<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita Dewasa</title>
	<atom:link href="http://www.difunde.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.difunde.com</link>
	<description>Cerita Dewasa, cerita 17 tahun, cerita seks, cerita tante girang, cerita malam pertama, cerita panas.</description>
	<lastBuildDate>Sat, 19 May 2012 19:06:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Video Mesum Pelajar SMA Brebes</title>
		<link>http://www.difunde.com/video-mesum-pelajar-sma-brebes.html</link>
		<comments>http://www.difunde.com/video-mesum-pelajar-sma-brebes.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 May 2012 19:06:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Video Seks]]></category>
		<category><![CDATA[adegan mesum]]></category>
		<category><![CDATA[banar]]></category>
		<category><![CDATA[Brebes]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[detik]]></category>
		<category><![CDATA[itu]]></category>
		<category><![CDATA[kata]]></category>
		<category><![CDATA[kerap]]></category>
		<category><![CDATA[masuk]]></category>
		<category><![CDATA[Mesum]]></category>
		<category><![CDATA[Pelajar]]></category>
		<category><![CDATA[salah]]></category>
		<category><![CDATA[siswi]]></category>
		<category><![CDATA[sma negeri]]></category>
		<category><![CDATA[suami istri]]></category>
		<category><![CDATA[tak]]></category>
		<category><![CDATA[Warnet]]></category>
		<category><![CDATA[warung internet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.difunde.com/?p=274</guid>
		<description><![CDATA[Video mesum yang diduga dilakukan oleh pelajar SMA menghebohkan dunia pendidikan di Brebes. Video mesum yang berisi adegan tak senonoh seorang pelajar, itu sudah beredar luas di masyarakat. Beredarnya adegan layaknya suami istri yang berdurasi 4 menit 16 detik itu, membuat pihak kepolisian setempat memburu pelaku adegan mesum dan pelaku penyebar video tersebut. Wakil Kepala [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Video mesum yang diduga dilakukan oleh pelajar SMA menghebohkan dunia pendidikan di Brebes. Video mesum yang berisi adegan tak senonoh seorang pelajar, itu sudah beredar luas di masyarakat.</p>
<p>Beredarnya adegan layaknya suami istri yang berdurasi 4 menit 16 detik itu, membuat pihak kepolisian setempat memburu pelaku adegan mesum dan pelaku penyebar video tersebut.</p>
<p>Wakil Kepala Sekolah salah satu SMA negeri di Brebes Endy Eros mengatakan, hingga kini pihaknya masih menyelidki kasus beredarnya video mesum tersebut. Sebab, salah satu pelaku dalam video mesum itu diduga siswa dari sekolah tersebut.</p>
<p>&#8220;Kami masih selidiki banar atau tidak pelaku wanita itu murid SMA ini. Kalau terbukti, kami akan bertindak tegas dengan memberikan sanksi kepada pelaku itu,&#8221; kata Endi kepada wartawan, Minggu (15/12/2008).</p>
<p>Sejumlah siswa SMA di Brebes mengaku sering melihat pelaku wanita dalam video mesum itu. Pelaku kerap keluar masuk ke beberapa warung internet (Warnet) dengan sang pacar.</p>
<p>&#8220;Saya sering lihat dia (wanita) itu masuk ke warnet dengan pacarnya,&#8221; kata seorang siswi yang tak mau disebut identitasnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.difunde.com/video-mesum-pelajar-sma-brebes.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Video Mesum Pelajar Pesantren Bone</title>
		<link>http://www.difunde.com/video-mesum-pelajar-pesantren-bone.html</link>
		<comments>http://www.difunde.com/video-mesum-pelajar-pesantren-bone.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 May 2012 05:57:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Video Seks]]></category>
		<category><![CDATA[al amir]]></category>
		<category><![CDATA[fil]]></category>
		<category><![CDATA[jannah]]></category>
		<category><![CDATA[kalangan pelajar]]></category>
		<category><![CDATA[kamera]]></category>
		<category><![CDATA[kekasih]]></category>
		<category><![CDATA[luas]]></category>
		<category><![CDATA[pramuka]]></category>
		<category><![CDATA[video mesum pelajar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.difunde.com/?p=271</guid>
		<description><![CDATA[Download Video mesum pelajar pesantren dan pramuka Bone. Video mesum pelajar berdurasi 15 menit kembali beredar di Bone, Sulawesi Selatan. Video mesum ini dilakukan seorang pelajar pesantren Al Amir Fil Jannah Bajoe. Video yang beredar luas di kalangan pelajar tersebut ternyata direkam sendiri oleh pelaku dan pacarnya. Pelaku, berinisial Ir, berusia 16 tahun, melakukan adegan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><br />
Download Video mesum pelajar pesantren dan pramuka Bone</strong>. Video mesum pelajar berdurasi 15 menit kembali beredar di Bone, Sulawesi Selatan. Video mesum ini dilakukan seorang pelajar pesantren Al Amir Fil Jannah Bajoe. Video yang beredar luas di kalangan pelajar tersebut ternyata direkam sendiri oleh pelaku dan pacarnya.</p>
<p>Pelaku, berinisial Ir, berusia 16 tahun, melakukan adegan mesum bersama pacarnya Wd, salah satu lulusan Sekolah Menengah Atas di Bone. Diduga, perbuatan mesum tersebut dilakukan di rumah Wd di Kelurahan Lonrae, Kecamatan Tanete Riattang Timur, Kabupaten Bone. Adegan pasangan kekasih tersebut terekam kamera tengah melakukan perbuatan tak senonoh, layaknya suami isteri.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.difunde.com/video-mesum-pelajar-pesantren-bone.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Video Mesum Remaja ABG SMA dan Mahasiswa Sidrap</title>
		<link>http://www.difunde.com/video-mesum-remaja-abg-sma-dan-mahasiswa-sidrap.html</link>
		<comments>http://www.difunde.com/video-mesum-remaja-abg-sma-dan-mahasiswa-sidrap.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 May 2012 17:50:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Video Seks]]></category>
		<category><![CDATA[banyak orang]]></category>
		<category><![CDATA[Dan]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[detik]]></category>
		<category><![CDATA[download video mesum]]></category>
		<category><![CDATA[heboh]]></category>
		<category><![CDATA[Kini]]></category>
		<category><![CDATA[Kota]]></category>
		<category><![CDATA[mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[malang jawa timur]]></category>
		<category><![CDATA[Mesum]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[parepare]]></category>
		<category><![CDATA[Rappang]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[Sebelumnya]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[siswi sma]]></category>
		<category><![CDATA[siswi smp]]></category>
		<category><![CDATA[universitas muhammadiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.difunde.com/?p=267</guid>
		<description><![CDATA[Download Video Mesum Siswi SMA dan Mahasiswa Sidrap. Video mesum yang diperankan siswi sekolah, kembali beredar. Sebelumnya, video mesum diperankan dan disutradarai oleh siswi SMP di Malang, Jawa Timur. Dan kini, video mesum diperankan oleh siswi SMA 2 Rappang, Sulawesi Selatan. Hampir sepekan ini, masyarakat Kota Parepare dan Kabupaten Sidrap heboh atas beredarnya beredarnya video [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Download Video Mesum Siswi SMA dan Mahasiswa Sidrap</strong>. Video mesum yang diperankan siswi sekolah, kembali beredar. Sebelumnya, video mesum diperankan dan disutradarai oleh siswi SMP di Malang, Jawa Timur. Dan kini, video mesum diperankan oleh siswi SMA 2 Rappang, Sulawesi Selatan.</p>
<p>Hampir sepekan ini,  masyarakat Kota Parepare dan Kabupaten Sidrap heboh atas beredarnya beredarnya video mesum, yang diduga dilakukan oleh siswi SMA 2 Rappang dengan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Parepare (Umpar).</p>
<p>Sidrap Dihebohkan Video Mesum Siswi SMA dan Mahasiswa<br />
Video berdurasi 2 Menit 43 detik, memperlihatkan siswi melakukan hubungan layaknya suami istri. Dari informasi yang dihimpun, video tersebut diambil dengan mengunakan handphone berkamera pada Juni tahun 2011 pada hari minggu sekitar pukul 11.00 Wita.</p>
<p>Kabarnya mereka melakukan aktivitas ranjang tersebut di jalan Muhammadiyah, di salah satu rumah warga Kota Rappang Kabupaten Sidrap, Akibatnya banyak orang yang melakukan pencarian untuk mendownload video Mesum Siswi SMA dan Mahasiswa Sidrap tersebut.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.difunde.com/video-mesum-remaja-abg-sma-dan-mahasiswa-sidrap.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Video Mesum Abg Cilacap</title>
		<link>http://www.difunde.com/video-mesum-abg-cilacap.html</link>
		<comments>http://www.difunde.com/video-mesum-abg-cilacap.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 May 2012 05:53:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Video Seks]]></category>
		<category><![CDATA[abg]]></category>
		<category><![CDATA[berumur]]></category>
		<category><![CDATA[Cilacap]]></category>
		<category><![CDATA[detik]]></category>
		<category><![CDATA[hanya]]></category>
		<category><![CDATA[heboh]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan seks]]></category>
		<category><![CDATA[jateng]]></category>
		<category><![CDATA[jawa tengah]]></category>
		<category><![CDATA[karena]]></category>
		<category><![CDATA[lalu]]></category>
		<category><![CDATA[majenang]]></category>
		<category><![CDATA[Mesum]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[tahun]]></category>
		<category><![CDATA[telepon seluler]]></category>
		<category><![CDATA[Tengah]]></category>
		<category><![CDATA[video mesum abg]]></category>
		<category><![CDATA[waktu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.difunde.com/?p=265</guid>
		<description><![CDATA[Video Mesum Remaja Cilacap. Ternyata video mesum tidak hanya dilakukan oleh kalangan dewasa karena beberapa waktu yang lalu beredar video mesum sepasang remaja berumur belasan tahun di Cilacap Kecamatan Majenang, Cilacap, Jawa Tengah (Jateng). Tentu saja berita ini membuat heboh warga dan banyak yang berusaha untuk melihat adegan tersebut. Juga banyak yang mencarinya agar dapat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Video Mesum Remaja Cilacap.</strong> Ternyata video mesum tidak hanya dilakukan oleh kalangan dewasa karena beberapa waktu yang lalu beredar video mesum sepasang remaja berumur belasan tahun di Cilacap Kecamatan Majenang, Cilacap, Jawa Tengah (Jateng). </p>
<p>Tentu saja berita ini membuat heboh warga dan banyak yang berusaha untuk melihat adegan tersebut. Juga banyak yang mencarinya agar dapat mendownload video mesum remaja cilacap tersebut.</p>
<p>Video tersebut dibuat dengan menggunakan kamera telepon seluler dan bertempat di semak belukar hutan pinus.<br />
Dalam video berdurasi 16 menit 16 detik tersebut, sepasang remaja itu melakukan hubungan seks.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.difunde.com/video-mesum-abg-cilacap.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selembut Sutra</title>
		<link>http://www.difunde.com/selembut-sutra.html</link>
		<comments>http://www.difunde.com/selembut-sutra.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 May 2012 17:53:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[awan putih]]></category>
		<category><![CDATA[batang]]></category>
		<category><![CDATA[bayangan]]></category>
		<category><![CDATA[Benny]]></category>
		<category><![CDATA[Dan]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[gelombang]]></category>
		<category><![CDATA[itu]]></category>
		<category><![CDATA[kabut]]></category>
		<category><![CDATA[kepala]]></category>
		<category><![CDATA[Mbak]]></category>
		<category><![CDATA[napas]]></category>
		<category><![CDATA[pasangan]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan cantik]]></category>
		<category><![CDATA[Sampai]]></category>
		<category><![CDATA[sehingga]]></category>
		<category><![CDATA[sekali]]></category>
		<category><![CDATA[senyum]]></category>
		<category><![CDATA[seraut]]></category>
		<category><![CDATA[Wajah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.difunde.com/?p=58</guid>
		<description><![CDATA[Air membentang seluas mata memandang. Perahu-perahu hilir mudik dengan berbagai bentuk. Kebanyakan berkepala bebek. Penumpang-penumpangnya bermacam-macam. Ada keluarga. Terdiri Bapak, Ibu dan anak-anaknya. Atau pasangan-pasangan yang sedang berpacaran. Wajah-wajah mereka menunjukkan kegembiraan. Ada yang senyum, tertawa cerah. Atau bercanda ria. Memang demikianlah halnya kebanyakan pengunjung-pengunjung Taman Ria ini. Kebanyakan menampakkan wajah gembira. Ceria. Namun di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Air membentang seluas mata memandang. Perahu-perahu hilir mudik dengan berbagai bentuk. Kebanyakan berkepala bebek. Penumpang-penumpangnya bermacam-macam. Ada keluarga. Terdiri Bapak, Ibu dan anak-anaknya. Atau pasangan-pasangan yang sedang berpacaran. Wajah-wajah mereka menunjukkan kegembiraan. Ada yang senyum, tertawa cerah. Atau bercanda ria.</p>
<p>Memang demikianlah halnya kebanyakan pengunjung-pengunjung Taman Ria ini. Kebanyakan menampakkan wajah gembira. Ceria. Namun di antaranya, ada seorang yang tidak menampakkan wajah gembira. Benny ! Dia duduk di atas rerumputan pebukitan yang memanjang. Matanya memandang ke depan. Sebentar meredup, sebentar membola. Seperti ada golakan di dalam hatinya. Seperti gelombang yang menderu-deru. Tiap sebentar menghela napas panjang!</p>
<p>Langit cerah. Awan-awan putih bergumpal-gumpal di sela-sela langit biru. Benny merebahkan tubuhnya di atas rerumputan. Kedua lengannya disilangkan di bawah kepala. Lama dia memandang langit. Tetapi langit bagai tak tampak. Yang terlihat olehnya, bayangan kabut. Bergumpal-gumpal. Di antara kabut itu, bagaikan menyembul seraut wajah. Perempuan. Cantik. Dan tik. Dan Benny menarik napas panjang lagi. Seraut wajah itu tersenyum. Manisnya. Lebih manis dari pada gula atau segala yang paling manis di dunia ini. Benny memejamkan matanya. O, kesalnya dia. Tak ingin sebenarnya dia menyaksikan seraut wajah itu. Tetapi wajah itu seperti mengejarnya. Wajah Lisa. Wajah seseorang yang dicintainya.</p>
<p>Benny membuka matanya lagi. Secara jujur, Benny, pemuda yang berusia sekitar dua puluh empat tahun itu, harus mengakui, bahwa dia sangat mencintai Lisa. Belum pernah sebelumnya, Benny mencintai seseorang, seperti besarnya kecintaannya kepada Lisa, Tetapi sekarang! Cinta yang besar itu telah berobah menjadi kebencian. Kebencian amat sangat. Benny merentak. Setengah menyentak, dia bangun dari sikap berharingnya. Berpaling ke kiri dan meludah. Dan . . . tiba-tiba mata Benny bentrok dengan mata seseorang. Seorang perempuan.</p>
<p>Benny terperangah. Sejak kapan perempuan itu duduk di situ. Benny tidak melihatnya pada beberapa menit yang lalu. Perempuan itu, berwajah tirus dengan sepasang mata bola yang indah, dengan rambut dibiarkan tergerai pada bahunya, masih saja memandang Benny. Umurnya sekitar tiga puluh tahun. Sendirian ! Benny menelan ludah! Uf! Mata yang indah. Duduk dengan sikap agak sembarangan, sehingga ujung roknya tersingkap. Dan menyembullah pahanya yang memutih penuh !</p>
<p>Benny segera menarik pandangnya dan melemparkannya ke arah lain. Uf! Persetan dengan perempuan. Walau bagaimanapun cantiknya. Tentu dia tidak berapa jauh dengan Lisa! Benny memandang langit. Tetapi . . . mata perempuan itu sangat indah . . . Lebih indah dari pada mata Lisa. Secara naluriah. Benny berpaling lagi ke kiri. Dan lagi-lagi matanya bentrok. Uf! Perempuan itu membalas senyum Benny. lni benar-benar di luar dugaan. Dan Benny berpikir, perempuan itu cuma sendirian. Hmm! Benny mengangguk. Dan hati Benny jadi mengembang, bila perempuan itupun itu pun membalas mengangguk.</p>
<p>“Aku tidak boleh ge-er!” ujar Benny dalam hati. “Aku tidak boleh mengharapkan terlalu banyak. Cukuplah bila bisa ngobrol-ngobrol. Dia sendiri. Dan akupun sendiri. Lumayan menjadi teman ngobrol!”</p>
<p>Berpkir demikian, Benny menunjuk dirinya, kemudian menunjuk perempuan itu. Maksudnya, Benny menanyakan. bagaimana kalau Benny menemani perempuan itu duduk. menikmati alam indah Taman Ria. Perempuan itu tertawa kecil sambil mengangguk. Dan Benny tentu saja tidak ingin membuang-buang waktu. Segera dia berdiri dan menghampiri perempuan itu.</p>
<p>“Tidak mengganggu?!” tanya Benny sambil duduk di sisi perempuan itu.</p>
<p>“Senang sekali dikawani!” jawab perempuan itu.</p>
<p>“Sendirian?” tanya Benny.</p>
<p>“Seperti yang kamu lihat!” kata perempuan itu sambil mengerling. Kemudian melanjutkan: “Sebenarnya saya menunggu seseorang.”</p>
<p>“Pacar?!”</p>
<p>“Belum bisa dikatakan begitu. Hanya kawan biasa. Dan kamu?!” tanya perempuan itu, yang tahu betul bahwa Benny jauh di bawah umurnya.</p>
<p>“Saya memang datang sendirian,” ujar Benny.</p>
<p>“Nggak sama pacar?!” tanya perempuan itu sambil terscnyum.</p>
<p>“Saya . . . eh, belum punya pacar.”</p>
<p>“Bohong!” kata perempuan itu spontan.</p>
<p>“Kenapa Mbak menuduh saya bohong?!” Benny mengernyitkan keningnya.</p>
<p>“Umur kamu berapa?!”</p>
<p>“Dust puluh empat!”</p>
<p>“Dua puluh empat tahun, belum punya pacar. Siapa yang mau percaya!”</p>
<p>“Tetapi saya betul-betul belum punya pacar!” jawab Benny. Padahal dalam hati, Benny sangat menyesali ucapan mulutnya. “Aku bohong, Mbak. Aku sebenarnya punya pacar. Tetapi aku sebel sama dia!”</p>
<p>“Nama kamu siapa?!”</p>
<p>“Benny. Dan nama Mbak?!”</p>
<p>“Aningsih.”</p>
<p>“Ya. Kenapa?!”</p>
<p>“Nggak apa-apa! Nama yang manis!”</p>
<p>Perempuan itu tertawa kecil sambil memukul bahu Benny. “Uf kamu ini! Baru ketemu, sudah merayu!”</p>
<p>“Saya nggak merayu, Mbak. Nama Mbak memang manis, seperti orangnya. Cantik. Llncah. Dan ketawa Mbak itu, lho!”</p>
<p>“Memangnya kenapa dengan ketawaku?!”</p>
<p>“Manisnya nggak ketulungan!”</p>
<p>Perempuan itu ketawa lagi. ketawa lagi !</p>
<p>“Makin manis saja,” kata Benny.</p>
<p>Perempuan itu, yang menyebutkan namanya Aningsih, memukul bahu Benny. Ganti Benny yang ketawa-ketawa senang.</p>
<p>“Kamu seharusnya sudah punya pacar.”</p>
<p>“Nggak ada perempuan yang mau sama saya.”</p>
<p>“Bohong! Kamu ganteng! Pasti banyak perempuan yang mau sama kamu!”</p>
<p>“Sungguh kok, Mbak,” kali ini Benny bicara lebih serius. Dicabutnya sebatang rumput yang tumbuh di hadapannya. Digigitinya ujungnya sampai hancur. Kemudian dilemparkannya. Lalu berkata dengan suara lebih perlahan: “Tak ada perempuan yang mau sama saya!”</p>
<p>“Mengapa kamu beranggapan demikian?!”</p>
<p>“Kenyataannya memang begitu.”</p>
<p>“Jangan-jangan kamu sendiri yang jual mahal. Sebenarnya banyak perempuan yang mau sama kamu. Tetapi kamu sombong. Tidak memandang sebelah mata pada mereka!”</p>
<p>“Tidak begitu, kok!” jawab Benny. “Saya biasa-biasa saja!”</p>
<p>“Kalau kamu biasa-biasa saja pasti sudah punya pacar!”</p>
<p>Benny mencabut lagi sebatang rumput, menggigitnya, kemudian membuangnya lagi jauh-jauh. “Saya memang pernah punya pacar. Kan saya sangat mencintainya. Tetapi . . . ” terputus ucapan Benny.</p>
<p>“Tetapi mengapa . . . ?!” bertanya Mbak Ning antusias. Rupanya dia ingin tahu. Benny mencabut lagi sebatang rumput. Seperti tadi, digigitnya, kemudian dilemparkannya jauh-jauh.</p>
<p>“Putus, Mbak.”</p>
<p>“Mengapa putus?!”</p>
<p>Benny diam. Memandang ke arah danau. Mbak Ning juga memandang ke arah danau, lalu kembali pada Benny. “Mengapa putus?!” Mbak Ning mengulangi pertanyaannya.</p>
<p>“Barangkal sudah begitu nasib saya!”</p>
<p>“Pasti kamu yang memutuskan. Kamu sudah bosan sama dia. Kamu kepingin ganti pacar lain. Maka kamu mencari gara-gara!”</p>
<p>“Saya tidak serendah itu.”</p>
<p>“Lalu mengapa bisa putus?!”</p>
<p>“Dia yang memutuskan.”</p>
<p>“Dia pacaran dengan lelaki lain?!”</p>
<p>“Ya!”</p>
<p>Aningsih menghela napas. “Kalau begitu, kamu patah hati sekarang. Tidak apa. Kisah cinta tidak selalu berjalan mulus Kamu laki-laki. Tidak boleh cengeng. Masih banyak yang bisa kamu harapkan dalam hidup ini. Perempuan tidak cuma satu di dunia ini!”</p>
<p>“Barangkali memang begitu. Tetapi saya sulit sekali melupakannya.”</p>
<p>“Kamu sangat mencintainya?!”</p>
<p>“Ya!”</p>
<p>“Kamu harus berusaha melupakannya. Itupun kalau kamu benar. Jangan-jangan kamu cuma bohong!”</p>
<p>“Sungguh kok, Mbak Ning. Saya tidak bohong. Kalau Mbak tidak percaya, Mbak boleh melihat fotonya,” sambil berkata demikian Benny mengambil dompetnya dan mengeluarkan sehelai foto berukuran separoh kartu pos. Diserahkannya pada Mbak Ning. Perempuan itu mengamat-amati foto itu. Foto seorang gadis separuh badan. Cantik. Berusia sekitar dua puluh satu tahun.</p>
<p>Mbak Ning menyerahkan kembali foto itu.</p>
<p>“Cantik memang. Pantas kamu sangat mencintainya. Tetapi Mbak lihat, gadis ini type setia. Rasanya hampir tidak mungkin kalau dia mengkhianati cinta kalian!”</p>
<p>Benny menyimpan kembali sehelai foto itu ke dalam dompetnya, kemudian dimasukkan ke saku belakang celananya. “Mengapa Mbak tidak percaya, padahal saya sudah menceritakan yang sebenarnya.”</p>
<p>“Kalau memang begitu, yah . . . apa boleh buat. Kamu harus tabah,” suara Aningsih seperti yang sedang memberi petuah.</p>
<p>“Ya, memang. Saya harus tabah,” ujar Benny.</p>
<p>Angin melembut, menggerai-geraikan rambut mereka. Perahu-perahu masih saja hilir mudik di danau buatan. Pucuk-pucuk pinus bergoyang di ke jauhan. Di bawah mereka, di aspal jalan yang melingkari bukit kecil panjang itu. Ada sepasang manusia yang berjalan mesra sekali. Lengan si lelaki melingkari pinggang si wanita. Sedangkan kepala si wanita menyandar ke bahu si lelaki. Mesranya! Selangit!</p>
<p>“Kadang saya sering iri jika melihat kemesraan orang lain,” ujar Benny yang melihat sepasang insan yang saling mencinta itu.</p>
<p>“Kalau begitu, mengapa kamu datang ke mari sendirian?! Di sini banyak sekali pemandangan yang menyiksamu!”</p>
<p>“Tempat ini banyak memberikan kesan pada saya, Mbak. Saya dan Lisa datang ke mari. Kami bermesraan. Saya senang mengembalikan kesan-kesan itu!”</p>
<p>Mbak Ning tertawa. “Kau salah!” katanya. “Yang begitu, malah akan semakin menyiksamu!”</p>
<p>“Yah, saya memang salah. Memang salah!” ujar Benny seperti mengeluh. Lalu Benny mencabut lagi sebatang rumput. Digigitinya. Lalu dilemparkannya kembali. “Dan Mbak sendiri?! Mengapa Mbak ada di sini?!”</p>
<p>“Sudah kukatakan, bukan?! Aku menunggu seseorang.” kali ini wajah Mbak Ning menampakkan kegelisahan.</p>
<p>Benny menatap lebih tajam. “Kelihatannya Mbak bohong!”</p>
<p>“Kamu tidak percaya?!”</p>
<p>“Ya! Saya tidak pereaya!”</p>
<p>“Apa yang menyebabkan kamu tidak percaya?!”</p>
<p>“Mata Mbak! Mulut Mbak, bisa bohong. Tetapi mata Mbak tidak. Mata Mbak lebih jujur!”</p>
<p>Aningsih menggigit-gigit bibirnya sendiri. “Saya tidak bohong.”</p>
<p>“Lalu, yang menunggu mbak itu, tidak datang?!”</p>
<p>“Sudah hampir satu jam aku menunggu. Rasanya dia memang tidak datang.”</p>
<p>“Barangkali dia ada halangan.”</p>
<p>“Ya! Barangkali!” Aningsih melihat ke jam tangannya. Sudah jam lima lewat. Matahari sudah redup di langit. Angin bertambah sejuk semilir. Lama mereka ngobrol. Melompat dari satu masalah ke masalah lain. Kebanyakan tidak penting. Suasana petang semakin hilang. Berganti dengan gelap. Bulan di langit tersenyum. Bulan sabit. Di pebukitan tidak hanya mereka berdua. Tetapi banyak lagi yang lain. Mereka adalah pasangan-pasangan yang saling memadu kasih. Dan sekarang, Aningsih dan Benny tidak lagi berjauhan. Aningsih meletakkan kepalanya ke bahu Benny. “Kalau saja pacar Mbak melihat kita, tentu akan cemburu!” ujar Benny.</p>
<p>Akingsih tersenyum. “Aku belum punya pacar.” katanya. “Lalu?! Lelaki yang janjian sama Mbak, yang ternyata sekarang tidak datang?!”</p>
<p>Aningsih menggeser-geser rambutnya ke leher Benny, “Lelaki itu belum lama kukenal. Baru dua kali bertemu. Dan sekarang dia tidak datang. Janjinya tidak bisa kupercaya!” ujar Aningsih.</p>
<p>Benny merasakan geli yang nyaman ketika Aningsih menggeser-geserkan rambutnya ke lehernya. Geli yang merambati pembuluh-pembuluh darahnya. Angin malam berkesiur dingin, menusuk tulang. Tetapi tidak demikian halnya dengan Ning dan Benny. Keduanya sama sekali tidak merasakan dingin. Hati mereka hangat. Lengan-lengan mereka saling merangkul. erat. Keduanya merasakan diri melayang. Bayang-bayang pepohonan menimpa mereka.</p>
<p>“Boleh aku ke rumah Mbak Ning kapan-kapan?!” tanya Benny.</p>
<p>“Mengapa tidak?! Aku senang sekali kalau kau mau datang.” kata Ning.</p>
<p>“Pasti! Pasti aku akan datang!” kata Benny.</p>
<p>Lalu mereka berkecupan. Hangatnya bibir Benny. Hangatnya bibir Ning. Lalu tangan-tangan mereka saling bergenggaman. Lalu saling meremas. Lalu berkecupan lagi. Mesranya. Dan bayang-bayang pohon semakin menghitam. Angin semakin dingin berkesiur. Mereka tak ubahnya seperti sepasang kekasih yang sudah lama saling memadu kasih. Sampai akhirnya, Aningsih seperti tersadar menatap jam tangannya. “Ah, sudah jam delapan!” katanya. Lalu dilepaskannya rangkulannya. “Kita pulang, Ben!”</p>
<p>Rasanya cepat sekali waktu berlalu. Benny dan Aningsih melangkah kecil, menuruni pebukitan itu. Lengan Benny melingkari pinggang Aningsih yang ramping. Suatu ketika, hampir Aningsih tergelincir. Lengannya bergelayutan di leher Benny. Benny cepat meraih pinggang Aningsih erat-erat. Mereka berpelukan sambil berdiri.</p>
<p>“Kuantarkan Mbak pulang.” ujar Benny</p>
<p>“Tidak. Biar aku pulang sendiri.”</p>
<p>“Kata Mbak, aku boleh ke rumah Mbak Ning.”</p>
<p>“Boleh. Tetapi tidak sekarang.”</p>
<p>“Kalau begitu, Malam Minggu nanti?!”</p>
<p>“Jangan Malam Minggu.”</p>
<p>“Pacar Mbak datang. ya?!”</p>
<p>“Bukan. Malam Minggu nanti aku ada acara keluarga.”</p>
<p>“Acara apa ?! Ulang tahun?!”</p>
<p>“Bukan! Arisan keluarga! Ah, kau banyak tanya.”</p>
<p>“Kalau begitu, Malam Rabu depan. Seminggu lagi?!” Aningsih mcngernyitkan keningnya. “Baiklah! Aku tunggu kau!” lalu Aningsih menyetop taksi. Sejurus kemudian, taksi pun melesat meninggalkan Benny yang masih saja mematung memandangi taksi itu.</p>
<p>Lalu Benny menstarter motornya.</p>
<p>Sungguh, dia tak menyangka, malam ini akan bertemu dan berkenalan dengan Mbak Ning. Dan dia tak menyangka, bahwa perkenalan itu cepat menjadi rapat. Keduanya tersenyum-senyum kecil. Terbayang kembali, bagaimana mesranya bihir Mbak Ning menindih bibirnya. Betapa hangatnya. Betapa lembutnya. Hampir saja Benny menubruk bus tingkat yang tiba-tiba saja berhenti. Untunglah naluri Benny cukup tajam untuk menghindari tubrukan itu.</p>
<p>BENNY TIDAK dapat melupakan Aningsih. Di tempat pekerjaannya, Benny tetap ingat. Ini menjadikan Benny banyak melamun. Nelly mengageti Benny. Benny tersentak. Hampir saja berhenti jantungnya. Nelly terkikik-kikik. “Tampangmu lucu sekali kalau lagi kaget,” kata Nelly sambil menutupi mulutnya.</p>
<p>“Kalau jantungku putus, apa kamu bisa ganti?!” tanya Benny kheki.</p>
<p>“Bisa! Aku ganti saja sama hati monyet!”</p>
<p>“Enak saja! Apa kau kira aku ini satu keluarga dengan monyet?! kata Benny lagi.</p>
<p>“Aku tahu. Pasti Benny lagi kasmaran,” ujar Oding.</p>
<p>Apa yang dikatakan Oding memang hampir benar. Benny melamun. Dan Aningsih yang dilamunkan. Terbayang wajahnya. Terbayang gerak-geriknya. Terbayang tertawanya. Semua, semua. Dan Benny membandingkan Aningsih dengan perempuan-perempuan yang pernah dikenalnya. Dengan Hera, Yani, Dari dari banyak lagi wanita-wanita lain. Namun Aningsih mempunyai daya tarik sendiri. Rasanya lama sekali sampai menunggu hari Rabu tiba. Menit demi menit yang berlalu, rasanya sangat lambat. lngin dipaksakannya matahari bergeser cepat ke sebelah barat, agar hari cepat berganti!</p>
<p>HARI RABU.</p>
<p>“Mbak Ning tinggal sendirian di sini?!” tanya Benny pada Aningsih. Mereka duduk di ruang tengah rumah Aningsih. Pada jam sepuluh pagi, Akingsih belum mandi. Tetapi di mata Benny, bahkan Aningsih tampak lebih cantik dan menawan.</p>
<p>“Tidak! Bersama teman, Mbak. Hilda! Dan seorang pembantu!” jawab Aningsih sambil meletakkan segelas kopi susu di hadapan Benny.</p>
<p>Benny mengitarkan pandangannya ke sekeliling ruang tengah. Hm, rapi. Pertanda rumah ini ditangani oleh orangorang yang apik.</p>
<p>“Mbak Ning kerja?!” tanya Benny lagi.</p>
<p>“Tidak! Aku cuma dagang permata. Yah, hasilnya lumayan juga,” kata Aningsih sambil berdiri dari duduknya. “Kau tunggu sebentar. Mbak mandi dulu. Kalau mau baca-baca majalah, tuh du bupet. Banyak!” kemudian Aningsih masuk ke kamarnya, mengambil handuk. Kemudian keluar lagi dan melenggang ke kamar mandi. Mata Benny tak lepas dari pinggul Aningsih yang bergoyang-goyang.</p>
<p>Aningsih melepaskan satu-satu yang melekat di tubuhnya. Hmm, air terasa sejuk ketika mengguyur tubuhnya yang mulus. Lalu tangannya yang lentik mulai menyabuni. Mulai dari leher, turun ke bahu, turun lagi ke sepasang pebukitan indah di dadanya. Seluruh apa yang ada pada dirinya, merupakan panorama sangat indah yang akan mendatangkan kesan mendalam bagi yang memandangnya. Sambil menyabuni itu, Aningsih berpikir: “Benny benar-benar datang!” Aningsih benar-benar tidak menduga, bahwa Benny akan menepati janji. Pemuda itu sangat menarik. Tubuhnya tegap dan atletis. Tubuh yang dirindukan oleh perempuan.</p>
<p>“Bennnn !!!” Benny yang sedang duduk membaca majalah di ruangan tengah, mendengar suara Aningsih yang memanggilnya mesra.</p>
<p>Benny menutupkan majalah dan buru-buru ke kamar mandi. Pintu kamar mandi setengah terbuka. Aningsih berdiri dengan handuk sebatas dadanya! Benny terkesiap. Hmm, dengan handuk itu, tubuh Aningsih tercetak indah. Terutama kulit bahu dan pahanya yang sangat mulus. Kencang dan sekal. Membuat mata Benny tidak berkedip.</p>
<p>Aningsih tersenyum sambil menjentik pipi Benny. “Mengapa kau pandangi aku seperti itu, sih?! Apa ada yang aneh pada diriku?!”</p>
<p>“Ah, tidak. Aku . . . eh, Mbak cantik sekali!” kata Benny gelagapan dan serba salah.</p>
<p>“Wowww! Rayuan gombal!” ujar Ningsih sambil mengerling manis. “Bennn!! Tolong aku, ya . . . ?!”</p>
<p>“Tolong apa, Mbak?!”</p>
<p>“Tolong ambilkan aku sendal di kamar. Sendal yang warna merah. Brengsek, deh. Aku lupa pakai sendal ke kamar mandi.” kara Aningsih dengan suara manja. Suara yang membuat hati Benny panas dingin.</p>
<p>Benny segera ke kamar Mbak, Ning, mengambil sendal merah. La.lu kembali ke kamar mandi. “Terima kasih, Ben!” ujar Aningsih sambil mengenakan sendal yang diambilkan Benny.</p>
<p>Tetapi baru saja mengenakan sebelah, tiba-tiba kaitan handuk Aningsih terlepas. Dan cepat sekali handuk itu meluncur ke bawah. Aningsih terkejut. “Oh . . . !” serunya. Tetapi Aningsih sudah tidak mengenakan apa-apa lagi.</p>
<p>Yang terlebih gawat adalah Benny. Jantungnya dirasakan bagai akan meledak . . . Matanya membelalak. Dan Benny tidak nampu menguasai diri lagi. Ditubruknya Aningsih. “Bennnn! Kau ini, Apa-apaan . . . ?!” Aningsih meronta-ronta. Namun rontaan-rontaan itu terlalu lemah. Tidak mungkin mampu melepaskan diri dari pelukan Benny yang ketat. “Bennn! Jangan, ah! Oukh, kamu ini . . . !!” Aningsih masih mencoba meronta. Tetapi . . . ah, tidak. Lebih tepat dikatakan menggeliat. Kepala Aningsih menggeleyong ke kiri dan ke kanan. Menghindari bibir Benny yang mencari-cari bibirnya. Benny tak sabar. Didorongnya tubuh Aningsih. Ditekankannya ke dinding kamar mandi, sehingga Aningsih tidak leluasa lagi bergerak. Dan sekejap kemudian, mulut Benny berhasil menangkap bibir Aningsih. “Hmmmm! Mmmmmm !!” Aningsih tidak lagi meronta. Matanya segera meredup. Menerima pelukan dan kuluman bibir Benny yang hangat. Bahkan sekarang, Aningsih ikut membalas. Dijulurkannya lidahnya. Saling mendorong dengan bibir Benny. Matanya semakln redup. Lincah sekali lidah Aningsih mengait-ngait lidah Benny. Mendapat sambutan yang hangat, darah muda Benny semakin membuncah. Panas! Menuntut pelepasan. Apalagi ditambah dengan sepasang payudara ranum milik Aningsth yang menekan dada Benny yang bidang!</p>
<p>“Bennnnn! ! Hmmphh . . . akh!”</p>
<p>“Mbak !! Ssssh !!”</p>
<p>“Sesak napasku, Bennnnn!!”</p>
<p>“Biarlah sesak!”</p>
<p>“Putus jantungku!”</p>
<p>“Biarlah putus!”</p>
<p>“Kalau aku mati . . . ?!!”</p>
<p>“Aku akan ikut mati!”</p>
<p>Aningsih tertawa sambil mencubit pipi Benny. “Ih, kok kayak Romeo dan Yuliet saja. Kalau aku mati, apa kau benarbenar mau ikut mati?!”</p>
<p>“Mau! Demi Mbak!.’ujar Benny sambil menciumi leher Aningsih dengan lembut sekali. Aningsih menggeliat-geliat. Lehernya menggeleyong-geleyong ke sana-ke mari. Sikap seorang perempuan yang penuh rangsangan.</p>
<p>“Benn . . . !!” Aningsih menyebut nama lelaki itu ditengah-tengah rintihannya.</p>
<p>“Ada apa Mbak?!”</p>
<p>“Mengapa kau bersikap begini padaku?!” dan Aningsih lebih terengah-engah lagi, bilamana hidung Benny menyapunyapu pankkal buah dadanya yang montok.</p>
<p>“Saya . . . saya . . . cinta pada Mbak . . . !!” ujar Benny di tengah dengus-dengus napasnya.</p>
<p>Aningsih tertawa kecil. Telapak tangannya sebentar mengeluas dan sebentar menekan belakang kepala Benny. “Kamu nggak bohong?!” tanya Aningsih sambil membusungkan dadanya yang montok dan putih itu, agar Benny lebih le-luasa melakukan aktifitasnya.</p>
<p>“Saya nggak bohong, Mbak!”</p>
<p>“Kamu bohong . . . !” Aningsih memijit hidung Benny dengan gemas.</p>
<p>“Aww . . . !” Benny menjerit. Pijitan itu mendatangkan sakit. Tetapi juga nikmat.</p>
<p>“Kamu bohong, Ben! Lelaki memang begitu. Suka bohong. Rayuannya gombal. Selangit. Tetapi buktinya, nol! Nol kosong! Dan perempuan-perempuan banyak yang tertipu. Mereka akhirnya cuma bisa menangis dan menangis!” ujar Aningsih sambil sambil menekankan dadanya yang sekal, lengkap dengan putihnya yang kemerahan menantang itu kedada Benny yang bidang. Dan Benny merasakan sesuatu mengutik-utik di antara kedua pangkal pahanya, di balik celana panjangnya.</p>
<p>“Tetapi aku tidak begitu, Mbak. Kau tidak boleh menyamaratakan semua lelaki!” Benny panas dingin menahankan sesuatu yang bergelora, membuat kelenjar darahnya berdenyut-denyut.</p>
<p>“Tetapi, Ben! Apa betul kamu sungguh-sungguh mencintaiku?!” Aningsih melepaskan satu demi satu-satu kancing hemd Benny. Dan kemudian melepaskan hemd lelaki itu. Hemd itu meluncur begitu saja, jatuh ke lantai kamar mandi yang basah.</p>
<p>Seperti yang dibayangkan Akingsih, tubuh Benny sangat mengagumkan. Tubuh atletis. Bahunya tegap. Kedua lengannya kekar, berurat. Dan dadanya berbulu lebat. Sirrr . . . ! Berdesri darah Aningsih bilamana bulu-bulu dada yang keriting lebat itu bergesek ke dadanya.</p>
<p>“Bennn!” bisik Aningsih.</p>
<p>“Ada apa, sayang?!” tanya Benny.</p>
<p>“Bawa aku kamar. Di sini . . . di sini . . . dinginnnnn . . . !!!”</p>
<p>Benny tak perlu menunggu diperintah sampai dua kali. Segera didukungnya Aningsih ke luar dari kamar mandi. Mbok Inem, pembantu Aningsih sedang ke pasar. Benny meletakkan tubuh mulus yang sudah tidak ditutupi sehelai benangpun ke tempat tidur. Kemudian lelaki muda itu melepaskan celana panjangnya. Sambil berbaring. Aningsih menatap tubuh Benny yang aduhai itu. Benny hanya mengenakan celana dalam kecil saja. Berwarna putih. selangkangan Benny tampak menonjol. Dan Aningsih menelan ludah. Di balik celana dalam itu, meremang hutan lebat menghitam. Bergompyok. Terus menyambung sampai ke pusar Benny. Dan Aningsih sekali lagi menelan ludah.</p>
<p>“Bennnn . . . !!” ujar Aningsih. “Ada apa, sayang?!”</p>
<p>“Bukalah celana dalammu. Bukalah!”</p>
<p>Benny tersenyum, melepaskan celana dalamnya. Dan . . . wow!! Mata Aningsih membelalak. Bagaimana tidak?! Sesuatu yang biasanya selalu tersembunyi itu, kini terpampang bebas. Bazoka Benny! Senjata yang menggayut setengah tegang itu, panjang dan besar. Hebat sekali! Seakan-akan menantang bagi yang memandang. Benda luar biasa itu mengangguk-angguk. Menghitam! Mulai dari bagian pangkalnya, lebat ditumbuhi rambut kriting: Bukan main! Seumur hidupnya, Aningsih belum pernah menyaksikan benda sehebat dan seindah itu.<br />
D U A</p>
<p>BUKAN BARU sekali ini Aningsih menghadapi lelaki. Tetapi secara jujur, Aningsih harus mengakui, bahwa lelaki seperti Benny sangat jarang ditemuinya. Lelaki bertemperamen panas. Jantan! Romantis. Lelaki-lelaki yang dihadapinya, kebanyakan loyo. Tidak dapat memberikan kepuasan padanya!</p>
<p>Aningsih membiarkan saja Benny meraba-raba sepasang buah dadanya yang montok ranum. Lengkap dengan putingnya yang kemerahan tegak menantang ke atas. Puting itu bergetar-getar, seirama dengan gerakan-gerakan bukit indah itu. Dan Benny meremasnya dengan lembut. Lembut sekali. Penuh perasaan.</p>
<p>Aningsih merengek manja. Menggeliat sambil merintih. Matanya meredup. Oukh, telapak tangan Benny hangat dan seakan-akan mengandung magnit. Membuat Aningsih jadi terangsang. Tangan lelaki itu masih juga meremas. Berpindah-pindah. Puas sebelah kanan. Beganti dengan sebelah kiri. Bervariasi dengan tekanan-tekanan yang romantis. Mendatangkan rasa geli-geli dan nikmat. “Oukh, Bennnn! Hmmnrhhh . . . sssh, akh!” ujar Aningsih sambil membusungkan dada yang sedang diremas Benny, agar Aningsih lebih dapat meresapkan rasa geli-geli nikmat itu.</p>
<p>Benny memang pintar menaikkan rangsang perempuan sedikit demi sedikit. Bukan hanya tangannya saja yang pintar bermain. Tetapi juga hidung dan mulutnya. Hidungnya menciumi permukaan payudara yang padat dan montok itu. Tidak terlalu besar dan juga tidak kecil. Bentuknya sangat indah. Membuat gemas. Cara Benny menciumi sepasang payudara itupun bervariasi. Sebentar keras dan sebentar lembut. Dan darah yang mengalir di tubuh Aningsih semakin deras saja!</p>
<p>“Ben !! Kamu sering main perempuan!” tanya Aningsih ditengah-tengah napasnya yang terengah.</p>
<p>“Tidak sering, Mbak. Baru beberapa kali saja.” ujar Benny sambil membuka mulutnya dan memasukkan puting buah dada yang merah kecoklatan itu.</p>
<p>“Auww . . . !!” Aningsih menjerit lirih. Dan perempuan itu menggelinjang-gelinjang, bilamana puting buah dadanya dikulum oleh Benny. Dan untuk kesekian kali, Aningsih harus mengakui, bahwa kuluman bibir Benny sangat berbeda dengan kuluman bibir lelaki-lelaki lainnya. “Hsssh, akh! Terus, Bennnn! Terussss, sayangghhh . . . !! Hmmmhhh . . . !!” dua telapak tangan Aningsih mengerumasi rambut Benny sambil menekankan.</p>
<p>Benny semakin terangsang. Sungguh nikmat puting buah dada itu. Dikulum oleh Benny. Dilepaskan. Dikulum. Dilepaskan lagi. Berganti-ganti kanan dan kiri. Dikulum lagi, dilepaskan lagi. Berulang-ulang dengan tak bosan-bosannya. Dan puting itu semakin tegang lagi. Benny melakukannya bervariasi. Sebentar lembut dan sebentar keras. Dan rasa geli bercampur kenikmatan semakin terasa. “Oukh, Benny! Teruskan, sayanghhh . . . !! Sssh ennnak, Bennnn!!!” mulut Aningsih mendecap-decap seperti orang kepedasan. Tersendat-sendat. Dan buah dada Aningsih semakin keras, pertanda perempuan itu kian terangsang. Lebih-lebih bilamana Benny menggeser-geserkan di antara gigigiginya. Nikmat! Dan napas Aningsih turun naik. “Bennyy!! Keras, dikit! Ya, ya. gitu. Aukh, Bennnn! Kok enakkkh, sihhhh !” dan Aningsih merintih-rintih.</p>
<p>Benny semakin bersemangat. Digigit-gigitnya pentil susu yang kenyal itu. Dihisapnya. Lalu dijilatinya dengan bernafsu. Sebentar ditinggalkannya, puting itu. Lalu Benny mengecupi buah dada ranum itu bertubi-tubi. Lalu kembali ke pentil susu .yang siap menanti. Dibisapnya lagi. Digigitinya. Dikulum-kulumnya Lalu dilepaskannya lagi. Sementara tangan Aningsih tak menentu mengerumasi rambut Benny yang tebal, sehingga rambut lelaki itu menjadi acak-acakan.</p>
<p>Lama Benny mencumbu sepasang susu yang indah menggiurkan itu. Demikian pula dengan ketiak perempuan itu. Benny tak mau membiarkan menganggur. Ketiak Aningsih berbulu lebat. Sesuai dengan selera Benny. Benny memang paling senang dengan perempuan-perempuan yang cantik yang ketiaknya berbulu lebat. Sesuai dengan pengalaman Benny, biasanya perempuan-perempuan itu bertemperamen panas.</p>
<p>Benny menciumi ketiak perempuan itu, lalu menurun sampai ke pinggang sebelah kiri. Naik lagi ke ketiaknya, menurun lagi sampai ke pinggangnya. Demikian berulang-ulang. Benyy juga menggunakan ujung lidahnya untuk menjilatjilat sambil menggigiti keras dan lembut. “Uukh, Bennnn! Kami sungguh pintar membahagiakan perempuan . . . !!!” bisik Aningsih terputus-putus.</p>
<p>Benny bukan hanya sekali ini mendengar ucapan seperti itu. Ketika mencumbu ibu kostnya, Tante Dewi, Benny juga menerima ucapan-ucapan seperti itu. Di samping itu, Tante Dewi juga mengatakan, bahwa seumur hidupnya, dia takkan mampu melupakan Benny.</p>
<p>Permainan lidah Benny terus dengan gencar menyerang tempat-tempat di tubuh Aningsih yang sensitip. Dijilatinya perut Aningsih yang licin dan langsing. Pusarnya menjadi sasaran ciuman-ciuman Benny berulang-ulang. Sambil berbuat demikian, tangan Benny membelai-belai kedua paha Aningsih yang masih terkatup.</p>
<p>Aningsih sudah gemetar tubuhnya. Panas dingin. Ketika Aningsih menengok ke bawah, pandangannya beradu pada sesuatu di antara kedua paha Benny. Aningsih menelan ludah. Benda itu sejak tadi menggodanya. Aningsih menurunkan tangannya. Digenggamnya batang zakar Benny yang aduhai. Benny yang sedang menciumi sedikit di bagian bawah pusar Aningsih tertahan-tahan napasnya. “Oukh. Mbak . . . !” katanya. Aningsih merasakan benda yang digenggamnya, yang baru separuh tegang, hangat dan besar. Senang sekali menggenggam seperti itu. Sementara itu. tangan Benny masih juga terus meraba-raba Aningsih berganti-ganti.</p>
<p>“Sabar, Mbak!” bisik Benny. “Nanti Mbak boleh berbuat apa saja terhadap punyaku. Tetapi sekarang, aku sedang ingin mencumbu tubuh Mbak. Seluruh tubuh Mbak! Kurang leluasa kalau Mbak menggengam punyaku begini!”</p>
<p>Apa boleh buat. Meskipun Aningsih masih ingin menggenggam batang zakar yang luar biasa itu, terpaksa dilepaskan. Maka kini dengan leluasa melakukan aktifitasnya.</p>
<p>Dan . . . hhmmmh! Benny menahan napas bilamana pandangannya ditujukan ke selangkangan Aningsih. Bagian itu gompyok ditutupi rambut yang tebal keriting. Hmmh! Rambut kemaluan Aningsih bukan main lebat dan ikal. Menghitam! Kata orang, semakin tebal rambut kemaluan perempuan akan semakin enak kalau digituin. Dan sekarang, secara jujur, Benny harus mengakui, bahwa dia belum pernah mendapatkan perempuan yang rambut kemaluannya setebal dan selebat Aningsih. Benny menelan ludah. Jika menuruti nafsunya, tentu saja seketika itu juga Benny akan membenamkan batang kemaluannya yang sudah kian tegang, ke belahan daging hangat di balik rimbunan hutan lebat itu. Tetapi Benny bukanlah type lelaki yang serba grasa-grusu. Dia tidak akan menggituin pereinpuan, sebelum lebih dulu memberikan kesan yang sangat mendalam. “Oukh, Ben!” Aningsih menepuk pipi Benny lembut. “Kau kok jadi berobah seperti patung! Apa aku ini aneh bagimu!”</p>
<p>Benny menelan ludah sambil tersenyum. “Bukannya aneh, Mbak. Tetapi anumu, nih . . . !” ujar Benny sambil membelai rambut kemaluan Aningsih. “Rambut kemaluan ini indah dan menawan sekali. Baru rambutnya saja sudah begini menggiurkan, apalagi kemaluanmu. Tentunya enak sekali. Hmmh!”</p>
<p>Aningsih tertawa kecil. “Kau senang sekali pada rambut kemaluanku. Ben?!” tanya Aningsih sambil menggosok-gosok bulu-bulu rambut di dada Benny.</p>
<p>“Senang sekali, Mbak. Senang sekali,” Benny masih terus dengan mesra membelai-belai rambut kemaluan yang indah itu.</p>
<p>“Kamu sering mengerjai perempuan yang rambut kemaluannya setebal punyaku!”</p>
<p>“Belum, Mbak. Baru sekali ini. Bahkan aku pernah menccipi punya perempuan yang botak!” ujar Benny.</p>
<p>Aningsih tertawa kecil lagi sambil mengerumasi ramhut Benny. “Nah, terserah kaulah. Perbuatlah apa saja yang kau sukai pada punyaku!”</p>
<p>Walaupun tanpa diperintah seperti itu, tentu saja Benny akan berbuat sesukanya terhadap kemaluan Aningsih yang kini sudah terpampang di hadapannya. Benny menggerai-geraikan rambut kemaluan yang tebal, panjang dan keriting itu. Lalu ditekan-tekannya. Lalu diciuminya. Kadang-kadang ditarik-tariknya. Aningsih merasakan kemesraan amat sangat. Secara naluriah, pahanya mulai membuka sedikit demi sedikit. Jari-jari tangan Benny bermain-main di pebukitan itu. Hmmh, mesranya! Selangit!</p>
<p>“Bennn !!” Aningsih merintih.</p>
<p>Benny menguakkan bibir-bibir kemaluan Aningsih. Hmm, tampak bagian dalamnya yang kemerahan. Sangat indah menawan. Benny menelan ludah. Beginilah kiranya kemaluan perempuan. Dengan mesranya, Benny meraba-raba vagina yang indah itu. Merah dan licin. Pada bagian atas, pada pertemuan antara dua bibir, tampak sekerat daging kecil. Nyempil sendirian. Tidak berteman. Sungguh kasihan. Benny memandangi sepuas-sepuasnya panorama indah mengesankan itu. Ningsih memijit hidung Benny agak kuat. “Oukh, Ben! Mengapa cuma melihati saja?! Memangnya punyaku barang tontonan!”</p>
<p>Benny tersenyum. Tahulah dia, bahwa Aningsih sudah kepingin sekali dikerjai vaginanya. Padahal Benny masih ingin lebih lama memandangi. Vagina Aningsih rasanya lebih indah dari pada vagina-vagina perempuan lain yang pernah disaksikannya. Dengan mesra, jari-jari Benny menyentuhnya. Aningsih tergelinjang. “Wow! Hmmh, Bennnnnnn!! Ss sh, akh!” Aningsih menggeliat. Jari Benny terus juga bermain. Mengutik-utik kelentit yang nyempil aduhai.</p>
<p>Benny menempatkan di antara kedua paha Aningsih yang sudah mengangkang. Liang vagina yang sebaris dengan sibakan bibir inilah yang dapat menjepit dan memberikan kenikmatan kepada zakar. Lagi-lagi tangan Benny menyentuh kelentit yang cuma sekerat itu. Dan lagi-lagi Aningsih bergelinjang. Nikmatnya bukan main. Orang suka bilang, kelentit itu bisa berdiri. Benarkah?! Benny senang sekali dan mengulangi perbuatannya berkali-kali. “Oukh, geli, Ben! Geliiiii! Sssh, akhh . . . !!” Aningsih merintih-rintih.</p>
<p>Tingkah Benny saat itu, bagaikan kanak-kanak yang memperoleh permainan yang mengasyikan. Permainan yang tidak ada dijual di toko. Semakin giat Benny menyentuhi sekerat daging kecil itu. Aningsih mengerumasi rambut Benny.</p>
<p>Tidak puas dengan hanya menyentuh dengan tangan saja, bibir-bibir kemaluan yang ditumbuhi rambut itu, dikuakkan oleh Benny semakin lebar lagi. Kedua kaki Aningsih kini telah niengangkang selebar-lebarnya, menekuk ke atas. Sekarang, bagian dalam kemaluan itu telah terpampang selebar-lebarnya. Terbebas sama sekali. Sedetik kemudian, Aningsih terpekik: “Awww . . . !” Tubuhnya tersentak ke atas. Rupanya Benny telah membenamkan hidungnya ke dalam belahan daging yang aduhai itu. “Bennn . . . !! Uf ! Ssssh ennnakhhh, Bennn!!” Aningsih merintih-rintih sambil menekankan belakang kepala Benny dengan kedua tangnnya. Maka hidung Benny mulal menggusur ke sana-ke mari. Seperti akan membongkar seluruh bagian vagina Aningsih. Kaki Aningsih menendang-nendang ke atas, merasakan kenikmatan tidak bertara. Benny terus dengan giatnya menciumi. Vagina Aningsih menyebarkan aroma yang segar merangsang!</p>
<p>“Oukh, Bennn! Enak . . . enak . . . enak, sayangghhhh! Teruskan, Ben! Ayo, lebih cepat .dikit. Hmmmh Bennnn! Terus, sayang. Terus, terus, akhhhh !!”</p>
<p>“Aku juga, Mbak! Aku . . . aku . . . juga enak,” bisik Benny sambil juga menggunakan. lidahnya, menjilat dan menjilat.</p>
<p>Mata Aningsih merem melek. Kepalanya terlempar ke sana-ke mari. Lehernya menggeleyong-geleyong. “Bennn! Kamu senang menciumi punyakuuuu . . . ?!! Shhh . . . !!!” tersendat-sendat suara Aningsih.</p>
<p>“Senang sekali, Mbak! Punyaku jadi semakin tegang, nih!” kata Benny tersendat-sendat pula. Dan lidah Benny terus juga menjilat dan menjilat. Menyapu-nyapu kelentit Aningsih. Benar saja! Kelentit itu semakin tegak, menandakan Aningsih telah terbakar oleh nafsu birahi. Kedua kaki Aningsih terus menyentak-nyentak ke atas. Pantatnya diangkat dan digoyang-goyang. Oukh, sungguh, permainan yang mengasyikkan.</p>
<p>Benny benar-benar menyukai menciumi dan menjilati vagina Aningsih yang harum itu. Sama sekali tidak jijik. Justru sebaliknya. Ketagihan. Benny semakin rakus dan semakin rakus.</p>
<p>“Bennn!!! Hhhssshh. Hmmm . . . hmmmhhh!” suara Aningsih menggeletar. Badannya nienggeliat-geliat tak menentu. Tubuhnya menggelepar-gelepar, bilamana ujung lidah Benny mengait-ngait dan menusuk-nusuk liang vagina Aningsih yang terasa liat. Sentuhan-sentuhan lembut vagina yang berdenyut-denyut itu kian membakar nafsu birahi. Dan tiba-tiba Aningsih mengejang. “Bennn . . . !! Sssh ! Akkkhhhuuu tak kuaattsss, sayaugghh . . . !!” Aningsih merentak-rentak.</p>
<p>“Ayoh, Mbak! Keluarkan! Aku sudah siap menerima!” ujar Benny yang terus juga dengan bersemangat menusuknusuk vagina Aningsih dengan ujung lidahnya.</p>
<p>“Iyyaa, Bennnn! Akhhhu shhi . . . aukhh! Bennn! Ennnakkhhhh, meronta-ronta bagaikan kesetanan. Berbarengan dengan jeritannya yang menyayat, Aningsih mengangkat pantatnya tinggi-tinggi dan menekankan belakang kepala Benny sekuat-kuatnya, sehingga tanpa ampun separuh wajah Benny membenam sedalam-dalam ke bagian dalam kemaluan Aningsih. Bertepatan dengan itu pula, menyemprotlah cairan hangat dan licin. Kental. Menyiram lidah Benny yang terus menusuk-nusuk lobang vagina Aningsih.</p>
<p>Benny yang memang sudah siap menerima, bagaikan kesetanan, menghirup habis cairan yang banyak sekali itu. Terus dijilat dan disapu bersih, masuk ke kerongkongannya. Sudah tentu Aningsih semakin berkelojotan, dikarenakan rasa nikmat yang luar biasa sekali. Sampai akhirnya tetes cairan yang terakhir. Tubuh perempuan itu melemas. Sedangkan Benny sendiri, merasakan pula nikmat luar biasa ketika mereguk cairan licin itu. Cairan kenikmatan Aningsih gurih sekali, lebih gurih dari pada segala yang paling gurih di dunia ini !</p>
<p>Benny tertunduk sambil menjilati sisa-sisa cipratan cairan Aningsih yang melekati pinggiran bibirnya. Aningsih melompat dan memeluk Benny kuat-kuat. “Oukh, Bennn! Terima kasih, sayangl Kau hebat! Jantan! Kau mampu membuat perempuan bahagia!” dan Aningsih menciumi bibir Benny bertubu-tubi.</p>
<p>“Aku sampai kenyang menelan cairanmu. Banyak dan kental sekali! “ujar Benny.</p>
<p>“Kau tidak jijik, Ben ?!”</p>
<p>“Sama sekali tidak. Malah aku ketagihan. Kalau masih ada, aku masih mau meneguknya lagi!”</p>
<p>Aningsih tambah gembira. Menciumi lagi bibir Benny bertubi-tubi. Kemudian didorongnya tubuh lelaki muda itu sehingga tergelimpang di atas kasur. “Kau sudah mengerjai punyaku! Sekarang, ganti aku yang mengerjai punyamu!” ujar Aningsih yang segera menyergap selangkangan Benny.</p>
<p>“Auwww . . . !” Benny menjerit kaget.</p>
<p>Namun Aningsih tidak menghiraukan. Batang bazoka Benny yang sudah benar-benar tegak mengacung, sejak tadi sangat menggoda. Aningsih sudah ingin sekali menciumi dan mengemoti. Dan sekarang, keinginan itupun kesampaian.</p>
<p>Dengan mesranya Aningsih membelai-belai batang kemaluan itu yang bukan main luar biasa besar dan panjangnya. Demikian pula dengan kepalanya yang berkilat dan membengkak. “Oukh, punyamu hebat sekali, Ben! besar dan panjang. Hmmhh . . . !!!” Aningsih terus juga membelai sambil sesekali menggenggam. Mulai dari pangkalnya yang dipenuhi rambut lebat sampai ke ujungnya yang berkilat dan membengkak, berbentuk topi baja.</p>
<p>“Kamu suka pada punyaku, Mbak?!” tanya Benny sambil membiarkan Aningsih mengeser-geserkan zakarnya yang hebat itu ke pipi dan matanya.</p>
<p>“Suka sekali, Ben! Tetapi ugh! Punyamu besar banget. Bengkak! Aku jadi negeri!”</p>
<p>“Ngeri kenapa?!”</p>
<p>“Ngeri kalau-kalau vaginaku sobek dan rusak!”</p>
<p>Beny teatawa kecil. “Kau ini ada-ada saja. Kan semakin besar semakin enak!”</p>
<p>“Iya! Tetapi punyamu ini besarnya nggak ketulungan!” ujar Aningsih.</p>
<p>Benny tertawa lagi. Batang zakarnya berkejat-kejat digenggaman Aningsih. “Aku belum pernah merasakan batang zakar yang besar dan panjangnya kayak punyamu ini,” ujar Aningsih lagi.</p>
<p>Benny merasakan geli dan nikmat bukan main ketika Aningsih menciumi zakarnya yang semakin membengkak. Rasa geli yang nikmat dirasakan Benny. Tubuh lelaki itu kejang. Matanya membeliak-beliak. “Hmmh, Mbak! Sssh . . . !” mulutnya mulai merintih-rintih.</p>
<p>Sambil menciumi, Aningsih memijit-mijit batang bazoka yang keras bagaikan tonggak itu. Menjadikan Aningsih gemes. Ujung lidah menciumi benda aduhai itu. Benda yang dapat memberikan kenikniatan luar biasa kepada wanita. “Ben! Perempuan-perempuan yang sudah kau kerjai, pasti pada ketagihan!” ujar Aningsih.</p>
<p>Benny tidak menjawab. Dia mendacap-decap bagaikan orang kepedasan. Tengah meresapkan kenikmatan yang luaz biasa. Lezat!</p>
<p>Alat vital dalam genggaman Aningsih itu semakin membengkak dan semakin memanjang lagi. Aningsih yang gemas bukan main, semakin tak tahan. Segera dia menempatkan dirinya sebaik-baiknya diantara kedua kaki Benny yang tertekuk. Kedua paha Benny terlentang selebar-lebarnya, sehingga tangan kanan Aningsih menggenggam alat vital yang kencang itu, tangan kirinya memhelal-belai rambut kemaluan Benny yang tebal dan ikal, tumhuh sanipai ke pusar. Merinding bulu-bulu roma Aningsih bilamana dia menciumi seluruh batang dan kepala kemaluan yang luar biasa itu. Bukan main. jari jari Aningsih hampir tidak muat menggenggam alat vital yang luar biasa itu. Memang inilah yang sangat disukai Aningsih. Dulu, dia pernah mendapatkan lelaki yang juga memiliki bazoka besar. Dan sejak itu, Ningsih sangat merindukannya. Dan baru sekarang, dia memperolehnya kembali setelah bertahun-tahun berselang. Aningsih yang semakin gemas segera menjulurkan lidahnya, menjilat batang kemaluan itu. Lalu dingangakannya mulutnya dan dimasukkannya bazoka luar biasa itu. Keruan saja Benny nienggelinjang kaget namun nikmat. “Ouw, Mbak! Hmmh . . . enak sekali, Mbak!” Benny merintih. Kedua kakinya terangkat naik dan menyepak-neyepak ke atas.</p>
<p>Mendengar rintihan Benny, Aningsih jadi semakin bersemangat. Kepala bazoka yang berbentuk topi baja itu dikulumnya. Digigitnya. Tingkah Aningsih tidak ubahnya, bagaikan seseorang yang mendapat makanan lezat. Nikmat sekali. Sampai matanya terpejam-pejani. Air liurnya menetes-netes. Kepala yang berbentuk topi baja itu sangat hangat dan. kenyal. Demikian pula halnya dengan Benny. Kunyahan-kunyahan mulut Aningsih dirasakannya sangat nikmat dan merangsang nafsu birahinya. Benny merintih-rintih. Kedua kakinya semakin menyepak. Matanya mebeliak-beliak, sehingga hanya putihnya saja yang tampak. Aningsih kian bersemangat. Sekarang, bukan hanya kepalanya saja yang dikulum dan digigiti Aningsih, tetapi seluruh batang kemaluan yang perkasa itu. Semntara itu, kedua telapak tangan Aningsih tidak tinggal diam. Sementara mulutnya mengulum, tangannya menarik-narik rambut kemaluan Benny yang luar biasa lebarnya. Dan tangan yang satu lagi mempermainkan sepasang biji milik Benny.</p>
<p>“Enak, Ben . . . ?!” tanya Aningsih ditengah-tengah kesibukannya.</p>
<p>“Enak sekali Mbak. Ennaaakkkh !!!” Benny berusaha menyahuti tersendat-sendat. Kedua tangannya.</p>
<p>Aningsih terus juga melalap senjata yang luar biasa itu. Demikianlah secara beraturan, kepala dan batang zakar Benny keluar masuk mulut Aningsih. Pada waktu masuk, mulut Aningsih sampai kempot. Sedangkan pada waktu keluar sampai monyong. Semakin lama semakin cepat. Tubuh Benny gemetar. Jemarinya mencengkeram rambut Aningsih kuat-kuat. Rintihan . . . rintihannya semakin menghebat, sementara Aningsih kian gencar menyerbu menggebu-gebu. Akhirnya, Benny menjerit histeris. Pantatnya diangkatnya tinggi-tuiggi, sedangkan kedua telapak tangannya menekan belakang kepala Aningsih kuat-kuat. Dan batang serta kepala kemaluan Benny pun membenam sedalam-dalamnya, merojok sampai ke tenggorokan Aningsih. Dengan bersemangat sekali, tangan Aningsih mengocok pangkal kemaluan Benny dengan cepat dan mesra. Dan tanpa ampun lagi : “Crroott! Crrrroooottss! Crrottttsssss . . . !!!” menyemprotlah cairan kental dari dalam batang kemaluan yang berdenyut-denyut dengan dahsyatnya. Daya semprotnya luar biasa sekali. Tubuh Benny menggigil. Aningsih tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dengan nikmat sekali disedotnya batang kemaluan Benny. Maka tanpa ampun, bergumpal-gumpal cairan kenil:matan Benny, tertumpah semuanya ke dalam mulut dan tenggorokan Aningsih. Mata Aningsih sampai terpejam-pejam, menelan seluruhnya sampai tetes terakhir. Benny setengah mengeluh memejamkan matanya. Tubuhnya lemas tidak bertenaga. “Oukh, Mbak. Kau sungguh hebat!” bisiknya.</p>
<p>Aningsih tertawa sambil menyeka mulutnya yang sebagian masih dibasahi sisa-sisa cairan kental. “Bagaimana, Ben?! Enak?!” tanya Aningsih.</p>
<p>Benny menarik lengan Aningsih, sehingga perempuan itu jatuh ke dalam dekapannya. “Enak sekali, Mbak. Oukh, enak sekali! Kaupun mampu membahagiakan lelaki!” ujar Benny.</p>
<p>Aningsih tersenyum mendengar pujian Benny, “Aku haus, Ben. Tolong ambilkan aku minum di meja itu, dong!” ujar Aningsih.</p>
<p>Benny melompat turun dari tempat tidur, menuangkan Fanta merah dari botol besar ke gelas sampai penuh. Kemudian memberikannya pada Aningsih. Aningsih meneguknya dengan lahap. Haus sekali rupanya. Sampai habis tiga perempat gelas. Kemudian Benny menuangkan lagi ke gelas sampai penuh, kemudian meneguknya sampai habis.</p>
<p>“Benny . . . !” mata Aningsih berkejap-kejap. Punyaku sudah ingin sekali dimasuki punyamu.” Dan Aningsih melirik ke selangkangan Benny. Senjatanya masih tegang mengacung.</p>
<p>“Kita istirahat dulu sebentar ya, sayang!” bisik Benny sambil membelai rambut Aningsih.<br />
T I G A</p>
<p>HANYA SEPULUH menit mereka membutuhkan waktu istirahat. Benny naik ke atas tubuh Aningsih yang sudah siap menanti. Kedua susunya menyembul putih bagaikan salju. Benar-benar menantang. Pinggangnya ramping dan pinggulnya mekar dan indah. Benny menciumi bahu dan payudara Aningsih, sementara bazokanya yang sudah benar-benar tegang menggeser-geser di paha Aningsih.</p>
<p>Aningsih menggenggam batang bazoka Benny yang sangat kekar. Sambil membalas ciuman-ciuman Benny yang bertubi-tubi dibimbing dan kemudian ditempatkannya kepala kemaluan Benny yang sudah membengkak tepat di ambang gua vaginanya. Sementara itu, kedua paha Aningsih sudah direntangkannya selebar-lebarnya. “Benn . . . !! Pelan-pelannn, sayanghhh!!” bisik Aningsih gemetar. “Kepunyaanmu besar sekali!”</p>
<p>Benny mengangguk. Dirasakannya kehangatan menyengat pada kepala zakarnya. “Ayoh, Benn! Tekan, sayangghh!! Sssshh . . . pelan-pelllaann !!” Aningsih memejamkan matanya.</p>
<p>Benny mendorong pantatnya. Dan kepala zakarnya pun melesak, dan: “Auww . . . !!!” Aningsih menjerit tertahan. “Bennnnnn!! Sssaakkhittsss!” dan tubuh Aningsih mengejang, bergetar menahan rasa perih.</p>
<p>Benny mengerti. Dia tidak main asal tabrak saja. Dinantikannya sampai rasa sakit Aningsih. Benny merasakan lobang vagina Aningsih menjepit keras, mencekik leher zakarnya. Adduuuhhh! Bukan main nikmatnya!</p>
<p>“Ayoh, Ben! Tekan lagi!” bisik Ningsih setelah rasa sakit itu hilang.</p>
<p>Benny menekan lagi. Dan srrrt! Dan batang zakar Benny yang luar biasa besarnya itu melesak lagi sampai sepertiga. Dan sebagaimana yang pertama, Aningsih tersentak sambil menjerit: “Addduuhhh! Bennn! Ssssaakkhittss ”</p>
<p>“Tahankan, sayang!” bisik Benny sambil tersenyum dan bertulang mengecupi mata Aningsih yang berlinang. “Nanti kau akan merasakan nikmat yang luar biasa!”</p>
<p>Benny membiarkan zakarnya membenam sampai sepertiga, kemudian ditariknya perlahan-lahan sampai sebatas leher kemaluannya. Lalu ditekannya kembali pantatnya. Dan batang bazoka yang luar biasa itupun menggelosor masuk. Lagi-lagi Aningsih merasakan kemaluan Benny bagaikan membongkar seluruh lorong vaginanya. Aningsih menggigit bibirnya sendiri, menahan rasa sakit dan linu. Namun lama kelamaan, rasa sakit dan linu itu semakin berkurang dan semakin berkurang lagi. Sebagai gantinya, zakar Benny keluar masuk mulai mendatangkan rasa nikmat luar biasa. Keluar-masuk. Keluar masuk! Demikian berulang-ulang. Bless! Slessep! Bless! Slessep! Bagaikan kereta api yang sedang langsir. Tetapi terbatas hanya sampai separuh saja. Pada waktu didorong masuk, vagina Aningsih sampai kempot. Dan pada waktu ditarik, sampai monyong . . . Hmmm! Kepunyaanmu enak sekali, sayang. Sempit sekali. Rasanya hampir lecet kepunyaanku,” kata Benny.</p>
<p>“Kepunyaanmu terlalu besar, Ben,” ujar Aningsih sambil menggoyang-goyangkan pantatnya. Hal mana semakin mendatangkan nikmat bagi Benny. Demikian pula bagi Aningsih. Pinggulnya yang besar dan montok itu melakukan gerakan memutar, seirama dengan keluar-masuknya batang zakar Benntu. “Bagaimana, sayang?! Masih sakit?!” tanya Benny sambil mengecupi belakang telinga Aningsih. Aningsih menggelinjang-gelinjang geli.</p>
<p>“Kemaluanmu enak sekali, sayang! Betul-betul lezat.” bisik Aningsih.</p>
<p>“Nah, apa kataku tadi. Rasa sakitmu cuma sebentar, kan?!” ujar Benny. “Kemaluanmu juga enak, Mbak. Enak sekali!”</p>
<p>“Bennn . . . !!” Ujar Aningsih yang tersenyum bangga, menerima pujian Benny.</p>
<p>“Ada apa?!” tanya Beatty.</p>
<p>“Apakah kepunyaankn betul-betul enak?!”</p>
<p>“Enak sekali, sayang. Kepala zakarku bagaikan dipijit dan disedot-sedot. Pokoknya lezaaatttss . . . !!” Benny meliuk-liuk ke sana-ke mari. Tenutunya diapun sedang merasakan kenikmatan yang luar biasa sebagai akibat pijitan-pijitan dinding-dinding lorong kemaluan Aningsih yang bagaikan hidup. Sementara itu, cairan lendir semakin membajiri lorong kemaluanku. Semakin licin dan basah.</p>
<p>“Nah. manisku! Lorongmu semakin lancar sekarang,” bisik Benny dengan mesranya. “Bagaimana kalau kubenamkan seluruh batang zakarku?!”</p>
<p>“Ayoh, sayang! Aku sudah siap,” kata Aningsih sambil mengangkangkan kedua pahanya lebih lebar.</p>
<p>Dan Benny pun mendorong pantatnya sehingga kemaluannya lebih dalam membenam ke dalam lobang vagina Aningsih. Blesss! Wow!, Aningsih bagaikan melayang ke langit ketujuh. Terasa benar bagaimana menggelosornya benda itu. Nikmat sekali. Tetapi Aningsih jadi agak kecewa ketika Benny menghentikan dorongannya. Batang kemaluannya yang kukuh bagaikan tonggak itu belum seluruhnya masuk. Aningsih jadi penasaran dan mengangkat pantatnya tinggi-tinggi. “Masukkan semua, Ben! Sanwa! Jangan disisakan laghhiiiii! Masukkan, dorongghh . . . .!!” kaki Aningsih menjepit pinggang Benny. Dan tangannya, berusaha mendorong pantat Benny ke bawah. Benny mengerti, Aningsih sudah histeris. Sudah ingin menikmati seluruh batang kemaluannya tanpa sisa lagi. Tetapi bukannya mendorong, Benny malah mengangkat pantatnya. Dan kemaluannya menggelosor ke luar. Aningsih jadi penasaran. Diangkatnya pantatnya setinggi-tingginya. Bertepatan dengan itu, Benny mengayunkan pantatnya kuat-kuat. Dan . . . blashhh!! Tanpa ampun, seluruh batang kemaluannya yang kokoh, indah . . . dan perkasa itu menghunjam dan membenam sedalam-dalamnya ke liang kemaluan Aningsih. Aningsih menjerit sekuat-kuatnya. Tubuhnya meronta-ronta ke sana-ke mari, bagaikan sapi disembelih. Dan, “Crot! Crrrt! Crrrotttss . . . !!” semua cairan mani yang tersimpan di dalam kandungannya, menyemprot seketika. Banyak sekali. Membanjiri seluruh lobang gua Aningsih. Suatu kenikmatan luar biasa yang sebelumnya belum pernah dirasakan oleh Aningsih. Dan bersamaan dengan jeritan Aningsih, Benny pun mengeram kuat. sambil merangkul tubuh Aningsih kuat-kuat. Aningsih merasakan tubuhnya bagaikan remuk. Hmmmh!” Akh. Mbak! Hmmm! Akkkkhhhuuu keluarrr, sssh! Mbaaakkk . . . sssh, ennnnaakhh!!” Benny meracau sambil meronta-ronta. Matanya membeliak-beliak ke atas, sementara kepalanya terlontar ke sana-ke mari. Dan bersamaan dengan itu, Aningsih merasakan batang zakar Benny berdenyut-denyut keras dan memuntahkan lahar panas. Berkali-kali terasa semprotansemprotan itu. Maka lobang kemaluanku pun semakin membanjir.</p>
<p>Setelah beberapa detik lamanya merasakan dirinya terlontar ke angkasa, Benny merasakan dirinya lemas. Dan tergulirlah dari atas tubuh Aningsih. Keduanya merasakan kepuasan amat sangat. Aningsih memijit hidung Benny. “Luar biasa sekali,” ujar Aningsih. “Kaulah satu-satunya lelaki yang berhasil memuaskanku, Ben!Sungguh!”</p>
<p>“Aku juga begitu, Mbak. Baru kaulah yang benar-benar memuaskan diriku!” balas Benny. Lalu keduanya berkecupan dengan mesranya.</p>
<p>Apa yang dikatakan Aningsih memang benar. Dia sudah berpengalaman dengan lelaki. Namun baru kali inilah mendapatkan kepuasan yang benar-benar aduhai.</p>
<p>Tidak hanya sekali saja mereka lakukan kemesraan itu. Namun berkali-kali. Dan berbagai pose pula. Model nungging, model berdiri. Model diganjal bantal. Semuanya memuaskan! Aningsih merasakan kebahagiaan amat sangat. Demikian pula halnya dengan Benny. “Aku semakin mencintaimu, Mbak!” bisiknya.</p>
<p>Aningsih menggeleng-gelengkan kepala. “Kau belum tahu siapa diriku sebenarnya, Ben!” ujarnya Aningsih.</p>
<p>“Siapapun dirimu, aku tetap mencintaimu, Mbak!” ujar Benny lagi.</p>
<p>“Aku tidak peduli. Cinta tidak memandang umur. Pokoknya aku mencintaimu, Mbak. Dan aku ingin memilikimu!”</p>
<p>Aningsih memijit hidung Benny dengan mesra. “Ih, dasar bandel!” ujar Aningsih. “Kalau saja kau tahu siapa diriku, pasti kau akan membenciku!”</p>
<p>“”Tidak, Mbak. Sungguh! Dengarlah. Diriku sendiripun sudah pantas untuk menikah. Usiaku sudah dua puluh empat tahun. Aku sudah bekerja. Gajiku cukup untuk hidup kita berdua. Di samping itu, orang tua aku di kampung sudah sangat mengharapkan punya cucu dariku. Nah, apa lagi, Mbak?! Apalagi?!”</p>
<p>“Kau ini nggak sabaran sekali, Ben! Kita baru berkenalan, sudah mengajak kawin. Kau harus tahu, perkawinan itu bukan sekedar barang permainann. Harus benar-benar melalui pertimbangan yang masak. Kita harus berpikir, apakah kita sudah benar-benar cocok. Kau belum tahu sifat-sifatku dan akupun belum tahu sifat-sitatmu. Tunggulah sampat tiba saatnya kita sudah benar-benar siap untuk menikah!</p>
<p>Benny tidak menjawab. Hanya merenung.</p>
<p>“Deagarlah, Ben!” ujar Aningsih sainbil mempermainkan bulu-bulu dada Benny. “Dan pikirkanlah. Aku ini janda. Bercerai dua tahun yang lalu karena tidak ada kecocokan. Untung saja akn belumpunya anak. Nah, aku tidak ingin jika nanti aku harus menjadi janda untuk kedua kalinya. Aku harus berhati-hati!”</p>
<p>“Baiklah, Mbak. Aku . . . aku . . . akan memikirkannya! Akn . . . aku akaa bersabar menunggu,” jawab Benay.</p>
<p>JAM SATU lewat tengah malam, Benny meninggalkan rumah Aningsih. Sebenarnya berat sekali harus berpisah. Namun Benny ingat, besok dia harus ngantor. Sedangkan dia tidak membawa pakaian ganti. Sampai di rumah kostnya, Taate Dewi sendiri yang membukakan pintu. “Kau dari mana, Ben?! Kok sampai malam sekali pulangnya,” kata Tante Dewi yang heran atas tingkah Beany. Tidak biasanya Benny pulang di malam selarut ini. Paling malam, jam sebelas. Benny termasuk kategori orang yang lebih suka tinggal di rumah daripada kluyuran.</p>
<p>“Ini, Tante. Teman ulang tahun!” ujar Benny seenaknya, sambil terus mendorong motornya ke belakang.</p>
<p>Tante Dewi menguncikan kembali pintu, kemudian mengikuti langkah-langkah Benny ke kamar. Baru saja Benny melepaskan sepatunya, Dewi telah memeluknya. Benny! Uf!” Tante kangen sekali padamu. Seminggu kita tidak berkencan. Sekarang, Oom sedang ke luar kota. Tadi pagi berangkat!” ujar Dewi sambil mulutnya menghujani bibir Benny bertubi-tubi.</p>
<p>“Uf! Saya letih sekali. Tante. Lain kali saja!” ujar Benny sambil berusaba menghindari ciuman-ciuman Dewi. Tetapi Dewi yang sudah naik spanning, tak mau peduli. Dewi mendorong tubuh Benny, sehingga lelaki itu tergelimpang ke alas tempat tidur. Dengan tergesa, Dewi cepat sekali mcmbukai hemd Benny. Sesaat kemudian, hemd itu telah melayang kc lantai. Menyusul celana panjang, dan celana dalamnya. Kemudian dengan tergesa pula, Dewi melepaskan dasternya sendiri.</p>
<p>Dewi, perempuan yang walaupun telah berusia di atas tiga puluh tahun itu, ternyata memiliki tubuh yang aduhai sempurna. Seperti gadis yang berusia dua puluh tahun saja. Masih sekal dan menggiurkan. Dan Benny yang bertemperamen panas, sekalipun sudah letih sekali, segera naik nafsu birahinya.</p>
<p>“Benny! Tante sudah sangat rindu. Sudah lama mennnggu kesempatan seperti ini. Jangan kecewakan Tante, Ben! Bennnnn!!” ujar Tante Dewi merengek-rengek, seraya menggosok-gosokkan buah dadanya yang sekal padat ke dada Benny yang bidang dan berbulu lebat. Sementara itu, tangan Tante Dewi meluncur ke bawah dan meremas-remas milik Benny yang besarnya lebih besar dari pada pisang ambon. Dalam waktu tidak lama senjata Benny sudah benar-benar tegang. Tegak bagaikan tonggak. Besar dan panjangnya minta ampun. Tante Dewi yang sudah tidak bisa lagi menahan keinginannya, melompat ke atas tubuh Benny, Kedua pahanya mengangkang di atas selangkangan Benny. Digenggamnya senjata yang aduhai itu. Dengan mesranya dibimhingnya menuju lobnag vaginanya yang sudah menganga, siap menanti datangnya sang perkasa. Diletakkannya tepat di mulut gua. Kemudian Tante Dewi menekan pantatnya. Dan: “Ohg . . . !!” kepala kemaluan itu melesak masuk. Blesss! Tante Dewi nyengir-nyengir kuda, menahan rasa sakit dan linu. “Hnmmhh . . . ehg!” Bennypun nyengir, menahan nikmatnya kepala kemaluannya digigit dan dipijit-pijit oleh mulut vagina Tante Dewi yang berkerinyut-kerinyut kencang.</p>
<p>“Oukh, Bennn! Hmmhh . . . ssshhh . . . !!” Tante Dewi gemetar tubuhnya. Tetapi cuma sesaat. Tante Dewi yang sudah terbiasa menikmati kepunyaan Benny segera hilang rasa sakitnya. Dan Tante Dewi menekan lagi. Blassssh! ! !” Oukhhhh, Bennnnnn! Hmhhh . . . enak sekali , sayang hhhhh. Ssssh . . . !!” Mata Tanta Dewi membeliak-beliak. Batang zakar Benny telah amblas seluruhnya ke pangkal-pangkalnya. Tanta Dewi merasakan kenikmatan bukan alang kepalang. Demikian pula halnya Benny. Dinding-dinding vagina Tanta Dewi bagaikan hidup, menekan-nekan batang kemaluan Benny. Nikmaaaaat! Tanta Dewi menarik lagi pantatnya ke atas. Dan . . . uf! Seluruh isi bagian dalam lorong vagina Tanta Dewi bagaikan terbongkar bersamaan dengan menggelosornya zakar Benny. Demikian pula Benny. Lorong vagina Tanta Dewi bagaikan menyedot-nyedot. Benny mendesah-desah. Tante Dewi bagaikan kesetanan, menggoyang-goyangkan pantat dan pinggulnya yang besar, montok dan putih itu. Benny mengangkat pula pantanya, mengimbangi gerakan-gerakan Tante Dewi. Ternyata dengan posisi ini, cukup mendatangkan kenikmatan juga. Tantea Dewi di atas dan Benny di bawah. Sambil terus juga dengan bersemangat menaik turunkan pantatnya. Tanta Dewi menciumi bibir Benny bertubi-tubi. Benny membalas tak kalah semangat.</p>
<p>Lidahnya masuk dan mengait-ngait lidah serta gigi-gigi Tante Dewi yang bersih, putih dan bagus bentuknya. Sementara itu, tangan Benny pun tidak tinggal diam, meremas-remas payudara Tanta Dewi yang kenyal, padat dan besar. Tentu saja dengan remasan-remasan mesra!</p>
<p>Tante Dewi semakin lama semakin kesetanan. Benny pun demikian pu1a. Keduanya merasakan ada sesuatu yang mendesak-desak darl dalam diri mereka. Semakln lama desakan-desakan itu semakin kuat sehingga membuat napas mereka tersendat-sendat. Ibarat orang yang sedang mendaki bukit untuk mencapai puncak. “Ehb, Bennn . . . !!!”</p>
<p>“Hmnmh! Sssh . . . oukh, Tante! Cepat dikit, sayang! Ayoh, Tante!”</p>
<p>“Bennnn! Sash . . . eng! Ennaaaaaakhh, say . . . !!”</p>
<p>“Sssst! Hmmmh . . . !!”</p>
<p>“Bennnn! Akh! Akhhuu mau keluarrrr . . . say!”</p>
<p>“Sayyyaaa jugghaaa, Tan . . . ! Oukh! Ayoh, Tantea! Putar terus! Semangat, Tante! Semangat! Oukh . . . !!”</p>
<p>“Bennnnn !!!” Tante Dewi semakin kesetanan. Tangannya mengerumasi dada Benny, sehingga Benny kesakitan. Namun bercampur enak. Demikian pula dengan tangan Benny. Membantu pantat dan pinggul Tanta Dewi. Disaat menurunkan pantatnya, Benny membantu dengan menekankan pantat Tanta Dewi kuat-kuat ke bawah. Blasssh!! Maka tanpa ampun, amblaslah seluruh zakar Benny ke dalam kemaluan Tante Dewi. Masuk ke pangkal-pangkalnya!</p>
<p>“Bennnnnnn!!” Tante Dewi meronta-ronta di atas tubuh Benny.” Ennnaaakhh, Bennn! Akkhhuuu tak kuatttsss laggghhhi, say!! Akhhu kelluuuuarrr! Ssssh . . . akkkhhhh . . . !!” bersamaan dengan jeritan Tante Dewi, tubuh perempuan itu berkelojotan ke sana-ke mari. Kedua kakinya menyepak-nyepak. Tante Dewi mencapai puncak kenikmatan sempurna, yang tidak pernah diperolehnya dari suaminya yang setengah impotent. Benteng pertahanannya bobol! Bertubi-tubi bagian dalam lobang vaginanya menyemprotkan cairan kental, hangat dan licin.</p>
<p>Secara hampir bersamaan pula Benny pun mengeram keras. Bagaikan harimau lapar, Benny memeluk Tante Dewi kuat-kuat. Dan kemudian dengan sigap, Benny membalikkan tubuhnya, sehingga tubuh Tante Dewi yang berada di bawah. Benny menekan kuat sehingga Tante Dewi gelagapan. Batang zakar Benny berdenyut-denyut keras. Dan cairan kental, hangat dan licin pun bertubi-tubi pula menyembur, membanjiri lorong vagina Tante Dewi yang memang sudah banjir!</p>
<p>Tante Dewl tergelincir dari atas tubuh Benny. Terkulai lemas. “Bennnn! Oukh, aku puasss sekali!” bisik Tante Dewi sambil memeluk Benny dari samping.</p>
<p>Benny tak menjawab. Memandang langit-langit. Batang zakarnya masih tegak. Basah dan licin bekas-bekas cairan kenikmatan mereka berdua. Tante Dewi menciumi Benny bertubi-tubi. Tangannya meluncur ke bawah dan mulai mengurut-urut batang zakar Benny yang kehitaman. Rupanya Tante Dewi termasuk perempuan bertemperamen panas juga. Nafsunya menggebu-gebu. Merupakan pasangan setimpal dengan Benny. Diurut-urut terus oleh Tante Dewi mesra, nafsu Benny bangkit kembali. Napas Benny mulai lain. Tante Dewi senang sekali. Dia melompat dari sikap berbaringnya.</p>
<p>“Ayoh, Bennn! Timpah aku dari belakang!” ujarnya sambil mengambil posisi nungging. Pantatnya yang besar dan montok itu diacu-acukan ke depan. Melihat pemadangan yang sangat merangsang itu, Benny, tak kuat lagi menahan diri. Dia melompat ke belakang pantat Tante Dewi. Dengan bernafsu, Benny meremas-remas dan menggigiti bungkalan pantat Tante Dewi yang bundar dan putih. “Ayoh, Ben! Timpah aku! Hantam, Bennnn! Hantam! Jangan sungkan-sungkan! Lakukan saja sekehendakmu!”</p>
<p>Ditantang seperti itu, tentu saja Benny yang berdarah jantan dan panas, tidak akan mundur. lnilah yang membuat Tante Dewi senang; sekali. Benny benar-benar kuda. Berapa kalipun melakukan sanggama, dia tetap siap. Tidak seperti kebanyakan lelaki-lelaki lain, yang sudah loyo hanya baru sekali atau dua kali bertempur saja.</p>
<p>Benny mengambil posisi di belakang tubuh Tante Dewi yang nungging. Digenggamnya batang zakarnya yang sudah siap tempur. Diselipkan diantara belakang kedua paha Tante Dewi, dan kemudian menerobos bibir-bibir kemaluan Tante Dewi yang mencuat dan sudah terbelah. Dan, “Ehg . . . !!” Tante Dewi menahan napasnya. Kepalanya menyentak ke atas. Walaupun sudah terbiasa, mencicipi kepunyaan Benny, namun pada saat pertama kali kepala kemaluan yang bengkak itu menyelip, selalu Tante Dewi merasa kaget dan sedikit sakit!</p>
<p>“Ayoh, Ben! Aku sudah siap . . . !!” ujar Tante Dewi dengan tubuh sedikit bergetar, menahan berat tubuh Benny yang memeluk pinggangnya dari belakang. Tante Dewi lebih menunggingkan pantatnya, sehingga bukit kemaluannya yang sudah bengkak itu semakin mumbul. “Hantammm, Bennnnn!” ujar Tante Dewi yang seolah-olah komandan memberikan aba-aba pada anak buahnya untuk bertempur.</p>
<p>Benny segera melakukan tugasnya. Mengayun pantatnya. Dan batang zakar yang segede alaihim itupun menggelosor masuk, menerobos belahan daging kemaluan Tante Dewi dari belakang. Tante Dewi meringis-ringis, merasakan nikmat yang tidak bertara. Seluruh urat-urat tubuhnya bagaikan mengembang. “Terus, terus Bennnn! Semuanya, sayangghhh . . . !! Jangan disisakan! Semuanya . . . oukhhhhh!!” Tante Dewi merintih-rintih dengan suara sengau.</p>
<p>Benny merasakan hangat menyengat dan pijitan-pijitan lembut dinding-dinding vagina Tante Dewi membuat nafsunya semakin bergelora. “Oukh, Tante! Enaakhhh banget, khoook?!” Benny menggumam dengan mata merem melek. Pada waktu senjata Benny menggelosor masuk, Tante Dewi mengangkat pantatnya tinggi-tinggi, menyambut terobosan maut yang sangat mesra itu. “Ayoh, Bennnn! Hantammm terus! Yang keras, sayang! Kerassss, Bennnn! Kerasssshhhh . . . !!</p>
<p>“Tante Dewi mcnggoyang-goyangkan dan memutar-mutar pinggul dan pantatnya dengan mesra sekali. Pada waktu Benny menarik senjatanya, Benny agak sedikit menekan pantatnya, sehingga Benny merasakan batang zakarnya yang luar biasa itu bagaikan dipulir-pulir. Oukh, nikmatnya! Bukan main! Inilah yang membuat Benny terkesan oleh Tante Dewi!</p>
<p>Sebagaimana yang pertama, kali inipun keduanya sama-sama menyemprotkan cairan kenikmatan. Banyak sekali. Tante Dewi tersenyum-senyum bahagia. Oukh, Benny benar-benar hebat. Tante Dewi sudah beberapa kali menyeleweng dengan lelaki-lelaki lain, dikarenakan suaminya tidak dapat memberikan kepuasan. Namun diantara lelaki-lelaki itu, hanya Benny yang dapat memberikan kebahagiaan sempurna. Dan sejak Benny kost di rumahnya pada beberapa bulan yang lalu, Tante Dewi tidak pernah main dengan lelaki-lelaki lain.</p>
<p>“Bennnn! Jangan tidur dulu! Aku . . . aku . . . masih kepingin, sayang!” bisik Tante Dewi.</p>
<p>“Ih, Tante kayak kuda betina saja!” kata Benny sambil memijit hidung Tante Dewi.</p>
<p>“Dan kau kuda jantannya!” Tante Dewi tertawa kecil sambil menarik lengan Benny. “Ayoh Ben! Kita bertempur sambil berdiri!”</p>
<p>Demikianlah, sampai pagi, mereka terus bertarung. Entah berapa kali, tak terhitung. Keduanya akhirnya sama-sama menggeros kelelahan setelah matahari terbit. Namun sama-sama puas. Hari itu, Benny tidak ngantor. Tenaganya terkuras habis!<br />
E M P A T</p>
<p>BILAMANA BENNY membuka matanya, ternyata matahari telah naik tinggi. Sinar mataliari yang menerobos dari ventilasi, jatuh tepat ke wajah Benny. Terasa panas. Benny melompat! Bekker di kamarnya telah menunjukkan pukul sebelas. Oukh! Tadi sebelum tidur, tenaganya benar-benar habis. Namun sekarang, Benny kembali segar. Sesegar bunga yang baru mekar. Inilah kelebihan Benny yang sangat disenangi perempuan-perempuan yang haus kasih sayang!</p>
<p>Pada saat sedang duduk di pinggiran tempat tidur, Benny mendengar suara cekikikan perempuan. Benny mengenali salah seorang diantaranya. Suara tawa Tante Dcwi. Tetapi siapa seorang lagi ! Benny bangkit dari duduknya dan ke luar dari kamar.</p>
<p>“Nah, dia sudah bangun . . . ! suara Tante Dewi. “Bennnnn! Kenalkan, nih! Teman Tante, Zus Mia!”</p>
<p>Benny mengulurkan tangannya menyalami Zus Mia. Wah, bukan main. Benny sampai terpana. Cantiknya selangit. Apalagi dengan rambut di potong pendek, model lelaki. Diam-diam Benny berkata dalam hatinya: Bagaimana sih rasanya perempuan seperti Zus Mia. Enak tentunya!</p>
<p>“Maaf, Zus ! Saya mandi dulu,” ujar Benny.</p>
<p>“Silahkan,” jawab Zus Mia.</p>
<p>Setelah Benny berlalu ke kamar mandi, Tante Dewi menjawil Zus Mia seraya katanya: “Kelihatannya Benny naksir kamu, Mia!”</p>
<p>“Kayaknya sih begitu!” balas Mia.</p>
<p>Benny mandi puas-puas. Tubuhnya terasa semakin segar lagi. Bila Benny memasuki kamarnya setelah selesai mandi, Benny terkejut sekali. Tante Dewi dan Zus Mia sudah terlentang di tempat tidurnya dalam keadaan merangsang, tanpa busana! Tetapi hanya sekejap Benny terkesiap. Segera dia melepaskan handuk yang membelit tubuhnya. Benny dalam keadaan telanjang bulat, menyergap Zus Mia yang terlentang di pinggiran tempat tidur. Zus Mia membalas. Agak malu-mau. “Ben!” ujar Tante Dewi. “Aku sering menceritakan tentang dirimu pada Zus Mia. Zus Mia terkesan. Dan ingin pula mencicipi kejantananmu yang perkasa itu!” kata Tante Dewi.</p>
<p>“Betulkah itu, Zus!” tanya Benny.</p>
<p>Zus Mia mengejap-ngejapkan matanya. “Eh . . . tidak ! Eh, iyyaa! Tetapi nggak apa-apa, kan! Kamu bersedia, kan ! Memberikan kebahagian padaku!” ujar Zus Mia agak gagap.</p>
<p>“Tentu saja! Siapapun akan siap memberikan kebahagiaan pada Zus Mia yang cantiknya selangit begini!” kata Benny.</p>
<p>Zus Mia tertawa-tawa kecil ketika Benny mengecupi bibir dan seluruh wajahnya bertubi-tubi. Mendapat giliran pula lehernya yang jenjang merangsang. Lalu pentil-pentil susunya yang tegak merangsang. Uf! Ternyata menggeluti Zus Mia mempunyai keasyikan tersendiri. Buah dadanya lebih besar dan lebih padat pada millk Tante Dewi. Pentil susunyapun lebih besar dan merangsang! Demikian pula bukit kemaluannya. Lebih mumbul. Hanya saja, rambut kemaluannya tidak selebat milik tante Dewi dan Aningsih!</p>
<p>“Bennnnn! Ehg. Aukhhhh . . . !!!” Zus Mia menjerit sejadi-jadinya bilamana kepala zakar Benny yang bengkak dan besar itu menyeruak lobang vagina Zus Mia yang sangat kecil dan sempit. Zus Mia merasakan sakit amat sangat. Ini dimaklumi, karena Zus Mia belum pernah merasakan senjata yang besarnya seperti kemaluan kuda !</p>
<p>“Bennnnnn ! Ssssakkkittthhhsss . . . !!” kata Zus Mia berkelojotan.</p>
<p>“Tahankan, Mia. Tahankan!” ujar Tante Dewi sambil. memegangi keclua kaki Zus Mia. “Nantipun kau akan merasakan enak. Tahankan, sayang !”</p>
<p>Benar saja. Kalau tadi, Zus Mia merasakan sakit luar biasa, lama kelamaan rasa sakit itu hilang, berganti dengan rasa enak luar biasa. Sudah tentu Zus Mia senang sekali, Gerakan-gerakan memutar pantat dan pinggulnya sungguh romantis, seirama dengan ayunan-ayunan pantat Benny yang naik turun dan sesekali melakukan gerakan memutar yang aduhai. “Oukh., Bennnn! Ennnaakhhh, sayangghhhh . . . !” demikian ujar Zus Mia berulang-ulang.</p>
<p>Benny tersenyum sambil terus juga memnyerbu bukit kemaluan Mia yang indah menantang. Tante Dewi yang menyaksikan adegan itu jadi terangsang. Segera dia berdiri, mcngangkangi kepala Zus Mia. Ditariknya kepala Benny. Benny mengerti. Tante Dewi ingin agar Benny mengerjai kemaluan Tante Dewi dengan mulutnya. “Ayoh, Bennn! Ciumi punyaku ! Aku juga sudah tidak tahannhhhh . . . !” ujar Tante Dewi dengan suara sengau tak menentu.</p>
<p>Benny melakukan dua macam kesibukan. Sementara kemaluannya menerobos keluar masuk belahan daging Zus Mia, mulutnya dengan mesra menciumi bukit kemaluan Tante Dewi yang sudah mekar menantang.</p>
<p>“Bennnn ! Aukhhh! Terruusssh, Bennnn! lyyyyaaakhhh . . . ! “Zus Mia terus meracau.</p>
<p>“Addduuuuh, Bennnn ! Enaknyaaa! Terrusssh. sayangghhh! Kelentitnya, Bennnn ! Iyyyaaahhhh! Nah, itu, tuuuuuh! Uf! Hmmm, . . . nyem! Nyem! Gigit, Bennnn! Gighhhiuitttssss . . . !!” Tante Dewi juga meracau sambil menekan belakang kepala Benny, sehingga hidung dan mulut lelaki muda itu masuk seluruhnya ke belahan kemaluan Zus Mia yang mekar semekar-mekarnya.</p>
<p>“Besssss!”</p>
<p>“Sleessep!”</p>
<p>“Blessss!”</p>
<p>“Ahk . . . ih!”</p>
<p>“Oukh . . . !!”</p>
<p>“Hmhhh !!”</p>
<p>Berbagai suara, ditingkah dengan berkecipaknya zakar Benny yang timbul tenggelam, terdengar sangat merdu dan mesra. Mulut vagina yang sempit itu ikut monyong ketika Benny menarik senjatanya dan sampai kempot melesak ke dalam pada waktu Benny mengamblaskan zakarnya. Lama mereka bertarung mati-matian, sampai akhirnya Tante Dewi yang terlebih dulu kejang. Tante Dewi menekan belakang kepala Benny sekuat-kuatnya, sambil menjerit histeris.</p>
<p>“Bennnnn!AkhhhuUUu kelluarrr . . . !!! Sshhh . . . akkkkhhh . . . !!” dan Tante Dewi sambil setengah berdiri, meliuk-liuk seperti orang kesetanan ! Kepalanya terlempar ke sana-ke mari. Dengkulnya gemerar sekali. Punggunya setengah menekuk, bagaikan udang tangannya meremas-remas dan menjambak jambak rambut benny sampai lelaki itu merasa sakit. Namun bercampur kenikmatan. Pada saat itu pula. Benny merasakan semburan-semburan lahar panas dari dalam lorong vagina Tante Dewi. Banyak sekali. Kental dan licin. Benny bagaikan orang yang haus, dengan rakus meneguk semua cairan itu. Tanpa tersisa lagi. Terasa gurih dan harum!</p>
<p>Tante Dewi segera jatuh tergelimpang dengan lemasnya.</p>
<p>Namun penuh puas!</p>
<p>Benny masih bertarung dengan Zus Mia. Dua menit setelah jatunhnya Tante Dewi, Zus Mia menjerit-erit histeris. Tubuhnya berkelojotan, seperti ayam disembelih. Menggelepar-gelapar. “Oukh, Bennnnn! Akhhuuuu keluarrrhhhh!!! Ssshhh, Bennn! Akkhhh! Ennnnnaaakhhhh !!! dan Zus Mia tidak lagi mampu mempertahankan bentengnya. Bobol seketika. Lahar menyembur-nyembur. Mata Zus Mia terbeliak-beliak. Cuma kelihatan putihnya saja. Kuku-kukunya yang panjang-panjang itu, mencakar-cakar punggung Benny sampai berdarah!</p>
<p>Zus Mia segera lemas setelah mencapai puncak kenikmatan. Namun Benny sendri belum, Benny masih terus menaik turunkan pantatnya dengan bersemangat. “Oukh, Ben! Akkhhuuu lemassss Lettttiih Isti . . . rahattsss duluuu, Bennnnn! !!” Zus Mia merintih-rintih.</p>
<p>“Sebentar, Zus. Tanggung, nih! Mau enak, Zus! Tahankan!” ujar Benny tersendat-sendat.</p>
<p>“Ampun, Bennnn!Ampunnnnn! !!”</p>
<p>Tetapi mana mau Benny mempedulikan rintihan-rintihan Zus Mia. Malah Benny semakin ganas dan bersemangat menghujamkan batang kemaluannya. Zus Mia meronta-ronta. Benny menekan tubuh Zus Mia dengan tangannya. Dan zakarnya terus juga bekerja. Blassssh! Slesssepsss!Srrrt! Blassshhhh ! !!” Ampun, Bennnn ! Ampunnn !”</p>
<p>“Sebentar, Zus . . . !!”</p>
<p>Dari letih, lemas dan tidak bertenaga, akhirnya Zus Mia jadi bernafsu lagi, karena bukit kemaluannya terus menerus diserbu habis-habisan oleh zakar Benny yang perkasa. Dan Zus Mia pun mulai menggoyanggoyangkan pinggulnya, memutarmutar romantis. “Bennnnn, . !! Uukh, kau sungguh perkasa dan pintar. Aku jadi nafsu lagi. Enak lagi, Bennnnn!!” Zus Mia mengerumasi rambut Benny. Dan merekapun terus bertarung, mendaki bukit yang terjal.</p>
<p>Lima belas menit kemiudian, barulah keduanya mencapai orgasme secara bersamaan. “Zusssshhhh! Akkkhhuuuu kelluuuarrr, ssshhh . . . ! Akkkkhhhh !! Oukh !!” dan Benny menggeram hebat bagaikan harimau lapar bertemu lawan. Kedua lengannya yang kekar memeluk dan menekan tubuh Zus Mia sekuat-kuatnya, sehingga Zus Mia merasakan tubuhnya remuk seketika. “Oukh, Ben! Akhhhuuu jughhhaaa kelluarrr . . . sssh, akhhhhh !!” Banjirlah lorong vagina yang sempit itu, sehingga sebagian menetes-netes ke luar, membasahi sprei. Semprotan-semprotan bertubi-tuhi telah menyemburkan cairan yang luar biasa banyaknya, saling bercampur kental, hangat dan licin! Hmmmmmh, benar-benar sorga dunia!</p>
<p>Benny segera tergelincir dari tubuh Zus Mia. Tante Dewi yang sudah mendapatkan istirahat cukup setelah menyemprotkan cairan mani, naik spanning. Dia tidak memberikan kesempatan pada Benny untuk beristirahat. Ditariknya lelaki itu dari tempat tidur. “Ayoh, Bennn! Kerjai aku sambil berdiri. . . . !!” ujar Tante Dewi yang sudah-tersengal-sengal bernafsu!</p>
<p>Benny bukanlah Benny kalau dia tidak mampu melayani tantangan perempuan secantik Tante Dewi. Dasar mesin tokcer, sekalipun tanpa istirahat, Benny sanggup untuk bertarung lagi. Dalam keadaan berdiri, Benny menekan tubuh Tante Dewi ketembok. Sebelah paha Tante Dewi diangkatnya tinggitinggi, sehingga memperlihatkan belahan kemaluan yang sudah mekar semekar-mekarnya. Benny lalu mengunjamkan senjatanya ke belahan yang amat menawan itu. “Oukh, Bennn!! Ennnaaakhhhhh!!”</p>
<p>Pertarungan sengit sambil berdua itu dimenangkan oleh Benny. Tante Dewi lebih dulu mengeluarkan cairannya dan segera merosot jatuh lemas ke lantai. Benny penasaran, karena belum mencapai puncak kenikmatan. Senjatanya maslh tegangtegangnya. Benny melihat Zus Mia masih berbaring dengan kedua paha terkangkang selebar-lebarnya. Maka Benny segera menubruknya. Dan pergumulanpun terjadi. Semakin dahysat dari pada yang sudah-sudah!</p>
<p>Demikianlah berganti-ganti Benny mengerjai kedua perempuan cantik itu. Benny benar-benar kuda jantan yang patut diacungi jempol. Tante Dewi dan Zus Mia benar-benar merasa puas. Bahkan Zus Mia lebih gawat lagi, ingin memiliki Benny seutuhnya!</p>
<p>Namun secara jujur, Benny harus mengakui, bahwa diantara sekian banyak perempuan-perempuan yang pernah digaulinya, hanya dengan Aningsih Benny merasa puas. Benar-benar kepuasan sempurna. Tante Dewi enak. Zus Mia lebih enak dari pada Tante Dewi. Namun kepunyaan Aningsihlah yang terlebih enak! Maka Benny tidak dapat melupakan Aningsih!</p>
<p>Harapan tidak selalu menjadi kenyataan. Betapa kecewanya Benny ketika mendatangi rumah Aningsih pada beberapa hari kemudian, ternyata Aningsih sudah pindah menempati rumah sendiri. Baru dibelinya ! Ujar teman sekamar Aningsih.</p>
<p>“Pindah ke mana, Zus!” tanya Benny penasaran.</p>
<p>“Maaf! Saya tidak dapat memberitahukan. Ini atas kemauan Aningsih sendiri!”</p>
<p>“Lho, mengapa begitu!” tanya Benny makin penasaran. “Saya sendiri tidak tahu,” teman sekamar Aningsih mengangkat bahu.</p>
<p>Benny menghempaskan napasnya. Mengapa Aningsih bersikap aneh begitu ! Disaat rindu sedang menggebu-gebu, dia menghilang,. Padahal aku dan dia baru saja berkenalan, demikian kata hati Benny. Dengan lesu benny minta diri dan meninggalkan rumah Aningsih. Kemana dia ? Mengapa dia tidak mau memberitahukan tempat tinggalnya yang baru! Apakah dia membenciku ! Apakah aku telah melakukan kesalahan fatal sehingga dia tidak mau memaafkanku! Benny mengerumas rambutnya setelah tiba di tempat kostnya. Aningsih! Mengapa kau begitu cepat menghilang, padahal aku benar-benar sangat merindukanmu! Hanya kaulah yang mampu memberikan kepuasan yang sempurna padaku. Tidak perempuan-perempuan lain! Dan untuk kesekian kalinya, Benny meremasi lagi rambutnya dengan resah. Bertepatan dengan itu, pintu terbuka. Masuklah Tanta Dewi. “Kau kelihatannya resah sekali, Ben!” bertanya Tanta Dewi.</p>
<p>“Saya sedang pusing, Tante . . . !!” ujar Benny malas-malasan.</p>
<p>Aningsih dengan sengaja seolah-olah menghindari Benny, pada hal perempuan itu mengakui, telah memperoleh kebahagiaan sempurna dari Benny. Mengapa bisa demikian ! Benarkah Aningsih membenci Benny! Benarkah Benny telah melakukan kesalahan fatal, sehingga Aningsih tidak dapat memaafkannya !</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.difunde.com/selembut-sutra.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anak Pembantuku</title>
		<link>http://www.difunde.com/anak-pembantuku.html</link>
		<comments>http://www.difunde.com/anak-pembantuku.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 May 2012 06:03:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[batang]]></category>
		<category><![CDATA[cewek bayaran]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[dony]]></category>
		<category><![CDATA[itu]]></category>
		<category><![CDATA[kampung]]></category>
		<category><![CDATA[kembang]]></category>
		<category><![CDATA[laki laki]]></category>
		<category><![CDATA[langsung]]></category>
		<category><![CDATA[nama]]></category>
		<category><![CDATA[nggak]]></category>
		<category><![CDATA[oom]]></category>
		<category><![CDATA[perbankan]]></category>
		<category><![CDATA[rony]]></category>
		<category><![CDATA[sambil]]></category>
		<category><![CDATA[sekali]]></category>
		<category><![CDATA[sepupu]]></category>
		<category><![CDATA[Tapi]]></category>
		<category><![CDATA[untuk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.difunde.com/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[Dony, begitu nama panggilanku. Tumbuh sebagai laki-laki aku boleh dibilang sempurna baik dalam hal ketampanan maupun kejantanan dengan tubuhku yang tinggi tegap dan atletis. Dalam kehidupan aku juga serba berkecukupan karena aku adalah juga anak angkat kesayangan seorang pejabat sebuah departemen pemerintahan yang kaya raya. Saat ini aku kuliah di kota Bandung, di situ aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dony, begitu nama panggilanku. Tumbuh sebagai laki-laki aku boleh dibilang sempurna baik dalam hal ketampanan maupun kejantanan dengan tubuhku yang tinggi tegap dan atletis. Dalam kehidupan aku juga serba berkecukupan karena aku adalah juga anak angkat kesayangan seorang pejabat sebuah departemen pemerintahan yang kaya raya.</p>
<p>Saat ini aku kuliah di kota Bandung, di situ aku menyewa sebuah rumah kecil dengan perabot lengkap dan untuk pengawasannya aku dititipkan kepada Oom Rony, sepupu ayahku yang juga pemilik rumah untuk memperhatikan segala kebutuhanku. Oom Rony adalah seorang pejabat perbankan di kota kembang ini dan dia kuanggap sebagai wali orang tuaku. Sekalipun aku sadar ketampanan dan segala kelebihanku digila-gilai banyak perempuan, namun aku masih belum mencari pacar tetap. Untuk menyalurkan hobby isengku saat sekarang ini aku lebih senang dengan cewek-cewek yang berstatus freelance atau cewek bayaran yang kunilai tidak akan membawa tuntutan apa-apa di belakang hari. Begitulah, pada tahun keempat masa kuliahku secara kebetulan aku mendapat seorang teman yang cocok dengan seleraku. Seorang gadis berstatus pembantu rumah tangga keluargaku tapi penampilannya cantik berkesan gadis kota. Jadinya konyol, di luaran aku terkenal sebagai pemuda mahalan kelas atas tapi tanpa ada yang tahu justru partner tetap untuk ber-”iseng”-ku sendiri adalah seorang gadis kampung yang status sosialnya jauh di bawahku.</p>
<p>Sriwasti nama asli si cantik anak bekas pembantu rumah tangga orangtuaku, tapi lebih akrab dipanggil dengan Wasti. Sewaktu mula-mula hadir di tempatku ini dia memang meringankan aku tapi juga membuat aku jadi panas dingin berada di dekatnya. Pasalnya dulu aku pernah punya skandal hampir menggagahi dia sehingga dengan kembalinya dia kali ini dalam status istri orang tapi tinggal kesepian ini tentunya menggali lagi gairah rangsanganku kepadanya. Usianya 3 tahun lebih muda dariku, dia dulu dibiayai sekolahnya oleh orangtuaku dan ketika tamat SMA dia pernah beberapa bulan bekerja membantu-bantu di rumahku sambil berusaha masuk Akademi Perawat. Sayang dia gagal dan kemudian pulang kampung lagi untuk menerima lamaran seorang pemuda di tempat asalnya itu.</p>
<p>Waktu masih di rumah orangtuaku itulah aku yang tertarik kecantikannya, kalau pulang dari Bandung sering iseng menggoda dia, suatu kali sempat kelewatan nyaris merenggut kegadisannya. Sebab di suatu kesempatan Wasti yang memang kutahu menaruh hati padaku sudah pasrah kugeluti dalam keadaan bugil hanya saja karena aku masih tidak tega dan juga masih takut sehingga urung aku menodai dia. Kuingat waktu itu secara iseng-iseng aku sengaja ingin menguji kesediaannya yaitu ketika ada kesempatan dia kuajak ke dalam kamarku. Beralasan meminta dia memijati aku tapi sambil begitu kugerayangi dia di bagian-bagian sensitifnya. Ternyata dia diam saja tidak berusaha untuk menolakku, sehingga aku meningkat lebih terang-terangan lagi. Susunya memang menggiurkan dengan bentuknya yang membulat kenyal tapi aku masih mengincar lebih ke bawah lagi. “Was gimana kalau kamu buka dulu celana dalammu, Mas Dony pengen gosok-gosokin yang enak di punyamu,” bujukku dengan tangan sudah meraba-raba di selangkangannya.</p>
<p>Wasti tersipu-sipu dengan gugup ragu-ragu, meskipun begitu menurut saja dia untuk membuka celana dalamnya yang kumaksudkan itu.<br />
“Ta.. tapi.. nggak apa-apa ya Mass..?” kali ini terdengar nada tanya kuatirnya.<br />
Aku yang memang cuma sekedar menguji segera menenangkan dia.<br />
“Oo tenang aja, nggak Mas masukin inimu cuma sekedar ditempel-tempelin aja kok..” jawabku sambil juga menurunkan celana dalamku memamerkan batangku yang sudah setengah tegang terangsang.<br />
Kuambil tangannya dan meletakkan di batang kemaluanku meminta dia memainkan batang itu dengan genggaman melocok, ini diikuti Wasti mulanya dengan wajah kikuk malu tapi toh dia mulai terbiasa juga. Nampak tidak ada tanda-tanda risih karena baru kali ini dia melihat batang telanjang seorang laki-laki. Layap-layap keenakan oleh kocokannya sambil begitu sebelah tanganku juga ikut meremasi susu bergantian dengan bermain di liang kemaluannya. Lama-lama terasa menuntut, kuminta Wasti merubah posisi bertukar tempat, dia yang berbaring setengah duduk tersandar di kepala tempat tidur, dari situ aku pun masuk duduk berlutut di tengah selangkangannya.</p>
<p>Dalam kedudukan ini tangan Wasti bisa mencapai batanganku dan melocoknya tepat di atas liang kemaluannya sementara kedua tanganku yang bebas bisa bermain dari kedua susu sampai ke liang kemaluannya. Lagi-lagi Wasti memperlihatkan air muka khawatir karena dikira aku sudah akan menyetubuhinya tapi kembali kutenangkan dan menyuruh dia terus melocok dengan hanya menggesek-gesek ujung kepala batang kemaluan di celah menguak liang kemaluan berikut klitorisnya. Cukup terasa enak buatku meskipun memang penasaran untuk berlanjut lebih jauh, tapi begitupun aku bisa menahan emosiku sampai kemudian locokannya berhasil membuatku berejakulasi. Menyembur-nyembur maniku tumpah di celah liang kemaluannya yang terkuak mengangkang, tapi sengaja kutahan tidak kutusukkan di lubang itu. “Huffhh pinterr kamu Was.. besok-besok bikinin lagi kayak gini ya?” kataku memberi pujian ketika permainan usai. Wasti mengangguk malu-malu bangga dan sejak itu setiap ada kesempatan aku ingin beriseng, dia yang kuajak dan kugeluti sekedar menyalurkan tuntutanku. Memang, sampai dengan saat itu aku masih bertahan untuk tidak mengambil keperawanannya karena masih terpikir status kami yang berbeda. Aku majikan dan dia pembantu, padahal dalam segalanya Wasti betul-betul seorang gadis yang mulus kecantikannya. Dibandingkan dengan wanita-wanita cantik yang kukenal belakangan, Wasti pun tidak kalah indahnya. Tapi itulah yang namanya pertimbangan status padahal akhirnya aku toh bertemu lagi dan membuat hubungan yang lebih jauh dengannya.</p>
<p>Di kampungnya Wasti dinikahi Ardi seorang pemuda tetangganya, dia sempat beberapa bulan hidup bersama tapi ketika Ardi yang lulusan Akademi Teknik, minta ijin selama setahun karena mendapat pekerjaan sebagai TKI di suatu negara Arab, Wasti praktis hidup sebagai janda sendirian. Begitu, untuk mengisi waktunya dia juga meminta ijin agar bisa mencari pekerjaan tambahan dan dia pun teringat kepadaku karena aku memang pernah menjanjikan hal itu kalau dia ingin mendapat tambahan pencaharian. Ardi setuju karena aku sudah bukan asing bagi mereka, maka sesaat sebelum Ardi berangkat ke Arab dia ikut mengantar Wasti meminta pekerjaan padaku.</p>
<p>Kedatangan Wasti untuk menawarkan tenaganya tentu saja tidak bisa kutolak tapi untuk tinggal bersama di rumah sewaanku jelas akan mengundang kecurigaan orang, dia pun kutawarkan tinggal sambil bekerja di sebuah tempat usahaku. Kebetulan aku memang mengusahakan sebuah Panti Pijat yang sebetulnya dimodali Oom Rony, sehingga kehadiran Wasti bisa membantu mewakili aku sebagai orang kepercayaanku dalam mengawasi tempat pijat itu. Wasti langsung setuju tapi waktu suaminya sudah berangkat meninggalkan dia barulah dia berkomentar bingung soal pekerjaan itu.</p>
<p>“Tapi.., aku bener nggak disuruh kerja mijet Mas?” katanya agak keberatan dengan tugas yang belum dimengertinya itu.<br />
“Ya enggak dong, kamu di sana Mas kasih tugas utama sebagai pengawas tempat itu. Kalau soal mau belajar mijet sih boleh-boleh aja, malah bagus supaya Mas bisa kebagian rasanya juga,” kataku sambil tersenyum menggoda.<br />
“Ngg.. gitu nanti ada yang ngajakin tidur aku, gimana Mas..?”<br />
“Boleh, tapi minta ijin Mas dulu. Yang jelas Mas dulu yang pakai baru boleh dikasih yang lain,” kataku tambah menggoda lebih jauh.<br />
Di sini Wasti langsung mesem malu-malu, tapi begitupun senang dengan tawaranku untuk mewakili aku mengawasi usaha tempat pijatku. Dia kuberi kamar di rumah yang kukontrak untuk usaha pijat itu tapi secara rutin seminggu dua kali dia datang membantu membersihkan rumahku dan mengambil baju-baju kotorku untuk dicucikannya.</p>
<p>Begitulah dengan adanya Wasti yang seolah-olah membawa keberuntungan bagiku, usahaku pun semakin bertambah ramai. Apalagi dia yang semula hanya bertindak sebagai tuan rumah setelah mulai belajar teknik memijat dan mulai mempraktekkan kepada tamunya, semakin banyak saja mereka yang datang mem-booking Wasti. Antri para tamu itu hadir dengan niat ingin mencicipi asyiknya pijatan sambil tentunya berusaha merayu agar bisa menikmati lebih dari sekedar pijatan si manis Wasti ini. Tetapi mereka belum sampai ke situ karena di bulan kedua kehadiran Wasti baru kepadakulah yang paling dekat dengannya saat ini, dia memberikan keistimewaannya.</p>
<p>Karena sudah pernah ada hubungan sebelumnya maka mudah saja bagiku untuk membuat kelanjutan intim dengannya, cuma saja setelah beberapa lama baru terpikir olehku untuk mencicipi dia. Waktu itu aku terserang muntaber dan sempat seminggu aku terbaring di rumah sakit dengan ditunggui bergantian oleh Wasti dan Indri kakak perempuanku yang sengaja datang dari Jakarta untuk mengurusi sampai dengan kesembuhanku. Keluar dari rumah sakit dan setelah melihat aku sudah mendekati pulih kesembuhanku, Indri pun kembali lagi ke Jakarta dengan meninggalkan pesan pada Wasti untuk tetap mengurusi sampai aku betul-betul sembuh. Lewat lagi dua hari tenagaku kembali pulih seperti semula tapi seiring dengan itu mulai timbul lagi tuntutan kejantananku dan kali ini aku berencana akan menyalurkannya pada Wasti sebagai sasaranku yang paling dekat denganku saat itu. Ini karena aku selama dirawat olehnya merasa lebih akrab perasaanku dan berhutang budi sekali padanya.</p>
<p>“Tau nggak Was? Apa yang pertama-tama mau Mas bikin kalau udah sembuh bener dari sakit ini?” tanyaku mengajak dia ngobrol menjelang kesembuhanku.<br />
“Apa tuh kira-kira Mas?”<br />
“Mas kepengen begini..” kataku sambil memberi tanda ibu jari dijepit telunjuk dan jari tengahku.<br />
Wasti langsung ketawa geli mendengarnya.<br />
“Hik, hik, hik.. Mas Dony yang dipikir kok itu dulu. Emang puasa berapa hari ini udah kepengen banget sih?”<br />
“Justru itu, kepingin sih jangan bilang lagi tapi coba tebak siapa nanti yang bakal Mas ajak tidur?”<br />
“Hmm siapa ya? Mas sih banyak ceweknya mana Wasti tau siapa orangnya?”<br />
“Orangnya ya kamu Was.”<br />
“Ngg kok malah aku, kan masih banyak yang cakep lainnya Mas..” Wasti kontan tersipu-sipu malu seolah tidak percaya denganku.<br />
“Yang Mas pilih emang kamu kok, sementara jangan dulu dikasih ke yang lainnya ya!” kataku sambil menarik dia mendekat kepadaku.<br />
“Kasih siapa Mas, kan katanya harus ijin Mas dulu?”<br />
“Makanya itu nanti Mas yang pakai dulu. Kasih Mas ya?”<br />
Kali ini kususupkan tanganku ke selangkangannya mengusap-usap bukit kemaluannya dan diterima Wasti dengan mengangguk sambil menggigit bibir malu-malu.</p>
<p>Dia sudah bersedia dan ketika tiba saatnya, aku sengaja mengajaknya keluar menginap di hotel karena aku ingin betul-betul bebas berdua dengan dia. Maklum di rumah sewaanku masih kukhawatirkan Indri ataupun keluargaku dari Jakarta akan muncul sewaktu-waktu sehingga tidak terlalu aman rasanya. Segera aku pun bersiap-siap dan membuka lemari untuk mengambil uang tapi ide nyentrikku mendadak timbul ketika terpandang sweaterku yang tergantung di situ. Kuminta dia memakai sweater itu tapi tanpa mengenakan apa-apa lagi di balik itu, ini memang diturutinya tapi sambil meringis geli ketika sudah naik ke mobil duduk di sebelahku.<br />
“Mas ini ada-ada aja, masak aku cuma disuruh pakai kayak gini sih?”<br />
“Kamu biar cuma pakai gini tetep keliatan manis kok Was,” kataku membesarkan hatinya.<br />
“Tapi kan lucu Mas, di atasnya anget tapi di bawahnya bisa masuk angin..”<br />
“Maksud Mas Donny begini supaya pemanasannya bikin cepet tambah kepengennya. Sambil nyupir gampang megang-megangin kamu..” jelasku dengan menjulurkan tangan ke selangkangannya sudah langsung merabai liang kemaluan telanjangnya.</p>
<p>Wasti tersipu-sipu tapi toh menurut juga ketika aku meminta dia menaikkan kedua kakinya ke atas jok sehingga liang kemaluannya lebih terkangkang lebar, lebih leluasa tanganku bermain di situ. Dia dari sejak dulu memang tidak pernah membantah apapun permintaanku. Mengusap-usap bukit yang cuma sedikit ditumbuhi bulu-bulu kemaluannya serta meremas-remas pipi menggembung dari bagian kewanitaannya yang menggiurkan ini, terasa kenyal daging mudanya itu. Dipermainkan begitu tangannya otomatis terjulur ke kemaluanku membalas memegang seperti dulu ketika dia masih sering bermain-main dengan milikku, tapi cuma sebentar karena segera dicabut lagi.<br />
“Lho kenapa nggak diterusin?”<br />
“Nggak ah, nanti keburu muncrat duluan. Mas kan udah puasa beberapa hari pasti sekarang udah kentel susunya, kan sayang kalau keburu tumpah di luar nanti Wasti nggak kebagian.”<br />
“Lho kan dipanasin dulu botolnya nggak apa-apa. Siapa tau kelewat kentel malah nggak mau netes airnya nanti?”<br />
“Masak nggak mau keluar Mas?”<br />
“Oh iya lupa, kalau diperes-peres pakai lubang sempit ini memang pasti keluar sih. Tapi sambil dikocokin yang enak nanti ya?”</p>
<p>Rangsangan selama perjalanan sudah mulai memanaskan gairah birahi kami, ketika tiba di hotel kelanjutannya semakin membara lagi. Di hotel yang kupilih, Wasti sudah kusuruh masuk ke kamar duluan sementara aku masih menutup pintu mobil sebelum kususul dia di situ. Kubuka sekalian bajuku hingga telanjang bulat sementara dia masih berlutut di sofa yang menempel dekat jendela, pura-pura memandang ke luar mengintip lewat gordyn jendela. Segera aku merapat dari belakangnya langsung membuka sweater satu-satunya penutup tubuhnya, begitu sama telanjang bulat kupeluk dia merapatkan punggungnya ke dadaku dan mulai mengecupi lembut lehernya dengan diikuti kedua tanganku bermain masing-masing meremasi susu dan bukit kemaluannya.<br />
“Maass.. botolnya kerasa udah keras bener..” katanya mengomentari kemaluanku yang sudah mengencang menempel di atas pantatnya.<br />
“Iya, udah ngerti dia sebentar lagi bakal ditumpahin isinya ke lobang ini,” jawabku singkat.</p>
<p>Kupondong dia dan membaringkan di atas tempat tidur langsung kudekap dan mencumbui dengan kecupan-kecupan seputar wajahnya dan usapan-usapan tangan di sekujur tubuhnya. Kenangan lama terungkit, gemas-gemas sayang rasanya dengan tubuhnya yang mulus lagi cantik ini. Ingin kulampiaskan emosi nafsuku tapi seperti takut dia kesakitan oleh tenagaku, jadinya setengah keras setengah tertahan serbuanku. Remasan tangan kuganti saja dengan permainan mulutku, tanpa menghentikan kecupanku yang mulai kujalari menurun ke leher menuju ke buah dadanya. Wasti selain mulus bersih juga tidak berbau keringatnya sehingga enak untuk kucium-ciumi dan kujilat-jilati. Tiba di bagian susunya, kedua bukit daging yang putih membulat bagus lagi kenyal ini segera kukecap dengan mengisap berganti-ganti masing-masing pentilnya. Mengenyoti bagian puncaknya, kungangakan lebar-lebar mulutku serasa ingin memasukkan banyak-banyak daging menonjol itu agar dapat kusedot sepuas-puasnya. Di dalam mulutku lidahku berputaran menjilati pentilnya, menggigit-gigit kecil membuat dia mengerang dalam geli-geli senang.</p>
<p>“Ssh ahngg.. geli Mass..” suaranya merengek manja membuat aku semakin gemas bergairah. Air mukanya mulai merah terangsang karena sambil begitu aku juga menambahi dengan mempermainkan liang kemaluannya. Menggosok-gosok klitorisnya dan mulai mencucukkan satu jariku mengoreki bagian mulut lubangnya. Ada satu yang istimewa dan menyenangkatu yang istimewa dan menyenangkitu dia mempunyai klitoris jenis besar yang jarang kujumpai pada kebanyakan kemaluan-kemaluan perempuan. Aku sudah lama mengenal bagian ini tapi masih juga seperti penasaran membawa aku merosot ke bawah untuk memperhatikannya lebih jelas.<br />
“Ihh.. Mas ini mau ngeliat apa sih..?”<br />
Wasti rupanya kikuk malu dengan perobahan mendadakku. Tangannya bergerak ingin menutup bagian itu tapi cepat kusingkirkan.<br />
“Kok mau ditutup sih, kan Mas kangen pengen ngeliat itil gedemu kayak dulu Was?”<br />
“Hngg.. punyakku jelek kok mau-maunya diliat sih Mas..?”<br />
“Kamu keliru, justru yang begini disenengin orang laki soalnya jarang ada..”<br />
“Aaah Mas Dony menghibur ajaa. Apanya disenengin, jadi ketawaan malah..”<br />
“Lho Mas sendiri udah keliling banyak cewek belum pernah dapet yang gini. Udah denger cerita dari orang-orang baru Mas penasaran lagi sama kamu Was..”<br />
“Ngg abiiss Mas nggak dulu-dulu ngambilnya.. Sekarang udah keburu diambil Kang Ardi duluan baru Mas minta, kan Wasti nggak tega ngasihnya kalau udah bekas-bekas Mas..” timpal Wasti dengan air muka membayangkan kecewa.<br />
Melihat ini buru-buru aku menghibur.<br />
“Tapi nggak apa, biarpun gitu Mas Dony juga tetep seneng sama kamu kok. Sini Mas bikinin buat kamu.”</p>
<p>Tanpa menunggu jawabannya aku langsung menunduk dan menyosorkan mulutku di celah itu. “Adduh Mass, Wasti nggak mau gitu..!” Kaget dia, ingin mencegah tapi kedua tangannya sudah lebih dulu kupegangi masing-masing tanganku. Sesaat dia membelalak seolah tidak percaya aku mau bermain begini dengannya tapi sebentar kemudian terhempas kepalanya mendongak dengan dada membusung kejang ketika tersengat geli kelentitnya kujilat dan kugigit-gigit kecil. Sebentar kubiarkan dia tenggelam dalam nafsu berahinya sampai terasa cukup baru kulepas permainan mulutku. Karena sudah lebih dulu kuhisap kemaluannya maka ketika aku meminta dia sekarang menghisap batang kemaluanku langsung diikutinya dengan senang hati. “Nggak usah lama-lama Was, kasih ludah aja biar Mas masukin sekarang..” kataku untuk tidak berlarut-larut dulu dalam permainan pembukaan ini. Wasti cepat mengikuti permintaanku dan sebentar kemudian dengan bantuan tangannya aku sudah menyusupkan batang kemaluanku masuk di liang kemaluannya. Begitu terendam kutahan dulu untuk menurunkan tubuhku menghimpit mendekapnya, mengawali dengan kecupan mesra di bibirnya untuk mengembalikan rangsang nafsunya yang sempat menurun oleh suasana tegang sewaktu menyambut batangku. Memang baru pertama kali buat dia tapi terasa ada kerinduan yang dalam baginya sehingga terasa hangat sambutannya.</p>
<p>Nikmatnya jepitan liang kemaluan mulai terasa meresap, maklum, biasanya belum sampai 4 hari saja aku pasti sudah ngeluyur untuk mencari partner isengku. Dengan sendirinya senggama penyalur kerinduanku saat ini ingin kurasakan dengan senikmat-nikmatnya tanpa perlu terburu-buru. Kebetulan lagi partnerku ini termasuk barang baru yang muda lagi menggiurkan, jadi harus kuresapi asyiknya detik demi detik agar betul-betul mendapatkan kepuasan penyaluran yang maksimum. Setelah merasa cukup meresap asyiknya rendaman batang kemaluan dalam hangat liang kemaluannya, aku pun mulai memainkan batangku memompa pelan-pelan mencari nikmatnya gesekan batang. “Ssshh Waas.. enak sekali memekmu.. sempitt rasanyaa..” Baru dua-tiga gesekan saja aku sudah gemetar memuji rasa yang kuterima. Mukaku jadi tegang serius saking asyik diresap nikmat, bertatapan sayu dengan matanya yang sama mesra namun tergambar sinar senang dan bangga di situ.</p>
<p>Makin kupompa makin meluap nikmatnya apalagi Wasti mulai menambahi dengan memainkan liang kemaluannya mengocok lewat putaran pinggulnya. “Adduu Waass.. pinterr kammu ngocokknyaa.. tapi Mas kepengenn cepet keluarr diginiinn.. ssh mm..” Sudah terbata-bata suara gemetarku bukan asal memuji tapi memang cepat saja aku dibuat tidak tahan oleh bantuan putaran kemaluannya. Kepala batangankan kemaluannya. Kepala batangankukkan cairan mani terkumpul di situ tinggal menunggu waktu untuk disemburkan saja. Segera Wasti kudekap lagi dengan sebelah lengan di lehernya sedang sebelah lagi menahan pantatnya, aku pun mengganti gerakan tidak lagi menggesek tapi memutar batanganku dan menekan dalam-dalam sambil mengajak dia bercium melumat hangat. Wasti menyambut ajakanku dengan balas mendekap, kedua kakinya naik membelit pinggangku erat-erat. Seperti mengerti kalau batang kemaluanku sudah dikorek dalam-dalam berarti aku ingin mengajak dia berorgasme bersama-sama. Dia pun tidak menahan-nahan lagi.</p>
<p>“Ayyo Wass.. Mass keluarinn yaa..?”<br />
“Iyya, iyaa Mas.. sama-sama..”<br />
“Hhaaghh..! dduhhss.. adduhh Wass.. Mass kelluarr.. sshhgh.. ahhgh.. hghh.. aah .. aahshg duuh.. hoh.. hngg hmm..”<br />
Baru saja ajakan berorgasmeku disahut Wasti aku pun sudah meledak mengaduh tiba di puncak kepuasanku. Bukan main! semprotan cairan maniku serasa dahsyat menyembur-nyembur, menumpahkan seluruh kerinduanku sepertinya panjang dan lama sekali diperas-peras oleh pijatan kemaluannya sampai dengan tetesan yang terakhir. Aku sendiri tidak memperhatikan lagi bagaimana partnerku ini ikut berorgasme karena bola mataku sudah terbalik saking nikmatnya aku berejakulasi. Luar biasa, jujur kukatakan bahwa inilah saat orgasme yang paling enak sejak aku mulai bisa bersetubuh dengan perempuan. Kerinduan birahi nafsuku yang tertunda cukup lama menurut ukuranku ini betul-betul mendapatkan penyalurannya yang memuaskan sekali. Begitu puasnya sehingga ketika tubuhku melemas Wasti masih tetap kupeluki dan kukecupi bertubi-tubi seputar wajahnya diikuti pujian tanda senangku.</p>
<p>“Minn, Was.. kamu kok enak skali sih.. Mas Dony rasanya puas bener numpahin kepengennya sama kamu..”<br />
“Enak nggak main sama Wasti, Mas?” masih dia bertanya manja namun dengan nada bangga di situ.<br />
“Hmmsshh eenaak bener deh.. Ini ibarat lagi laper-lapernya dikasih kue enak langsung pas bener kenyangnya.”<br />
Wasti tertawa senang.<br />
“Wasti sendiri juga puas Mas diminumin susu kentelnya Mas Dony..” katanya sambil membalas mengecupi bibirku.</p>
<p>Berlanjut lebih jauh tentang Wasti, ada suatu pengalaman Wasti yang ingin kuceritakan di sini sejak dia bekerja di panti pijatku, yaitu tentang keintimannya dengan Oom Rony. Oom Rony memang doyan dipijat tapi merasakan dipijat seorang perempuan muda dia tidak pernah karena maklum dia takut dicurigai orang kalau pergi ke panti-panti pijat, selain itu Tante Yosi istrinya galak dan ketat mengawasinya. Maka ketika suatu kali dia kubawa ke sebuah panti pijat secara sembunyi-sembunyi Oom Rony langsung ketagihan. Itu sebabnya waktu kuusulkan untuk bekerja sama mengusahakan sebuah panti pijat milik temanku yang hampir bangkrut, Oom Rony segera setuju menyertakan modalnya atas namaku. Dengan begitu dia bisa menyalurkan kesenangannya dipijati gadis-gadis muda karena cuma beralasan pergi denganku saja baru Oom Rony bisa aman tidak dicurigai Tante Yosi. Kami berdua diketahui Tante Yosi sering pergi memancing sebagai salah satu hobby kami. Dari mulai sekedar dipijat ternyata mulai meningkat kepingin beriseng dan gadis pemijat yang diincarnya justru Wasti. Alasannya karena Wasti sudah dikenalnya sebagai orang dalam di rumahku sehingga dia yakin Wasti tidak akan menuntut apa-apa padanya. Aku sendiri semula tidak mengira kalau perkembangan pijat-memijat itu jadi semakin jauh. Hal ini baru kuketahui ketika suatu sore Mas Didik sopir sekaligus orang kepercayaan Oom Rony datang menjemput Wasti yang kebetulan sedang membersihkan rumahku, kudapati Wasti gelisah dan kurang enak air-mukanya.</p>
<p>“Mas, bilang aja aku sekarang udah nggak bisa, udah pulang kampung, lalu Mas nawarin temen-temen lain aja..” katanya membujuki aku di kamar sementara Mas Didik menunggu di ruang tamu.<br />
“Lho tadi Mas ditelepon Bapak memang bilang kamu ada di sini kok, emang kamu kenapa..? lagi capek ya mijetin Bapak sekarang? Kalau capek nanti Mas yang ngomongin,” kataku menawarkan.<br />
Bapak adalah menurut sebutan Wasti kepada Oom Rony.<br />
“Nggak gitu Mas, tapi..” di sini dia berat untuk meneruskan dan memandangiku dengan malu-malu takut.</p>
<p>Aku paham ada sesuatu yang disembunyikan dan kubujuk dia dengan lembut sampai akhirnya Wasti pun mengaku bahwa meskipun sudah sering memijat tapi baru belakangan ini Oom Rony terangsang untuk mengajak Wasti ber-”iseng”. Permintaan ini berat karena Wasti merasa kikuk dan sungkan sekali kepada Oom Rony dan untuk itu dia berusaha menolak dengan yang terakhir kali dia memberi alasan sedang haid. Jelas alasan yang begini cuma mengulur waktu saja sehingga untuk yang berikut ini Wasti merasa tidak bisa menolak lagi. Itu sebabnya dia jadi gelisah serba salah terhadapku. Mendengar sampai di sini aku cuma tersenyum membuat Wasti jadi lega. Memang, baik aku maupun dia sebenarnya sama mengerti bahwa Oom Rony sebagai laki-laki wajar kalau sesekali kepengen ber-”iseng” di luaran. Cuma saja bagi Wasti dia berat karena dia takut aku tersinggung dan marah kepadanya. Begitu, agak beberapa saat kami terdiam mencari jalan keluar tapi akhirnya kuanjurkan Wasti untuk memberi saja.</p>
<p>“Iddihh Mas Dony kok malah nyuruh ngasih, gimana sih?!” nadanya terdengar agak kurang enak dengan usulku.<br />
“Gini Was, kamu kan ngerti kalau Bapak susah mau ‘ngiseng’ begini di luaran. Kebetulan bisa ketemu kamu yang udah dianggap deket bisa nyimpan rahasia, kan nggak apa-apa kalau diikutin sekali-sekali. Dijamin deh Mas Dony nggak marah soal ini.”<br />
Mendengar dari aku sendiri yang berbicara seperti itu hanya membuat dia terdiam berpikir sebentar tapi kemudian menyetujui anjuranku. Setelah mendapat ijin khusus dariku Wasti pun bersedia untuk pergi memijat Oom Rony di hotel tempatnya menginap. Hotel itu adalah tempat rahasia Oom Rony dan tidak ada yang tahu kecuali Mas Didik yang membawa ke situ.</p>
<p>Kami bertemu lagi keesokkan harinya di panti pijat, rasa penasaran kubawa dia ke sebuah kamar untuk mendengarkan pengalamannya dengan Oom Rony sambil meminta dia memijati aku. Wasti yang ditanya soal semalam langsung menyembunyikan muka malunya di dadaku belum langsung menjawab.<br />
“Lho kok masih berat nyeritainnya, kan Mas udah ngasih ijin? Gimana, kesannya asik atau nggak kan Mas kepengen tau?” tanyaku mendesak terus.<br />
“Kesannya.. Aaa.. maluu aku Maass..!”<br />
Wasti menjerit malu makin membenamkan wajahnya ke dadaku. Kutunggu beberapa saat sampai malunya mereda barulah dia mau bercerita pengalamannya malam tadi.</p>
<p>Seperti yang sudah dibayangkan Wasti, baru saja memijat sebentar bagian punggung Oom Rony sudah berbalik minta dipijat bagian depan. Di situ sambil mengambil tangan Wasti untuk memijati seputar selangkangannya dia mulai memancing-mancing jawaban Wasti tentang kesediaannya untuk memenuhi ajakan ber-”iseng”-nya waktu itu. Wasti meskipun merasa sudah tidak ada yang diberati tapi masih kikuk untuk mengiyakan langsung. Dia hanya menggigit bibir malu-malu meskipun begitu tangannya bekerja juga menyusup di balik handuk yang dikenakan Oom Rony dan segera memijat daerah selangkangan yang dimaksud untuk merangsang kejantanannya. Jelas cepat saja batang itu naik menegang.</p>
<p>“Ihhng.. cepet bener bangunnya Bapak punya..” katanya mengomentari batang kemaluan kencang Oom Rony di genggamannya.<br />
“Makanya itu, biar nggak tambah penasaran sebaiknya diselesaikan sama kamu Was?” jawab Oom Rony sambil merayapkan tangannya dari belakang pantat Wasti menyusup mengusapi tengah selangkangannya.<br />
“Mmm.. tapi mesti dilicinin dulu Pak..” lagi-lagi Wasti tidak menjawab langsung, hanya mengambil cream pemijit dan melumuri seputar batang itu agar menjadi licin.<br />
Sekarang Oom Rony mengerti bahwa Wasti sudah bersedia menyambut ajakan ber-”iseng”-nya, dia beraksi lebih dulu membuka belitan handuk yang dipakainya.<br />
“Kalau gitu ke sini aja supaya nggak habis waktunya. Ayo buka dulu bajumu terus naik sini Nduk!” kata Oom Rony terburu-buru saking senangnya.<br />
Wasti berhenti dan mengikuti permintaan Oom Rony untuk segera membuka bajunya. Tapi meskipun sudah terbiasa bertelanjang bulat di depan lelaki, tidak urung dengan majikan besarnya ini Wasti merasa kikuk sekali. Lebih-lebih waktu ditarik berbaring bersebelahan disambut masuk dalam pelukan Oom Rony yang langsung menyerbu dengan remasan gemas dan ciuman bernafsu di seputar lehernya, Wasti jadi risih karena merasa tidak pantas dengan besarnya perbedaan status di antara kedua mereka.</p>
<p>Sekalipun sudah dicoba memejamkan mata dan menghayalkan dia sedang digeluti salah seorang langganan “Oom Senang”-nya tapi tetap saja terbawa sebagai majikan besar ini sulit hilang, sehingga Wasti seperti kaku tidak berani bergaya manja-manja genit. Padahal Oom Rony sudah tidak perduli soal status dan jabatannya, juga tidak perduli dengan status lawan mainnya. Yang dia tahu saat itu ialah si gadis pembantu yang cantik ini begitu menggiurkan dalam penampilan polosnya sehingga Oom Rony yang sedang mendapat kesempatan menggelutinya pun tambah lebih bersemangat lagi.</p>
<p>Dari mulai kedua susunya, sudah habis-habisan masing-masing daging kenyal yang bulat montok itu diremasi dan disosor rakus mulut Oom Rony. Disedot-sedot bagian puncaknya sam-bil dikulum pentilnya digigit-gigiti kecil membuat Wasti menggelinjang kegelian, begitu juga seputar tubuh si cantik sudah rata dijelajahi rabaan tangan Oom Rony yang sibuk penasaran. Mendarat di selangkangannya bukit daging setangkup tangan itu pun diremasi gemas, jarinya mengukiri celah hangat mengiliki kelentit dengan gemetar bernafsu. Semakin Wasti meliuk erotis semakin merangsang nafsu Oom Rony sampai akhirnya dia tidak tahan berlama-lama lagi. Dia pun berhenti dan segera mengambil ancang-ancang untuk mulai menyetubuhi Wasti. Menangkap bahwa Wasti mungkin masih kikuk dengannya, Oom Rony meminta Wasti berbalik agar dia bisa memasuki dari arah belakang. Ini diikuti Wasti tapi belkang. Ini diikuti Wasti tapi belOom Rony sudah merapat menepatkan sendiri ujung batang kemaluannya dan langsung menekan masuk.</p>
<p>“Tapi.. lho, lhoo, lhoo..?!” Wasti sampai menjengkit dengan meringis bengong karena dia merasakan suatu kesalahan tusuk pada lubangnya. Bukan di lubang kemaluan tapi justru lubang anusnya yang disodok batang itu. Dan konyolnya baru saja dia akan memperbaiki sudah keburu keluar komentar Oom Rony. “Ssshhmm.. enakk Waass.. sempit sekali punyakmuu hhshh..” baru terjepit sudah langsung dipuji rasanya. Wasti jadi urung membetulkan karena dia kuatir Oom Rony tersadar dan malu hati, malah hilang selera nafsunya dan batal meneruskan permainan. Biar saja, mumpung suasana kamar remang-remang gelap mudah-mudahan sampai dengan selesai Oom Rony tidak menyadari kekeliruannya. Syukur, Oom Rony memang kelihatan bernafsu sekali terasa dari sodokannya yang gencar dengan tubuh gemetaran persis seperti anjing sedang dalam siklus birahinya. Maklum, dia betul-betul lapar sekali menyetubuhi partner muda seperti ini. Dan melihat ini Wasti menambahi dengan bantuan goyangan pinggulnya mengocok batang itu, maka tidak berlama-lama lagi sebentar kemudian terdengar tenggorokan Oom Rony menggeros tersendat-sendat ketika dia berejakulasi memuntahkan cairan maninya. Itulah apa yang dialami Wasti ketika melayani Oom Rony semalam.</p>
<p>“Tapi urusannya sekarang gimana nih, semalem yang ini dipakai juga nggak, kalau nggak biar Mas Dony yang ngisi sekarang?” tanyaku menggoda sambil menyusupkan tanganku meremas langsung kemaluan telanjangnya. Wasti memang selalu bertelanjang bulat jika memijati aku.<br />
“Main yang keduanya memang dipakai juga, tapi biarpun gitu asal yang mau ngasih lagi Mas Dony sendiri tetep aja Wasti penasaran Mas..” jawabnya dengan mulai bermain di kemaluanku.<br />
“Kalau gitu pertamanya pakai yang depan dulu ya? Abis itu baru masukin yang di belakang, soalnya Mas Dony juga jadi nafsu deh denger ceritamu barusan.”</p>
<p>Wasti hanya mengangguk tersipu-sipu menyetujui permintaanku. Memang, permainan anus ini dipelajarinya dariku, jadi meskipun awalnya dulu dia kerepotan dengan batang kemaluanku tapi sekarang sudah terbiasa dengan ukuranku. Tanpa menunggu lagi dia pun segera mengencangkan batang kemaluanku. Dengan tekniknya yang terlatih dia pun mengerjai batangku. Mula-mula dilocoki pelan dengan genggaman tangannya sampai setengah menegang, setelah itu diteruskan dengan kerja mulutnya yang mengulum dan mengisap, baru setelah tegang kaku dia pun memasang dirinya untuk siap kusetubuhi. Kalau sudah sampai di sini permainan asyik pun berlangsung sebagaimana yang sering kami lakukan berdua. Yaitu seperti keinginanku, mula-mula kuresapi pijatan lubang kemaluannya di batang kemaluanku tapi ketika menjelang tiba ejakulasiku, barulah kupindahkan ke lubang anus untuk menyelesaikan permainan dengan menyembur-nyemburkan cairan maniku di situ.</p>
<p>Rupanya Oom Rony setelah mendapatkan Wasti bukan sekedar ketagihan lagi tapi lebih dari itu dia ingin berlanjut memelihara Wasti sebagai “gendak” peliharaannya. Kedengarannya enak buat Wasti tapi begitupun dia selalu minta pendapatku dulu. Setelah berunding denganku akhirnya kuberi jalan bahwa Wasti bersedia tapi hanya selagi suaminya masih belum pulang saja. Syarat ini disetujui Oom Rony dan begitulah Wasti langsung menghilang dari Panti Pijat tanpa ada yang tahu karena sebenarnya dia sedang bersembunyi di rumah yang disewakan Oom Rony untuknya. Akan tetapi sekalipun suaminya sudah ada, hubungan Oom Rony dengan Wasti tetap berlanjut yaitu Oom Rony secara rutin memanggil Wasti dengan alasan minta dipijati. Pasalnya Wasti semenjak dipelihara sebagai langganan kesayangan Oom Rony kehidupannya bisa terjamin dimana Wasti diberi modal untuk membuka sebuah usaha percetakan. Ini dianggap hutang budi bagi Ardi karena setelah pulang dari Arab Ardi tidak medapat pekerjaan lagi sehingga keluarga ini tergantung nafkahnya dari usaha percetakan itu.</p>
<p>Berlanjut pada hubungan itu mulanya Wasti dipanggil ke hotel seperti biasa tapi karena yang begini lama-lama justru mengundang kecurigaan Ardi maka Wasti mengusulkan sebaiknya Oom Rony datang ke rumahnya saja. Dengan berlaku seolah betul-betul akan dipijati tapi diam-diam berhubungan badan, cara begitu malah aman tidak akan dicurigai siapapun. Oom Rony menimbang-nimbang ternyata usul Wasti benar dan begitulah hubungan unik ini berlangsung justru seperti dilindungi oleh Ardi. Awalnya waktu siang itu sementara kedua suami istri sibuk melayani percetakan di bangunan sebelah, Wasti memberitahu Ardi bahwa hari ini adalah jadwal pertama kedatangan Oom Rony, dia pun meminta tolong suaminya meneruskan pekerjaannya sendirian karena dia sebentar lagi akan menerima langganan tetapnya itu. Ardi pun mengangguk dan mengambil alih tugas itu, “Udah tinggal aja Was biar Mas yang ngurus. Kamu cepet aja ganti baju nanti Oom Rony keburu dateng,” begitu jawab Ardi.</p>
<p>Wasti pun bergegas masuk ke rumah untuk mempersiapkan diri, dia bisa lega untuk menerima Oom Rony yang datang sesuai jam yang dijanjikan. Singkatnya begitu Oom Rony muncul sudah langsung diajak ke kamar tidurnya, di sini mau tak mau perasaannya agak kurang tenang juga karena baru pertama inilah dia berterang-terangan melakukan kegiatan di rumahnya sendiri, tapi perasaan ini mulai terlupa ketika sebentar kemudian Oom Rony mulai sibuk merangsang mengecapi sekujur tubuhnya. Terus terang, kalau bukan karena uangnya sebenarnya bagi Wasti dari penampilannya laki-laki gemuk pendek lagi botak ini sama sekali tidak menarik ataupun menerbitkan seleranya. Tapi untungnya selain uangnya cukup royal, juga cara bermain seksnya bisa juga memuaskan Wasti sehingga Wasti cukup senang melayaninya. Cara merangsang mulutnya yang rakus diikuti menjilat-jilat rata sekujur tubuhnya mula-mula memang kurang “sreg” bagi Wasti kalau masih memulai pembukaan dari bagian atas. Agak jijik rasanya dengan ludah Oom Rony yang melengket di seputar wajahnya. Tapi kalau sudah menurun ke bawah baru terasa ada keasyikan yang membawa dia naik dalam birahinya. Cuma perlu sering diingatkan karena laki-laki ini suka kelewat gemas. “Aahss Paakk.. jangan digigit keras-keras.. sakitt..” merintih Wasti tapi dengan muka geli senang, menahan kepala Oom Rony kalau terasa puting susunya tergigit agak sakit.</p>
<p>Oom Rony sadar lagi, buru-buru menekan emosinya untuk mencoba lebih halus, tapi biasanya tidak lama karena sebentar kemudian sudah terlupa lagi dia untuk kembali menggigiti gemas sekujur tubuh Wasti. Wasti sering kewalahan, biarpun sudah merengek-rengek dia dengan menggeliat-geliat meronta-ronta menolaki kepala botak Oom Rony dengan maksud ingin menghindari tapi Oom Rony malah tambah bernafsu kepada perempuan yang gayanya makin genit merangsang ini. Tambah bertubi-tubi dia menyerbu Wasti. Mau tak mau Wasti mengalah, sudah hafal dia kalau belum puas membuat mengenyoti gemas di bagian susunya, belum berpindah Oom Rony dari situ. Tapi kalau sudah bergeser ke bawah, caranya pun serupa juga. Tidak hanya di atas, yang di bawah inipun dia sama rakusnya. Malah lebih lagi. Sebab tidak perduli kemaluan Wasti entah berapa orang yang sudah memakai, dia tetap bernafsu sekali menghisap dan menjilat-jilat sambil menyosorkan mukanya tersembunyi di selangkangan Wasti.</p>
<p>Wasti sendiri memang senang dirangsang begini, cuma lagi-lagi kalau terasa geli menyengat membuat dia refleks menolaki kepala Oom Rony, akibatnya sama, gigitan-gigitan gemas langsung mendarat di bagian seputar bukit kemaluannya. Malah lebih bertubi-tubi karena Oom Rony lebih bernafsu dengan bukit kemaluan Wasti yang baginya begitu menggiurkan sekali karena Wasti sering mencukuri bulu-bulu kemaluannya agar lebih merangsang langganannya. Jadi kalau bisa digabungkan suara-suara yang sedang terjadi, maka di bangunan sebelah suara riuh pegawai-pegawai percetakan yang sedang sibuk bekerja sambil bercanda akan berpadu rengekan manja sang majikan perempuan dalam kamar yang sedang merasa keenakkan bercanda dengan kemaluannya dikerjai mulut Oom Rony. “He.. hehngg.. aahss diapain gittu.. gellii iihh..” merengek-rengek kegelian dia kalau terasa ujung lidah Oom Rony berputaran menjilati klitoris sesekali menyodok-nyodok pendek di pintu lubang kemaluannya, atau juga kalau gigitan-gigitan kecil Oom Rony di bibir dalam kemaluannya terasa seperti ditarik-tarik ke atas. Kepala botak Oom Rony yang menempel di selangkangannya dipermainkan seperti bola, kadang didekap diusap-usap kalau merasa keenakkan atau kadang ditolaki kalau geli terlalu menyengat.</p>
<p>Tapi Wasti tidak hanya bisa menerima, dia juga pintar memberi “asyik” pada lawan mainnya karena inilah salah satu yang membuat dia juga jadi perempuan kesayangan langganannya itu. Sebentar kemudian bertukar permainan dengan Wasti sekarang yang ganti menghisap batang kemaluan Oom Rony. Dengan pengalamannya yang banyak Wasti tahu persis bagaimana menyenangkan lelaki lewat permainan mulutnya. Teliti dan cukup lama dia menjilati sepanjang batang, menghisap-hisap kepala bulatnya, melocoknya sekaligus dan mengenyot-ngenyot kantung zakarnya membuat batang kemaluan Oom Rony yang tadi setengah mengeras sekarang bangun mengencang. Merasa sudah cukup barulah keduanya tiba di babak senggama. Kembali Wasti mulai merasakan asyiknya bagian lubang kemaluannya dikerjai, kali ini disogok-sogok batang kemaluan Oom Rony. Ini yang dibilang meskipun tampangnya tidak “sreg” tapi Oom Rony cukup menyenangkan Wasti. Memang tidak besar tapi batang kemaluan lawannya ini cukup bisa bertahan lama kerasnya untuk Wasti terikut sampai di kepuasannya. Itu juga sebabnya meskipun di babak awal pembukaan rangsangan Oom Rony kurang disukai Wasti tapi kalau sudah sampai di bagian ini Wasti cukup senang bersetubuh dengan langganannya yang royal memberi uang itu. Terbukti mimik mukanya berseri cerah memainkan kocokkan lubang kemaluannya mengimbangi tarik tusuk batang kemaluan Oom Rony menggesek ke luar masuk lubangnya.</p>
<p>Seirama dengan bunyi “mencicit” putaran roda mesin cetak yang seolah kurang pelumasan di bangunan sebelah, di kamar ini papan tempat tidur pun bergerit oleh gerak putaran kemaluan Wasti mengocok batang kemaluan Oom Rony. Keduanya justru kebanyakan dilumas karena semakin lincir saja beradunya kedua kemaluan terasa dengan semakin cepatnya goyangan keduanya tanda sudah akan mencapai akhir permainan.<br />
“Hshh.. ayyo Was.. Bapakk keluarr..” di ujungnya Oom Rony segera memberi tanda tiba di ejakulasinya.<br />
“Ayyo Pakk.. sama-sama.. hhoghh.. dduhh..” Wasti cepat menyahut, dia pun segera menyusuli dengan orgasmenya.<br />
Berpadu kejang tubuh mereka ketika masing-masing mencapai puncak permainan secara bersamaan. Oom Rony merasa puas dengan pelayanan Wasti, begitu juga Wasti terikut merasa puas dalam permainan seks bersama langganan tetapnya ini.</p>
<p>Akan tetapi bukan hanya Oom Rony saja yang bisa bercinta dengan Wasti di rumahnya itu tapi aku sendiri pernah mengambil bagian seperti itu dengannya. Sudah dua kali aku bertandang ke rumahnya sekedar untuk ngobrol-ngobrol, tapi pada kali ketiga aku datang bertepatan Ardi sedang keluar rumah, saat itulah kesempatan baik ini ingin dimanfaatkan Wasti. Ceritanya waktu aku menumpang buang air kecil, Wasti menunjukkan kamar mandi yang berada di kamar tidurnya tapi rupanya dia menunggu dengan tidak sabaran lagi. Karena baru saja ke luar kamar mandi aku langsung ditubruk pelukan rindunya.<br />
“Duh Mas Dony.. Was kangen banget deh, Mas nggak kangen ya sama aku,” katanya membuka serangan dengan menciumi seputar wajahku.<br />
“Sama aja Was, tapi kan nggak enak masa dateng-dateng lalu minta gitu sama kamu. Lama nggak perginya Mas Ardi?”<br />
“Dia lagi ngurus ke kantor pajak, pasti lama pulangnya kok..”</p>
<p>Sebentar pembicaraan terputus sampai di sini karena kami memuasi diri dulu dengan saling melepas rindu lewat ciuman bibir yang saling melumat hangat dengan posisi masih berdiri berdekapan di ruang tengah itu. Di situ rupanya kami sudah tidak sabaran menunggu karena sambil mulut tetap sibuk kuikuti dengan tanganku langsung bekerja melepas penutup badannya, ini dituruti Wasti bahkan sampai lolos hingga bertelanjang bulat di pelukanku. Begitu terpandang tubuh mulusnya darah pun langsung panas menggegelegak. Hmm.. kuakui lekuk liku tubuhnya yang indah dan tetap tidak berubah sejak dulu nampak begitu menggiurkan dan memompa darah birahiku menaikkan rangsanganku. Masih ingin kunikmati pemandangan indah ini tapi Wasti yang sudah bertelanjang bulat di depanku seperti kuatir aku batal berubah pikiran, dia segera menarik aku lagi dalam pelukan untuk melanjutkan berciuman sambil dia juga membalas membantu membukai bajuku. Kali ini jelas lebih asyik, bergelut lidah bertempelan hangat kedua dada telanjang cepat saja membawa nafsu birahi naik menuntut, sehingga tidak bermesra-mesraan lebih lama lagi kami pun bersiap masuk di babak utama.</p>
<p>“Ayo Mass.. buka juga ininya..” berdesis suaranya sambil tangannya ingin merosot celanaku, tampak dia seperti ingin terburu-buru. Kuturuti permintaannya sebentar kemudian kami sudah sama telanjang masih melanjutkan berciuman merangsang nafsu yang tentu saja naik dengan cepat.Sekarang baru nyata kerinduan Wasti karena sambil masih sibuk bergelut lidah bertukar ludah, sebelah tangannya yang terjulur ke bawah sudah langsung beraksi meremas-remas gemas jendulan batanganku. Diserang begini ganti aku juga membalas. Kedua tanganku yang semula merangkul pinggangnya kuturunkan meremasi kedua pantatnya dan memainkan jariku menggaruki bibir luar kemaluannya, mengukiri celah hangatnya membuat Wasti mulai menggelinjang terangkat-angkat pantatnya menempelkan jendulan kemaluannya ke jendulan batanganku. Lama-lama tidak tahan, Wastipun tidak membuang-buang waktu untuk merendahkan tubuhnya dan langsung mencaplok kepala batangku, dilocoknya beberapa lama dengan mulutnya sekaligus membasahi dengan ludahnya. Setelah terasa basah licin barulah dia menegakkan lagi tubuhnya dan menunggu aku berlanjut untuk berusaha memasukkan di lubang kemaluannya.</p>
<p>Kuteruskan sesaat ciumanku dengan kembali mengiliki klitorisnya, sementara Wasti menyambut dengan juga melocok menarik-narik batang kemaluanku. Saling merangsang begini tentu saja membuat tuntutan birahi jadi naik tinggi. Merasa cukup, kutunda ciuman sebentar untuk membawa dia bersandar ke dinding di belakangnya, Wasti menurut hanya memandangi aku agak bingung.”Nggak di tempat tidur aja Mas..?” tanyanya seperti kurang cocok dengan tempat yang kupilih.”Di sini dulu, sekali-sekali kita main berdiri kan bisa juga?” begitu jawabku menentukan keputusanku. Meskipun agak kurang “sreg” tapi dia juga sudah kepingin berat jadinya menurut saja ketika setelah kusandarkan ke dinding, kulanjutkan dulu dengan mengecupi mesra seputar wajahnya sambil tetap menghangatkan bara nafsu dengan bermain sebentar mengusapi kemaluannya, menggaruki klitorisnya.</p>
<p>Dia kuserbu dengan membuat tidak sempat protes lebih jauh karena segera ujung jariku merasakan licin basah liang kemaluannya. Batang kemaluan yang sudah dibubuhi ludah kudekatkan masuk terjepit di selangkangannya menenempel ketat di lubang kemaluannya. Begitu kena mimik mukanya langsung tegang rahang setengah menganga karena jika dua kemaluan yang sama telanjang sudah ditempel begini, hangatnya mau tidak mau menuntut untuk melibat lebih dalam. Sinar matanya makin sayu meminta dan ini kupenuhi dengan mulai berusaha memasukkan batang kemaluanku. Kedua lutut kutekuk agak merendah dari situ kutekan membor ke depan ujung batangku sampai terasa menyesap masuk di jepitan lubang kemaluan Wasti, ini karena dia juga menyambut dengan menjinjit dan membuka lebar-lebar pahanya.</p>
<p>“Ahngg Mass Doonyy..” keluar erang senangnya sambil menyebut namaku. Seperti biasa dia selalu terlihat repot jika dimasukkan batangku, tegang serius mukanya sambil sesekali melirik ke arah pintu seperti masih kuatir kalau ada yang masuk mendadak sementara dia sedang sibuk dalam usahanya ini. Begitupun pelan-pelan tenggelam juga batangku ditelan lubang kemaluannya masuk dan sebentar kemudian terendam habis seluruh panjangnya. Aku berhenti sebentar untuk dia menyesuaikan ukuranku baru setelah itu aku pun mulai menikmati jepitan asyik kemaluannya di batangku. Lepas dari sini kami berdua sudah langsung meningkat meresap nikmat sanggama tanpa perduli suasana sekitar lagi. Aku mengawali dengan memainkan batangku menusuk tarik ke luar masuk, sebentar kemudian diimbangi Wasti dengan memainkan pinggul mengocokkan lubang kemaluannya. Masing-masing sama berkonsentrasi pada rasa permainan cinta dengan di atas kembali saling melumat bergelut lidah, kali ini untuk melengkapi gelut dua kemaluan yang mengasyikan dalam posisi sanggama berdiri ini. Sambil begitu kedua tanganku pun meremasi sekaligus kedua susunya menambah enaknya permainan.</p>
<p>Wasti baru sekali kuajak main gaya begini tapi sudah langsung tenggelam dalam kelebihan rasanya. Terbukti baru disogok-sogok beberapa saat saja dia sudah tegang serius mukanya, tapi sebelum sampai ke puncaknya segera kuangkat dia berpindah posisi ke tempat yang lebih santai buat dia dan baru sekarang kubaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. “Wiihhss.. Mas Donny kangen aku kontolmu Mass.. sshh mantepp rasanya..” komentar pertama dengan nada suara bergetar terdengar senang seperti anak kecil baru diberi mainan. Saking rindu dan senangnya sampai mengalir keluar airmata bahagianya.</p>
<p>Tidak kusahut kata-katanya tapi dengan gemas-gemas sayang aku menindih untuk mengecup menggigit bibirnya dan dari situ kusambung dengan mulai memainkan batangku keluar masuk memompa di jepitan lubang kemaluannya. Inipun masih pelan saja tapi reaksinya sudah terasa banyak buat kami. Pinggulnya dimainkan membuat lubang kemaluannya berputaran memijati batanganku, hanya tempo singkat kami sudah meningkat dalam serius tegang dilanda nikmatnya gelut kedua kemaluan. Airmuka kami sama tegang dan sinar mata sama sayu masing-masing hanyut meresapi jumpa mesra yang baru ini lagi kami lakukan setelah lewat cukup lama perpisahan keintiman kami. Menatap wajah si manis sedang hanyut begini tentu saja menambah rangsangan tersendiri yang membuatku makin meningkatkan tempo, sambil tetap meresapi asik yang sama pada gelut dua kemaluan kami.</p>
<p>“Enak nggak Was rasanya punyak Mas..” bisikku menguji di tengah kesibukanku, sekedar ingin tahu komentarnya.<br />
“Hsh iya ennak sekalli Mass.. kontol Mas Donny palingg ennak dari semuanya.. hhssh wihh ker-ras sekalli.. ennaakk.. Adduuh Maas iya ditekenn gittu dalem bbanget hhshh.. Mass Donyy ennaak sekalii Maas..”</p>
<p>Wasti kuhapal memang type spontan terbuka, dipancing sedikit saja langsung keluar suaranya mengutarakan apa yang sedang dirasakannya. Jelas menyenangkan mendapat partner bercinta seperti ini, segera kutenggelamkan juga perasaanku menyatu dalam asyik sanggama sepenuh perasaan dengannya. Makin lama gelut kami makin berlomba hangat tanda bahwa masing-masing mulai menuju ke puncak permainan, sampai tiba di batas akhir kuiringi saat orgasme kami dengan menempel ketat bibirnya saling menyumbat dengan lumatan hangat. “Hhrrh hghh.. nghhorrh.. sshghh.. hoorrhgh hhng.. hngnhffgh.. ngmmgh..” suara tenggorokan kami saling menggeros bertimpal seru mengiringi saat ternikmat dalam sanggama ini. Mengejut-ngejut batang kemaluanku menyemburkan cairan maniku yang juga terasa seperti diperas-peras oleh pijatan dinding kemaluannya. Sampai terbalik kedua bola mata kami saking enak dirasa tapi begitupun sumbatan mulutku belum kulepas menunggu sentakan-sentakan ekstasinya melemah. Baru ketika helaan nafas leganya ditarik tanda kenikmatan berlalu, aku pun melepas tempelan bibirku menyambung dengan kecupan-kecupan lembut seputar wajahnya.</p>
<p>“Hhahhmmhh Mas Ddony.. assyiknyaa.. keturutan kangenku sama Mas..” kembali terdengar komentarnya dengan masih saling berpelukan mesra.<br />
“Mas sendiri juga kangen sekali sama kamu Was,” kataku jujur membalas perasaan hatinya.<br />
“Bener?” tanyanya menguji dengan nada manja.<br />
Tapi tetap menjepitkan otot-otot lubang kemaluannya di batanganku menunggu sampai terlihat aku mulai mengendor menghela nafas legaku, di situ baru dia berhenti dan membiarkan aku melepaskan batanganku dari lubang kemaluannya. Aku lega dan puas tapi air mukanya juga tampak berseri tanda senang telah berhasil memuaskan kerinduannya denganku.</p>
<p>Sejak dari hari itu berlanjut lagi hubungan lamaku dengan Wasti di setiap kedatanganku ke rumahnya tapi dengan alasan yang sama seperti Oom Rony yaitu pura-pura minta dipijat oleh Wasti. Hari itu aku datang ke rumahnya bertemu dengan Ardi yang sedang sibuk mencetak di bangunan sebelah, dia mempersilakan aku menemui Wasti di rumah induk. Aku pun mengiyakan dan waktu masuk ke rumah kudapati Wasti di dapur sedang mencuci piring-piring dan gelas bekas makan siang mereka. Wasti menoleh dan tersenyum manis menyambut kehadiranku serta meminta aku menunggu dulu di ruang tamu. Timbul niat isengku menggoda, kurapati dia yang saat itu masih berdiri di depan meja cucian piring, langsung memeluk dari belakang mencumbui dia. Mengecupi lehernya sambil kedua tanganku meremasi bukit susunya. Karuan Wasti menggeliat-geliat dengan muka malu-malu geli, ingin menghindar tapi mana mau kulepas begitu saja. Akhirnya dia diam saja membiarkan aku menggerayangi tubuhnya, dia sendiri tetap meneruskan mencucinya karena dipikirnya mana mungkin aku berani mengajak dia untuk waktu yang senekat ini.</p>
<p>“Mas Dony ini nggodain aku aja, paling-paling Mas juga udah ngiseng sama yang lain, sekarang kayak sudah kepengen lagi..?”<br />
“Lha memang kepengen kok, sama kamu kan belum?” jawabku sambil mengangkat rok belakangnya, langsung melorotkan celana dalamnya.<br />
Tentu saja Wasti jadi kaget karena tidak mengira bahwa aku betul-betul serius meminta.<br />
“Heh Mas Dony! Ngawur ah, ini kan masih di dapur.. nanti aja di kamar Mas.. kalau di sini nanti ada yang liat gimana?”<br />
Wasti masih coba memperingatkan aku agar mengurungkan kenekatanku tapi aku sudah tidak bisa menahan lagi. Malah sudah kulepas ritsleting celanaku membebaskan kemaluanku langsung menempelkan batanganku di selangkangannya.<br />
“Kasih sebentar aja kan bisa Was, dari sini kan kita bisa ngeliat ke sebelah kalau ada yang dateng..” kataku meminta sambil menenangkan dirinya.</p>
<p>Kebetulan di dekat meja cucian piring itu ada jendela kaca darimana kami bisa melihat keadaan bangunan percetakan di sebelah.<br />
“Ahhs Maass..!” Wasti kontan menjengkit ketika terasa batang telanjangku yang menempel di lubang kemaluannya itu sudah mulai naik mengencang.<br />
Sempat bingung dia tapi dari semula ingin berkeras menghindar akhirnya Wasti jadi tidak tega juga, langsung melunak suaranya berbisik.<br />
“Wih, wih Mass.. kok cepet banget sih keras bangunnya..?”<br />
“Makanya itu.. Mas Dony masukin ya?”<br />
“Iya tapi aku belum basah Mas..”<br />
“Nanti Mas basahin sebentar..”<br />
“Tapi jangan lama-lama ya, nanti keburu ada yang dateng malah tambah penasaran..”</p>
<p>Tanpa membuang-buang waktu aku berjongkok di belakang Wasti dan segera menyosor di lubang kemaluannya yang juga cepat memasang posisi agar lebih mudah, dengan membuka secukupnya kedua pahanya serta menunggingkan sedikit pantatnya. Sambil begitu Wasti sendiri terpaksa menunda dulu pekerjaannya dan menunggu dengan bertopang kedua tangan di tepi meja cucian sambil pandangannya terus melekat memperhatikan ke luar jendela kaca itu. Niatnya memang semula hanya ingin sekedar memberi buat aku, tapi ketika terasa sedotan dan jilatanku di lubang kemaluannya ditambah lagi dengan satu jariku yang kucucukan menggeseki kecil di lubang itu, yang begini cepat saja membuat gairahnya terangsang naik. Cepat-cepat dia membilas kedua tangannya yang masih penuh sabun karena sesewaktu mungkin diperlukan untuk memegangi tubuhku.</p>
<p>Betul juga, tepat saatnya dia selesai membilas bersamaan aku juga selesai mengerjai liang kemaluannya. Segera kubawa batanganku ke depan lubang kemaluannya dan mulai menyesapkan masuk dari arah belakang, langsung saja sebelah tangan yang masih basah itu dipakai untuk memegang pinggulku, sebagai cara untuk mengerem kalau sodokkanku dirasa terlalu kuat. Tapi rupanya tidak. Biarpun sudah dilanda gairah kejantananku, tapi aku masih bisa meredam emosi tidak kasar bernafsu. Selalu hati-hati sewaktu membor batangku masuk meskipun seperti biasa Wasti selalu menunggu dengan muka tegang. Dia baru melega kalau batangku dirasanya sudah terendam habis di lubang kemaluannya.</p>
<p>“Keras sekali rasanya Mas..?” komentar pertamanya sambil menoleh tersenyum kepadaku di belakangnya.<br />
Kugamit pipinya dan menempelkan bibirku mengajaknya berciuman.<br />
“Kalau ketemu lubangmu memang jadi cepet kerasnya..” jawabku berbisik sebelum menekan dengan ciuman yang dalam.<br />
Kami mulai saling melumat sambil diiringi gerak tubuh bagian bawah untuk meresap nikmat gelut kedua kemaluan dengan aku menarik tusuk batang kemaluan, sedang Wasti memutar-mutar pantatnya mengocoki batanganku di liang kemaluannya. Inipun niat semula masih sekedar memberi bagiku saja, tapi tidak bisa dicegah, dia pun dilanda nikmat sanggama yang sama, yang membawanya terseret menuju puncak permainan bersamaku.</p>
<p>Dari semula gerak senggama kedua kami masih berputaran pelan, semakin lama semakin meningkat hangat, karena masing-masing sudah menumpukkan rasa enak terpusat di kedua kemaluan yang saling bergesek, sudah bersiap-siap akan melepaskannya sesaat lagi. Wasti tidak lagi bertopang di tepi meja tapi menahan tubuhnya dengan lurus kedua tangannya pada dinding depannya. Di situ tubuhnya meliuk-liuk dengan air muka tegang seperti kesakitan tertolak-tolak oleh sogokan-sogokan batanganku yang keluar masuk cepat dari arah belakangnya, tapi sebenarnya justru sedang tegang serius keenakkan sambil membalas dengan putaran-putaran liang kemaluannya yang menungging. Masing-masing sudah menjelang tiba di batas akhirnya, hanya tinggal menunggu kata sepakat saja.</p>
<p>“Aahs yyohh Wass.. Mass sudah mau samppe..”<br />
“Iya Mass.. sama-samaa.. sshhah-hhgh.. dduhh.. oohgsshh.. hrrh hheehh Wass ayyoo.. dduuh Maass.. aaddussh hrhh..”<br />
Pembukaan orgasme ini masing-masing saling mengajak dan berikutnya saling bertimpa mengerang mengaduh dan tersentak-sentak ketika secara bersamaan mencapai batas kenikmatan. Jika dihitung secara waktu maka permainan kali ini relatif cepat namun bisa juga membawa Wasti pada kepuasannya. Memang hampir saja terlambat, karena baru saja aku mencabut batang kemaluanku sudah terdengar langkah kaki seseorang akan masuk ke rumah induk. Ternyata memang Ardi yang datang. Wasti sendiri tidak sempat lagi mencuci lubang kemaluannya, buru-buru dia menaikkan celana dalamnya untuk menyumbat cairan mani bekasku yang terasa akan meleleh ke pahanya dan selepas itu dia pura-pura kembali meneruskan mencuci piring yang sempat tertunda itu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.difunde.com/anak-pembantuku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tante misye</title>
		<link>http://www.difunde.com/tante-misye.html</link>
		<comments>http://www.difunde.com/tante-misye.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 May 2012 17:51:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[agak]]></category>
		<category><![CDATA[apa]]></category>
		<category><![CDATA[basah]]></category>
		<category><![CDATA[berusaha]]></category>
		<category><![CDATA[cemas]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[Dia]]></category>
		<category><![CDATA[itu]]></category>
		<category><![CDATA[jas hujan]]></category>
		<category><![CDATA[kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[kursi]]></category>
		<category><![CDATA[lebat]]></category>
		<category><![CDATA[merasa]]></category>
		<category><![CDATA[pakaian]]></category>
		<category><![CDATA[pemuda]]></category>
		<category><![CDATA[petir]]></category>
		<category><![CDATA[sambil]]></category>
		<category><![CDATA[setelah]]></category>
		<category><![CDATA[tampan]]></category>
		<category><![CDATA[tubuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.difunde.com/?p=255</guid>
		<description><![CDATA[Bu Misye dalam perjalanan pulang dari tempat ia bekerja terpaksa berteduh karena dia tidak membawa jas hujan. Bu Misye berteduh di sebuah bangunan yang belum jadi namun sudah beratap. Setelah menyandarkan motornya Bu Misye mencari tepat duduk dan ternyata ada sebuah kursi panjang. Pakaian yang dikenakan suadah basah semua, Bu Misye sebelumnya berniat untuk tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bu Misye dalam perjalanan pulang dari tempat ia bekerja terpaksa berteduh karena dia tidak membawa jas hujan. Bu Misye berteduh di sebuah bangunan yang belum jadi namun sudah beratap. Setelah menyandarkan motornya Bu Misye mencari tepat duduk dan ternyata ada sebuah kursi panjang. Pakaian yang dikenakan suadah basah semua, Bu Misye sebelumnya berniat untuk tidak berteduh namun karena hujannya semakin lebat dan disertai angin dan petir maka ia memutuskan untuk berteduh, walaupun dalam hatinya cemas karena hari sudah menjelang gelap namun tanda-tanda hujan akan reda belum muncul.</p>
<p>Belum lama duduk datang seorang pemuda tanggung yang juga akan berteduh. Setelah menyandarkan Tiger yang dipakainya, pemuda itu cepat-cepat masuk ke bangunan yang belum jadi tersebut. Bu Misye pertama agak khawatir dengan pemuda tersebut namun akhirnya kekhawatirannya akhirnya hilang karena melihat penampilannya juga keramahannya. Bu Misye melempar senyum dibalas dengan senyum oleh pemuda tersebut.</p>
<p>Pemuda tanggung tersebut berkulit putih bersih dan wajah yang diakui oleh Bu Misye memang tampan. Pemuda tersebut duduk di kursi panjang agak berjauhan letaknya dengan Bu Misye.<br />
&#8220;Cuma sendirian Bu?&#8221; pemuda tersebut memulai pembicaraan.<br />
&#8220;Iya Dik&#8221; Bu Misye menjawab.<br />
&#8220;Adik dari mana?&#8221; lanjutnya.<br />
&#8220;Dari rumah teman, sedang Ibu sendiri dari mana?&#8221; pemuda itu menyambung.<br />
&#8220;Dari tempat kerja Dik&#8221; Bu Misye menjawab.<br />
&#8220;Koq sampai sore Ibu, memang tidak dijemput oleh suami atau putra Ibu?&#8221; pemuda tersebut kembali bertanya.<br />
&#8220;Ndak Dik.. walau udah tua Ibu berusaha sendiri lagian anak-anak Ibu udah berkeluarga semua&#8221; Bu Misye menyahut.<br />
&#8220;Eh Adik masih kuliah kelihatannya, nama Adik siapa biar enak kalau manggilnya&#8221; lanjut Bu Misye, walau dalam hatinya dia agak bingung kenapa harus bertanya namanya.<br />
&#8220;Iwan Ibu, masih kuliah semester pertama, nama Ibu?&#8221; jawab pemuda tersebut.<br />
&#8220;Misye&#8221; jawab Bu Misye.<br />
&#8220;Ibu umurnya berapa koq ngakunya sudah tua?&#8221; Iwan bertanya.<br />
&#8220;Udah hampir limapuluh Dik Iwan&#8221; jawab Bu Misye.<br />
&#8220;Koq masih keliatan lebih muda dari usia Bu Misye lho?&#8221; lanjut Iwan.</p>
<p>Pembicaraan terhenti sebentar. Baju yang dipakai oleh Bu Misye yang basah secara jelas mencetak buah dadanya yang sekal terbungkus oleh BH hitam yang keliatan sangat menantang di usianya. Rambutnya yang teruarai lurus sebahu tampak basah juga. Kulitnya yang putih tampak titik air yang masih membasahinya. Iwan terus memandangi tubuh yang Bu Misye.<br />
&#8220;Tubuh Ibu masih bagus lho, Bu Misye tentu sangat bisa merawat tubuh&#8221; tiba-tiba Iwan memecah kesunyian.<br />
Bu Misye agak kaget dengan pertanyaan Iwan. Dia agak tersinggung dengan pertannyan itu apalagi mata Iwan yang tidak lepas dari dadanya. Anak ini ternyata agak kurang ajar.</p>
<p>Belum lagi keterkejutannya hilang, Iwan berkata lagi, &#8220;Tentu suami Ibu sangat sengan dengan istri yang secantik dan semolek Bu Misye&#8221; Iwan berkata sambil meremas-remas kemaluannya yang masih dibungkus celananya.<br />
Melihat situasi yang kurang baik itu, Bu Misye tidak menjawab, dia langsung berdiri menuju ke motornya walaupun hujan tampaknya semakin menjadi-jadi. Namun tangan Iwan lebih dulu menyahut tangan Bu Misye. Bu Misye semakin marah.<br />
&#8220;Kau mau apa haa?&#8221; hardiknya.<br />
&#8220;Hujan masih lebat, sedang kita cuma berdua.. saya menginginkan Ibu&#8221; sahut Iwan dengan santainya sambil merangkul Bu Misye dari belakang.<br />
&#8220;Menginginkan apa?&#8221; Bu Misye agak berteriak sambil berusaha melepaskan pelukan Iwan.<br />
&#8220;Menginginkan tubuh Ibu..&#8221; Iwan berkata sambil tangannya beraksi menggerayangi tubuh Bu Misye dari belakang.<br />
&#8220;Jangan Dik Iwan.. apa kamu nggak merasa umurku.. sebaya dengan ibumu&#8221; Bu Misye berusaha untuk mengingatkan.<br />
&#8220;Justru itu saya suka&#8221; Iwan menyahut.<br />
Tangan kirinya merangkul Bu Misye dari belakang, tangan kananya berusaha menyingkap rok yang dipakai Bu Misye setelah tersingkap ke atas Iwan mengeluarkan penisnya yang sudah keras berdiri. Tak ketinggalan CD yang dipakai oleh Bu Misye dipelorotkan ke bawah.</p>
<p>Tangan Iwan meraba-raba memek Bu Misye yang ditumbuhi oleh jembut yang rimbun. Jarinya berusaha masuk ke lubang kenikmatan Bu Misye.<br />
&#8220;Dik Iwan.. To.. long.. hentika.. ka.. ka.. ka.. mu nggak se.. harusnya mela.. kuka.. ini.. Dik Iwan Iwan..&#8221; Bu Misye berusaha mengingatkan lagi dengan terbata-bata.<br />
&#8220;Ah.. Jangan.. Dik Iwan.. Ibu.. sudah tua.. ingat..&#8221; tambahnya lagi.<br />
Iwan tidak menggubris kata-kata Bu Misye jarinya sudah masuk ke vagina Bu Misye dan bermain-main di dalamnya. Kemudian Iwan berusaha membalikkan tubuh Bu Misye, setelah itu dengan kasar Iwan mendorong tubuh molek itu sehingga jatuh terjerebab ke tanah. Dengan posisi duduk mengkangkang Bu Misye berusaha bangkit lagi dari duduknya. Pahanya yang mulus tersingkap sampai ke pangkalnya. Pakaian bagian atas acak-acakkan tampak sebagian kutang warna hitam yang seolah tak mampu menahan volume buah dada indah Bu Misye.</p>
<p>Belum sempat berdiri Iwan berkata sambil melepaskan celana dan bajunya, &#8220;Bu Misye, anda berteriakpun tak akan ada orang yang mendengar.. tempat ini agak jauh dari rumah penduduk sebaiknya Bu Misye tidak usah macam-macam&#8221;<br />
&#8220;Aku tak kan sudi melayani kamu.. anak muda&#8221; Bu Misye setengah berteriak.<br />
&#8220;Sudah jangan banyak bicara lepaskan pakaianmu.. cepat.. daripada aku menyakiti Ibu&#8221; sahut Iwan sambil melepaskan celana dalamnya, tampak batang kontolnya yang sudah mengacung keras.</p>
<p>Airmata Bu Misye mulai berlinang. Dia merasa sangat ketakutan dan galau hatinya. Dia merasa tak berharga dihadapan anak muda yang pantas menjadi anaknya. Dia juga merasa menyesal berteduh di tempat itu, dia merasa juga menyesali pakaian kerja yang sering ia kenakan. Rok yang terlalu tinggi dan baju yang transparan yang memperlihatkan BHnya yang seakan tidak muat menahan buah dadanya, sehingga membuat para lelaki yang menatapnya seolah menelanjanginya. Namun dalam hatinya berkata juga bahwa baru sekarang dia melihat kemaluan lelaki yang besar, kontol suaminya tidak sebesar itu. Darahnya berdesir kencang.<br />
Belum hilang keterpanaannya sudah dikejutkan oleh suara Iwan lagi, &#8220;Cepatt! Sudah nggak tahan nih..&#8221;<br />
Karena dilanda ketakutan, dengan perlahan tangan Bu Misye melepas satu persatu kancing bajunya. Tampaklah payudaranya yang dibungkus oleh BH hitam.<br />
&#8220;Cepat lepas kutangmu!&#8221; bentak Iwan.</p>
<p>Dalam hati Bu Misye berkata anak muda memang nggak sabaran. Setelah melepas BHnya, tumpahlah payudara Bu Misye yang masih tampak sekal dan menggairahkan, puting susunya yang coklat kehitam-hitaman tampak menantang sekali.<br />
Iwan jongkok di dekat Bu Misye tangannya mulai menggerayangi payudara Bu Misye.<br />
&#8220;Uh.. ah.. ah..&#8221; rintih Bu Misye ketika tangan Iwan memilin milin putingnya.<br />
Tidak puas memilin-milin mulut Iwan mulai mendarat di pucuk anggur itu. Lidahnya menari-nari dan ketika dihisap keras-keras Bu Misye hanya bisa menggigit bibir bagian bawah dan memejamkan matanya. Setelah puas dengan buah dada Bu Misye Iwan bangkit kemudian mendekatkan kontolnya yang besar tersebut ke mulut wanita paruh baya yang lemah itu.<br />
&#8220;Hisap.. Bu Misye&#8221; perintahnya.<br />
&#8220;Cepatt!&#8221; bentak Iwan ketika Bu Misye belum juga melakukan apa yang ia kehendaki.</p>
<p>Akhirnya Bu Misye mengulum batang zakar. Pertama dia melakukan hampir saja dia muntah karena selama hidupnya dia baru melakukan beberapa kali dengan suaminya. Bu Misye seakan tidak percaya apa yang dia lakukan sekarang, dia di tempatnya bekerja adalah orang yang dihormati sedang di kampungnya dia juga orang yang disegani Ibu-Ibu. Namun pada saat ini dia sedang melakukan hal yang jorok hingga tentu kehormatannya sebagai wanita hilang sama sekali.</p>
<p>Iwan dengan kasar memaju mundurkan kontolnya sehingga terdengar suara nyaring menggairahkan. Setelah puas Iwan bangkit lagi kemudian di mengambil posisi ditengah-tengah di antara kaki mulus Bu Misye.<br />
Sambil mengelus-elus kontolnya yang sudah sangat keras, Iwan berkata, &#8220;Bu Misye lebarkan lagi agar lebih mudah&#8221;<br />
Hal yang sangat mendebarkan bagi Bu Misye akan terjadi dengan perlahan Bu Misye membuka lebar kakinya sehingga tampaklah memeknya yang tampak merekah dengan bibirnya yang agak menggelambir. Perlahan dan pasti Iwan menuntun kontolnya memasuki lobang kenikmatan Bu Misye. Iwan merasakan kehangatan memek Bu Misye dan kekencangannya seakan meremas rudal Iwan. Sebaliknya Bu Misye yang sedari tadi dengan berdebar menantikan hal tersebut seakan terhenti detak jantungnya ketika ia mulai ditusuk oleh anak muda ini. Seakan merobek barang paling berharga yang dimilikinya.</p>
<p>Ketika Iwan mulai mempercepat genjotannya tampaknya Bu Misye juga sudah mulai melambung ke awan. Sementara diluar hujan seakan belum mau berhenti. Iwan semakin mempercepat genjotannya. Buah dada Bu Misye tergoncang-goncang kesana-kemari. Bu Misye yang semula pasif sedikit memberi perlawanan dengan menggoyangkan pantatnya. Tangannya mengepal memukul lantai, kepalanya bergoyang menahan hawa birahi yang semakin meninggi.</p>
<p>Akhirnya Bu Misye tidak kuat menahan cairan yang semula ia bendung-bendung, lobang memek Bu Misye mengerut kencang ketika dia mencapai puncak. Bu Misye malu kenapa dia bisa orgame padahal ia tidak menginginkan itu. Yang lebih membuat dia bertambah malu adalah Iwan seakan mengetahui hal tersebut. Iwan tersenyum sambil terus mempercepat genjotannya. Dalam hatinya dia berkata ternyata kau juga merasakan kenikmatan juga. Dan tampaknya Iwan juga akan sampai ke puncak. Dan terdengar lenguhan panjang Iwan ketika batang kontolnya ia tancapkan dalam-dalam sambil merangkul erat Bu Misye keluarlah cairan sperma membanjiri lobang memek Bu Misye.</p>
<p>Iwan terkulai lemas diatas tubuh telanjang Bu Misye jiwa mereka seolah melayang sejenak.<br />
Setelah itu Iwan bangkit dan mengambil pakaiannya sambil berkata, &#8220;Bu Misye berpakaianlah, tampaknya hujan sudah mulai reda, memek Ibu ueenak sekali, terima kasih ya Bu Misye&#8221;.<br />
Bu Misye menatap Iwan dalam hatinya bercampur antara marah, gundah, galau. Namun satu hal yang dia tidak pungkiri bahwa dia juga menikmati perkosaan yang dilakukan Iwan.</p>
<p>Akhirnya Bu Misye memunguti pakaian kemudian mengenakannya kembali. Mereka berjalan ke arah motor mereka tanpa bersuara.<br />
Tampaknya hujan sudah reda. Bu Misye menghidupkan mesin motornya, namun ia dihentikan lagi oleh Iwan.<br />
Iwan berkata, &#8220;Bu Misye saya minta maaf akan kelancangan saya, saya tidak bisa menahan gejolak nafsu saya..&#8221;<br />
Bu Misye tak menjawab. Ia hanya menatap wajah Iwan dengan mata yang berkaca-kaca. Iwan diam kemudian Iwan mendekatkan wajahnya dan ciuman hangat ia daratkan ke bibir Bu Misye. Pertama Bu Misye diam namun akhirnya Bu Misye membalas ciuman tersebut. Lidah mereka saling bertautan. Sejenak kemudian Bu Misye tersadar dan melepaskan ciuman tersebut kemudian melajukan kendaraannya.</p>
<p>Iwan hanya terdiam terpaku kemudian menaiki kendaraannya ke arah yang berlawanan. Bu Misye menerobos hujan rintik-rintik dengan perasaan yang sebenarnya terpuaskan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.difunde.com/tante-misye.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keponakanku yang nakal</title>
		<link>http://www.difunde.com/keponakanku-yang-nakal.html</link>
		<comments>http://www.difunde.com/keponakanku-yang-nakal.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 May 2012 05:51:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[16 tahun]]></category>
		<category><![CDATA[bulat]]></category>
		<category><![CDATA[celana]]></category>
		<category><![CDATA[dari]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[hari minggu]]></category>
		<category><![CDATA[iseng]]></category>
		<category><![CDATA[itu]]></category>
		<category><![CDATA[karena]]></category>
		<category><![CDATA[kataku]]></category>
		<category><![CDATA[kira kira]]></category>
		<category><![CDATA[membaca]]></category>
		<category><![CDATA[menjadi]]></category>
		<category><![CDATA[milikku]]></category>
		<category><![CDATA[nakal]]></category>
		<category><![CDATA[rangsangan]]></category>
		<category><![CDATA[sambil]]></category>
		<category><![CDATA[sehingga]]></category>
		<category><![CDATA[terima kasih]]></category>
		<category><![CDATA[untuk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.difunde.com/?p=252</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Ida. Usiaku di tahun 2007 ini adalah 34 tahun. Walaupun aku bukan termasuk cewek yang cantik, teman-temanku sering mengatakan kalau aku ini termasuk cewek yang menarik. Rambutku lurus berwarna hitam dengan panjang mencapai punggungku. Tubuhku yang sedikit berisi menyebabkan payudaraku menyesuaikan diri sehingga aku mengenakan bra nomor 36B untuk membungkus kedua payudaraku itu. Vaginaku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Namaku Ida. Usiaku di tahun 2007 ini adalah 34 tahun. Walaupun aku bukan termasuk cewek yang cantik, teman-temanku sering mengatakan kalau aku ini termasuk cewek yang menarik. Rambutku lurus berwarna hitam dengan panjang mencapai punggungku.</p>
<p>Tubuhku yang sedikit berisi menyebabkan payudaraku menyesuaikan diri sehingga aku mengenakan bra nomor 36B untuk membungkus kedua payudaraku itu. Vaginaku dihiasi oleh bulu-bulu yang indah walaupun jumlahnya tidak terlalu banyak. Aku tinggal sendirian di rumahku yang terletak di kota Surabaya ini karena sampai saat ini aku masih belum menikah. Walaupun demikian, kehidupan seks yang aku jalani sangat indah karena aku selalu mendapatkan cara untuk memuaskan hasratku.</p>
<p>Pada suatu hari Minggu siang minggu ke tiga bulan September 2007, aku di telepon oleh keponakanku yang bernama Alex saat aku sedang membaca email yang masuk di da_kulthida@yahoo.com milikku.. Usianya 16 tahun dan berwajah lumayan tampan.</p>
<p>“Halo, tante Ida .. ?”, katanya dari seberang telepon.<br />
“Iya, siapa ini .. ?, tanyaku.<br />
“Alex, tante ..”<br />
“Oh.. kenapa, Lex ?”<br />
“Tante, kalau boleh Alex mau minta bantuan tante.”<br />
“Bantuan apa ?”<br />
“Boleh tidak kalau tante jadi model untuk Alex foto ?”<br />
“Buat apa kamu foto-foto tante ?”<br />
“Cuma iseng aja kok ..”<br />
Aku mengerti dengan keinginannya ini. Alex sedang menekuni hobi fotografi sehingga tentu saja dia mencari-cari apa saja yang bisa di foto olehnya.<br />
“Boleh saja..”, kataku.<br />
“Terima kasih tante. Saya akan datang sebentar lagi. Kira-kira 10 menit lagi sampai. Kita foto-foto di rumah tante saja.”<br />
“Oke, kalau gitu. Tante tunggu, ya &#8230;”</p>
<p>Aku menutup telepon itu dan segera menuju ke kamar tidurku untuk mengambil pakaian agar aku dapat menutupi tubuhku yang saat ini hanya sedang memakai celana dalam berwarna putih saja. Jika aku sendirian di rumah, aku memang biasanya selalu dalam keadaan setengah telanjang atau telanjang bulat. Bila ada yang hendak datang, baru aku mencari pakaian untuk menutupi tubuhku itu.</p>
<p>Kebiasaan ini sudah berlangsung sejak aku berumur 27 tahun yaitu sejak aku tinggal sendirian di rumah itu. Di dalam kamar tidurku, aku tidak langsung menuju lemari pakaian. Aku memutuskan untuk membubuhkan sedikit make up ke wajahku sebab Alex akan memakaiku sebagai model untuk fotonya dan aku ingin tampil sedikit menarik di depan kameranya.</p>
<p>Setelah selesai memakai make up, dari dalam lemari pakaian aku mengambil sebuah rok terusan tanpa lengan berwarna putih dengan strip biru yang panjangnya sedikit di atas lututku. Tanpa memakai bra lagi, aku segera memakai rok itu dan merapikannya sebelum akhirnya aku mengikatkan ikat pinggang putih yang menjadi bagian dari rok itu.</p>
<p>Baru saja saat aku selesai mengenakan pakaianku, aku mendengar bel pintu berbunyi. Dengan melangkah sedikit cepat, aku keluar dari kamar tidurku dan segera menuju pintu depan untuk membuka pintu. Rupanya Alex sudah tiba di rumahku.</p>
<p>“Halo tante.. Tante kelihatan cantik“, katanya sambil tersenyum.<br />
“Tentu saja. Kan mau jadi model.. ayo, masuk.. ”, kataku sambil tersenyum pula.<br />
Alex segera melangkah masuk ke rumahku. Aku segera menutup pintu depan dan kemudian mengajaknya ke ruang tengah. Sesampainya kami di ruang itu, Alex berkata,<br />
“Kita bisa mulai tante ?”<br />
“Oh, bisa saja .. kamu mau di mana ?”, tanyaku.<br />
“Bagaimana kalau di teman belakang rumah tante ?”<br />
“Ok..”</p>
<p>Kami kemudian menuju ke taman belakang rumahku. Taman belakang rumahku termasuk cukup luas dan memiliki tatanan yang cukup bagus serta dikelilingi oleh pagar tembok yang cukup tinggi sehingga tidak ada orang yang bisa melihat ke dalam tamanku ini. Sesampainya kami di taman ini, Alex mulai mengeluarkan kamera digitalnya dan memulai kegiatannya. Alex bertindak sebagai fotografer sekaligus pengarah gaya. Setelah beberapa lama, akhirnya kami hampir selesai.</p>
<p>“Tante, ini foto yang terakhir. Aku minta tante berdiri membelakangiku. Saat aku memberikan aba-aba, tolong tante berputar menghadapku. Tolong jangan berputar terlalu cepat. Biasa saja.. “, katanya.</p>
<p>Aku melakukan apa yang seperti dia katakan dan dia menjepretku. Akhirnya kegiatan kami sudah selesai dan kami tinggal melihat hasilnya. Alex segera memindahkan foto-foto tersebut dari memory card ke dalam laptop yang dibawanya. Setelah selesai, aku dan Alex bersama-sama memeriksa hasil fotonya.</p>
<p>Foto yang terakhir membuatku agak terkejut, sebab di dalam foto itu terlihat bahwa ternyata saat aku berputar, rokku tersibak dan celana dalamku yang berwarna putih terlihat dengan jelas. Selain itu, tanpa aku sadari ternyata bagian dada dari bajuku menjadi longgar karena beberapa kali bergaya sehingga sebagian payudaraku terlihat tidak tertutup, bahkan puting payudaraku telihat samar-samar dari baliknya. Saat aku melihat keponakanku, wajahnya terlihat datar saja. Rupanya dia sudah tahu kalau hasilnya bakal begini.</p>
<p>“Foto ini paling bagus”, katanya.<br />
“Tapi celana dalam tante kelihatan ..”, kataku.<br />
“Justru di sini bagusnya. Tante kelihatan seksi sekali..”<br />
Aku tersenyum saja. Walaupun sedikit merasa malu, aku menyukai fotoku yang terakhir itu juga.<br />
“Lex, tante minta copy dari file gambar yang terakhir ini..”, kataku<br />
“Oke..”, katanya.</p>
<p>Setelah kegiatan kami berakhir, Alex tidak langsung pulang. Kami kembali ke ruang tengah dan duduk di sofa untuk berbincang-bincang. Selama berbincang-bincang, Alex terus menatap bagian dadaku yang sejak tadi menampakan sebagian payudaraku seperti di dalam foto karena aku lupa untuk membetulkannya. Saat aku menyadari hal itu, aku tidak berusaha untuk menutupinya. Ada perasaan senang yang menjalari tubuhku. Setelah beberapa lama, akhirnya aku berkata,</p>
<p>“Lex, kenapa melihat dada tante terus ?”<br />
Alex sedikit terkejut. Dia menoleh ke tempat lain sambil menjawab,<br />
“Ngak ada apa-apa, kok tante..”<br />
Aku tersenyum melihat tingkahnya. Aku sangat suka kalau dia melihatku seperti itu.</p>
<p>“Lex, kalau kamu suka, kamu boleh melihatnya lagi kok”, kataku.<br />
Tanpa menunggu tanggapan dari Alex, aku melebarkan bagian dada bajuku sehingga kali ini kedua payudaraku dapat terlihat dengan jelas. Alex yang mendapat pemandangan seperti itu segera saja melotot dan melahap kedua payudaraku dengan pandangan yang penuh minat. Aku yang melihatnya seperti itu tersenyum dan membiarkan Alex untuk menjelajahi dadaku dengan pandangannya.</p>
<p>Akhirnya Alex menjadi tidak tahan. Dia bertanya kepadaku,<br />
“Tante, bolehkah Alex memegangnya ?”</p>
<p>Aku mengangguk sambil tersenyum.Tanpa membuang waktu lagi, Alex segera menggapai kedua payudaraku dengan tangannya dan mulai meremas-remas serta mempermainkan putingnya. Kontan saja aku menjadi terangsang.</p>
<p>Kubaringkan tubuhku ke atas sofa dan kupejamkan mataku untuk menikmati sensasinya. Setelah agak lama, tanpa permisi lagi Alex mulai menciumi dan menjilati kedua payudaraku. Aku terus saja memejamkan mata dan menikmati setiap rangsangan di payudaraku. Tubuhku ikut memberikan reaksi terhadap rangsangan itu.</p>
<p>Aku merasakan cairan kewanitaanku mulai mengalir dan membasahi vaginaku. Setelah beberapa lama, tanganku mulai membuka pakaian Alex. Sambil terus menciumi dan menjilati kedua payudaraku, Alex membantuku membuka bajunya sehingga dalam sekejab Alex berada dalam keadaan telanjang bulat. Penisnya terlihat berdiri tegak karena sudah pasti dia juga dalam keadaan terangsang.</p>
<p>Untuk sementara, dia melampiaskan nafsunya kepada kedua payudaraku. Aku tidak mau ketinggalan. Kujulurkan tanganku untuk menggapai penisnya. Setelah penisnya berada di dalam genggamanku, aku mulai memainkan penisnya pula.</p>
<p>Setelah beberapa saat lamanya, Alex melepaskan bibirnya dari payudaraku dan berkata,</p>
<p>“Tante, kalau boleh aku juga ingin melihat memek tante”<br />
Mendengar permintaannya ini aku segera berdiri dan mengangkat rokku dengan tanganku sehingga sekali lagi aku memamerkan celana dalam putihku kepadanya.</p>
<p>“Kamu buka sendiri celana dalam tante”, kataku.<br />
Alex segera berjongkok di depanku dan dengan tangan yang agak gemetar meraih celana dalamku. Dengan perlahan-lahan namun pasti, celana dalamku melorot turun dan sedikit demi sedikit memperlihatkan rambut vaginaku sampai akhirnya keseluruhan vaginaku tidak lagi ditutupi oleh celana dalam putihku. Vaginaku terlihat sedikit basah oleh karena cairan kewanitaaanku. Alex membiarkan celana dalam putihku tersangkut di bagian lututku dan mulai meraba vaginaku.</p>
<p>“Tante, ini indah sekali”, katanya sambil membelai rambut vaginaku dengan lembut.<br />
Aku diam saja dan kembali merasakan rangsangan yang kali ini berpindah dari payudara ke vaginaku.</p>
<p>Dengan jarinya, Alex menyodok-nyodok liang vaginaku sehingga jarinya dibasahi oleh cairan kewanitaanku. Setelah Alex menjilati jari-jarinya itu sampai semua cairan kewanitaanku yang menempel di jarinya habis, dia kembali menyodok-nyodokan jarinya di liang vaginaku lagi. Dia melakukan hal itu berkali-kali .</p>
<p>Kelihatannya dia sangat menikmati cairan kewanitaanku. Sambil menusuk-nusuk liang vaginaku, jari-jarinya yang lain memainkan klitorisku. Rangsangan yang aku rasakan menjadi semakin hebat. Di saat aku merasakan tubuhku menjadi semakin lemas, aku segera membaringkan diriku di atas sofa karena rangsangan menjadi semakin kuat.</p>
<p>Tak henti-hentinya mulutku mendesah-desah karena merasa nikmat. Setelah puas meraba vaginaku, Alex mulai menciumi dan menjilati vaginaku. Kali ini rangsangan terasa semakin dashyat. Aku tidak bisa berbuat apa-apa kecuali mendesah dan meremas-remas kedua payudaraku sendiri sementara Alex terus saja menciumi dan menjilati vaginaku.</p>
<p>Aku yang sudah dalam keadaan sangat terangsang akhirnya mulai tidak tahan. “Lex, buka pakaian tante sampai tante telanjang bulat ..”, kataku sambil mendesah-desah.</p>
<p>Alex tidak menjawab, tetapi tangannya mulai membuka ikat pinggang rokku dan tidak lama kemudian aku sudah berada dalam keadaan telanjang.</p>
<p>Tidak lupa Alex meloloskan celana dalam putihku yang dari tadi tergantung di kedua lututku sehingga tidak ada selembar benangpun yang tersisa di tubuhku. Alex terdiam sejenak dan memandangi tubuhku yang dalam keadaan polos tanpa pakaian.</p>
<p>“Tante cantik sekali. Tubuh tante bagus dan sexy”, katanya.<br />
Aku tersenyum dan berkata,<br />
“Kalau kamu suka, kamu boleh menyetubuhi tante. Tante mau berhubungan intim dengan kamu, kok..”<br />
Dengan tersenyum, Alex kemudian membuka kedua kakiku dan memposisikan penisnya di depan vaginaku.</p>
<p>Dengan satu hentakan lembut, seluruh penisnya terbenam ke dalam vaginaku yang diikuti oleh teriakan tertahanku karena merasakan kenikmatan. Setelah itu, Alex mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur sehingga penisnya menyodok-nyodok di dalam lubang vaginaku.</p>
<p>Cairan kewanitaanku turut memberikan andil dalam membantu penis Alex agar meluncur maju mundur dengan mudah dalam liang vaginaku ini. Kami berdua mendesah-desah karena nikmat. Dalam posisi ini, aku mengalami orgasme berkali-kali sambil diiringi erangan-erangan dari bibirku.</p>
<p>Setelah beberapa saat, Alex menarik penisnya dan memberikan isyarat agar aku menungging. Aku menurut saja. Kuputar badanku dan kutunggingkan pantatku di depannya. Sedetik kemudian, aku merasakan penisnya masuk kembali ke dalam liang vaginaku dan mulai menyodok-nyodok lagi. Rupanya Alex melakukan doggy style kali ini.</p>
<p>Sekali lagi aku terjebak dalam dashyatnya kenikmatan berhubungan intim. Beberapa kali aku merasakan orgasme yang luar biasa sebelum akhirnya aku mendengar erangan kenikmatan dari bibir Alex yang disertai dengan semburan spermanya di dalam rahimku yang menandakan bahwa akhirnya Alex telah mencapai kenikmatan puncak pula. Sperma Alex terasa hangat di dalam rahimku. Setelah menyemburkan spermanya, Alex mencabut penisnya.</p>
<p>Aku merasa bahwa ada sedikit sperma yang meleleh keluar dari liang vaginaku dan membasahi vaginaku bagian luar saat penisnya tercabut. Segera saja aku menjulurkan jari-jariku ke vaginaku dan mengambil lelehan sperma yang mengalir turun. Setelah jari-jariku berlumuran sperma Alex, aku membersihkan jari-jariku dengan menjilat-jilat sperma yang melekatinya.</p>
<p>Rasa sperma yang khas selalu membuat aku senang. Setelah itu, Aku membalikkan badanku yang dalam keadaan telanjang menghadapnya terlentang. Sisa sperma Alex yang sudah tinggal sedikit masih terlihat menempel di vaginaku bagian luar. Alex kemudian merebahkan dirinya di atas badanku dan memelukku. Aku segera membalas pelukannya.</p>
<p>Sambil berpelukan dalam keadaan telajang bulat, kami saling berciuman bibir dengan mesra untuk beberapa saat lamanya. Perasaan yang nikmat masih tersisa di antara kami.</p>
<p>Akhirnya setelah beberapa saat, kami memperoleh kekuatan kami kembali. Kami segera bangkit dari pembaringan dan mulai memunguti pakaian kami yang tercecer di mana-mana. Aku segera mengenakan kembali celana dalam putih dan rokku. Setelah selesai berpakaian, kami kembali duduk di sofa dan berbincang.</p>
<p>“Tante, tadi enak sekali. Tante memang nikmat”, katanya.<br />
Aku tersenyum saja dan lalu berkata,</p>
<p>“Kamu juga hebat. Kamu belajar dari mana ? Usiamu kan baru 16 tahun, tapi kok kayaknya kamu sudah sering melakukan hubungan seks ?”<br />
“Ah, tante. Alex ini sudah sering melakukannya sama mama di rumah..”</p>
<p>Aku sangat terkejut mendengarnya. Rupanya selain aku, kakakku juga melakukan incest dengan anaknya sendiri. Tapi hal ini membuat aku sedikit lega sebab setidaknya kakakku tidak akan mempermasalahkan hubungan seksku dengan anaknya bila dia sendiri juga melakukannya.<br />
“Terus, mana yang lebih enak ? Mamamu atau tante ini ?”<br />
Alex tersenyum sambil berkata,</p>
<p>“Kalian berdua sama-sama enak, kok.. tapi kalau disuruh memilih, Alex masih lebih suka melakukannya dengan tante soalnya tante lebih cantik dari mama, sih..”</p>
<p>“Apa kamu sering melakukan dengan mamamu ?”<br />
“Kalau papa ngak ada di rumah aja”<br />
Aku diam saja kali ini. Beberapa saat kemudian Alex berkata,<br />
“Tante, Alex mau pamit.”<br />
“Sudah mau pulang ?”<br />
“Iya, tante.”</p>
<p>“Ya, sudah kalau gitu. Hati-hati di jalan, ya..”<br />
“Ok.. Oh ya, lain kali Alex masih boleh memotret tante ?”<br />
Aku mengangguk sambil tersenyum.<br />
“Tentu saja, kalau mau pose yang agak nakal tante bersedia kok”, kataku.<br />
“Bayarannya pakai ‘itu’ ya ..”<br />
Kali ini aku tertawa.<br />
“Apa saja, deh..”</p>
<p>Alex melangkah pergi sambil melambaikan tangannya. Aku membalas lambaiannya dan memandang dia mengendarai mobilnya sampai menghilang dari pandanganku sebelum akhirnya aku menutup pintu rumahku dan menguncinya. Hari ini merupakan hari yang sungguh menggembirakan bagiku karena aku memperoleh satu cara lagi untuk memuaskan hasratku.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.difunde.com/keponakanku-yang-nakal.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sejenak bersama tante demi UANG</title>
		<link>http://www.difunde.com/sejenak-bersama-tante-demi-uang.html</link>
		<comments>http://www.difunde.com/sejenak-bersama-tante-demi-uang.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 May 2012 17:52:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[akrab]]></category>
		<category><![CDATA[gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[kakaku]]></category>
		<category><![CDATA[keluargaku]]></category>
		<category><![CDATA[kira kira]]></category>
		<category><![CDATA[menado]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[rumah tangga]]></category>
		<category><![CDATA[sering]]></category>
		<category><![CDATA[suami istri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.difunde.com/?p=248</guid>
		<description><![CDATA[Awal kisah ini dimulai saat aku baru saja terima rapor cawu I, kelas 2 SMA. Rumah yang tepat berhadapan dengan tempat tinggalku baru saja ditempati penghuni baru, pindahan dari Gorontalo. Suami istri dengan dua anak, seorang lelaki dan seorang perempuan. Suaminya bekerja di salah satu instansi pemerintah Sebagai seoarang pejabat Oom U sangat sibuk dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Awal kisah ini dimulai saat aku baru saja terima rapor cawu I, kelas 2 SMA.<br />
Rumah yang tepat berhadapan dengan tempat tinggalku baru saja ditempati<br />
penghuni baru, pindahan dari Gorontalo. Suami istri dengan dua anak, seorang<br />
lelaki dan seorang perempuan. Suaminya bekerja di salah satu instansi<br />
pemerintah Sebagai seoarang pejabat Oom U sangat sibuk dan sering dinas ke<br />
Jakarta.</p>
<p>Sang suami ternyata kenalan baik kakaku yang nomor dua, jadi keluargaku dan<br />
keluarga baru tersebut cepat menjadi akrab. Aku biasa memanggil mereka<br />
dengan Oom dan tante “U”.</p>
<p>Tante U seoarang wanita berdarah Menado, cantik, putih dan sangat menarik<br />
hati. Penampilannya selalu nampak OK dan sangat serasi. Kedua anak tante U,<br />
sangat akrab denganku, yang sulung perempuan usianya baru 3,5 tahun,<br />
sedangkan adiknya 2 tahun. Sering aku mengajak mereka bermain, maklum aku<br />
anak laki-laki bungsu dari enam bersaudara. Aku disukai anak-anak kecil, dan<br />
cepat sekali akrab dengan mereka.</p>
<p>Hingga akhir cawu III, kehidupan rumah tangga mereka harmonis saja. Tante U<br />
memang sering pergi sesaat setelah Oom U berangkat ke kantor, biasanya pukul 13.00 sampai sekitar 14.00 WIB tante U sudah kembali. Hal itu sering tante U lakukan setelah mereka bertempat tinggal kira-kira enam bulan di rumah tersebut.</p>
<p>Jika Oom U ke luar kota, tante U pulang agak lebih sore, kadang malah sehabis maghrib baru tante U pulang mengendarai mobil sedan HONDA PRESTIGE warna merahnya.</p>
<p>Beberapa kali aku yang membukakan pintu garasinya, karena saat itu aku sedang di rumahnya bermain dengan kedua anaknya. Biasanya jika tante U pergi anak-anak biasa dijaga oleh pembantunya dan adik perempuan Oom U. Adik perempuan Oom U sebaya denganku, tapi walaupun aku sering bermain dengan-nya aku nggak tertarik padanya. Aku hanya merasa kasihan kepadanya, karena seringkali dia mengeluh karena perlakuan tante U kepadanya tidak baik. Pernah aku melihat dia dimarahi tante U dan disiram air bekas cucian pakaian yang banyak sabunnya. Namun aneh kepadaku tante U sangat baik, namun hal itu aku anggap hal yang biasa saja.</p>
<p>Cawu I kelas tiga berakhir, saat libur dua minggu aku gunakan waktuku untuk<br />
jalan-jalan sama temen-teman ke suatu tempat rekreasi di dekat kotaku.<br />
Jaraknya lebih kurang 45 km dari kotaku, tempat itu terletak di lereng gunung dan berhawa sejuk, berbeda dengan kotaku yang panas. Aku masih ingat saat itu hari Senin, kira-kira jam 10.00 WIB, saat aku berlibur di tempat rekreasi itu kulihat mobil tante U diparkir di halaman sebuah restaurant; aku tak berpikiran apa-apa waktu itu, bahkan ketika kuberpapasan dengan tante U yang digandeng mesra oleh seorang lelaki dan di belakang mereka bergandengan pula sepasang teman tante U aku tetap belum paham dan mengerti apa sebenarnya yang terjadi dan tante U lakukan bersa-ma teman-temannya.<br />
Mungkin karena memang saat itu secara kejiwaan aku masih polos dan lugu<br />
serta belum mengenal arti cinta atau hubungan laki-laki dan perempuan aku<br />
menganggap hal tersebut biasa saja, bahkan aku menyapa tante U dengan sopan.</p>
<p>Mendengar dan melihat aku spontan tante U nampak terperanjat dan kaget dan segera melepaskan pelukan lelaki temennya tadi. Kemudian dia menghampiriku dan basa-basi menanyakan acaraku di tempat itu. Sebelum kami berpisah tante U menggamitku seraya memasukkan sesuatu ke dalam kantong bajuku, kemudian dia berpesan agar aku merahasiakan pertemuan tadi dengan siapapun.</p>
<p>Aku mengangguk dan berjanji tak akan bercerita pada siapapun tentang pertemuanku dengannya di tempat rekreasi tersebut. Sesaat setelah kami berpisah kurogoh saku bajuku, ternyata tante U memberiku uang sejumlah Rp.<br />
50.000,- , aku heran bercampur senang. Aku gunakan uang itu untuk mentraktir temen-temen.</p>
<p>Seusai liburan, seperti biasanya kujalani masa-masa studiku seperti biasa.<br />
Di kelas aku boleh dikata sebagai murid dengan prestasi belajar yang baik,<br />
kelasku termasuk kelas unggulan yang murid-muridnya dipilih dari 10 terbaik<br />
di masing-masing kelas 2. Dari kelas satu hingga kelas tiga, aku biasa menduduki rangking tiga besar. Aku setiap hari berangkat dan pulang sekolah<br />
dengan jalan kaki bersama teman-temanku. Pada hari Sabtu kelasku pulang agak cepat dari biasanya, karena dua orang guru yang seharusnya mengajar di<br />
kelasku tidak masuk, dan waktu kosong diisi dengan mencatat pelajaran dari<br />
guru mata pelajaran lain yang berikutnya. Seperti biasa aku pulang jalan kaki, kira-kira 1 kilo meter dari sekolahanku tiba-tiba sebuah mobil merah berhenti di sampingku dan segera kukenali siapa pengemudinya, dialah tante U. Aku sempat terkesima melihat penampilannya, dia nampak cantik sekali apalagi dengan kacamata hitamnya wah sungguh bukan main. Dia buka jendela pintu mobilnya dan memintaku segera naik ke mobilnya, mengajak-ku pulang bersama. Kuterima ajakannya dan aku segera masuk dan duduk di dalam mobilnya yang ber AC dan empuk jok kursinya. Dia tidak mengajakku langsung pulang, tetapi jalan muter-muter dengan mobil-nya. Kulirik dia, sungguh sangat cantik, dan secara tak sengaja kulihat paha putih dan mulus miliknya yang terbuka diantara belahan rok spannya, benar-benar membuatku terkesima.</p>
<p>Setelah beberapa menit kami berjalan tante U berdehem, membuatku terperanjat dan segera memalingkan mukaku ke luar jendela.</p>
<p>Diajaknya aku ngobrol tentang pertemuanku di tempat rekreasi dahulu, dan<br />
menanyakan padaku apakah aku bercerita pada orang lain. Aku jawab bahwa aku tak bercerita pada siapapun dan aku katakan sekali lagi bahwa aku tak akan bercerita kepada siapapun tentang hal itu. Mendengar hal itu tante U nampak lega dan menghela nafas panjang.</p>
<p>Sesampainya di rumah, seperti biasanya aku membantu membukakan pintu pagar dan garasi rumahnya. Diparkirnya mobilnya dan saat aku menutup pintu pagar rumah serta berpamitan pulang dipanggilnya aku. Aku mendekatinya dan<br />
mengikutinya masuk ke ruang keluarga. Dia segera duduk di sofa di depan TV<br />
ruang keluarga, dan memintaku duduk didekatnya. Serta merta dipeluknya aku<br />
dan diciumnya pipiku kanan dan kiri, sambil dia mengucapkan terima kasih.<br />
Aku diam saja. Kemudian dipegangnya mukaku dengan kedua belah tangannya dan secepat kilat diciumnya bibirku dan mulutku dilumatnya, aku hanya<br />
terperangah kaget dan tak bereaksi apapun. Sesaat kemudian dilepas<br />
pelukannya dan dia tersenyum padaku. Segera dia bangkit dan memintaku<br />
pulang.</p>
<p>Entah kenapa sejak kejadian itu aku jadi semakin membayangkan dia, aku ingin<br />
semakin sering ketemu dengannya, di dalam mimpikupun sering terbayang tante U. Setiap kali bertemu dia selalu melempar senyum padaku. Aku jadi semakin sering melamun dan membayangkan dia.</p>
<p>Sebulan sejak kejadian itu kudengar kabar bahwa tante U ketahuan selingkuh.<br />
Kulihat tante dan oom U sering bertengkar. Oh.. ya, adik perempuan oom U<br />
sekarang nggak tinggal di rumah itu lagi., anak tante U yang sulung sudah masuk playgroup. Sejak terdengar berita itu, tante U jarang keluar lagi seperti biasanya, paling-paling dia keluar hanya sebentar untuk keperluan antar jemput anaknya yang playgroup.</p>
<p>Aku tetap seperti biasa, tetap main ke rumah tante U dan ngobrol dengan tante dan oom U, bagiku mereka seperti kakaku sendiri.</p>
<p>Pada suatu hari menjelang terima rapor dan libur Cawu II di sekolahku seperti biasa diadakan lomba-lomba kesenian dan olah raga, dan kami pulang lebih awal. Aku masih ingat hari itu hari Kamis, aku pulang sekitar jam 09.00 WIB. Sesaat setelah aku masuk ke rumah dan berganti pakaian, kudengar telepon berdering. Segera kuangkat dan dari seberang sana terdengar suara tante U. Mengetahui aku yang menerima tante U bilang wah kebetulan nih. katanya, tante mau minta tolong sebentar… Tante U memintaku segera ke rumahnya. Aku segera mengunci pintu-pintu rumah dan meletakkan anak kunci di tempat biasanya, maklum di rumah nggak ada siapa-siapa. Bapak, Ibu dan kakak-kakaku tak ada di rumah.</p>
<p>Segera aku pergi ke ruamah tante U. Suasana rumah tante U nampak sepi,<br />
segera aku pencet bel rumah dan tante U nampak membukakan pintu dan<br />
mempersilakan aku segera masuk. Aku terpesona melihatnya, dia sungguh cantik dan seksi sekali, dengan gaun tipis warna pink yang kadang menampakkan lekuk indah tubuhnya, dengan belahan lebar di dadanya, sehingga sedikit nampak tersembul buah dadanya yang putih dan halus kulitnya. Jantungku berdetak keras ketika pandang mata kami beradu, tante U tersenyum dan kubalas senyum manisnya dengan senyum pula.</p>
<p>Kami mengobrol di ruang keluarga sambil menonton TV, aku menanyakan tentang kedua anaknya, tante U bilang mereka berdua ke Jakarta; ke rumah uwaknya diantar oom U. Jadi rumah saat itu sepi, cuman kami berdua saja. Tante U mengobrol sambil menyilangkan kaki kanannya ke atas kaki kirinya, sehingga, gaun tipisnya terbuka dan terlihat jelas pahanya yang putih dan halus. Aku tak henti-henti melirik dan memper-hatikannya. Tante U pura-pura tak tahu, bahkan secara sengaja gaunnya ditarik ke samping, sehingga paha mulusnya nampak tersembul keluar, sungguh suatu pemandangan yang sangat merangsang, dan tanpa terasa batang kemaluanku langsung berdiri tegak dan keras.</p>
<p>Sesaat setelah ngobrol, tante U berjalan ke arah TV dan mengambil sesuatu di<br />
rak VCD. Segera dipasang dan dinyalakan VCD tadi, aku kaget dan malu; karena ternyata VCD tersebut VCD porno dan baru sekali itu seumur hidupku melihat adegan-adegan panas di dalam VCD tersebut. Tante U duduk di dekatku dan merapatkan badannya ke tubuhku. Diletakkan tangan kanannya di paha kiriku dan dielus-elusnya, kemudian di raihnya tangan kiriku dan diletakkannya di atas paha kanannya, dimintanya aku mengelus pahanya, secara naluri tanganku tidak hanya berhenti mengelus pahanya, bahkan lebih dari itu, langsung menuju ke celah pahanya yang tertutup celana dalam pink tipis. Kugosok dan kutekan tanganku ke vagina yang masih tertutup celana, nampak tante U senang dan kadang dikepitnya pahanya untuk menjepit tanganku yang nakal menyelusup masuk ke dalam Cd-nya dan menusukkan jariku kedalam memiawnya.</p>
<p>Sesaat kami melakukan hal itu yakni saling mengelus sambil melihat adegan TV<br />
yang sangat merangsang. Tiba-tiba diraih dan dipeluknya kepalaku, dan segera dibenamkannya mukaku ke dadanya, ternyata tante U tak mengenakan BH, sehingga mukaku langsung menyentuh buah dadanya yang hangat dan lunak. Aku menurut saja dan segera tanganku bereaksi, menjalar kian kemari, membuka ikatan gaun tipis yang dikena-kan tante U, dan segera mencampakkannya jauh-jauh ke lantai. Dan nampak seluruh tubuh tante U tak tertutup apapun kecuali CD pink yang masih melekat ketat di memiawnya.</p>
<p>Buah dada tante U sekarang sudah tak tertutup apa-apa lagi, dan segera tante U menempelkannya di mukaku. Aku bereaksi mencium dan mengulum puting susunya, kemudian bibirku menjalar kelehernya, akhirnya mulut kami saling mengulum.</p>
<p>Tangan tante U bergerak melepas kaos dan membuka resleiting celana pendek<br />
jeans yang kukenakan, kemudian secara sigap di raihnya batang kemaluanku dan digosoknya dengan tangan kanannya. Pelan-pelan direbahkannya badanya di sofa, dan ditariknya badanku sehingga menindihnya.</p>
<p>Kami saling mencium kembali, dan secara naluri aku meniru adegan yang ada di<br />
VCD porno tadi, pelan-pelan bibirku bergerak ke bawah, menyusuri lehernya<br />
yang putih. Terus turun dan turun ke bawah, hingga mencapai buah dadanya,<br />
dan segera kuhisap dan kuremas buah dadanya yang putih dan sudah mengeras. Terdengar tante U mengerang dan merintih. Di remas-remas batang kemaluanku yang sudah mengeras dan dikocoknya pelan. Sungguh luar biasa rasanya, sebab baru pertama ali aku merasakan hal tersebut. Tiba-tiba di dorongnya tubuhku, lalu dia duduk di sofa menghadapku, di suruhnya aku berdiri dan segera dilepas CD ku. Dengan terlepasnya CD tadi nampak tugu monasku tegak berdiri dengan keras, segera dihisap dan dikulum dengan mulutnya, aku mengerang dan mendesis keenakkan.</p>
<p>Sesaat kemudian dia lepas pula celana dalamnya, dan segera dibaringkan<br />
tubuhnya di sofa sambil dibuka ke dua belah pahanya. Aku terkesima takjub<br />
melihat pemandangan di depanku, nampak jelas celah vagina yang berwarna<br />
kemerahan diantara ke dua belah pahanya yang putih.</p>
<p>Segera mukaku menyerbu ke vaginanya dan aku jilati vaginanya seperti apa<br />
yang kulihat di adegan VCD . Tante U mengerang dan melenguh, pantatnya<br />
sesekali didorongnya ke atas, sehingga mulut dan lidahku semakin keras<br />
menempel di vaginanya.</p>
<p>Adegan tersebut berlangsung sekitar lima menit, setelah itu di raihnya bahuku dan ditariknya badanku sehinga menindih tubuhnya lagi, mulutnya meraih dan mencium mulutku serta dimainkan lidahnya, tangan-nya memegang penisku dan menempel serta menggosoknya di liang kemaluannya. Sesaat kemudian dibimbingnya *censored**censored**censored**censored**censored* *censored*ku memasuki vaginanya dan kemudian kami berpacu<br />
mengumbar nafsu sepuas hati kami. Aku benar-benar merasakan nikmat yang luar biasa, belum pernah sekalipun aku merasakan sebelumnya, dengan cepat dan keras kuhentakkan *censored**censored**censored**censored**censored* *censored*ku dalam liang vaginanya. Tante U mengerang,<br />
merintih dan menggerak-gerakkan pinggulnya naik turun seirama dengan<br />
gerakkanku. Mulutku menciumi lehernya, kadang ke buah dadanya dan akhirnya mengulum bibirnya sambil menggerakkan pinggulku naik turun untuk menarik dan mendorong *censored**censored**censored**censored**censored* *censored*ku dalam liang vagina tante U.</p>
<p>Sesaat kemudian tante U terdengar mengerang keras dan memintaku untuk<br />
mempercepat gerakkan pinggul-ku. , tiba-tiba dia mempererat pelukkannya dan mengejang keras sambil dari mulutnya keluar teriakkan teriakan agak keras, tak lama kemudian terasa sesuatu yang hangat membasahi batang kemaluanku dan terasa vaginanya bertambah licin, tiba-tiba dia mengendurkan pelukkannya dan menghela nafas panjang ooooh..nugi. oohh.., dan segera diraihnya muka dan dilumatnya mulutku dengan ciuman yang panjang., sementara pinggulku tetap bergerak naik turun..</p>
<p>Pelan-pelan di dorongnya badanku dan dikempitkan kedua kakinya di pantatku,<br />
sehingga pantatku tak dapat bergerak naik turun.</p>
<p>Nampak rasa puas dan senyum manisnya.., oohh.. nugi.., kau belum keluar<br />
ya..? Terus terang aku nggak tahu maksud perkataannnya.., tiba-tiba di<br />
gulingkan tubuhku, sehingga kami berdua jatuh di lantai di atas karpet.<br />
Tubuhku menelentang, di raihnya CD nya dan di lap vaginanya, sesaat kemudian tante U jongkok tepat di atas *censored**censored**censored**censored**censored* *censored*ku. Dipegang dan dibenamkannya *censored**censored**censored**censored**censored* *censored*ku ke dalam vaginanya, lalu dia gerakkan tubuhnya naik turun, sehingga *censored**censored**censored**censored**censored* *censored*ku menggosok dinding dalam liang vaginanya. Kedua belah tangannya menekan dadaku, dan kepalanya mengangguk-angguk seirama gerakan tubuhnya. Cepat tangganku meraih dan meremas-remas buah dadanya. Rambutnya tergerai lepas dan berulang kali menyentuh wajahku.</p>
<p>Tante U mengerang dan sesekali memiawik agak keras., untung rumah tante U<br />
agak besar, sehingga erangan dan teriakannya nggak terdengan dari luar.<br />
Ohhh. aah… aduh. nugi.. Enak. sungguh enak.. Ohh., yach.. Yach.. Sambil<br />
digerakkannya tubuhnya, persis seperti orang menunggang kuda liar.., aku<br />
mengimbangi gerakkannya dengan menaik turunkan pantatku, sehingga membuat tante U semakin liar dan histeris. Tiba-tiba dia membungkuk dan menggerakkan tubuhnya semakin cepat, sambil jarinya memutar-mutar dinding luar vaginanya. Suara erangannya semakin keras dan tiba-tiba tubuhnya mengejang, serta memeluk tubuhku erat sekali.</p>
<p>Terasa kembali cairan hangat membasahi *censored**censored**censored**censored**censored* *censored*ku, saat itu *censored**censored**censored**censored**censored* *censored*ku sudah<br />
mulai berdenyut-denyut, seperti hendak memuntahkan sesuatu. Keringat sudah membasahi tubuh kami berdua, desakan dan dorongan letupan diujung *censored**censored**censored**censored**censored* *censored*ku semakin terasa, tapi gerakan tante U sudah mulai lemah dan pelan dan akhirnya berhenti, tubuhnya terkulai lemas menindih tubuhku.</p>
<p>*censored**censored**censored**censored**censored* *censored*ku masih keras, namun desakan, dorongan dan denyutan kembali<br />
hilang…, kembali lagi tante U tersenyum dan mengulum mulutku..ohh. nugi..<br />
Tante puuaaasss… Sambil tetap dalam posisi telungkup di atas tubuhku,<br />
tante U, menghujani mukaku dengan ciuman yang bertubi-tubi..</p>
<p>*censored**censored**censored**censored**censored* *censored*ku masih menancap keras dan dalam di memiawnya, bila pinggul tante U<br />
bergerak, maka terasa enak dan nikmat rasanya. Dalam posisi seperti itu<br />
mulut kami saling berpagut, dan ciuman yang panjang yang seolah tak akan<br />
selesai kami lakukan, lidah tante U menyulusuri sekujur wajahku, ke leherku<br />
dan kembali kemulutku dengan batang kemaluanku masih tetap di liang<br />
vaginanya.</p>
<p>Saat kami sedang asyik bercumbu, terdengar dering telepon berbunyi. Tante U<br />
segera bangkit dan menuju ke pesawat telepon. Diangkatnya gagang telepon<br />
sambil jari telunjuknya ditempelkan dimulutnya sebagai isyarat agar aku<br />
diam. Tante U menerima telepon sambil berdiri merapat ke dinding, ternyata<br />
telepon dari oom U di kantor. Mataku tak hentinya menatap tubuh dan<br />
wajahnya; sungguh pemandangan yang indah dan hampir aku tak percaya dengan apa yang baru saja aku alami sesaat tadi. Aku cubit tanganku terasa sakit, berarti ini bukan mimpi. Melihat apa yang aku lakukan tante U tersenyum<br />
geli, dilambaikan tangannya agar aku mendekatinya. Tanpa disuruh untuk kedua kalinya aku segera bangkit dan menghampirinya. Kupeluk tubuhnya dari<br />
belakang dan mulutku langsung menyerbu leher putihnya, sementara tanganku<br />
meremas-remas buah dadanya. Matanya terpejam, menikmati apa yang aku<br />
perbuat, tangan kirinya meraih kepalaku dan ditariknya menuju buah dadanya.<br />
Segera kurobah posisi tubuhku sehinga menempel tubuhnya dalam posisi<br />
berhadapan. Tangan kiri tante U meraih *censored**censored**censored**censored**censored* *censored*ku yang masih tegang dan keras, digosok dan dikocoknya pelan, aduh. nikmat sekali…</p>
<p>Sambil menelepon tante U tetap memintaku mencumbuinya, namun jika aku mau mencium mulutnya, maka segera didorongnya mukaku.., aku mengerti maksudnya maka bagian tubuh lainnya yang menjadi sasaranku. Lidahku menjilati sekujur tubuhnya.., menghisap pentil susunya, meremas buah dadanya dan terus ke bawah. Kaki kirinya segera kuangkat dan kuletakan di atas meja di dekat kami bercumbu, sehingga celah vaginanya terbuka menganga, yang dengan segera kujilati. Tangan kiri tante U memegang dan menekan kepalaku ke memiawnya, sementara tangan kanannya tetap memegang gagang telepon. Dia nampak menahan rasa nikmatnya agar tak keluar erangan dari mulutnya…, tiba-tiba didorongnya mukaku menjauh dari memiawnya dan jarinya memberi isyarat agar aku sementara menghentikan cumbuannku.</p>
<p>Sesaat kemudian diletakkannya gagang telepon dan langsung diraih tanganku<br />
dan segera ditariknya aku menuju kamarnya. Segera ditutup dan dikunci<br />
pintunya, langsung diraihnya tubuhku dan kami berguling-guling dan saling<br />
tindih di atas kasur tempat tidurnya. Tempat tidurnya nyaman, empuk dan<br />
bersih. Kembali kami saling mencumbu dan merangsang satu sama lain. Tante U menelentangkan badannya, dan memintaku menindih tubuhnya dalam posisi<br />
terbalik. *censored**censored**censored**censored**censored* *censored*ku tepat dimukanya dan memiawnya persis dimukaku, aku segera<br />
tahu maksudnya.. Dan segera kami bereaksi, kujilati memiawnya yang tanpa<br />
rambut, bau memiawnya membuatku semakin mabuk kepayang.., dikulum dan<br />
disedotnya *censored**censored**censored**censored**censored* *censored*ku., sehingga semakin keras dan tegang. Lebih kurang 10<br />
menit hal itu kami lakukan, selanjutnya tanpa diminta kubalik posisi tubuhku<br />
dan segera kumasukan batang penisku ke liang vaginanya dan kugerakkan<br />
pantatku naik turun dengan cepat dan keras.., tante U mengerang-ngerang..dan teriakkannya sesekali terdengar lepas tak ditahannya… Kugenjot terus memiawnya, kupacu gerakkanku dan lagi-lagi dia mempererat dan mengencangkan pelukannnya.. sambil merintih oohhh..aahhh..uuuh. nugi.nugi. teruusss.teruss sayang..auuw.enak nugi. teruus.., diraihnya mukaku.dan dilumatnya mulutku.., eehmm.ehmm..suara yang keluar dari mulut tante U saat menciumku, setiap kali kuhentakkan *censored**censored**censored**censored**censored* *censored*ku keras-keras ke memiawnya, sesaat kemudian tubuhnya mengejang dan kepalanya bergoyang-goyang kekiri dan ke ke kanan, sambil mulutnya mengerang keras. Pinggulnya menghentak-hentak dengan keras mengimbangi gerakanku, keringat kami bercucuran, membasahi tubuh kami. Dan pada suatu hentakan yang keras tante U mendekap kepalaku keras-keras dan melolong histeris dan akhirnya kedua kakinya terkulai lemas., saat itu diujung *censored**censored**censored**censored**censored* *censored*ku. terasa ada yang berdenyut dan sepertinya mau kencing..,aku bilang sama tante U..tante aku pengin pipis rasanya tante.., tante U menjawab biar.. terus. aja .biarkan pipis di memiaw tante aja..ayo. Mendengar jawabannya aku sudah nggak peduli lagi., kupercepat gerakan pantatku dan terasa desakan dan denyutan di *censored**censored**censored**censored**censored* *censored*ku semakin menjadi saat ujung *censored**censored**censored**censored**censored* *censored*ku menggesek dinding dalam liang vagina tante U. Dan akhirnya aku tak dapat menahan lagi kencingku.., kubuang air kencingku dalam vagina tante U, tapi aneh.rasanya nikmat sekali tidak seperti bila aku kencing biasa di kamar mandi… ooh.. Aah. tante…tante.. Setelah itu aku merasa lega dan nikmat…, dan sesaat kemudian gerakan dan hentakan tubuhku berhenti., badanku terasa ringan dan lemas sekujur.dan aku telungkup di atas tubuh tante U.</p>
<p>Kupandang wajahnya dan kami saling menatap. Tante U tersenyum, tangannya mengusap wajahku dan meyibak rambutku yang tergerai. Ohh..ya. aku lupa menceritakan bahwa peraturan di sekolahku cukup memberi keluasaan kepada murid, sehingga murid laki-laki tidak dilarang memelihara rambut panjang. Mengikuti hal itu, akupun mempunyai rambut ikal panjang sebahu…, sehingga membuat penampilaku layaknya pemain band saja.</p>
<p>Tante U mencium mulutku dan mengusap rambutku. Dia berbisik.., gimana<br />
rasanya ? Enak apa nggak ?<br />
Aku tak menjawab namun tersenyum saja, dan langsung kupeluk dia dan kucium mulutnya. Nugi., kau jangan cerita siapapun ya. tentang apa yang kita<br />
lakukan barusan. Aku mengangguk mengiyakan.</p>
<p>Pelan-pelan didorongnya tubuhku kesamping dan kami berbaring sambil<br />
berpelukan., kami bercumbu dan bercanda seperti anak kecil. Kadang aku gemas dan kuremas buah dadanya, jika tante U gemas padaku diremasnya *censored**censored**censored**censored**censored* *censored*ku. Sesaat kemudian kami bangun dan tante U segera menggandengku ku kamar mandi yang memang ada di dalam kamarnya. Segera diguyur dan disiramnya tubuhnya dengan air, dari shower sambil berendam di bathtub warna pink. Kubantu tante U menggosok dan menyabuni tubuhnya. Saat aku menyabuni kakinya, tanganku iseng meraba memiawnya dan memasukkan jariku ke dalam memiawnya. Tante U mendesis., secara naluri aku segera menjilati memiawnya.., dan terdengar erangan dan rintihannya. Kembali kami bercumbu dan bercinta sepuas-puasnya di kamar mandi, di atas lantai kamar mandi yang dingin kugenjot memiawnya dengan keras dan bernafsu., sampai akhirnya tante U mencapai klimaks-nya, yang kami lanjutkan hingga kemudian akupun kembali mencapai klimaks pula.</p>
<p>Jam berdentang 12 kali, jadi sudah tiga jam aku di rumah tante U, 2 jam lagi<br />
oom U datang. Segera kami berpakaian, tante U ke luar kamar mengambil<br />
pakaianku dan pakaiannya yang berserakan di lantai ruang tamu. Setelah<br />
kukenakkan dan kurapikan pakainku aku segera pulang. Saat aku hendak keluar, tante U meraih tubuhku dan menciumku, sambil berpesan..agar rahasia kami tersimpan rapat, serta berjanji besok akan mengulang lagi apa yang kami<br />
lakukan pagi tadi.</p>
<p>Inilah pengalaman pertamaku dengan wanita, yang tak lain tetanggaku sendiri.<br />
Aku bersyukur bisa bercinta dengan wanita cantik tetanggaku. Wanita cantik<br />
yang sering dikagumi oleh gadis-gadis mahasiswi yang kost di rumahku.</p>
<p>Dan selanjutnya selama liburan cawu II, kami tak pernah melewatkan kesempatan untuk bercumbu setiap hari, hingga suatu hari tante U bilang<br />
kalau oom U hendak kursus di Jakarta selama 4 bulan. Mendengar itu aku amat<br />
gembira. Bisa kubayangkan hari-hari yang menyenangkan saat aku dan tante U bercinta sepuas hati setiap hari.</p>
<p>Benar kata tante U, hari minggu malam oom U berangkat ke Jakarta naik kereta api, aku diminta tante U menemaninya mengantar oom U ke stasiun. Tentu saja dengan senang hati kulakukan hal tersebut. Saat mau berangkat oom U berpesan kepadaku untuk menemani tante U dan anak-anaknya di rumah. Aku mengangguk mengiyakan dan melirik tante U, tante U tersenyum penuh arti padaku. Saat pulang dari stasiun tante U menyetir mobilnya sambil tangannya meremas tanganku, sementara dua anaknya duduk di jok belakang sambil bercanda. Kuremas tangannya dan kucium punggung tangannya, tante U tersenyum penuh arti. Selanjutnya selama 4 bulan kami lalui hari-hari indah kami, aku sering diminta tante U menemaninya ke super market untuk belanja atau untuk keperluan lain, padahal kesempatan itu sering kami gunakan untuk bercinta di rumah seoarang kenalan tante U, yang bernama tante H.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.difunde.com/sejenak-bersama-tante-demi-uang.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nikmatnya abg smp yg masih polos</title>
		<link>http://www.difunde.com/nikmatnya-abg-smp-yg-masih-polos.html</link>
		<comments>http://www.difunde.com/nikmatnya-abg-smp-yg-masih-polos.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 May 2012 05:50:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[atau]]></category>
		<category><![CDATA[bintaro]]></category>
		<category><![CDATA[dedy]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[gunawan]]></category>
		<category><![CDATA[hari minggu]]></category>
		<category><![CDATA[itu]]></category>
		<category><![CDATA[kami]]></category>
		<category><![CDATA[kisahku]]></category>
		<category><![CDATA[koleksi lukisan]]></category>
		<category><![CDATA[menarik]]></category>
		<category><![CDATA[orang]]></category>
		<category><![CDATA[patung]]></category>
		<category><![CDATA[pun]]></category>
		<category><![CDATA[putaw]]></category>
		<category><![CDATA[satpam]]></category>
		<category><![CDATA[sedikit]]></category>
		<category><![CDATA[Tapi]]></category>
		<category><![CDATA[uang tambahan]]></category>
		<category><![CDATA[wanita malam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.difunde.com/?p=245</guid>
		<description><![CDATA[Kisahku ini adalah kejadian nyata tanpa aku rekayasa sedikitpun !. Kisahku bermula setahun yang lalu ketika temanku ( Dedy ) mengajakku menemaninya transaski dengan temannya ( Gunawan ). Saya jelaskan saja perihal kedua orang itu sebelumnya. Dedy adalah teman kuliahku dan dia seorang yang rajin dan ulet termasuk dalam hal berbisnis walaupun dia masih kuliah. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kisahku ini adalah kejadian nyata tanpa aku rekayasa sedikitpun !. Kisahku bermula setahun yang lalu ketika temanku ( Dedy ) mengajakku menemaninya transaski dengan temannya ( Gunawan ). Saya jelaskan saja perihal kedua orang itu sebelumnya. Dedy adalah teman kuliahku dan dia seorang yang rajin dan ulet termasuk dalam hal berbisnis walaupun dia masih kuliah. Gunawan adalah teman kenalannya yang juga seorang anak mantan pejabat tinggi yang kaya raya ( saya tidak tahu apakah kekayaan orang tuanya halal atau hasil korupsi ! ).</p>
<p>Setahun yang lalu Gunawan menawarkan beberapa koleksi lukisan dan patung ( Gunawan sudah mengetahui perihal bisnis Dedy sebelumnya ) milik orang tuanya kepada Dedy, koleksi lukisan dan patung tersebut berusia tua. Dedy tertarik tapi dia membutuhkan kendaraan saya karena kendaraannya sedang dipakai untuk mengangkut lemari ke Bintaro, oleh karena itu Dedy mengajak saya ikut dan saya pun setuju saja. Perlu saya jelaskan sebelumnya, Gunawan menjual koleksi lukisan dan patung tersebut, oleh Dedy diperkirakan karena Gunawan seorang pecandu putaw dan membutuhkan uang tambahan.</p>
<p>Keesokan harinya ( hari Minggu ), saya dan Dedy berangkat menuju rumah Gunawan di kawasan Depok. Setelah sampai di depan pintu gerbang 2 orang satpam berjalan ke arah kami dan menanyakan maksud kedatangan kami. Setelah kami jelaskan, mereka mengijinkan kami masuk dan mereka menghubungi Gunawan melalui telepon. Saya memarkir kendaraan saya dan saya mengagumi halaman dan rumah Gunawan yang amat luas dan indah,</p>
<p>“ Betapa kayanya orang tua Gunawan” bisik dalam hatiku. Kami harus menunggu sebentar karena Gunawan sedang makan.</p>
<p>Sambil menunggu, kami berbicara dengan satpam. Dalam pembicaraan itu, seorang satpam menceritakan kalau Gunawan itu seorang playboy dan suka membawa wanita malam-malam ke rumahnya ketika orang tuanya sedang pergi. Setelah menunggu selang 10 menit, akhirnya Gunawan datang ( saya yang baru pertama kali melihatnya harus mengakui bahwa Gunawan memiliki wajah yang amat rupawan, walau saya pun seorang lelaki dan bukan seorang homo! ). Dedy memperkenalkan saya dengan Gunawan. Setelah itu Gunawan mengajak Dedy masuk ke rumah untuk melihat patung dan lukisan yang akan dijualnya.</p>
<p>Saya bingung apakah saya harus mengikuti mereka atau tetap duduk di pos satpam. Setelah mereka berjalan sekitar 15 meter dari saya, seorang satpam mengatakan sebaiknya kamu ( saya ) ikut mereka saja daripada bosan menunggu di sini ( pos satpam ). Saya pun berjalan menuju rumahnya. Ketika saya masuk , saya tidak melihat mereka lagi. Saya hanya melihat sebuah ruangan yang luas sekali dengan sebuah tangga dan beberapa pintu ruangan. Saya bingung apakah saya sebaiknya naik ke tangga atau mengitari ruangan tersebut ( sebenarnya bisa saja saya teriak memanggil nama Dedy atau Gunawan tapi tindakan itu sangat tidak sopan ! ).</p>
<p>Akhirnya saya memutuskan untuk mengitari ruangan tersebut dengan harapan dapat menemui mereka. Setelah saya mengitari, saya tetap tidak dapat menemukan mereka. Tapi saya melihat sebuah pintu kamar yang pintunya sedikit terbuka. Saya mengira mungkin saja mereka berada di dalam kamar tersebut. Lalu saya membuka sedikit demi sedikit pintu itu dan betapa terkejutnya saya ketika saya melihat seorang anak perempuan sedang tertidur dengan daster yang tipis dan hanya menutupi bagian atas dan bagian selangkangannya, saya bingung harus bagaimana !</p>
<p>Dasar otak saya yang sudah kotor melihat pemandangan paha yang indah, akhirnya saya masuk ke dalam kamar tersebut dan menutup pintu itu. Saya melihat sekeliling kamar itu, kamar yang luas dan indah, beberapa helai pakaian SLTP berserakan di tempat tidur, dan foto anak tersebut dengan Gunawan dan seorang lelaki tua dan wanita tua ( mungkin foto orang tuanya ). Anak perempuan yang sangat cantik, manis dan kuning langsat ! lalu saya melangkah lebih dekat lagi, saya melihat beberapa buku pelajaran sekolah dan tulisan namanya : Elvina kelas 1 C. Masih kelas 1 ! berarti usianya baru antara 11-12 tahun. Lalu saya memfokuskan penglihatan saya ke arah pahanya yang kuning langsat dan indah itu !.</p>
<p>ngin rasanya menjamah paha tersebut tapi saya ragu dan takut. Saya menaikkan pandangan saya ke arah dadanya dan melihat cetakan pentil susu di helai dasternya itu. Dadanya masih kecil dan ranum dan saya tahu dia pasti tidak memakai pakaian dalam ( BH atau kutang ) di balik dasternya itu !.</p>
<p>Wajahnya sangat imut, cantik dan manis ! Akhirnya saya memberanikan diri meraba pahanya dan mengelusnya, astaga….mulus sekali ! Lalu saya menaikkan sedikit lagi dasternya dan terlihatlah sebuah celana dalam ( CD ) warna putih. Saya meraba CD anak itu dan menarik sedikit karet CDnya , lalu saya mengintip ke dalam,….</p>
<p>Astaga ! tidak ada bulunya ! Jantung saya berdetak kencang sekali dan keringat dingin mengalir deras dari tubuh saya. Lalu saya mencium Cdnya, tidak ada bau yang tercium. Lalu saya menarik sedikit lagi dasternya ke atas dan terlihatlah perut dan pinggul yang ramping padat dan mulus sekali tanpa ada kotoran di pusarnya ! Luar biasa !</p>
<p>Otak porno saya pun sangat kreatif juga, saya memberanikan diri untuk menarik perlahan-lahan tali dasternya itu, sedikit-seditkit terlihatlah sebagian dadanya yang mulus dan putih ! ingin rasanya langsung memenggangnya, tapi saya bersabar, lalu saya menarik lagi tali dasternya ke bawah dan akhirnya terlihatlah pentil Elvina yang bewarna kuning kecoklatan ! Jantung saya kali ini terasa berhenti ! Sayapun merasa tubuh saya menjadi kaku. Jari sayapun mencolek pentilnya dan memencet dengan lembut payudaranya. Saya melakukankan dengan lembut, perlahan dan sedikit lama juga, sementara Elvina sendiri masih tertidur pulas. Setelah puas, saya menjilat dan mengulum pentilnya, terasa tawar.</p>
<p>Dasar otakku yang sudah gila, saya pun nekat menarik seluruh dasternya perlahan kearah bawah sampai lepas, sehingga Elvina kini hanya mengenakan celana dalam ( CD ) saja ! Saya memandangi tubuh Elvina dengan penuh rasa kagum. Tiba-tiba Elvina sedikit bergerak, saya kira ia terbangun, ternyata tidak, mungkin sedang mimpi saja. Saya mengelus tubuh Elvina dari atas hingga pusar/perut. Puas mengelus-elus, saya ingin menikmati lebih dari itu ! Saya menarik perlahan-lahan CD Elvina ke arah bawah hingga lepas. Kini Elvina telah telanjang bulat ! Betapa indahnya tubuh Elvina ini , gadis kelas 1 SLTP yang amat manis, imut dan cantik dengan buah dada yang kecil dan ranum serta vaginanya yang belum ada bulunya sehelaipun !</p>
<p>Lalu saya mengelus bibir vaginanya yang mulus dan lembek dan sayapun menciumnya. Terasa bau yang khas dari vaginanya itu ! Dengan kedua jari telunjuk saya, saya membuka bibir vaginanya dengan perlahan-lahan , terlihat dalamnya bewarna kemerah –merahan dengan daging di atasnya . Saya menjulurkan lidah saya ke arah vaginanya dan menjilat-jilat vaginanya itu. Saya deg-degan juga melakukan adegan itu. Saya tahu tindakan saya bisa ketahuan olehnya tapi kejadian ini sulit sekali untuk dilewatkan begitu saja ! Benar dugaan saya !</p>
<p>amaku Chepy, 22 tahun, mahasiswa di sebuah universitas swasta ternama di Jakarta.</p>
<p>Kisahku ini adalah kejadian nyata tanpa aku rekayasa sedikitpun !. Kisahku bermula setahun yang lalu ketika temanku ( Dedy ) mengajakku menemaninya transaski dengan temannya ( Gunawan ). Saya jelaskan saja perihal kedua orang itu sebelumnya. Dedy adalah teman kuliahku dan dia seorang yang rajin dan ulet termasuk dalam hal berbisnis walaupun dia masih kuliah. Gunawan adalah teman kenalannya yang juga seorang anak mantan pejabat tinggi yang kaya raya ( saya tidak tahu apakah kekayaan orang tuanya halal atau hasil korupsi ! ).</p>
<p>Setahun yang lalu Gunawan menawarkan beberapa koleksi lukisan dan patung ( Gunawan sudah mengetahui perihal bisnis Dedy sebelumnya ) milik orang tuanya kepada Dedy, koleksi lukisan dan patung tersebut berusia tua. Dedy tertarik tapi dia membutuhkan kendaraan saya karena kendaraannya sedang dipakai untuk mengangkut lemari ke Bintaro, oleh karena itu Dedy mengajak saya ikut dan saya pun setuju saja. Perlu saya jelaskan sebelumnya, Gunawan menjual koleksi lukisan dan patung tersebut, oleh Dedy diperkirakan karena Gunawan seorang pecandu putaw dan membutuhkan uang tambahan.</p>
<p>Keesokan harinya ( hari Minggu ), saya dan Dedy berangkat menuju rumah Gunawan di kawasan Depok. Setelah sampai di depan pintu gerbang 2 orang satpam berjalan ke arah kami dan menanyakan maksud kedatangan kami. Setelah kami jelaskan, mereka mengijinkan kami masuk dan mereka menghubungi Gunawan melalui telepon. Saya memarkir kendaraan saya dan saya mengagumi halaman dan rumah Gunawan yang amat luas dan indah,</p>
<p>“ Betapa kayanya orang tua Gunawan” bisik dalam hatiku. Kami harus menunggu sebentar karena Gunawan sedang makan.</p>
<p>Sambil menunggu, kami berbicara dengan satpam. Dalam pembicaraan itu, seorang satpam menceritakan kalau Gunawan itu seorang playboy dan suka membawa wanita malam-malam ke rumahnya ketika orang tuanya sedang pergi. Setelah menunggu selang 10 menit, akhirnya Gunawan datang ( saya yang baru pertama kali melihatnya harus mengakui bahwa Gunawan memiliki wajah yang amat rupawan, walau saya pun seorang lelaki dan bukan seorang homo! ). Dedy memperkenalkan saya dengan Gunawan. Setelah itu Gunawan mengajak Dedy masuk ke rumah untuk melihat patung dan lukisan yang akan dijualnya.</p>
<p>Saya bingung apakah saya harus mengikuti mereka atau tetap duduk di pos satpam. Setelah mereka berjalan sekitar 15 meter dari saya, seorang satpam mengatakan sebaiknya kamu ( saya ) ikut mereka saja daripada bosan menunggu di sini ( pos satpam ). Saya pun berjalan menuju rumahnya. Ketika saya masuk , saya tidak melihat mereka lagi. Saya hanya melihat sebuah ruangan yang luas sekali dengan sebuah tangga dan beberapa pintu ruangan. Saya bingung apakah saya sebaiknya naik ke tangga atau mengitari ruangan tersebut ( sebenarnya bisa saja saya teriak memanggil nama Dedy atau Gunawan tapi tindakan itu sangat tidak sopan ! ).</p>
<p>Akhirnya saya memutuskan untuk mengitari ruangan tersebut dengan harapan dapat menemui mereka. Setelah saya mengitari, saya tetap tidak dapat menemukan mereka. Tapi saya melihat sebuah pintu kamar yang pintunya sedikit terbuka. Saya mengira mungkin saja mereka berada di dalam kamar tersebut. Lalu saya membuka sedikit demi sedikit pintu itu dan betapa terkejutnya saya ketika saya melihat seorang anak perempuan sedang tertidur dengan daster yang tipis dan hanya menutupi bagian atas dan bagian selangkangannya, saya bingung harus bagaimana !</p>
<p>Dasar otak saya yang sudah kotor melihat pemandangan paha yang indah, akhirnya saya masuk ke dalam kamar tersebut dan menutup pintu itu. Saya melihat sekeliling kamar itu, kamar yang luas dan indah, beberapa helai pakaian SLTP berserakan di tempat tidur, dan foto anak tersebut dengan Gunawan dan seorang lelaki tua dan wanita tua ( mungkin foto orang tuanya ). Anak perempuan yang sangat cantik, manis dan kuning langsat ! lalu saya melangkah lebih dekat lagi, saya melihat beberapa buku pelajaran sekolah dan tulisan namanya : Elvina kelas 1 C. Masih kelas 1 ! berarti usianya baru antara 11-12 tahun. Lalu saya memfokuskan penglihatan saya ke arah pahanya yang kuning langsat dan indah itu !.</p>
<p>ngin rasanya menjamah paha tersebut tapi saya ragu dan takut. Saya menaikkan pandangan saya ke arah dadanya dan melihat cetakan pentil susu di helai dasternya itu. Dadanya masih kecil dan ranum dan saya tahu dia pasti tidak memakai pakaian dalam ( BH atau kutang ) di balik dasternya itu !.</p>
<p>Wajahnya sangat imut, cantik dan manis ! Akhirnya saya memberanikan diri meraba pahanya dan mengelusnya, astaga….mulus sekali ! Lalu saya menaikkan sedikit lagi dasternya dan terlihatlah sebuah celana dalam ( CD ) warna putih. Saya meraba CD anak itu dan menarik sedikit karet CDnya , lalu saya mengintip ke dalam,….</p>
<p>Astaga ! tidak ada bulunya ! Jantung saya berdetak kencang sekali dan keringat dingin mengalir deras dari tubuh saya. Lalu saya mencium Cdnya, tidak ada bau yang tercium. Lalu saya menarik sedikit lagi dasternya ke atas dan terlihatlah perut dan pinggul yang ramping padat dan mulus sekali tanpa ada kotoran di pusarnya ! Luar biasa !</p>
<p>Otak porno saya pun sangat kreatif juga, saya memberanikan diri untuk menarik perlahan-lahan tali dasternya itu, sedikit-seditkit terlihatlah sebagian dadanya yang mulus dan putih ! ingin rasanya langsung memenggangnya, tapi saya bersabar, lalu saya menarik lagi tali dasternya ke bawah dan akhirnya terlihatlah pentil Elvina yang bewarna kuning kecoklatan ! Jantung saya kali ini terasa berhenti ! Sayapun merasa tubuh saya menjadi kaku. Jari sayapun mencolek pentilnya dan memencet dengan lembut payudaranya. Saya melakukankan dengan lembut, perlahan dan sedikit lama juga, sementara Elvina sendiri masih tertidur pulas. Setelah puas, saya menjilat dan mengulum pentilnya, terasa tawar.</p>
<p>Dasar otakku yang sudah gila, saya pun nekat menarik seluruh dasternya perlahan kearah bawah sampai lepas, sehingga Elvina kini hanya mengenakan celana dalam ( CD ) saja ! Saya memandangi tubuh Elvina dengan penuh rasa kagum. Tiba-tiba Elvina sedikit bergerak, saya kira ia terbangun, ternyata tidak, mungkin sedang mimpi saja. Saya mengelus tubuh Elvina dari atas hingga pusar/perut. Puas mengelus-elus, saya ingin menikmati lebih dari itu ! Saya menarik perlahan-lahan CD Elvina ke arah bawah hingga lepas. Kini Elvina telah telanjang bulat ! Betapa indahnya tubuh Elvina ini , gadis kelas 1 SLTP yang amat manis, imut dan cantik dengan buah dada yang kecil dan ranum serta vaginanya yang belum ada bulunya sehelaipun !</p>
<p>Lalu saya mengelus bibir vaginanya yang mulus dan lembek dan sayapun menciumnya. Terasa bau yang khas dari vaginanya itu ! Dengan kedua jari telunjuk saya, saya membuka bibir vaginanya dengan perlahan-lahan , terlihat dalamnya bewarna kemerah –merahan dengan daging di atasnya . Saya menjulurkan lidah saya ke arah vaginanya dan menjilat-jilat vaginanya itu. Saya deg-degan juga melakukan adegan itu. Saya tahu tindakan saya bisa ketahuan olehnya tapi kejadian ini sulit sekali untuk dilewatkan begitu saja ! Benar dugaan saya !</p>
<p>Pada saat saya sedang asyiknya menjilat vaginanya, Elvina terbangun ! Saya pun terkejut setengah mati ! Untung Elvina tidak teriak tapi hanya menutup buah-dadanya dan vaginanya dengan kedua tangannya. Mukanya kelihatan takut juga. Elvina lalu berkata</p>
<p>“ Siapa kamu, apa yang ingin kamu lakukan ?”. Saya langsung berpikir keras untuk keluar dari kesulitan ini !</p>
<p>Lalu saya mengatakan kepada Elvina: “ Elvina, saya melakukan ini karena Gunawan yang mengijinkannya !”, kataku yang berbohong. Elvina kelihatan tidak percaya lalu berkata</p>
<p>“Tidak mungkin, Gunawan kakakku !”. Pandai juga dia ! Tapi saya tidak menyerah begitu saja.</p>
<p>Saya mengatakan lagi “ Elvina, saya tahu Gunawan kakakmu tapi dia punya hutang yang amat besar pada saya, apakah kamu tega melihat kakakmu terlibat hutang yang amat besar ? Apakah kamu tidak kasihan pada Gunawan ?, kalau dia tidak melunasi hutangnya, dia bisa dipenjara ” kataku sambil berbohong . Elvina terdiam sejenak.</p>
<p>Saya berusaha menenangkan Elvina sambil mengelus rambutnya. Elvina tetap terdiam. Sayapun dengan lembut menarik tangannya yang menutupi kedua buah dadanya. Dia kelihatannya pasrah saja dan membiarkan tangannya ditarik oleh saya. Terlihat lagi kedua buah dadanya yang indah dan ranum itu ! Saya mencium pipinya dan berkata</p>
<p>“Saya akan selalu mencintaimu, percayalah !”. Saya merebahkan tubuhnya dan menarik tangannya yang lain yang menutupi vaginanya. Akhirnya dia menyerah dan pasrah saja terhadap saya. Saya tersenyum dalam hati. Saya langsung buru-buru membuka seluruh pakaian saya untuk segera menuntaskan “ tugas “ ini ( maklum saja, kalau terlalu lama, transaksi Gunawan dengan Dedy selesai, sayapun bisa ketahuan, ujung-ujungnya saya bisa saja terbunuh ! ).</p>
<p>Saya langsung mencium mulut Elvina dengan rakus. Elvina kelihatannya belum pernah ciuman sebelumnya karena dia masih kaku. Lalu saya mencium lehernya dan turun ke arah buah dadanya. Saya menyedot kedua buah dadanya dengan kencang dan rakus dan meremas-remas kedua buah dadanya dengan sangat kuat, Elvina kelihatannya kesakitan juga dengan remasan saya itu, Sayapun menarik-narik kedua pentilnya dengan kuat !</p>
<p>“Sakit kak “ kata Elvina. Saya tidak lagi mendengar rintihan Elvina. Saya mengulum dan menggigit pentil Elvina lagi sambil tangan kanan saya meremas kuat pantat Elvina. Setelah puas, saya membalikkan badan Elvina sehingga Elvina tengkurap.</p>
<p>Saya jilat seluruh punggung Elvina sampai ke pantatnya. Saya remas pantat Elvina kuat-kuat dan saya buka pantatnya hingga terlihat anusnya yang bersih dan indah. Saya jilat anus Elvina, terasa asin sedikit ! Dengan jari telunjuk saya, saya tusuk-tusuk anusnya, Elvina kelihatan merintih atas tindakan saya itu. Saya angkat pantat Elvina, saya remas bagian vagina Elvina sambil ia nungging ( posisi saya di belakang Elvina ). Elvina sudah seperti boneka mainan saya saja !. Setelah puas , saya balikkan lagi tubuh Elvina sehingga ia terlentang, saya naik ke atas kepala Elvina dan menyodorkan penis saya ke mulut Elvina.</p>
<p>“ Jilat dan kulum !” kataku. Elvina ragu juga pada awalnya, tapi saya terus membujuknya dan akhirnya ia menjilat juga.</p>
<p>Penis saya terasa enak dan geli juga dijilat olehnya, seperti anak kecil yang menjilat permen lolipopnya.</p>
<p>“Kulum !” kataku, dia lalu mengulumnya. Saya dorong pantat saya sehingga penis saya masuk lebih dalam lagi, kelihatannya dia seperti mau muntah karena penis saya menyentuh kerongkongannya dan mulutnya yang kecil kelihatan sulit menelan sebagian penis saya sehingga ia sulit bernapas juga. Sambil ia mengulum penis saya, tangan kanan saya meremas kuat-kuat payudaranya yang kiri hingga terlihat bekas merah di payudaranya.</p>
<p>Saya langsung melepaskan kuluman itu dan menuju ke vaginanya. Saya jilat vaginanya sepuas mungkin, lidah saya menusuk vaginanya yang merah pink itu lebih dalam, Elvina menggerak-gerakkan pantatnya kiri-kanan, atas-bawah, entah karena kegelian atau mungking ia menikmatinya juga. Sambil menjilat vaginanya, kedua tangan saya meremas-remas pantatnya.</p>
<p>Akhirnya saya ingin menjebol vaginanya. Saya naik ke atas tubuh Elvina, saya sodorkan penis saya ke arah vaginanya. Elvina kelihatan ketakutan juga,</p>
<p>“ Jangan kak, saya masih perawan !”, Nah ini dia ! saya membujuk Elvina dengan rayuan-rayuan manis. Elvina terdiam pasrah. Saya tusuk penis saya yang besar itu yang panjangnya 18 cm dan diameter 6 cm ke vaginanya yang kecil sempit tanpa bulu itu ! Sulit sekali awalnya tapi saya tidak menyerah. Saya lebarkan kedua kakinya hingga ia sangat mengangkang dan vaginanya sedikit terbuka lagi, saya hentakkan dengan kuat pantat saya dan akhirnya kepala penis saya yang besar itu berhasil menerobos vaginanya !</p>
<p>Elvina mencakar tangan saya sambil berkata “ sakitttt !!!” saya tidak peduli lagi dengan rintihan dan tangisan Elvina ! Sudah sepertiga penis saya yang masuk. Saya dorong-dorong lagi penis saya ke dalam lobang vaginanya dan akhirnya amblas semua ! Dan seperti permainan sex pada umumnya, saya tarik-dorong, tarik-dorong, tarik-dorong, terus-menerus ! Elvina memejamkan matanya sambil menggigit bibirnya. Tangan saya tidak tinggal diam, saya remas kedua buah dadanya dengan sangat kuat hingga ia kesakitan dan saya tarik-tarik pentilnya yang kuning kecoklatan itu kuat-kuat ! Saya memainkan irama cepat ketika penis saya menghujam vaginanya.</p>
<p>Baru 5 menit saya merasakan cairan hangat membasahi penis saya, pasti ia mencapai puncak kenikatannya. Setelah bermain 15 menit lamanya, saya merasakan telah mencapai puncak kenikmatan, saya tumpahkan air mani saya kedalam vaginanya hingga tumpah ruah. Saya puas sekali ! Saya peluk Elvina dan mencium bibir, kening dan lehernya. Saya tarik penis saya dan saya melihat ada cairan darah di sprei kasurnya. Habislah keperawanannya !.</p>
<p>Setelah itu saya lekas berpakaian karena takut ketahuan. Saya ambil uang 300.000 rupiah dari saku saya dan saya berikan ke Elvina ,</p>
<p>“ Elvina, ini untuk uang jajanmu, jangan bilang ke siapa-siapa yah “, Elvina hanya terdiam saja sambil menundukkan kepala dan menutupi kedua buah dadanya dengan bantal. Saya langsung keluar kamar dan menunggu saja di depan pintu masuk. Sekitar 10 menit kemudian Gunawan dan Dedy turun sambil menggotong lukisan dan patung. Ternyata mereka transaksinya bukan hanya lukisan dan patung saja tapi termasuk beberapa barang antik lainnya. Pantasan saja mereka lama !</p>
<p>Akhirnya saya dan Dedy permisi ke Gunawan dan ke kedua satpam itu. Kami pergi meninggalkan rumah itu. Dedy puas dengan transaksinya dan saya puas telah merenggut keperawanan adik Gunawan. Ha ha ha ha ha, hari yang indah dan takkan terlupakan !</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.difunde.com/nikmatnya-abg-smp-yg-masih-polos.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

