, ia segera naik mobil petek-petek dan akupun segera mengikutinya bagaikan kerbau yang dicocok hidungnya. Di dalam mobil, kami banyak membicarakan soal ketidakpercayaan kami atas pertemuan ini, bahkan pengakuannya ia sedikit agak kesal dan hampir putus asa menunggu sejak pukul 10.00 pagi tadi di terminal sesuai informasi yang telah kusampaikan, namun aku berkali-kali minta maaf atas keterlambatan tiba di terminal mobil yang kutumpangi itu.</p>
<p>Dari 2x pindah petek-petek menuju wisma yang telah ia janjikan dalam emailnya, kami tidak pernah kehabisan bahan bicara, bahkan kami duduk sangat rapat, sehingga anginpun sulit melewati perantaraan duduk kami. Tubuh kami seolah melengket pakai lem tanpa ada perasaan malu sedikit pun dari penumpang lainnya. Dalam hati saya biar mereka memperhatikan kami toh mereka tidak mengenal kami. Kami bagaikan suami isteri yang baru ketemu setelah sekian lamanya berpisah. Betul-betul saling melepaskan kerinduan. Sekitar 30 m dari wisma yang kami tuju, Tika tiba-tiba menghentikan mobil lalu turun dan akupun mengikutinya. Maklum aku belum banyak kenal kota Makassar. Meskipun aku tetap selalu berusaha untuk membayar sewa petek-petek setiap turun, tapi selalu saja Tika mendahuluiku atau aku kalah cepat membayarnya. Sebagai seorang pria, akupun merasa berat dan malu, tapi Tika nampaknya betul-betul mau membuktikan janjinya untuk memberikan layanan 100% jika aku datang menemuinya di Makassar.</p>
<p>Rencana pertemuan kami di kota Makassar betul-betul sudah sangat matang, sebab kami telah membeberkan kelemahan dan keterbatasan kami masing-masing lewat email, namun kami tetap saling berjanji akan menerima apa adanya, yang penting tujuan kami hanya satu yaitu saling memberi kepuasan sex sesuai kemampuan dan pengalaman serta keinginan kami masing-masing. Pekerjaan, keuangan dan penampilan, bahkan usia, kami telah sepakat untuk tidak mempersoalkannya. Demikian seriusnya Tika mau menyenangkan diriku, sehingga ia siap membantu membayar sewa kamar wismanya dan siap memberikan tubuhnya sepenuh hati buatku serta mengorbankan perasaannya demi kebahagiaanku nanti. Bahkan kami telah janjian untuk saling menjilati kemaluan dan mencukur bulunya sebelum pertemuan, sampai-sampai ia memberitahukan jadwal tamu bulanannya agar kedatanganku nanti tidak bertepatan agar ia dapat melayaniku 100%.</p>
<p>Sebelum kami masuk wisma tersebut, Tika menyempatkan diri membeli aqua besar untuk keperluan dalam kamar nanti. Entah buat minum atau apa saja yang membutuhkan air. Setelah membayarnya, Tika meminta aku membawa air itu dan apapaun rasanya diperintahkan oleh Tika saat itu pasti kuturuti karena keseriusannya melayaniku, padahal Tika adalah seorang gadis muda, mulus, berkulit putih dan menggairahkan bagiku, apalagi seorang mahasiswi. Sementara aku termasuk sudah setengah baya yang berkulit hitam dan keriput, punya istri dan 3 orang anak lagi. Siapa tidak bahagia dan mangga berteman, apalagi bercinta dengan wanita seperti Tika itu yang ikhlas berkorban untuk kesenangan aku.</p>
<p>“Tik, apa wisma ini cukup aman buat kita? dan apa selama ini ngga sering-sering dirazia oleh petugas?” tanya saya pada Tika saat kami barengan masuk pintu wisma itu sambil mengawasi di sekelilingnya.<br />
“Ngga taulah, sebab baru satu kali aku ke sini sewaktu pacarku membawaku dengan tujuan yang sama sampai aku tahu tempat ini, dan itupun sudah lama” jawabnya sambil menceritakan soal peristiwa persenggamaannya dengan pacarnya tempo hari di wisma tersebut.<br />
“Mudah-mudahan aja ngga terjadi apa yang kita khawatirkan” katanya lebih lanjut.</p>
<p>Selesai kami lihat tarif dan kamar yang kosong pada serlembar kertas di atas meja pelayanannya, Tikapun membuka dompetnya dan aku usulkan untuk gabung saja biar lebih ringan pembayarannya. Waktu itu, kami hanya membayar Rp. 55.000 untuk 6 jam, sebab nampaknya kamar lainnya penuh semua, dan kupikir 6 jam itu cukup lama buat kami yang tidak rencana menginap. Bisa kami selesaikan beberapa ronde.</p>
<p>Tepat pada jam 2.00 siang, kami telah masuk di wisma yang tidak perlu saya sebutkan namanya itu. Setelah kami bayar, kami lalu naik ke lantai dua mengikuti petugas wisma dan masuk ke sebuah kamar yang dilengkapi dengan air minum, kamar kecil, TV color 14 inc dan sprinbad yang cukup besar ukurannya. Setelah petugas keluar dari kamar, tinggallah kami berdua dalam kamar. Tika menutup dan mengunci rapat pintu kamarnya lalu menutup semua gorden, lalu masuk sebentar ke kamar kecil lalu berbaring di atas rosban dengan pakaian masih lengkap. Sedangkan aku terlebih juga lebih dahulu masuk kamar kecil buat buang air, lalu ikut berbaring disamping Tika. Sambil berbaring dengan pakaian masih lengkap, kami bincang- bicang dan saling mengutarakan rasa kerinduan kami selama ini. Tanpa aku sadar, tangan kananku sudah memeluk tubuh Tika dan Tikapun tampaknya tidak segan-segan lagi membalas pelukanku, sehingga kami saling berpelukan dalam keadaan berbaring menyamping.</p>
<p>“Aku sangat merindukanmu sayang, ingin sekali memelukmu” ucapanku sedikit berbisik ketika wajah kami sudah saling menyentuh sehingga napas kami sudah saling beradu.<br />
“Aku juga sangat rindu padamu suamiku, mari kita lepaskan kerinduan kita” jawabnya sambil memasukkan lidahnya dalam mulutku, sehingga kami saling mengisap, saling bergumul dan memainkan lidah dalam mulut kami masing-masing.</p>
<p>Permainan mulut dan lidah kami berlangsung semakin rapat dan cukup lama, sampai kami merasa terengah-engah akibat kecapean mengisap. Bahkan aku lupa mandi sesuai kesepakatan kami semula ketika kami saling berhadap-hadapan di tempat tidur itu. Demikian serunya permainan mulut kami, sehingga tidak ingin rasanya ada istirahat sejenak dan melewatkan kesempatan sedetikpun dalam kamar itu mumpung masih sempat.</p>
<p>Sambil bermain lidah, saya mencoba memasukkan tangan kananku ke dalam baju kain Tika hingga masuk ke dalam BH-nya yang ukurannya cukup sederhana. Sebagai seorang gadis yang jam terbangnya dalam dunia sex masih cukup terbatas bila dibanding dengan jam terbangku, tentu ia tidak tahan lama dipermainkan payudaranya, apalagi saya remas-remas kedua payudaranya dengan lembut dan sesekali menindis-nindis putingnya yang mulai mengeras dan menonjol itu. Ia tidak mampu lagi sembunyikan kenikmatan yang ia rasakan dan terasa ia mulai terangsang, yang sangat kedengaran dari suaranya yang mengerang-erang kecil. Utungnya tidak ada orang yang dekat dengan kamar itu, sebab memang kamar itu berada dibagian paling depan dan disudut wisma sehingga kami leluasa bersuara agak keras sebagai tanda kenikmatan yang kami alami.</p>
<p>“Ngga mau mandi dulu Kak?” katanya mengingatkanku, karena kebetulan aku keringatan akibat perjalanan jauh dari daerah tadi.<br />
“Nantilah, setelah kita bermain-main dulu, biar kita lebih lama bercumbu rayu” jawabku sambil tetap memainkan lidah ke dalam mulutnya dan meremas-remas teteknya yang montok itu. Namun karena ia nampaknya sudah sangat terangsang, ia tiba-tiba melepaskan pelukannya dan mengeluarkan lidahku dari dalam mulutnya lalu duduk sambil satu demi satu ia buka kancing bajunya hingga terlepas dari badannya. Aku hanya mampu menatap indahnya tubuh seorang gadis mahasiswi. Mulus dan putih, namun sedikit agak gemuk sebanding dengan gemuk tubuhku, meskipun ia sedikit pendek dari ukuran badanku. Warna kulit kami sangat kontras karena kulitnya putih sementara kulitku agak hitam.</p>
<p>Setelah ia melepaskan baju kain yang dikenakannya, ia lalu kembali berbaring. Akupun melepaskan baju lengan panjang yang kukenakan seperti halnya pagawai kantoran saja. Kami kembali berpelukan dan bergumul di atas kasur yang empuk. Kali ini aku menindihnya meskipun ia masih mengenakan BH warna putih, sementara aku masih mengenakan baju dalam. Namun hal itu tidak sampai bertahan lama, sebab aku tidak tahan lagi mau segera melihat isi dalam BH-nya, sehingga aku lepaskan kaitnya dari belakang lalu meremas-remas secara bebas dengan kedua tanganku, bahkan segera kujilati dan mengisap-isap putingnya yang agak bulat dan sedikit membesar. Sehingga ia kegirangan seolah ingin teriak ketika aku maju mundurkan mulutku pada putingnya, yang kedengaran bunyinya akibat air liurku yang membasahinya.</p>
<p>Tanpa aba-aba dari Tika, sayapun segera merosot rok panjang yang dikenakannya, lalu kugigit-gigit dan kutusuk-tusuk kemaluannya dari luar celana dalamnya. Dari luarnya menggambarkan kalau daging yang terbungkus CD-nya itu sangat montok dan kenyal serta sedikit mulai basah. Aku tak mampu lagi bertahan menjilatinya dari luar, sehingga aku segera saja menariknya keluar lewat kedua kakinya. Ternyata dugaanku benar, di antara selangkangan Tika terdapat seonggok daging yang cukup empuk dengan tonjolan daging mungil antara kedua belahannya Nampah warnanya agak kemerahan dan kulit disekelilingnya juga berwarna putih seolah baru saja dicukur bulu-bulunya sesuai permintaanku dalam emailku sebelum pertemuan. Kini Tika dalam keadaan bugil penuh sambil baring dengan merenggangkan kedua paha yang menjepit daging empuk itu.</p>
<p>Tanpa aku tatap lama-lama, aku segera menjulurkan lidahku menelusuri daging empuk yang terbelah dua itu. Nampaknya aku tidak terlalu sulit masukkan lidah ke lubang tengahnya itu, karena memang sudah beberapa kali ditusuk dan dimasuki benda tumpul alias kontol sebelum kami sebagaimana pengakuannya lebih dahulu padaku lewat emailnya bahwa ia telah beberapa kali berhubungan sex dengan pacarnya, namun tidak sampai memuaskannya. Semakin lama semakin kupercepat gocokan lidahku kedalam memeknya sehingga mengeluarkan bunyi seperti kucing yang menjilat air. Tika semakin histeris dan menggerak-gerakkan pinggulnya serta dia mengangkat tinggi-tinggi kedua kakinya hingga ujungnya bersentuhan dengan bahunya sambil tetap merenggangkannya. Aku semakin leluasa memasukkan lidahku lebih dalam dan memutar-mutarnya sehingga terasa memek Tika semakin mengeluarkan cairan yang membasahi seluruh dinding lubang memeknya.</p>
<p>“Aduh.. Kak.. enak sekali Kak.. terus Kak.. aahh.. uhh.. mm..” hanya suara itulah yang berulang-ulang keluar dari mulut Tika ketika aku menggerak-gerakkan ujung lidahku pada lubang memeknya.<br />
“Kamu merasa enak sayang? Bagaimana sekarang? Saya masukkan saja?” pertanyaan saya sambil kupermainkan lidahku dalam lubangnya.<br />
“Auh.. hee, ohh.. ehh.. mm..” Suara itu semakin menaikkan rangsanganku sehingga akhirnya aku secara berturut-turut membuka celanaku satu demi satu dengan dibantu oleh Tika sampai tubuhku sudah telanjang bulat.</p>
<p>Kini kami saling bugil dan aku sedikit mundur persis di belakang pantatnya sambil berlutut dan mengarahkan ujung kontolku pada memek Tika yang sudah basah dan sedikit terbuka itu. Sebelum aku sempat menusukkan ujung penisku ke lubang memek Tika, Tika terlebih dahulu meremas dan mengocok-gocok dengan tangannya sehingga aku semakin tidak tahan lagi bermain-main di luar. Kini senti demi senti kudorong ke depan hingga ujung kemaluanku pas tertuju pada lubang kemaluannya. Tika hanya membantu dengan kedua tangannya membuka kedua bibir memeknya itu, sehingga kontolku dapat menembus lubang memeknya dengan mudah. Aku mengangkat tinggi-tinggi kedua kakinya hingga ujungnya berada di atas kedua bahuku. Kurasakan kontolku masuk menyelusup ke dalam memeknya Tika tanpa suatu kesulitan yang berarti hingga seluruhnya amblas. Tika semakin mengerang dan napasnya terengah-engah bagaikan orang yang lari dengan kencangnya. Suara dan napas kamipun saling memburuh, sekujur tubuh kami dibasahi oleh keringat. AC di kamar itu nampaknya tidak terasa pengaruhnya.</p>
<p>Tika menarik pinggulku dengan keras dan akupun menekan kontolku ke dalam memeknya juga dengan keras sehingga peraduan antara kontolku dengan memeknya semakin dalam dan kencang. Genjotan kontolku semakin kupercepat sampai-sampai peraduan paha kami menimbulkan suara cukup besar. Kami sempat memperhatikan gerakan-gerakan kami itu di cermin besar yang ada di samping tempat tidur, yang diselingi dengan suara TV 14 inch yang sengaja kami keraskan suaranya agar tidak sampai orang curiga atas perbuatan kami dalam kamar.</p>
<p>Keringat yang membasahi tubuh kami semakin bercampur, sehingga terasa tubuh kami saling lengket. Tika nampaknya tidak puas dengan posisi di bawah, iapun segera mengeluarkan kontolku dari dalam vaginanya lalu merobah posisi. Ia dengan sigapnya mengangkangiku lalu memasukkan kembali kontolku dalam vaginanya lalu ia dengan cepatnya menggerakkan pinggulnya ke kiri dan ke kenan, ke bawah dan ke atas, sehingga aku semakin sulit menahan lahar hangat yang tertampung dalam penisku. Bahkan ia menawarkan padaku untuk membalikan tubuhnya membelakangi wajahku agar ia dapat dengan jelas mengamati gerakan-gerakan kami lewat cermin, namun aku menahannya agar tidak mengeluarkan lagi kontolku dari dalam vaginanya sebab terasa aku sudah sangat mendesak ingin muncratkan spermaku.</p>
<p>Mungkin pengaruh capek habis naik mobil dari jauh barusan, sehingga aku betul-betul kecapean dan sulit lagi mempertahankan gejolak sperma yang memaksa ingin keluar. Tanpa seizin Tika, spermaku kutumpahkan dalam vaginanya meskipun aku masih terus memompa memek Tika dari bawah dan mengikuti gerakan Tika hingga betul-betul kontolku keluar dengan sendirinya karena kehabisan cairan dan tenaga.</p>
<p>“Istirahat aja dulu Kak kalau capek, saya ngerti kok Kakak ini terlalu capek habis naik kendaraan hampir seharian” kata Tika dengan bijaksana sambil turun dari atasku lalu berbaring di sampingku.</p>
<p>Ia nampaknya tidak kecewa dan cukup mengerti atas keadaanku, sebab masih banyak kesempatan untuk mengulangi permainan kami sebentar. Apalagi sebelum kami melakukan semua itu, ia pernah berjanji akan memuaskanku dan ia tidak bakal kecewa atas keterbatasanku serta tidak terlalu menuntut untuk dipuaskan jika aku tidak mampu.</p>
<p>Mendengar kata-kata Tika itu, aku merasa malu dan tidak tau harus berbuat apa, sebab janji yang pernah kuucapkan pada emailku untuk memuaskannya, ternyata tidak mudah aku jadikan kenyataan. Entah, apa aku yang terlalu lemah dan loyo atau Tika yang terlalu kuat dan tidak mudah mencapai puncak kenikmatan seperti yang pernah disampaikanku lewat email bahwa sudah beberapa kali ia bersetubuh dengan pacarnya tapi ia tidak pernah merasakan puncak kenikmatan sex. Apalagi usiaku jauh lebih tua di atas 10 tahun dari usianya, sehingga seharusnya aku perlu obat penambah kekuatan dan daya tahan untuk mengimbanginya. Namun aku terlalu ceroboh dan kurang memperhitungkannya, sehingga aku terpaksa KO lebih awal sebelum ia ada tanda-tanda akan puas. Aku terlalu mengandalkan pengalamanku yang mempunyai jam terbang lebih banyak dari dia, apalagi selama ini hampir semua wanita yang kusetubuhi merasa KO lebih dulu karena kemampuanku dalam merangsang.</p>
<p>“Maaf yah sayang, aku terlalu capek dari daerah, seharusnya istirahat lebih dulu sebelum kita berperang di atas kasur ini” kata saya untuk memberi alasan agar ia tidak putus harapan.<br />
“Nga apa-apa kok Kak, saya khan tidak terlalu berharap dari Kak untuk dipuaskan, sebab saya hanya mau melihat Kakak puas dan bahagia bersamaku apalagi saya memang tidak mudah mencapai kepuasan sex Kak” jawabnya dengan sedikit tersenyum tanpa ada rasa kecewa sedikitpun diwajahnya.<br />
“Kakak janji, ronde kedua nanti, akan kuusahakan agar Adik bisa juga merasakan nikmatnya sex. Saya malu dan tidak mau dikatakan hanya mementingkan diri sendiri, apalagi pasti akan membuat kenangan buruh dihati adik sepanjang masa, kita istirahat sejenak aja dulu Dik” begitulah ucapan saya pada Tika mencoba memberi harapan yang besar.</p>
<p>Setelah aku ke kamar mandi membersihkan kemaluanku, saya kembali berbaring disamping Tika dan berusaha merayu, memeluk dan mencium bibir dan keningnya serta mengelus-elus puting susunya. Tiba-tiba aku teringat pada vitamin yang sengaja kubawa dari daerah sebagai obat yang dapat mengembalikan kondisi tubuh, khususnya bagi yang berusia lanjut. Aku bangkit dari tempat tidurku, lalu menelannya 2 biji, lalu kembali berpelukan dengan Tika di atas kasur empuk itu. Ternyata tidak sia-sia, hanya dalam beberapa menit saja, kontol saya mulai terasa mengeras kembali, apalagi setelah dipegang-pegang oleh Tika.</p>
<p>“Yuk, kita mulai lagi” kataku sambil tersenyum pada Tika.<br />
“Apa Kakak sudah siap lagi? Istirahat aja dulu sebentar Kak, waktu kita masih ada beberapa jam lagi di wisma ini” katanya seolah tidak mau memaksa kemampuanku.</p>
<p>Sambil berkata begitu, Tika mulai meremas-remas kontolku dan nampaknya ia juga sangat menginginkan hal itu. Tika segera bangun dan kembali mengangkangi tubuhku lalu mencoba memasukkan kontolku ke dalam memeknya yang masih basah karena belum dicuci. Ia sengaja saya minta agar lebih aktif dari aku, karena aku masih agak kecapean. Kontolku yang sudah mengeras kembali itu tidak terlalu sulit dimasukkan sampai seluruhnya amblas ke dalam lubang memeknya. Tikapun mulai menggenjot terus dan kembali menimbulkan bunyi khas, bahkan kali ini ia berbalik membelakangi wajahku sehingga ia tertawa kecil melihat gerakannya pada cermin di sudut kamar itu. Setelah ia puas memandangi posisi kami, Tika lalu turun dan mencoba nungging di depan saya. Sayapun mengerti maksudnya. Berkali-kali aku arahkan ujung penisku pada memeknya yang agak sedikit menganga dari belakang, tapi selalu saja mengenai lubang duburnya, sehingga ia menegurku karena merasa kesakitan.</p>
<p>Mungkin Tika atau saya yang kurang cocok dengan posisi itu, sehingga kami tidak jadi menerapkan posisi nungging itu, melainkan Tika kuminta berbaring terlentang lalu aku kembali menindihnya dan memasukkan kontolku dengan mudah lalu menggenjotnya dengan lebih keras dan cepat. Kali ini berlangsung agak lama daripada ronde pertama tadi.</p>
<p>“Ngomong ya Kak jika kau mau muncrat supaya aku tahu” katanya berbisik.<br />
“Yah sayang, tapi masih jauh rasanya” jawabku singkat.</p>
<p>Peluh kami mulai bercucuran dan basah sekali sekujur tubuh kami. Walaupun aku telah berusaha menahan spermaku untuk tidak terlalu cepat keluarnya, namun tetap saja Tika belum ada tanda-tanda akan mencapai puncaknya.</p>
<p>“Auh.. iihh.. eehh.. aahh.. uuhh..” itulah suara-suara yang menyertai gerakan pinggul Tika ketika aku semakin mempercepat gerakan pantatku menekan pnisku masuk lebih dalam lagi. Sementara aku tetap berusaha untuk tidak mengeluarkan suara meskipun aku merasakan suatu kenikmatan yang luar biasa dibanding aku bersetubuh dengan istriku.<br />
“Bagaimana sayang, masih jauh? Aku sudah mulai mau keluar nih, nga apa-apa khan saya keluarkan di dalam saja?” kataku berterus terang.<br />
“Silakan Kak, aku sudah makan obat pengaman, ngga bakalan hamil kok, ibuku khan bidan, jadi mudah kudapatkan obat seperti itu” katanya meyakinkanku.</p>
<p>Tidak seberapa lama kemudian, akupun muncrat dalam vaginanya dan kali ini Tika merasakannya dengan denyutan kontolku. Aku tetap berusaha menahan kontolku dalam memeknya, sehingga ia merasa hampir mencapai puncaknya.</p>
<p>“Kak, kayaknya aku sudah mau keluar nihh, auhh, mm.. hh” Katanya sambil terengah-engah dan bersuara agak keras.<br />
“Bagaimana, sudah hampir sayang? Saya capek sekali nih” kataku terus terang mengalah, sebab kontolku sudah mulai loyo dan kehabisan tenaga sehingga sulit sekali bertahan di dalam.</p>
<p>Kontolku dengan sendirinya keluar dari dalam memek Tika, sehingga kamipun berhenti bergoyang, nampun Tika tetap tidak menunjukkan kekecewaan dan putus asa di wajahnya.</p>
<p>“Aku telah merasa sedikit lebih puas dari ronde pertama tadi atau mungkin tadi aku udah muncrat tapi aku ngga mengetahuinya” demikian katanya seolah bahagia dan senang atas pertarungan kami di ronde ke-2.<br />
“Kita masih punya waktu sekitar 3 jam lagi di kamar ini sayang, mudah-mudahan kita masih bisa lanjutkan ke ronde yang ke 3, kita habiskan saja semua sisa-sisa kemampuan kita di tempat ini, sebab kapan lagi kita dapat kesempatan seperti ini” kataku penuh harap.<br />
“Kalau sudah capek dan nga mampu lagi Kak, ngga usah diteruskan dan dipaksakan, khan sudah sama-sama kita merasakan suatu kenikmatan yang cukup, nanti lain kali aja kita bisa lakukan, saya selalu siap kok kapan aja Kakak mau asal beritahu lebih dulu” kata Tika dengan santun dan penuh penghormatan serta kasih sayang padaku, sehingga aku merasa tidak enak dan berat padanya.</p>
<p>Kali ini, aku kembali ke kamar mandi membersihkan penis saya yang berlepotan dengan sperma, dan Tikapun menyusul, lalu kami sama-sama mengenakan CD kemudian berbaring sambil berpelukan, bermesraan, bahkan aku berusaha terus merangsangnya, terutama di bagian payudaranya dengan mengisap-isap putingnya dan meremas-remasnya serta mengecup pipinya. Kami saling bercanda dan bersenda gurau layaknya suami istri yang seolah tidak ada beban dan ketakutan sama-sekali. Cukup lama kami bermain-main di atas tempat tidur itu tanpa pakaian kecuali CD. Sesekali Tika menyentuh penisku dan meremas-remasnya dari luar CD, sedang aku juga menyentuh dan mengelus-elus vaginanya.</p>
<p>“Kak, istirahat saja dan tidurlah, biar lebih segar perasaannya, aku rasanya ngga capek dan nga ngantuk” katanya merayuku berkali-kali agar aku berusaha tidur. Tapi aku selalu takut kalau-kalau ia meninggalkan aku sendirian dalam kamar itu, sehingga mataku juga tidak mau tertidur apalagi sulit lagi kami dapatkan kesempatan emas seperti ini.</p>
<p>Entah pengaruh dari mana, tapi yang jelas tiba-tiba kontolku kembali tegang dan bergerak-gerak dalam CD-ku, sehingga dirasakan pula oleh Tika yang sedang berbaring di bagian bawah perutku. Mungkin akibat vitamin yang kutelan tadi atau karena senda gurau kami yang terlalu asyik. Tika tiba-tiba bangkit dan duduk di sampingku sambil tertawa.</p>
<p>“Wah, ternyata bangun lagi Kak, apa Kakak masih siap melanjutkannya untuk ronde yang terakhir sebelum kita keluar dari wisma ini kak?” tanyanya dengan tersenyum dan nampak ia gembira melihat reaksi itu.<br />
“Boleh saja, tapi isap dulu donk biar lebih keras dan membesar lagi agar dapat bertahan lebih lama” jawabku dan meminta ia lebih aktif.<br />
“Ayolah, mari kita coba mulai” katanya terburu-buru sambil membuka CD-ku dalam keadaan aku tetap terlentang. Hangat dan nikmat sekali.<br />
“Ahh.. usst.. oohh.. aduhh.. eenakk sekali sayang..” begitulah eranganku berkali-kali ketika Tika meraih dan memasukkan kontolku ke dalam mulutnya lalu menggocok-gocoknya dengan mulut.</p>
<p>Setelah aku merasa kontolku cukup keras dan membesar lagi dalam mulut Tika, aku dengan segera bangkit dari tidurku lalu menarik celana dalam Tika hingga keluar semuanya. Kali ini aku tarik Tika berbarik sambil miring sehingga kami berhadap-hadapan, lalu aku coba mengangkat satu pahanya ke atas dan memasukkan pahaku ke dalam selangkangannya, lalu menusukkan kontolku ke lubang memeknya hingga amblas seluruhnya.</p>
<p>Beberapa menit kami dalam posisi seperti ini sambil kami menggerak- gerakkan pantat maju mundur, akupun mengangkat Tika ke atasku sehingga ia menindihku tanpa melepaskan kontolku dari kemaluannya. Kali ini Tika dengan keras dan cepatnya menggoyangkan pinggulnya maju mundur dan kiri kanan, bahkan ia menarik kepalaku ke atas sehingga kami setengah duduk lalu duduk dengan meletakkan kedua pahanya di atas kedua pahaku, lalu pinggul kami bergerak seirama seolah kami saling mendorong dan menarik. Kami tidak mengubah lagi posisi hingga kami sama-sama mencapai puncak kenikmatan, meskipun aku yakin jika Tika belum mencapai kenikmatan sex 100%, tapi ia mengaku telah merasa puas merasakan kenikmatan sex yang belum pernah ia alami sebelumnya.</p>
<p>Selesai membersihkan badan dan berpakaian lengkap, kami saling mengecup dan ciuman sebagai tanda terima kasih sekaligus perpisahan sementara karena aku mau pulang ke daerah asalku. Kami berjanji akan mengulangi lagi setiap ada kesempatan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.difunde.com/tika-istri-gelapku-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
